LOGINArini Lelah ditelantarkan dan dimanfaatkan oleh suaminya reno yang berselingkuh dengan tasya asisten pribadinya. Arini adalah seorang perawat disalah satu rumah sakit yang dimutasi ke Puskesmas Pembantu (Pustu) di sebuah desa bernama desa Sukamaju. Di desa terpencil tersebut, arini bukannya mendapatkan ketenangan, melainkan menjadi sasaran konspirasi licik ibu mertuanya Ibu Kusuma, yang ingin menguasai tanah Pustu demi menutupi utang proyek reno.Di tengah ancaman teror dan kehampaan rumah tangganya, hadir darma, duda ganteng kaya raya pemilik perkebunan teh yang siap pasang badan melindunginya. Seiring berjalannya waktu, benih-benih gairah dan cinta terlarang tumbuh di antara keduanya di balik kabut dingin perkebunan teh. Arini menemukan kehangatan sejati dalam pelukan Darma, hingga akhirnya memberanikan diri lepas dari ikatan pernikahan toxic demi meraih kebahagiaan dan keadilan.
View More"Mas... pustunya masih jauh ya?" tanyaku pelan, meremas jemariku sendiri di atas pangkuan.
Mas Reno tidak menjawab. Ia tetap fokus menatap jalanan tanah yang licin dan bergelombang. Wajahnya tampak tegang, berkali-kali melirik jam tangan perak di pergelangan kirinya.
"Mas?" panggilku lagi, kali ini menyentuh lengan kemeja kerjanya.
"Sebentar lagi arini, jangan rewel , Mas lagi fokus nyetir, kamu gak liat jalannya rusak begini," sahutnya dingin tanpa menoleh sedikit pun.
Pintu gerbang kayu lapuk Pustu Sukamaju akhirnya terlihat di ujung penerangan lampu mobil. Bangunan tua bercat putih kusam itu berdiri terisolasi di tepi perkebunan. Gelap gulita. Tidak ada satu pun pendar cahaya yang menyala di sana.
"Lho, Mas... mati lampu ini, Mas!?" bisikku ketakutan.
Mas Reno menghentikan mobil tepat di depan teras Pustu. Ia mematikan mesin, membuat gemuruh hujan dan deru angin makin membahana di dalam kabin.
"Pedesaan ya begini, listrik sering mati," ucap Mas Reno singkat. Ia menyambar payung di jok belakang, lalu memutar tubuhnya untuk membukakan pintu. "Ayo turun. Mas bantu bawakan kopermu."
Aku menelan ludah yang terasa pahit. Dengan penerangan temaram dari layar ponselku, aku melangkah keluar menembus dinginnya malam. Bau tanah basah dan kayu lapuk menyengat hidungku saat kami menaiki tiga anak tangga menuju teras Pustu.
Mas Reno membuka pintu kayu tua yang berderit nyaring. Di dalam, udara terasa sangat pengap dan dingin. Aku berdiri gemetar di tengah ruang tunggu Pustu yang gelap pekat.
"Mas Reno..." panggilku gagu, menyambar ujung lengan kemejanya saat ia hendak berbalik menuju teras. "mas mau nginep disini kan malam ini , temenin aku?"
Mas Reno menarik lengannya pelan dari genggamanku. "Nginep gimana si, Mas kan harus pulang malam ini juga."
Mataku membelalak kaget. "Malam ini?! Mas, ini hujan deres banget loh mas , listrik juga mati total, jalanan licin, dan aku sendirian di bangunan tua ini! Ini malam pertamaku di sini mas”
"Arini, tolong ngertiin mas sekali aja!" suara Mas Reno naik satu oktaf, tampak sangat bersusah payah menahan kekesalannya. "Mas ada meeting penting malam ini , proyek besar perusahaan. Mas nggak bisa ngebatalin gitu aja cuma gara-gara kamu takut gelap!"
"Tapi ini udah jam delapan malam, Mas!" perjelasku dengan suara bergetar, menahan air mata yang mulai menumpuk di pelupuk mata. "Rapat kantor apa jam segini, Masi?!"
"Rapat dengan investor luar kota memang nggak kenal waktu!" potong Mas Reno cepat, memalingkan wajahnya ke arah pelataran. "Kamu itu perawat, Arini. Harus mandiri, jangan manja!"
