Compartir

BAB 62

Autor: Casanova
last update Fecha de publicación: 2026-09-12 05:00:23

“Kabari aku kalau sudah sampai. Ingat, langsung pulang hari ini juga!”

Arka mendesah panjang. Suara napas itu terdengar penuh beban dan kekhawatiran. Ada sesuatu yang sampai detik ini sulit diungkapkan. Jelas, hatinya tak tenang. Membiarkan sang istri tetap ke Bandung bersama sopir mereka dan dirinya harus tertahan di rumah sakit.

Menatap ke luar jendela lebar dari balik tirai, pemandangan langit kelabu dengan gumpalan awan berarak. Tak ada langit biru siang itu, cakrawala seperti tengah terluk
Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App
Capítulo bloqueado

Último capítulo

  • DI AMBANG PERPISAHAN   S2 BAB 112

    Arka kembali datang ke rumah sakit setelah menyelesaikan urusan di kantor. Seperti hari-hari sebelumnya, langkahnya langsung tertuju ke ruang ICU tempat Kalla dirawat.Sudah lebih dari sebulan perempuan itu terbaring tak sadarkan diri. Tidak ada perubahan berarti meskipun dokter terus melakukan berbagai upaya untuk memulihkan kondisinya. Kecelakaan hebat itu membuat dunia Kalla berubah.Arka membuka pintu perlahan. Aroma antiseptik langsung menyambutnya, disusul bunyi monitor yang terdengar teratur di sisi ranjang.Kalla masih sama. Wajah pucat, matanya terpejam, dan tubuhnya terbaring lemah dengan bantuan sejumlah alat medis. Tak ada reaksi, istrinya tidur dengan begitu damai.Arka berdiri di samping ranjang. Tangannya segera meraih jemari istrinya."Sayang ...."Hanya satu kata itu yang keluar sebelum tenggorokannya tercekat. Semua cerita yang disiapkan tak mampu dilontarkan. Dia berkaca-kaca.Mengusap punggung tangan Kalla, Arka menunduk cukup lama. Ada begitu banyak hal yang ingin

  • DI AMBANG PERPISAHAN   S2 BAB 111

    Sejak mulai bekerja di rumah Arka, Loli perlahan menunjukkan sikap yang berbeda dari kesan pertamanya saat wawancara.Perempuan itu memang mengurus Raka, tetapi tidak sepenuh hati. Dia hanya melakukan hal-hal yang dianggap perlu, sekadar memastikan bayi itu sudah diberi susu dan popoknya diganti. Selebihnya, Loli lebih banyak menghabiskan waktu dengan ponsel atau bersantai di ruang keluarga.Bahkan, beberapa kali dia sengaja membawa Raka ke ruang tengah hanya untuk meletakkannya di boks bayi, sementara dirinya asyik menonton tayangan drama di ponsel.Ketika Arka berada di rumah, sikapnya berubah seratus delapan puluh derajat. Loli akan tampil lebih rapi, berbicara dengan nada lembut, dan berusaha mencari kesempatan untuk mengobrol. Tak jarang dia sengaja mencuri pandang ketika Arka melintas. Kalau kebetulan berpapasan, perempuan itu selalu punya alasan untuk menyapa.Namun, Arka bukan lelaki yang mudah diajak bermain-main. Sejak Kalla terbaring koma, pikirannya hanya dipenuhi dua hal,

  • DI AMBANG PERPISAHAN   S2 BAB 110

    Kondisi Kalla dinyatakan kritis. Perempuan yang dicintai Arka itu tak membuka mata sama sekali sejak menjalani operasi darurat untuk melahirkan putra mereka. Sementara itu, sang bayi harus berjuang sendiri di ruang NICU.Dunia Arka benar-benar hancur. Hari-harinya berubah menjadi rutinitas yang melelahkan. Pagi-pagi dia datang ke kantor, menyelesaikan pekerjaan yang bisa dikerjakan, lalu bergegas ke rumah sakit. Tak jarang harus meninggalkan rapat penting hanya karena dokter menghubunginya untuk menyampaikan perkembangan kondisi Kalla atau putranya.Makan pun sering terlupakan. Tidur menjadi kemewahan yang tidak lagi dia pikirkan. Setiap kali memasuki ruang perawatan Kalla, Arka selalu berusaha tersenyum. Berbicara, bercerita, seolah wanita itu bisa mendengarnya dalam lelap yang tak tahu kapan akan berakhir.“Mas datang lagi, Sayang.”Arka duduk di samping ranjang, menggenggam tangan Kalla yang terasa dingin. Dia mengusap punggung tangan itu dengan ibu jari. Berharap sentuhan kecil te

