LOGINAku pikir, pernikahan itu... saling membantu dan saling menguatkan. Ternyata, semakin banyak aku memberi, semakin besar pula tuntutan mereka. Aku harus mengerti keadaan suami. Harus memaklumi kebutuhan mertuaku. Harus membantu adik iparku. Namun, siapa yang mau mengerti keadaanku?
View More"Aku janji, Ras. Aku akan selalu bahagiain kamu. Nggak akan aku buat kamu hidup susah apalagi kekurangan."
"Tapi, Mas. Makin hari, kebutuhan kita juga pasti makin bertambah. Apalagi kalo nanti aku langsung hamil butuhnya pasti nggak sedikit, Mas," bantah Laras ketika Fahri memintanya berhenti bekerja. "Jangan khawatir soal itu. Gajiku cukup untuk kebutuhan kita. Dan soal hamil, kalo bisa sih kamu KB dulu. Kita tunda dulu masalah punya anak." *** "Tiga puluh ribu sehari itu udah lebih dari cukup, Ras. Kamu aja yang nggak pinter puter otak." Fahri meletakkan lembaran uang kertas yang tampak lusuh itu di atas meja makan. Bunyi ketukan jarinya di atas kayu berpelitur terdengar ketus, disusul kebiasaannya membenarkan kerah kemeja kerja yang sebenarnya sudah rapi. “Puter otak katamu, Mas? Diputer hadap mana, kuburan atau rumah sakit?” Laras menatap tiga lembar uang sepuluh ribuan itu tanpa berniat menyentuhnya. Air di ketel tembaga belakangnya mulai mendidih, memunculkan suara desis halus yang mengisi keheningan di antara mereka. "Mas tau harga telur sekarang berapa?" tanya Laras tenang, suaranya hampir terserap oleh riuh jalanan di luar rumah. "Ibu dulu bisa aja tuh, kasih makan lima orang di rumah cuma pake duit dua puluh ribu," potong Fahri cepat. Matanya melirik ke arah jam tangan. "Heran deh. Kenapa kamu selalu cari alasan tiap kali ngomongin masalah duit? Kita ini banyak pengeluaran, Ras. Cicilan mobil, bayar air, listrik. Kalau kamu boros terus begini, dari mana kita bisa menutupi sisa kebutuhan yang lain?" “Ya kamu enak tinggal ongkang kaki di rumah. Aku yang capek kerja, Ras!" imbuh Fahri kesal. "Tiga puluh ribu buat tiga kali makan satu rumah, Mas. Itu belum termasuk bumbu, minyak, gas. Hemat sih hemat, tapi yang kira-kira aja deh, Mas," balas Laras. Matanya menatap lurus ke arah suaminya. "Ya makanya diatur! Bukan malah checkout barang nggak penting!" Fahri menaikkan nada bicaranya setingkat, menatap Laras seolah istrinya itu baru saja mengajukan permintaan yang sangat tidak masuk akal. "Beli tahu, tempe, telur seperempat. Sayur bayam seribu dapat dua ikat. Tinggal kemampuan masakmu aja yang diuji. Kamu kan di rumah saja, waktu kamu juga banyak buat cari pedagang pasar yang murah. Jangan maunya yang serba instan, dong." Laras menghela napas pendek. Ia mematikan kompor gas, lalu menuangkan air panas ke dalam cangkir berisi teh celup favorit suaminya. Tidak ada raut marah di wajahnya, hanya kepatuhan dingin yang sudah terlatih selama tiga tahun pernikahan mereka. "Ini tehnya, Mas." "Kembalian yang kemarin mana?" tanya Fahri sambil menerima cangkir tersebut. Laki-laki itu menyeruputnya pelan, mengacuhkan kepulan asap tipis yang menyengat bibirnya. "Nggak ada kembalian. Uang lima puluh ribu yang Mas kasih dua hari lalu habis buat beli beras tiga kilo sama minyak goreng satu