Share

6. Bab 6

Author: Siti Aisyah
last update Petsa ng paglalathala: 2022-05-24 20:28:39

DIKIRA MISKIN 5

Aku maklum jika Mbak Wiwid menganggap uang yang kubelanjakan diberi Ibu. Saat ini Ibu memang sedang panen cabai, apalagi harga cabai juga sekarang lumayan bagus. Hasil panen Ibu juga melimpah, karena memang sawahnya luas, meski sekarang lahan yang Ibu garap sudah berkurang karena diberikan kepada Mbak Ranti dan Mbak Wiwid. Ya, Mbak Wiwid dan Mbak Ranti sudah punya bagian sawah masing-masing.

Lahan yang digarap Ibu saat ini adalah bagian Mas Yudi. Namun, karena Mas Yudi merantau, maka, lahan itu Ibu yang menggarapnya meski Ibu harus mengupah orang untuk membantu menggarap sawahnya.

Ibu hanya ke sawah hanya untuk melakukan pekerjaan ringan saja. Seperti mencabuti rumput liar atau saat musim panen seperti sekarang. Biasanya cabai akan dipetik setiap lima hari sekali.

Semenjak sakit, Ibu tidak pernah ke sawah lagi. Beliau menyuruh orang untuk memetik cabainya. Sekarang Mas Yudi juga tengah ikut panen di sawah bersama para pekerja lain.

"Nggak usah pelit sama aku kalau yang kamu belanjakan itu milik Ibu. Enak banget, ya Yudi, saat panen disuruh pulang untuk menikmati hasilnya sedangkan ia tidak pernah merasakan jerih payah menggarapnya," cecar Mbak Wiwid.

"Sudahlah, Wid, kamu juga selalu ikut menikmati hasil panen sawah Ibu. Makanya kalau punya sawah itu digarap biar ada hasilnya, bukan malah dianggurin seperti itu," ucap Ibu yang membuat Mbak Wiwid mengerucutkan bibir mendengarnya.

"Malas, ah, kalau harus ke sawah segala, nanti kulitku yang mulus dan putih ini jadi gosong terkena panas sinar matahari," ucap Mbak Wiwid manyun.

"Kalau takut gosong, kamu, kan bisa mengupah orang seperti punya Ibu," kata Ibu lagi 

"Memangnya menyuruh orang nggak butuh biaya banyak? Mending kalau berhasil, kalau gagal bagaimana? Udah keluar modal yang tidak sedikit malah gagal panen, mending nggak usah digarap biar nggak keluar modal," ucap Mbak Wiwid bersungut-sungut.

"Ucapan adalah do'a Mbak, benar kata Ibu, sebaiknya punya sawah itu diolah bukan malah dianggurin seperti itu. Jangan takut gagal, Mbak harus yakin. Soal berhasil atau tidak itu hak Allah, yang penting kita sudah berusaha," ucapku.

"Halah, kamu tahu apa soal persawahan? Aku malas mengolah sawah karena dulu pernah keluar modal banyak, eh, malah zonk, sudah rugi tenaga, rugi uang juga. Kamu kalau nggak tau apa-apa nggak usah ceramah. Bikin kupingku panas saja," ucap Mbak Wiwid dengan menutup kedua telinganya.

Benar kata Mbak Wiwid. Menjadi petani memang punya banyak resiko. Mengolah lahan pertanian memang tidak mudah. Mulai dari pencangkulan, pembibitan, penyemprotan pestisida, tentu membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Belum lagi, kalau saat panen tiba-tiba harga anjlok, tentu akan sangat merugikan para petani. Alasan inilah yang membuat Mas Yudi lebih memilih berdagang daripada bertani meski sawah orang tuanya luas.

Semua pekerjaan memang ada ada resikonya sendiri. Hanya pegawai yang tidak beresiko dan tidak kenal musim. Hujan tidak kehujanan, panas pun tidak kepanasan, pantas lah kalau bapak mertua sangat bangga dengan para menantunya yang menjadi pegawai sehingga membuat tidak suka dengan anak dan menantu yang tidak menjadi pegawai. Baginya menjadi pegawai adalah sebuah pekerjaan yang keren karena setiap bulan gajian dan lebih bermartabat di mata masyarakat.