  • DI AMBANG PERPISAHAN   S2 Bab 109

    “Maaf, Pak. Kondisi istri Anda kritis.”Arka terdiam. Semua ucapan itu tak bisa dicerna dengan sempurna. Seolah kalimatnya diucapkan dalam bahasa yang tak dimengerti. Dia menatap dokter di hadapannya, menunggu kelanjutan yang mungkin bisa mengubah kisah tentang Kalla.“Kami harus segera melakukan tindakan. Kondisinya tak bisa menunggu.”“Kritis bagaimana, Dok?” tanya Arka setelah menguasai keadaan.“Istri Anda mengalami pendarahan hebat akibat kecelakaan. Selain itu, terdapat benturan di kepala yang membuat kondisinya semakin mengkhawatirkan.”Wajah Arka memucat.“Lalu, anak saya?”“Kondisi janin juga harus segera kami tangani. Usia kehamilan istri Anda sudah cukup besar, tapi dengan kondisi ibu yang mengalami pendarahan parah, kami tidak bisa menunggu lebih lama. Kami harus melakukan tindakan operasi untuk menyelamatkan bayi Anda.”Arka mundur selangkah. Dia tak menyadari punggungnya membentur dinding yang dingin.Operasi. Menyelamatkan bayi. Kritis.Kata-kata itu berputar-putar di k

  • DI AMBANG PERPISAHAN   S2 BAB 108

    “Kalla!”Arka menerobos kerumunan tanpa memedulikan teriakan orang-orang yang memintanya berhati-hati. Langkahnya terhenti ketika melihat istrinya terbaring di atas aspal, dikelilingi beberapa orang yang berusaha memberikan pertolongan.Wajah Kalla pucat. Gaun yang dikenakannya malam itu berantakan dan bernoda merah. Satu tangan masih berada di atas perutnya yang besar. Seolah naluri seorang ibu membuatnya berusaha melindungi bayi mereka, bahkan saat kesadaran mulai menghilang.“Sayang, bangun!” Arka berlutut. Tangannya gemetar saat menyentuh pipi Kalla. “Kalla, ini Mas. Kamu dengar suara Mas, kan?”Tak ada jawaban.“Kalla!”Suara Arka pecah. Dia menggenggam tangan istrinya, kemudian menoleh kepada orang-orang di sekitar mereka.“Ambulansnya mana? Kenapa lama sekali?”“Sudah dihubungi, Pak. Sebentar lagi datang.”“Sebentar lagi bagaimana? Istri saya sedang hamil besar!”Arka nyaris kehilangan kendali. Dadanya sesak, pandangan tak mampu beranjak dari wajah Kalla. Beberapa menit lalu, p

  • DI AMBANG PERPISAHAN   S2 BAB 107

    “Siapa, Mas?”Arka menggeleng sambil memasukkan ponselnya ke saku celana. “Entahlah. Nomor tak dikenal.”“Kenapa tak diangkat? Siapa tahu ada kabar penting.”“Kalau penting, dia bakal mengirim pesan.”Kalla mengangguk, tak ingin memperpanjang percakapan. Perhatiannya kembali tertuju pada perutnya yang semakin besar. Bayi di dalam sana bergerak pelan, seolah ikut mendengarkan percakapan kedua orang tuanya.“Mas, nanti jadi makan soto ayam kesukaanmu, kan?”Arka menoleh. “Loh, kok kesukaan Mas, sih? Bukannya kamu yang dari tadi merengek minta soto?”“Memangnya nggak boleh? Bayi kita juga mau.”“Wah, kompak banget, ya, kalian. Ayahnya nggak diajak musyawarah, tahu-tahu sudah kalah suara.”Kalla terkekeh. “Namanya juga suara mayoritas.”“Baiklah, Nyonya. Malam ini kita turuti keinginan duo kesayangan Mas.”Arka membungkuk, mengecup perut besar istrinya di tengah keramaian.“Nanti, ya, Sayang. Sabar. Sebentar lagi kita makan soto.”Kalla tersenyum puas. Ada kehangatan sederhana dalam perha

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status