Ucapan Mas Reno menampar ulu hatiku. Rasa sakit mendadak merayapi dadaku. Mengapa suamiku selalu menganggapku manja saat aku benar-benar ketakutan di tempat terpencil ini?
"Mas..." bisikku serak.
Mas Reno mendesah kasar, merogoh saku dalam jasnya untuk mengeluarkan dompet kulit hitamnya. "Nih, uang buat belanja kebutuhan kamu sementara."
Ia membuka lipatan dompet tersebut di bawah pendar layar ponselku yang redup. Saat jemarinya menarik beberapa lembar uang kertas seratus ribuan, sebuah kertas struk putih berukuran panjang terselip jatuh sedikit dari balik slot kartu.
Secara refleks, mataku menatap kertas itu.
Itu adalah receipt reservasi tempat dari sebuah restoran mewah ala Prancis di pusat kota. Tulisannya terlihat sangat jelas di bawah pendar cahaya layar:
Reservasi VIP - Restoran Le Ciel
Atas Nama: Reno Kusuma Atmaja
Jumlah: 2 Orang
Waktu: Malam ini, Pukul 21.30 WIB
Darahku mendadak berdesir dingin. Restoran mewah untuk dua orang? Pukul sembilan malam lewat?
"Pegang uangnya," ujar Mas Reno seraya menyodorkan tiga lembar uang tunai padaku, sama sekali tidak menyadari bahwa mataku baru saja membaca struk rahasia tersebut.
"Mas..." tanyaku dengan suara amat pelan, tenggorokanku mendadak kaku. "Meeting investornya di mana?"
Mas Reno menyipitkan mata, menatapku curiga. "Di ruang rapat kantor, kenapa lagi, Arini?"
Ia buru-buru menutup dompetnya, memasukkannya kembali ke saku jas, lalu menyambar gagang payung.
"Mas berangkat sekarang sebelum jalannya makin berlumpur," kata Mas Reno dingin tanpa menatap mataku lagi. "Kunci pintunya dari dalam. Jangan keluar-keluar!"
"Mas Reno! Tunggu, Mas!" teriakku menembus deru hujan.
Namun Mas Reno tidak memedulikanku. Ia melangkah cepat menuruni tangga teras, membuka pintu mobil, dan tancap gas. Sorot lampu mobilnya perlahan menjauh, membelah kegelapan kebun teh.
Aku mematung di ambang pintu. Dinginnya hembusan angin malam menusuk hingga ke tulang rusukku. Kesepian yang amat dahsyat mendadak merayap naik, menyiksa batinku hingga rasanya sulit bernapas. Kertas struk restoran atas nama dua orang itu menari-nari di ingatan, menghantam rasa percayaku pada Mas Reno sampai retak.
"Apa ada yang kamu sembunyiin, Mas...?" cicitku lirih, air mataku akhirnya lolos menetes membasahi lantai semen teras.
Aku melangkah mundur ke dalam ruang tunggu Pustu, hendak menutup pintu kayu yang lapuk itu untuk menguncinya rapat-rapat.
Brak!
Baru saja jariku menyentuh gagang pintu, sebuah tamparan angin kencang disertai kilatan petir menyambar di udara. Bersamaan dengan suara gemuruh yang membahana di atas atap seng...
Duk! Duk! Duk!
Pintu kayu Pustu digedor dengan sangat keras dari luar.
Aku terperanjat mundur, menjerit kecil hingga ponsel di genggamanku hampir terluncur jatuh. Debar jantungku berpacu sangat liar dalam ketakutan yang teramat sangat.
"Si-siapa?!" teriakku dengan sisa keberanian yang ada, meremas dadaku yang sesak.
Tidak ada jawaban suara. Hanya ada banyangan sosok pria jangkung bertubuh tegap di balik kaca buram pintu, berdiri kaku menembus derasnya air hujan.