liter. Itu aja beras bulog yang sekilo tujuh rebu. Minyaknya minyak curah." Fahri meletakkan cangkirnya dengan hentakan kecil hingga cairan coklat di dalamnya sedikit beriak. "Habis? Laras, beras tiga kilo buat makan kita bisa buat seminggu lebih kalau kamu nakarnya bener. Jangan-jangan kamu pakai buat beli hal-hal yang nggak penting, ya?!" "Semua catatan belanjanya ada di nota, Mas. Kalau Mas mau liat, ada di sebelah wadah bumbu." "Aku nggak butuh nota, aku butuh bukti nyata kalo kamu mau prihatin dan ikut berhemat. Jangan egois Laras!" Fahri berdiri dari kursinya, merapikan posisi tas kerja kulit sintetis milik seragam kantornya. "Tolong diingat, aku ini kerja banting tulang dari pagi sampai malam. Kamu pikir cari uang di luar sana gampang? Jangan buat aku makin pusing pas pulang ke rumah cuma gara-gara urusan dapur." Laras mengangguk tipis. "Iya, Mas. Hati-hati di jalan." Enggan sekali rasanya wanita itu menyahut ucapan terakhir dari sang suami. Fahri melangkah menuju pintu depan tanpa berpamitan lebih lanjut. Suara deru sepeda motor matic-nya perlahan menjauh dari halaman, meninggalkan Laras yang masih berdiri diam di samping meja makan. Laras memandangi tiga lembar uang kertas di hadapannya. Tiga puluh ribu rupiah. "Bisa dapet apa duit segini? Belum juga beli sabun, bayar kas warga, dan tetek bengeknya.” Lima tahun menikah dengan Fahri, Laras rela diperlakukan layaknya pembantu. Mengikuti kemauan keluarga suami, menuruti aturan sang suami yang terkadang di luar nalar manusia, dan rela menahan lapar agar suaminya bisa makan. Bahkan, dia tidak pernah protes kepada Fahri. Padahal sebelum menikah, kehidupannya jauh lebih layak. Semua itu karena rasa cinta yang semakin hari semakin membuat Laras buta. Jika saja saat itu dia mendengar nasihat salah seorang kawan lama untuk tidak menikah dengan Fahri, pasti sekarang tidak seperti ini. Tak tanggung-tanggung, wanita itu sampai memutus tali silaturahmi dengan kawannya tersebut. Hanya karena tak setuju dengan keputusannya menikah dengan Fahri. Namun kini… bercerai pun rasanya sulit. Di kotanya, menjadi wanita berstatus janda benar-benar dinilai lebih buruk dari PSK. Bahkan beberapa wanita memilih mengakhiri hidupnya, sesaat setelah ia menyandang status janda."Kamu masih tanya kenapa harus kamu? Seriusan kamu tanya begini, Ras?" cecar Fahri dengan mulut penuh makanan. "Ya iyalah, Mas. Aku serius!" tutur Laras sembari menatap lurus ke arah sang suami. "Kan Ibu juga bisa masak urap. Terus ada Rika yang bisa bantuin Ibu. Tapi kenapa harus repot-repot ke sini dan suruh aku masak? Kan malah jadi buang waktu." "Lagian, masak apa tadi, urap?" tanya Laras. "Bahan-bahannya emang udah ada? Kok, Ibu pake nyuruh aku segala." "Ya kamu beli di pasar kaget, lah! Pake duit belanja harian!" jawab Fahri santai. "Kelapa parut, sayur-sayuran, sama bumbu dapur kan murah. Jangan bikin malu aku di depan Ibu. Kayak seolah aku nggak pernah kasih kamu duit." "Duit belanja dari kamu hari ini kan cuma tiga puluh ribu, sama seperti hari biasanya," ujar Laras pelan. "Itu ya cuma cukup buat makan kita nanti malam, Mas. Kalo sama buat bikin urap, ya jelas nggak cukup, lah!" Fahri meletakkan sendoknya hingga berdentang keras di atas piring. "Laras! Kamu bisa ngga
