Home / Romansa / DOKTER SETAN / Ketika Harus Memilih

Share

Ketika Harus Memilih

Author: Reez
last update Petsa ng paglalathala: 2025-05-27 16:10:40

“Kau sudah melihatku, Radit. Sekarang kau harus memilih.”

Suaranya tak terdengar melalui udara. Tapi muncul dari dalam dada, bergema seperti bisikan dari ruang sempit. Dalam gelap, mata itu tetap menatapku tanpa berkedip. Tak ada wajah, tak ada tubuh—hanya sepasang mata yang diam, namun membuat kulit leherku menegang.

Aku bergeming. Napasku terasa pendek. Jari-jari kakiku mencengkeram lantai dingin, tapi rasanya aku tak menyentuh apa pun. Dunia seperti menguap di sekitar cermin. Hanya suara denyut jantung yang terdengar jelas di telingaku.

“Pilih apa?” tanyaku pelan. Bahkan suaraku sendiri terasa asing.

Mata itu bergerak sedikit, lalu menyipit seperti sedang tersenyum—atau menghina. Sinar samar dari luar jendela menyingkap bayangan wajah samar, tapi setiap detailnya kabur, seperti lukisan minyak yang setengah terhapus.

“Pilih siapa yang akan tetap tinggal... dan siapa yang akan menghilang.”

Aku mencoba mundur, tapi kakiku seperti menancap di lantai. Cermin itu memantulkan lebih dari bayanganku. Ia memantulkan pilihan yang belum kumengerti, dan ancaman yang belum bisa kutafsirkan.

Lampu mendadak menyala. Suaranya meletik pelan, dan dunia kembali seperti biasa. Cermin hanya cermin. Bayanganku sendiri kembali menatapku, normal, lurus, tidak tersenyum.

Aku menghela napas panjang. Tapi napas itu tidak menenangkan. Rasanya seperti menelan air dingin yang menyusup terlalu dalam.

Kamar kontrakan ini terasa terlalu sempit sekarang. Dinding kayunya seperti memendek, langit-langit seperti menunduk, dan udara tak cukup untuk satu orang—apalagi dua jiwa.

Aku mengenakan jaket dan keluar.

Udara luar menyengat, meski malam masih menggantung di langit. Deru motor sesekali lewat, tapi jalanan di depan kontrakan relatif sepi. Aku berjalan tanpa arah, hanya mengikuti dorongan yang belum sempat kumaknai.

Beberapa warung kopi pinggir jalan mulai tutup. Penjual gorengan menutup gerobaknya dengan terpal. Dunia malam ini tampak normal. Tapi justru itu yang membuatnya mengganggu.

Di ujung jalan, aku melihat toko fotokopi yang lampunya masih menyala. Di dalamnya ada dua orang—satu duduk, satu berdiri. Yang berdiri... adalah Intan.

Aku berhenti sejenak. Jantungku berdetak lebih cepat. Ada dorongan aneh untuk berpaling, tapi langkah kakiku malah mendekat.

“Radit?” Intan menoleh begitu aku masuk. Wajahnya tampak lega, tapi ada juga jejak lelah di bawah matanya.

“Aku tidak tahu kau tinggal dekat sini,” kataku, berusaha terdengar biasa.

“Baru tadi sore aku pindah ke kontrakan di gang belakang. Kos lama terlalu bising,” jawabnya sambil menyipit karena silau lampu neon toko.

Aku mengangguk pelan, mataku menatap map yang digenggamnya.

“Kau sedang mencetak apa?”

Ia menyerahkan selembar hasil fotokopi.

Gambar itu—hitam-putih, kontras tinggi. Sebuah simbol berbentuk lingkaran dengan dua garis melintang di tengah, menyerupai mata dengan pupil berputar. Simbol itu tampak seperti ukiran kuno atau mantra yang dipahat di batu.

“Ini yang muncul di mimpiku malam tadi,” katanya pelan. “Saat... sosok itu mendekat.”

Aku menelan ludah. Lambang itu... samar-samar terasa familier. Bukan karena pernah kulihat secara nyata, tapi karena aku merasa pernah merasakannya.

“Aku juga melihat sesuatu,” kataku lirih. “Di cermin.”

Intan menatapku lama, seolah menimbang apakah ia sendiri cukup kuat untuk mendengar kelanjutannya.

“Ada versi lain dari diriku... yang bukan aku,” lanjutku. “Dan dia bilang... aku harus memilih siapa yang akan tetap tinggal.”

Kami berjalan berdampingan menyusuri trotoar. Tak ada niat untuk pulang. Malam ini seperti menolak untuk berakhir. Angin lembap membawa bau bensin dan tanah basah.