Enam bulan yang lalu, Ibu menghubungi Mas Yudi melalui telepon, beliau minta uang tambahan untuk modal menggarap sawahnya, apalagi sawah yang Ibu garap juga sebenarnya milik Mas Yudi. Jadi, menurutku tidak masalah jika sekarang Mas Yudi ikut menikmati hasilnya. Meski sebenarnya kami tidak pernah ikut merasakannya. Uang kami sudah cukup tanpa minta Ibu. Namun, di mata  Mbak Ranti dan Mbak Wiwid, kami tetaplah sepasang suami istri yang tidak punya uang sehingga setiap mau belanja harus minta ke Ibu.

"Benar kata Antika, seharusnya sawah yang kuberikan kamu garap bukannya dianggurin biar ada penghasilannya, bukan bisanya cuma duduk dan gemar goyang tik tok yang tidak bermanfaat." Ucap Ibu.

"Ibu kenapa sekarang berubah semenjak ada Antika di sini ya? Apa jangan-jangan Ibu sudah kesurupan?" Kata Mbak Wiwid seraya mendekat dan meraba kening Ibu, namun dengan cepat Ibu menepis tangan anak perempuannya itu.

"Anak nggak ada akhlak, bisa-bisanya bilang Ibu kesurupan?" Ucap Ibu kesal.

"Habis Ibu sudah berani ceramahin aku, sih? Ini pasti gara-gara Antika. Yang anak Ibu itu aku, bukan Antika. Jadi, seharusnya yang Ibu bela itu aku bukan Antika. Sepertinya Ibu sudah mulai sayang dengan Antika?" Kata Mbak Wiwid dengan nada tinggi.

"Ini bukan soal anak atau bukan anak. Aku memang sudah mulai sayang dengan Antika karena dia menantu yang sangat baik dan perhatian. Kamu lihat, semenjak ada dia, Ibu semakin sehat karena makan tidak pernah terlambat, dan ada teman ngobrol. Sedangkan kamu sebagai anak perempuan, apa pernah perhatian sama Ibu saat sakit? Nggak, kan? Kamu hanya datang saat ibu panen karena ingin minta uang." Jelas Ibu yang membuat mata Mbak Wiwid makin melebar.

"Halah, Antika baik pasti karena ada maunya. Orang miskin memang begitu, Bu. Dia pasti senang saat diminta tinggal di sini agar bisa nebeng makan sama Ibu, iya, kan? Ayo ngaku!" Kata Mbak Wiwid dengan tatapan  tajam ke arahku.

"Kamu ini ngomong apa tho, Wid? Harusnya kamu sadar diri, siapa yang selama ini nebeng sama Ibu kalau bukan kamu. Sedangkan Antika dan Yudi tidak pernah minta uang padaku, bahkan setelah bapakmu tiada, Yudi rutin mengirimiku uang setiap bulan," kata Ibu panjang lebar.

"Apa?"

Waduh, kenapa Ibu mesti bilang kalau Mas Yudi selalu memberinya uang setiap bulan setelah Bapak tiada?

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • DIKIRA MISKIN   87. Bab 87

    DIKIRA MISKIN 87Kami hanya terdiam mendengar permintaan sang keponakan yang sudah beranjak remaja itu. Rifki masih saja menggoyangkan lengan Mas Yudi dan berharap agar ia mau menuruti permintaannya mengizinkan papanya ikut tinggal dengan kami.Tiba-tiba terdengar suara tepuk tangan yang cukup keras dari arah belakang. Kami menoleh serempak."Hebat, kamu, Mas?" kata Elvira dengan masih bertepuk tangan dan berjalan mengitari Mas Ajun."Pak Atmaja?" Mas Ajun pucat pasi saat melihat kedatangan mantan istri dan mertuanya serta Mas Fikar."Pintar sekali kamu mengarang cerita dan memutar balikkan fakta. Kamu layak untuk menjadi aktor yang pandai berakting dan bersandiwara di depan kamera, ck ck ck," ucap Elvira tersenyum sinis."Ada apa ini? Kenapa kalian datang ke sini beramai-ramai?" tanya Mbak Ranti."Kami mendengar kabar kalau Wiwid meninggal. Ya, meski aku benci dengannya, tapi bagaimanapun juga ia adalah calon dari bagian keluarga kami. Saat Mas Fikar menikah dengan Mbak Ranti, otoma