"Minum dulu tehnya," suara bariton Mas Darma memecah keheningan yang menyiksa di teras Pustu.Aku mematung, menatap nampan kayu yang diulurkannya. Tanganku masih gemetar hebat memegang ponsel yang menampilkan foto jam tangan Mas Reno di akun Instagram Tasya. Dada ini serasa diremas sampai remuk. Rasa penasaran dan sesak yang meluap-luap membakar seluruh naluriku."Terima kasih mas Darma," cicitku dengan suara bergetar, bahkan tak sanggup mendongak menatap wajahnya.Mas Darma meletakkan cangkir itu pelan di atas meja kayu. Sorot mata pekatnya sempat tertahan lama pada raut wajahku yang pucat pasi, namun pria itu memilih memberi ruang dan melangkah mundur dua tapak. "Kalau butuh bantuan , saya ada di sekitar kebun."Begitu langkah kaki Mas Darma menjauh menuruni tangga teras, aku tak sanggup lagi menahan gelombang amarah dan rasa tidak percaya ini. Jemariku yang dingin langsung menekan tombol panggilan ke nomor Mas Reno.Panggilan pertama dialihkan. Ditolak begitu saja."Angkat, Mas...
Belum kering air mataku di balik tirai bilik medis, suara mesin mobil pikap yang menderu keras berhenti tepat di depan teras Pustu Sukamaju. Sore baru saja merayap, membawa hawa dingin khas pegunungan. Seorang pria asing berkaos lusuh menuruni pikap, menumpuk lima koper besar dan belasan kardus berisi seluruh barang pribadiku dari rumah ku dikota ,mulai dari baju, sepatu, dokumen penting, hingga bingkai foto pernikahan kami."Bu Arini, kan?" tanyanya dengan senyum. "Ini semua barang-barang dari rumah anda di kota disuruh bawa ke sini sama Nyonya Kusuma. Sama ini ada surat resmi dari dinas."Pria itu menyodorkan amplop putih berlogo instansi kesehatan. Dengan jemari gemetar dan jantung berdebar liar, aku merobek amplop itu. Baris demi baris tulisan resmi di dalamnya menghantam mataku....Dengan ini menyatakan bahwa masa pengabdian tugas Perawat Arini di Pustu Sukamaju diperpanjang menjadi 2 (dua) tahun terhitung sejak tanggal surat ini diterbitkan..."Dua... tahun?" cicitku tak percaya
"Baringkan di ranjang itu mas Darma! Cepat!"Insting perawatku seketika mengambil alih. Tangisan dan rasa bersalah yang sempat meremukkan hatiku menghilang begitu saja, tergantikan oleh fokus medis yang penuh presisi. Aku bergegas merobek bungkus sarung tangan steril dan memasangnya dengan cepat.Mas Darma membaringkan pria paruh baya itu di atas ranjang periksa. Darah segar berwarna merah pekat terus mengucur dari robekan dalam di betis sang pasien, menetes membasahi lantai semen. Rupanya bukan hanya diantar mas darma saja, pria yang rintihannya makin melemah ini juga didampingi seorang pria berkemeja proyek yang panik di belakang Mas Darma."Bantu saya tekan bagian atas lukanya dengan kassa ini, mas!" perintahku tegas tanpa ragu.Tanpa banyak bicara, Mas Darma mendekat. Tangan besarnya yang kekar langsung menekan tumpukan kassa steril tepat di atas pembuluh darah yang robek, menahan pendarahan sesuai intruksiku. Gerakannya sangat sigap dan tenang, sama sekali tidak jijik oleh bau am
Pagi menerobos masuk dari celah-celah jendela kayu Pustu Sukamaju, membawa aroma embun berpadu tanah basah. Listrik akhirnya menyala kembali, tetapi kegelapan di dalam dadaku sama sekali belum terhalau. Email dari Ibu Mertuaku semalam tentang makan malam di Restoran Le Ciel dan pujian untuk wanita anggun di samping Mas Reno terus berputar bagai mimpi buruk di kepalaku.Dengan jemari gemetar dan napas tersengal, aku memeluk ponsel di sudut kamar dinas. Aku butuh kepastian. Aku butuh mendengar bahwa semua ini hanya salah paham.Akhirnya aku memberanikan diri menelpon ibu mertuaku. Pada nada sambung ketiga, suara nyaring dan dingin Ibu Mertua menyapa kasar."Ada apa pagi-pagi telepon, Arini? Jangan bilang kamu mau ngeluh lagi soal Pustu!""Bu... maaf mengganggu," ucapku pelan, menelan ludah yang terasa pahit. "Arini cuma mau tanya... soal email keluarga yang Ibu kirim semalam. Tentang makan malam di Le Ciel... dan wanita yang mendampingi Mas Reno."Hening sejenak di seberang sana, sebelu












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.