Chapter: BAB 79B“Suma, aku ada kirim upeti untuk anak-anakmu. Thanks, aku tidak bisa membayangkan andai Kalla mengetahui semuanya. Aku malu.”Malam itu, Arka terlihat duduk di ruang kerjanya. Laptop terbuka menyala di depannya. Namun, perhatiannya tak di sana.“Ya, ini Rara dan Annel sedang rebutan. Next time, tolong beli yang warnanya sama. Kamu tahu sendiri, anak kembar ini seleranya juga sama.” Suma terkekeh. “Berarti, kamu harus waspada. Jangan-jangan mereka rebutan cinta di masa depannya. Bisa terjadi perang saudara.” Arka ikut tergelak. Namun, suaranya lenyap seketika, dia teringat sesuatu. “Kamu katakan apa pada istriku? Kebohongan apa yang kamu jual?”“Tidak ada.” Suma terdengar serius di ujung telepon. “Maaf, aku katakan semuanya. Foto itu diambil saat papamu sedang sekarat beberapa tahun lalu. Kamu butuh uang dan dan terpaksa harus ....”Wajah Arka berubah pucat.“Istrimu berhak tahu, Bro. Dia berhak tahu apa yang sudah kamu korbankan untuknya. Dengan begitu, musuhmu tak akan menggunakan k
Last Updated: 2026-09-23
Chapter: BAB 79A“Kalau bukan kamu, siapa lagi yang tahu masalah ini? Hanya kamu, ‘kan? Dan, kamu tahu jelas apa yang terjadi hari itu.”“Demi Tuhan, bukan aku yang melakukannya.”“Dari mana kamu dapat foto ini? Pasti bukan orang sembarangan yang bisa mengambil foto ini, ‘kan?”Erika menggeleng. “Demi Tuhan, bukan aku yang melakukannya. Bagaimana mungkin aku bisa mendapatkan foto itu? Aku tahu semua yang kamu lakukan, tapi belum tentu aku yang mengirimnya pada istrimu. Aku tidak tahu apa-apa, Ka.”“Jangan bohong!” Arka menggertak.“Selama ini hanya kamu yang tahu masalah ini. Tidak ada orang lain.”“Aku tidak tahu apa-apa. Selama ini aku pulang kampung menemui orang tuaku. Mana ada waktu mengurusi masalahmu dan Kalla.”“Kalau bukan kamu, lalu siapa?” Tidak ada orang lain yang tahu masalahku ini.”Erika diam.“Hanya kamu satu-satunya, Eri.”“Kalau memang kamu minta bertemu untuk ini, aku rasa ... tidak ada yang harus dibahas lagi. Aku tegaskan sekali lagi, aku tidak ada sangku pautnya dengan masalah fo
Last Updated: 2026-09-23
Chapter: BAB 78“Kenapa basah?” Kalla masuk ke dapur dan keheranan melihat lantai yang basah di beberapa titik. Sebuah baskom berisi air es masih tergeletak di dekat bak cuci piring“Oh, itu Pak Arka tadi cuci muka, cuci tangan pakai air es.” Asisten rumah menjelaskan sembari memotong wortel. “Cuci muka pakai air es?” Kalla bingung. Dia bermaksud membuatkan suaminya bubur. “Apa tidak salah?”“Tidak, Bu. Tadi Bapak ke sini. Cuci kaki juga tadi aku lihat.”Di tengah kebekuan, otak Kalla mulai merangkai berbagai keanehan-keanehan yang didapatnya sebelum keluar kamar. Hingga akhirnya sampai pada satu kesimpulan dan membuat dia menggeleng tak percaya.“Kerjaan Mas Arka,” gerutunya. “Pantas saja. Dibilang demam, tapi suhunya normal. Kaki tangan dingin sampai ke muka-mukan. Bagaimana tidak dingin kalau cucinya pakai air es. Ada-ada saja!”Empat puluh lima menit berlalu, Kalla sudah kembali dengan sebuah nampan berisi bubur. Segelas air hangat ikut melengkapi sarapan sederhana Arka yang dibuat oleh istriny
Last Updated: 2026-09-22
Chapter: BAB 77“Kamu mau ke mana?”Arka terpaksa mengurai pelukannya saat Kalla memaksa turun dari ranjang. Tak mau berlama-lama meringkuk dalam dekap.“Aku harus kerja, Mas.” Wanita yang pagi itu terlihat seksi dengan tampilan bangun tidurnya tengah duduk sambil mengikat rambut pirangnya asal. Beberapa helai tampak jatuh di pundaknya yang putih tanpa cela.“Tapi, aku masih demam. Nih, sudah mau menggigil lagi.” Arka beralasan. Ikut duduk, dipeluknya pinggang Kalla lalu merebah di punggung wanita tersebut seolah tak pernah terjadi masalah di antara mereka. Dia tak rela melepas sang istri pergi.“Aku harus kerja, Mas. Aku ....”“Tapi, aku masih sakit, Sayang. Apa kamu tega? Aku baru saja jadi yatim piatu. Hidupku sedang terpuruk-puruknya. Istriku menuntut cerai, mamaku meninggal. Aku sedang di titik terendah hidupku. Apa tidak kasihan? Aku tidak punya alasan untuk tetap bertahan di dunia.”Arka menahan tawa sambil mengeratkan belit di pinggang istrinya.“Mas, apa-apaan sih? Kenapa bicara seperti itu?
Last Updated: 2026-09-21
Chapter: BAB 76“Kamu sakit sampai menggigil begini. Apa tidak sebaiknya ke dokter, Mas?”Kalla masih setia menjaga suaminya. Hingga malam tiba, dia masih bertahan di kediaman sang mertua. Pemilik wajah berkubang resah itu tak sedikit pun melangkah pergi dari sisi Arka. “Mas.”Duduk di samping pria yang sedang bergelung di balik selimut. Meringkuk dengan suara menggigil, tubuh gagah itu bergetar hebat.“Dingin, Sayang.” Arka berbisik pelan. Mata terpejam.“Ya, makanya. Ini sudah dinaikkan suhu AC-nya, Mas.”“Dingin.” Pria dewasa itu terus menggigil.“Lalu, bagaimana?” Kalla bingung. “Kita ke dokter saja. Ini panasnya sudah turun, tapi ....”Kalla kembali menempelkan punggung tangan di dahi dan kulit leher Arka. Dia mengecek suhu tubuh suaminya yang tak lagi sehangat tadi siang dan mulai berkeringat.“Tapi, dingin, Sayang.” Arka makin manja.“Aneh. Sudah turun panasnya, tapi masih kedinginan. Orang kepanasan.” Kalla bergumam tak jelas.“He ... em.”“Ke dokter saja, ya? Takutnya ada masalah serius. In
Last Updated: 2026-09-20
Chapter: BAB 75BRaut wajah Arka berubah. Entah kenapa, kata-kata sederhana itu mampu membuat isi kepalanya jauh lebih ringan. “Harusnya ... kalau sakit itu bicara, Mas? Kenapa diam saja?” Kembali suapan selanjutnya berlabuh di dalam mulut Arka. Tak lagi ada protes dan tanya dari empunya. “Nah, ‘kan? Mas itu kelaparan. Kenapa tidak keluar? Sudah disiapkan makanan.” Kalla merapikan rambut Arka yang acak-acakan. Tak lupa, dia juga mengusap wajah pria yang tengah menelan bubur sambil mengernyit. “Kenapa? Panas?” Arka menggeleng. “Sakit tenggorokan?” Kalla kembali menginterogasi suaminya. “Ya.” Arka menjawab lemah. “Keluhannya apa saja? Mas itu kelelahan. Beberapa hari ini kurang istirahat. Makannya tak teratur.” Arka hanya menatap dan diam. Melahap setiap sendok bubur yang disuapkan kepadanya. Tak butuh waktu lama, semangkuk bubur sudah berpindah ke perut. “Mas demam.” Kalla meraih air jahe hangat dan menyodorkan pada sang suami. “Setelah ini minum obat.” Menyambar selembar tisu, diusapnya
Last Updated: 2026-09-19
ISTRI 365 HARI
Kukira menikah akan jadi titik awal kebahagian, ternyata aku salah. Ketika resmi menjadi istri seorang Givendra Rakasuma Wiratama Putra, di situlah awal perjuanganku.