  • DIKIRA MISKIN   86. Bab 86

    DIKIRA MISKIN 86Aku terpaku di samping jenazah Mbak Wiwid. Lidahku terasa kelu, tidak mampu berkata lagi.Masih teringat dengan jelas saat Mbak Wiwid bilang kalau saat kami datang menjenguknya, ia sudah tidak bernyawa. Sekarang ucapannya itu menjadi nyata. Apakah ini yang disebut dengan ucapan adalah do'a?Semoga Mbak Wiwid sudah bertaubat saat meninggal. Meski banyak harapan yang belum terwujud.Aku ngeri saat melihat wajah Mbak Wiwid yang sudah pucat karena memang nyawa sudah lepas dari raganya. Itu artinya darahnya sudah berhenti mengalir, jantung sudah tidak berdetak dan organ tubuh sudah tidak berfungsi sebagaimana mestinya."Wiwid. Kenapa kamu pergi secepat ini? Mbak sayang kamu, Wid," seru Mbak Ranti sambil memeluk Mbak Ranti yang matanya sudah tertutup rapat."Sabar, Mbak. Ikhlaskan kepergian Mbak Wiwid." Aku mengusap pundak Mbak Ranti dengan lembut.Kami kembali terdiam, larut dakam pikiran masing-masing. Bagaimana dengan ibu? Ibu pasti shock jika mengetahui kenyataan ini, p

  • DIKIRA MISKIN   85. Bab 85

    DIKIRA MISKIN 85"Bagaimana, Yud? Apakah kamu berhasil menemui Ajun dan mengancamnya?" tanya Mbak Ranti. Mas Yudi baru saja pulang dari menjalankan misi yang diminta wanita yang akan segera menikah itu."Tidak," jawab Mas Yudi. Tanganya meraih gelas di hadapannya dan segera meminum habis minuman yang tersaji di meja."Maksudmu tidak, apa?" tanya Mbak Ranti dengan dahi mengernyit."Aku tidak berhasil menemui Ajun karena ternyata dia sudah pisah dengan Elvira," kata Mas Yudi."Apa?" "Tadi aku ke rumah Elvira. Awalnya dia marah-marah padaku, dia bilang aku tidak becus menjaga kakak sehingga Mbak Wiwid berbuat nekat. Pusing aku, Mbak Wiwid yang berbuat, aku harus ikut menanggung akibat." Mas Yudi mengusap pelipisnya. Aku segera duduk di sampingnya dan memberikan sentuhan hangat."Terus Ajun sekarang tinggal di mana?" tanya Mbak Ranti. "Mana aku tahu, Mbak. Intinya Mbak tidak perlu khawatir, jika menikah dengan Fikar, Ajun tidak akan ada di sana. Keluarganya tidak akan tahu kalau Mbak Ra

  • DIKIRA MISKIN   84. Bab 84

    DIKIRA MISKIN 84"Pokoknya aku tidak mau punya kakak ipar dari keluarga Atmaja." Mbak Wiwid masih saja cemberut, sementara Mbak Ranti sudah pergi membawa rasa jengkel."Aku sudah merestui hubungan mereka. Orangtuanya juga sudah datang melamar dan kita tinggal menentukan tanggal untuk melangsungkan acara pernikahan," ucap Ibu."Aku akan menggagalkan pernikahan mereka. Bagaimanapun caranya." Tangan kurus Mbak Wiwid mengepal."Bagaimana caranya, Mbak, kan ada di sini? Sakit lagi," tanya Mas Yudi."Aku akan mati dan arwahku akan gentayangan, kemudian mengganggu Mbak Ranti dan Mas Fikar sehingga mereka tidak akan bisa hidup tenang dan pernikahan pun gagal. Aku yang sudah berada di alam lain akan tertawa saat melihat Mbak Ranti menangis karena gagal nikah dengan lelaki kaya." Mbak Wiwid tersenyum puas. Ia pasti sedang membayangkan kalau menjadi arwah penasaran itu menyenangkan. "Suatu pemikiran yang konyol. Memangnya ada arwah penasaran? Mbak Wiwid ini korban film horror kayaknya. Tidak ad