Sinar matahari pagi yang menerobos celah ventilasi udara menyapu wajah Fahri yang tampak lusuh. Pria itu keluar dari kamar tidur dengan lingkaran hitam tebal di bawah matanya. Sepanjang malam, Fahri hampir tidak bisa memejamkan mata. Setiap kali dering peringatan bayangan terngiang di kepalanya, dadanya berdegup kencang karena membayangkan mobil kesayangannya didatangi tim penagih dan akan ditarik. Lalu bagaimana jika leasing mendatangi kantornya? Mau ditaruh mana muka laki-laki itu? Di sisi lain, Laras sudah berdiri di dekat kompor, menata dua piring nasi goreng tanpa telur—hanya berbumbu garam, bawang putih, dan irisan cabai rawit. "Kamu mau kopi, Mas?" tanya Laras tenang, suaranya halus seolah percekcokan hebat semalam tidak pernah terjadi. Fahri tak menjawab. Ia langsung menyambar ponsel yang tergeletak di meja dapur, lalu menekan tombol daya dengan jemari gemetar. Begitu layar menyala, rentetan notifikasi langsung memenuhi panel atas. Panggilan tak terjawab dari leasing, ti
Ponsel di tangan Fahri terus bergetar dengan dering yang kian nyaring, memantulkan nama agen penagih di layarnya. Jemari Fahri gemetar. Dengan gerakan panik dan kikuk, ia menekan tombol daya hingga layar itu mendadak mati total, memutuskan sambungan secara paksa. "Kenapa dimatiin, Mas?" tanya Laras pelan. "Bukannya makin bahaya kalo telepon dari pihak leasing nggak diangkat?" "Kamu tahu apa soal beginian, Ras?!" pangkas Fahri dengan napas memburu. Ia menarik kursi kayu dan mendaratkan tubuhnya dengan kasar. "Kalo diangkat malam-malam begini, mereka itu mau neror aku! Dan sekarang, aku butuh waktu untuk berpikir!" Laras tidak menjawab. Ia menuangkan air hangat ke dalam gelas, lalu meletakkannya tepat di hadapan Fahri. Fahri menyambar gelas itu, menenggaknya hingga tersisa separuh. Keringat dingin nampak membasahi pelipis dan dahi pria itu, memudarkan sisa-sisa wibawa yang sejak pagi ia pamerkan. "Pasti ada yang salah sama sistem bank," gumam Fahri pada dirinya sendiri,
"Kamu nampar aku, Mas?" Laras memandangi wajah suaminya yang tampak tanpa beban. "A-anu, Ras. Aku—" "Aku cuma tanya, uangnya dari mana, kalo kamu mau beliin Rika sepatu. Bukannya Mas bilang simpanan di rekening tinggal sedikit?" Fahri terdiam. Tapi bukannya karena tersentuh oleh ucapan sang istri melainkan karena telapak tangannya yang terasa panas. "Kalo nanti mobilmu perlu ke bengkel lagi, gimana?" lanjut Laras. ”Alaaahh… bisa diatur itu!" potong Fahri cepat dengan nada tidak sabar. "Mungkin jatah belanja kamu minggu depan dikurangi sedikit. Biar kamu makin pintar putar otak pas belanja di pasar kaget. Tiga puluh ribu sehari aja masih bisa makan tempe dan sayur bayam, kan?" Laras tidak menjawab. Ia hanya mengangguk tipis, memberikan reaksi pasif yang selalu membuat Fahri merasa menang dan memegang kendali penuh atas rumah tangga mereka. Fahri kemudian merogoh saku celananya untuk mengambil ponsel, berniat mengecek media sosial atau grup obrolan kantor sebelum tidur






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.