Aku hanya diberi waktu setahun untuk jadi istrinya. It's okay. Semua orang berhak memberiku pilihan, tetapi akulah yang akan memilih jalan mana yang akan kutiti. Di luar sana, mereka bisa menamaiku si culun, kampungan, dan cupu. Namun, aku akan membuktikan kalau keadaan pasti berbalik. Suami yang membuangku di malam pernikahan akan kubuat jatuh cinta.
"Cukup 365 hari. Kupastikan hati dan hidupmu jadi milikku. Seutuhnya. Bukan milik wanita mana pun."
Read
Chapter: BAB 14“Kekasihmu sedang melihat kemesraan kita.”Tera berbisik di sela pelukan eratnya pada leher sang suami. Berjuang mengempas canggung, dia harus meredam detak jantungnya yang berdetak kencang. Selama ini tak pernah berinteraksi dengan Suma sedekat ini, dia harus memaksakan diri agar terlihat alami sebagai pasangan bahagia yang sempurna.Aku harus mengabaikan semuanya demi bisa menyingkirkan wanita itu. Kenapa aku harus malu? Toh, Suma suamiku. Aku berhak melakukan apa saja. Bahkan, lebih dari ini.Bergidik, Tera gugup. Selama ini tak pernah bersinggungan dengan pria. Satu-satunya kaum Adam yang dekat dengannya hanya sang papa. Ketika menikah, dia harus bersusah payah meredam kegugupannya saat bersentuhan dengan suaminya.Suma terkejut. Bermaksud mengurai pelukan, dia dibuat tak berkutik ketika Tera kembali bersuara. “Jangan menoleh ke belakang. Pura-puralah tidak melihat. Bagaimana kalau sampai orang tua kita curiga.” Suma tegang.“Lagian, kenapa tidak memintanya pulang ke Jakarta? Ka
Last Updated: 2026-09-23
Chapter: BAB 13“Tera? Ini kamu, Nak?” Mama Nayala bersama yang lainnya tengah menikmati segelas jus alpukat sambil menikmati matahari tenggelam di tepi pantai saat pasangan pengantin baru tiba di hadapan mereka. “Ya Tuhan, ini menantuku?” Mama Caca tak kalah terkejut. Dia tengah menyesap es jeruk dan nyaris tersedak.Tera tersenyum simpul. Tiba di kamar, dia langsung berganti pakaian dengan gaun chiffon longgar bermotif floral dan flat shoes sederhana. Rambutnya dibiarkan tergerai begitu saja, berayun setiap tertiup angin pantai. Wajah dengan riasan sederhana itu berbinar tertimpa sinar keemasan. Tak tampak kacamata yang selama ini berhias di wajah. Manik mata cokelat pun berganti kebiru-biruan. Serasi dengan helaian sutera pirang yang menghiasi kepala.“Ya, Ma. Aku baru saja sampai. Maaf, terlam ....” Kalimat Tera terputus bersamaan dengan rangkulan mesra di pundaknya. Dia terkejut ketika Suma tiba-tiba memeluk mesra. Kata-kata yang sedang mengantre keluar dari bibir, kini tertelan kembali. Ane
Last Updated: 2026-09-23
Chapter: BAB 12“Aku kira mataku saja yang minus, ternyata matamu juga minus, toh?” Tera mendengkus. Suaminya berdiri beberapa meter di hadapan. Melihatnya sampai melotot, bahkan tak berkedip sama sekali. “Aku serius, Ra. Sudah, jangan main tebak-tebakan. Di mana kamu?” Suma membuang pandangan. Dia harus menjaga matanya. Inggit akan mengamuk andai mengetahui tatapannya liar dan melirik gadis lain. Kekasihnya sangat pencemburu. “Kamu sengaja, ‘kan?” Tera kesal. Suaminya sudah di depan mata, tetapi masih saja mengelak kalau tidak melihat kehadirannya. Entah harus sedih atau kecewa. “Apa sebenci itu kamu padaku? Sampai-sampai sudah melihatku dengan jelas, kamu masih mengelak.” Suma terkejut. Ucapan lirih Tera mengusik perasaannya. Dia tidak sedang berpura-pura. Bahkan, pria muda itu tak berniat dengan sengaja menyakiti istrinya. “Kamu yang mana? Demi Tuhan, Ra. Aku tidak melihatmu. Aku sudah di depan pintu kedatangan. Kaus putih, celana cokelat.” Suma menurunkan intonasi bicaranya. “Aku tahu.” Te
Last Updated: 2026-09-22
Chapter: BAB 11“Ternyata Tera tak selugu yang kubayangkan. Sepertinya, aku salah memilih lawan. Kukira dia lemah dan takberdaya, ternyata ....” Suma mendesah pelan. Berdiri di depan pintu kedatangan bandara, dia menunggu kedatangan istrinya. Setelah tawar-menawar cukup alot, ada beberapa poin kesepakatan yang membuat pasangan muda itu berdamai dengan keadaan. “Kenapa lama sekali?” Suma melirik jam di pergelangan tangannya. Sejak pagi dia harus terusir dari resor. Belum mandi, bahkan masih mengenakan setelan tidur. Kaus katun dipadankan dengan celana denim selutut berwarna cokelat tua. Beruntung masih sempat menyambar ponsel dan dompet. Setidaknya, masih bisa jajan walau sepanjang hari di luaran.Menatap layar raksasa yang menampilkan jadwal keberangkatan dan kedatangan dari berbagai rute penerbangan, Suma sedikit lega setelah memastikan pesawat dari Jakarta yang ditumpangi Tera mendarat lima menit lalu.“Sudah mendarat.”Suma terus menatap ke arah pintu kaca. Dia belum bisa tenang sebelum melihat
Last Updated: 2026-09-22
Chapter: BAB 10“Kamu di mana?” Mama Caca mengomel di telepon. Hampir satu jam menunggu di lobi, Suma tak kunjung menghampiri. Bersama suami dan kedua besannya terbang ke Bali pagi-pagi sekali, bahkan ada yang belum sempat sarapan dan mandi. “Aku … aku ….” Suma menggaruk-garuk kepala. Dia bingung memberi alasan pada mamanya yang terus mengoceh tanpa jeda. “Ini sudah satu jam. Sebentar lagi papa dan mertuamu kering dijemur matahari.” Mama Caca kembali menyembur. “Maaf, Ma. Aku dan Tera sedang tidak ada di resor. Kita baru kembali nanti sore atau malam.” Suma beralasan. Bersusah payah menyelinap keluar dari resor, Suma harus segera mencari cara menyelamatkan diri. Dia tak mau sampai kedoknya terkuak. Bulan madu yang harusnya dilewati bersama Tera, tetapi pria tampan itu malah mengajak Inggit. Andai Mama Caca mengetahui, tentu akan murka. “HAH!” Suara terkejut itu ditunjukkan dengan notasi tinggi dan suara kencang. Mama Caca takbisa berkata-kata. Dia merasa dikerjai sang putra. “Bagaimana?” tanyany
Last Updated: 2026-09-20
Chapter: BAB 9Papa Mahaka menguap berulang kali. Duduk di ruang tunggu bandara Soekarno Hatta, sesekali dia menggerutu. Istri yang sejak tadi sabar meladeni setiap protesnya hanya diam sembari menjaga agar keluhan sang suami tak terdengar oleh besan mereka. “Kenapa tidak memberitahu dari kemarin-kemarin, sih?” Mahaka mendengkus kesal. Dia bahkan tidak sempat mandi, hanya membasuh wajah dan gosok gigi. “Sudah. Kak Haka saja yang tidak menanggapi. Semalam saat aku menyiapkan koper, Kak Haka masih sempat melihat, ‘kan?” Papa Mahaka membisu. “Ayo senyum. Jangan mengeluh. Tidak enak dengan besan. Ini rencana mereka agar kita ikut liburan bersama. Katanya menyambut pernikahan Suma dan Tera. Di sana kita akan merayakan ulang tahun Suma.” Haka terbeliak. “Aku tidak sudi. Sejak awal aku tidak pernah respek dengan anak itu. Apa bagusnya? Kalau bukan karena orang tuanya, aku akan berpikir ribuan kali merestui.” Papa Mahaka masih mengungkit hal yang sama berulang-ulang. “Kak.” Mama Nayala mengingatkan.
Last Updated: 2026-09-19