  • DIKIRA MISKIN   83. Bab 83

    DIKIRA MISKIN 83Kami saling berpandangan saat Mbak Ranti bilang nama calon suaminya sama dengan yang dibilang Mbak Wiwid. Apa mungkin hanya namanya saja yang sama? Atau memang yang mereka maksud itu orang yang sama? Kenapa bisa kebetulan banget begitu?"Kamu kenal dengan lelaki yang bernama Zulfikar Atmaja?" Bukan hanya aku yang penasaran, Mas Yudi juga."Kalau Zulfikar Atmaja, aku kenal, tapi entah dia yang kumaksud atau orang lain. Mungkin hanya namanya yang sama, kan?" Mbak Wiwid tersenyum."Ya, mungkin hanya namanya yang kebetulan sama. Dia seorang manager di sebuah perusahaan bonafit. Dia sering datang ke resto-ku," jelas Mas Yudi. Pernyataannya menjawab rasa penasaranku."Oh." Mbak Siwid hanya ber 'oh' ria dan tidak bertanya lagi."Kamu yakin tidak mau kusewakan pengacara agar masa tahanan kamu bisa berkurang, Mbak?" tanya Mas Yudi mengalihkan pembicaraan."Iya, aku mau di sini sampai masa tahananku habis sambil memperbaiki diri. Lagi pula aku juga tidak mau utangku semakin me

  • DIKIRA MISKIN   82. Bab 82

    DIKIRA MISKIN 82Rifki histeris melihat kondisi mamanya, pun dengan kami. Apalagi Ibu, ia bahkan sampai gemetar melihat anak yang selama ini ia manja dan ia rindukan sedang mengalami masa kritis.Ibu terus melantunkan istigfar. Tangannya mengusap lengan Mbak Wiwid."Ya Allah, sembuhkanlah anakku, berilah ia kesempatan untuk memperbaiki diri. Kami sudah memaafkan kesalahannya," ucap Ibu tulus.Mata Mbak Wiwid yang awalnya melotot dan seperti menahan sakit, tiba-tiba terpejam dan tubuhnya mendadak lemas setelah beberapa saat sebelumnya terlihat kaku."Kenapa dengan anak saya, Dok? Dia akan baik-baik saja, kan?" Ibu panik."Tenang, Bu. Pasien hanya pingsan," jawab Dokter Rudy."Dokter tidak bohong, kan? Anak saya tidak mati, kan?" tanya Ibu lagi seraya memeluk Mbak Wiwid yang mata kini sudah terpejam. Aku melihat ada seukir senyum di bibirnya.Mbak Wiwid masih hidup, terlihat dengan jelas dadanya masih naik turun. Saat tanganku mendekat di lubang hidung, masih ada embusan napas di sana.

  • DIKIRA MISKIN   22. Bab 22

    DIKIRA MISKIN 22"Bu," kataku seraya memegang lengan Ibu. Aku merasa tidak enak dengan sikap Mbak Wiwid hari ini. Aku bukannya mengalah, tapi, aku hanya ingin hidup tenang. Uang bisa di cari, tapi, ketenangan harus diciptakan."Biarkan saja, kalau nggak sekali-kali dikasih pelajaran bisa tuman, berlak

    last updateHuling Na-update : 2026-03-18
  • DIKIRA MISKIN   20. Bab 20

    DIKIRA MISKIN 20"Oh, aku pikir itu mobilnya si Yudi. Kalau benar, aku juga harus punya." Aku masih mendengar perkataan Mbak Ranti meski sekarang aku sudah berada di dapur, tanganku sudah siap memegang pisau untuk memotong wortel."Kalau kamu pingin mobil, ya, beli saja, nggak usah minta Ibu. Ibu suda

    last updateHuling Na-update : 2026-03-18
  • DIKIRA MISKIN   23. Bab 23

    DIKIRA MISKIN 23Usai bilang kalau Mas Yudi adalah seorang anak yang tidak pernah diinginkan, tatapan Ibu menerawang seperti adegan dalam sebuah sinetron. Terlihat ia menghela napas perlahan dan menghembuskannya. Aku melihat ada gurat penyesalan di sana.Aku dan Mas Yudi terdiam menunggu kata-kata Ibu

    last updateHuling Na-update : 2026-03-18
  • DIKIRA MISKIN   21. Bab 21

    DIKIRA MISKIN 21"Memangnya kamu punya utang berapa tho, Wid, sampai menggadaikan sawah segala?" Tanya Ibu."Nggak banyak kok, Bu, lagi pula ini atas kemauan Mbak Ranti sendiri, ia bersedia membayar utang asalkan sawahku dia yang menggarapnya. Lagi pula selama ini aku juga tidak pernah mengurus sawah

    last updateHuling Na-update : 2026-03-18
Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status