“Kau pikir... ini semacam peringatan?” tanya Intan. “Atau hukuman?”

“Entahlah,” jawabku. “Tapi rasanya kita bukan satu-satunya.”

Intan menghentikan langkahnya.

“Aku juga memikirkan hal yang sama,” bisiknya.

Ia merogoh tas dan mengeluarkan sebuah amplop cokelat lusuh. Isinya adalah potongan artikel lama, dari koran lokal yang warnanya sudah pudar. Judulnya nyaris tak terbaca, tapi satu foto kecil cukup jelas: seorang pria berjas putih dengan sorotan mata yang tajam, berdiri di depan bangunan rumah sakit tua yang tak lagi beroperasi.

“Ini... siapa?” tanyaku.

“Dokter Arlan Nugraha. Tahun 1997, ia tiba-tiba ‘menghilang’ dari dunia medis setelah serangkaian operasi ‘ajaib’. Tidak pernah tercatat melakukan malpraktik, tapi semua pasiennya sembuh dengan cara yang tak bisa dijelaskan. Dan semua rekannya—perlahan mengundurkan diri atau menghilang.”

Aku membalik kertas itu, mencoba mencari keterangan lebih lanjut.

“Tak ada catatan ke mana dia pergi. Tapi beberapa pasien menyebut satu hal yang sama: mereka bermimpi tentang dirinya... bahkan setelah sembuh.”

Kami berdiam di bawah pohon kamboja, tak jauh dari area pemakaman kecil yang terletak di ujung jalan. Akar pohon menonjol dari tanah seperti urat tua yang menyembul ke permukaan, membentuk jalur-jalur bengkok yang menyilang.

Intan menatap ke arah nisan-nisan yang berbaris rapi di balik pagar besi.

“Kadang aku berpikir... bagaimana kalau kekuatan ini bukan karunia, tapi warisan? Sesuatu yang diturunkan, bukan karena kita layak... tapi karena kita dipilih tanpa bisa menolak.”

Aku tidak menjawab. Tapi angin yang tiba-tiba bertiup dari arah makam membuat daun-daun kering beterbangan di sekitar kaki kami.

Ketika aku kembali ke kamar, tubuhku lelah, tapi pikiranku tetap menolak tenang. Simbol dari gambar tadi seperti terukir di balik mataku. Setiap kali aku memejamkan mata, lingkaran itu muncul—berputar perlahan, seperti hipnosis.

Aku duduk di depan cermin, menyalakan lilin kecil karena lampu sudah mulai berkedip lagi. Pendar api menciptakan bayangan yang menari di permukaan kaca.

Dan di tengah bayangan itu, mata itu kembali muncul.

Tapi kali ini, tidak hanya satu pasang.

Tiga.

Tiga pasang mata menatapku dari balik bayangan. Semuanya sama—gelap, dalam, tak memantul cahaya.

Lalu... suara itu kembali.

“Satu akan jadi tuan. Dua akan jadi korban.”

Sebelum aku sempat bicara, bayangan cermin itu... bergerak mendekat.

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • DOKTER SETAN   Arsip yang Masih Bernapas

    “Jangan menoleh.”Suara itu terdengar jelas di dalam kepalaku.Bukan melalui telinga. Bukan pula seperti bisikan yang datang dari balik dinding. Suara itu muncul begitu saja, seolah sudah lama tinggal di pikiranku dan baru memilih waktu yang tepat untuk berbicara.Aku mematung di depan pintu bernomor 039.Pantulanku di cermin kecil masih berdiri tanpa bergerak. Matanya tidak berkedip. Wajahnya tetap datar, jauh lebih tenang daripada diriku yang sebenarnya.“Radit...”Intan menyentuh lenganku pelan.“Ada apa?”Aku tidak langsung menjawab. Tenggorokanku terasa mengering.“Jangan menoleh,” bisikku.“Apa?”“Barusan... ada yang bicara.”Wajah Intan langsung berubah tegang.“Dari mana?”Aku menunjuk cermin.“Dari situ.”Ia ikut mendekat.Namun ketika ia melihat ke dalam cermin,

  • DOKTER SETAN   Lantai Ketujuh

    “Rumah sakit ini... cuma punya enam lantai.”Suara Intan nyaris pecah. Jemarinya masih mencengkeram lenganku, dingin seperti baru saja direndam air es. Di lorong yang kini kosong, gema pengumuman itu terdengar berulang, memantul dari dinding ke dinding hingga sulit ditebak dari mana asalnya.Aku menelan ludah.“Kalau memang hanya ada enam lantai...” kataku perlahan, “berarti lantai ketujuh memang tidak pernah diperuntukkan bagi orang biasa.”Arlan masih berdiri beberapa meter di depan kami.Ia tidak bergerak. