DEPTH OF PAIN

DEPTH OF PAIN

last updateLast Updated : 2025-05-19
By:  Liza_georginaOngoing
Language: English
goodnovel16goodnovel
Not enough ratings
18Chapters
3.1Kviews
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Bianca’s childhood was marked by loss and hardship. After her father’s sudden death when she was young, she was forced to live with her cruel aunt, enduring years of mistreatment and neglect. Despite the darkness surrounding her, Bianca’s resilience and strength carried her through the years. In high school, Bianca found solace and love in Ethan, a kind and caring boy who saw her for who she truly was. Their deep connection blossomed into a passionate relationship, but just as things seemed to be falling into place, Ethan disappeared without warning. His abrupt departure was driven by a secret threat that he believed could destroy Bianca’s life. Heartbroken and confused, Bianca never knew the real reason for his departure, and worse, she was left with a life-altering secret—she was pregnant with Ethan’s child. Years later, as an adult, Bianca applies for a job at a prestigious company, unaware that it belongs to none other than Ethan. Their reunion is charged with unresolved emotions and painful memories, and neither is sure how to navigate the stormy waters of their past. As they are forced to work together, they begin to confront the hurt, secrets, and love that never truly faded. Slowly, they rebuild their trust, facing the painful truths that kept them apart. Together, they fight for their second chance at happiness, but Bianca must decide if she can truly forgive Ethan and embrace the love they once shared. In the end, *Depth of Pain* is a story of healing, redemption, and the power of love to overcome even the deepest wounds. Bianca and Ethan’s journey is one of rediscovery, where they learn that the only way to move forward is to face the past head-on.

View More

Chapter 1

CHAPTER ONE

Dengan wajah sepucat kertas, Puspa Rahayu menggenggam lembar hasil pemeriksaan yang menyatakan hamil di luar kandungan. Ia pencet nomor HP suaminya—suami secara hukum, setidaknya.

Telepon berdering beberapa kali sebelum akhirnya tersambung. Suara Indra Wijaya tetap datar, tanpa gelombang emosi, seperti biasa, "Ada apa?"

Genggamannya di kertas laporan mengencang. Tenggorokannya terasa tercekat. Ia berkata dengan suara lirih, "Kamu bisa nggak datang ke rumah sakit sebentar?"

Indra belum sempat menjawab, namun suara perempuan terdengar dari seberang, ceria dan agak terkejut, "Indra, ini hadiah ulang tahun darimu?"

Nggak ada pertanyaan lanjutan. Indra langsung memutuskan percakapan dengan cepat. "Aku sedang sibuk. Hubungi Sekretaris Cakra saja."

Sebelum sambungan benar-benar terputus, Puspa masih sempat mendengar suara lembut dari suaminya, suara yang tak pernah ia dapatkan, "Suka nggak?"

"Indra..."

Namun sebelum ia bisa selesaikan panggilannya, yang terdengar hanya nada sibuk. Jemarinya yang memegang laporan semakin menggenggam erat hingga buku-bukunya memutih.

Puspa tahu siapa perempuan itu—Wulan Hasmita. Cinta lama Indra, yang nggak pernah benar-benar pergi dari hatinya.

"Keluargamu sudah datang?"

Dokter memandang Puspa kembali seorang diri dan bertanya.

Wajah Puspa masih pucat pasi, "Aku tanda tangan sendiri."

Dokter yang sudah kenyang pengalaman nggak kelihatan kaget.

Berbaring di atas ranjang operasi yang dingin, mata Puspa menatap kosong ke langit-langit. Instrumen logam masuk ke tubuhnya tanpa peringatan. Setetes air mata meluncur di sudut matanya, mengalir hingga tenggelam di helai rambut.

Ia tersenyum miris dalam hati. ‘Ya, bagaimana mungkin dirinya yang cuma ‘penangkal sial’ bisa dibandingkan dengan cinta sejatinya?’

Pernikahan mereka sejak awal adalah lelucon belaka.

Lima tahun lalu, Indra mengalami kecelakaan parah. Dokter sudah angkat tangan. Keluarga Wijaya, nggak ingin ia meninggal sendirian di usia muda, ingin memberinya ‘kehidupan yang lengkap’ sebelum ajal menjemput.

Karena kecocokan perhitungan tanggal lahir mereka, Puspa dipilih sebagai ‘istri penangkal sial’. Kalau bukan karena itu, ia nggak akan pernah punya kesempatan masuk ke keluarga Wijaya.

Namun keajaiban terjadi. Nggak sampai sebulan setelah menikah, bukannya mati, Indra justru berangsur pulih.

Apa yang nggak bisa diselesaikan ilmu kedokteran, bisa diselamatkan oleh takhayul. Dan karena jasa ‘selamatkan nyawa’ itu, Puspa pun duduk sebagai Nyonya Wijaya.

Siapa suruh ia bawa ‘keberuntungan’?

Sebelum Wulan kembali pulang, hubungan mereka sebenarnya masih bisa disebut baik. Nggak ada cinta, tapi masih bisa saling menghormati.

Namun sejak perempuan itu kembali, semuanya berubah.

Seperti batu yang dilempar ke permukaan danau, mengacaukan ketenangan yang ada.

Keluar dari ruang operasi, Puspa berjalan lunglai, wajahnya seputih salju.

"Nyonya."

Suara familiar menyapanya. Sekretaris Cakra tiba-tiba muncul. Puspa terkejut, matanya sedikit bersinar. Ia refleks melirik ke arah mobil hitam di belakangnya.

Sekretaris Cakra berkata pelan, "Pak Indra nggak bisa tinggalkan pekerjaannya."

Kalimat itu langsung meredupkan cahaya di matanya. Ia menarik sudut bibir, senyum pahit tersungging. Untuk apa berharap?

Di perjalanan pulang, Puspa menerima sebuah pesan.

Sebuah foto selfie dari Wulan. Bukan yang pertama. Seharusnya ia sudah menghapus kontak perempuan itu, tapi dia malah ‘gatal’ sendiri dan nyimpen kontak itu..

Namun bukan senyum menangnya yang menarik perhatian Puspa—melainkan kalung berlian di lehernya.

[Cantik, ya? Hadiah dari Indra.]

Puspa mengenali kalung itu. Sebulan lalu, ia yang temani Indra ke pelelangan untuk membelinya.

Ia pikir kalung itu akan jadi hadiah ulang tahun pernikahan mereka yang kelima. Ternyata, ia cuma sedang berkhayal sendirian.

Vila Asri.

Begitu masuk rumah, Bu Sekar langsung menyambut, "Nyonya, bahan masakannya sudah siap."

Puspa terdiam sejenak, lalu berkata, "Batalkan saja. Nggak perlu."

Hari ini ulang tahun kelima pernikahan mereka. Awalnya, ia ingin siapkan makan malam istimewa untuk merayakan.

Tapi dibandingkan hari jadi pernikahan, ulang tahun sang kekasih lama tampaknya jauh lebih penting bagi Indra.

Melihat wajah pucat Puspa, Bu Sekar hendak bertanya, tapi wanita itu sudah melangkah naik ke atas.

Sebelum menghilang, Puspa berujar pelan, "Nggak usah siapkan makan malam untukku."

Di bawah sinar bulan, Indra akhirnya pulang.

Bu Sekar menyambut dan mengambil jasnya.

Nggak lihat sosok yang biasanya selalu menunggu di depan pintu, ia bertanya, "Dia di mana?"

"Nyonya sudah naik untuk istirahat," jawab Bu Sekar.

Kamar tidur utama.

Puspa berbaring menyamping. Tidurnya memang nggak pernah nyenyak. Suara mobil berhenti tadi sudah cukup membuatnya sadar. Ia pikir malam ini suaminya nggak akan pulang.

Pintu kamar terbuka. Kasur di sebelahnya tiba-tiba tenggelam saat seseorang naik. Aroma tubuh yang familiar langsung tercium, disusul napas hangat di lehernya.

Setelah bertahun-tahun berbagi tempat tidur, mana mungkin ia nggak tahu apa maksud suaminya?

Tangannya bergerak menepis tangan pria itu, menolak secara halus namun tegas.

Indra tampak heran. Biasanya, ia nggak pernah menolak.

"Kamu kenapa?"

Puspa menjawab tenang, "Aku sedang haid."

"Hari ini bukannya masa subur?"

Matanya menegang. Dulu, ia bisa menipu diri sendiri bahwa perhatian Indra berarti sesuatu.

Tapi kini, ia harus sadar.

Ia tahu kenapa sang suami selalu ingat jadwal masa suburnya—karena keluarga Wijaya ingin cucu, dan nggak ingin kelewatan ‘hari yang tepat’.

Maka setiap bulan, Indra akan ‘bekerja keras’, seperti sapi jantan yang sedang musim kawin.

Namun yang ia nggak tahu, hanya beberapa jam lalu, ia sudah kehilangan kesempatan untuk jadi ayah.

Puspa menyentuh perutnya, membayangkan bayi yang nggak akan pernah tumbuh di rahimnya. Hatinya seperti diremas-remas, sesak hingga sulit bernapas.

Sejak tahu dirinya hamil, hingga dinyatakan kehamilan itu di luar kandungan, hanya tiga puluh menit berlalu. Tapi bagi Puspa, rasanya seperti terjun dari surga ke neraka.

Saat ia berada di ujung keputusasaan, suaminya malah bersenang-senang dengan cinta lamanya.

Tenggorokannya tercekat, matanya kembali memanas.

Indra akhirnya bertanya, "Kamu ke rumah sakit tadi, kenapa? Ada yang sakit?"

Pertanyaan yang datang terlambat itu nggak bawa kehangatan. Justru membuat dada Puspa semakin dingin.

Ia menatap pria yang telah membuatnya jatuh cinta selama sepuluh tahun—lima tahun menyimpan perasaan, lima tahun menjadi istri. Separuh hidupnya ia dedikasikan untuknya.

"Ayo kita cerai."

Ia nggak ingin menunggu lebih lama.

Indra tampak nggak terpengaruh. Ia mengangkat tangan, menyentuh keningnya. "Kamu demam?"

Puspa menepis tangannya, nadanya mantap, "Aku nggak ingin jadi penghalang cintamu. Kalau kita cerai, kau bisa bersama Wulan tanpa harus sembunyi-sembunyi."

Dahi Indra berkerut halus. "Kamu sedang cemburu?"

Cemburu? Apa ia punya hak untuk itu?

Seperti yang pernah dikatakan Wulan—yang tidak dicintai adalah pihak ketiga yang sesungguhnya.

"Aku dan Wulan nggak ada hubungan apa-apa. Kami hanya teman."

Teman? Teman yang bisa tidur bersama?

Menahan pahit di tenggorokan, Puspa berkata, "Besok aku akan cari pengacara dan urus surat cerai. Aku yang minta cerai, tapi kamu yang salah. Jadi aku tetap mau kompensasi yang layak"

Ia bukan malaikat. Ia nggak akan pergi dengan tangan kosong.

Cinta nggak ia dapatkan, masa hartapun ia lepaskan?

Ia tahu setelah cerai, hidupnya nggak akan semewah saat menjadi Nyonya Wijaya. Tapi ia juga nggak bodoh untuk menyia-nyiakan segalanya demi harga diri kosong.

Wajah Indra, yang biasanya tanpa ekspresi, akhirnya menunjukkan ekspresi nggak senang. "Kamu marah Karena aku nggak nemanin kamu ke rumah sakit? Aku sudah minta Cakra untuk jemput kamu. Biasanya kamu nggak sesensitif ini."

Ucapannya membuat dada Puspa kembali teriris. Ia bahkan merasa seolah Indra menganggap kiriman sekretarisnya itu adalah bentuk kebaikan besar.

"Kamu tahu ini hari apa?"

Sorot mata Indra menunjukkan keraguan. Puspa melihatnya jelas, dan tatapan mengejek itu justru makin menjadi-jadi.

"Ulang tahunmu?"

Untuk sekali ini, suara Puspa terdengar tajam."Menurutmu... siapa yang sedang kamu pikirkan sekarang?"
Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.

No Comments
18 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status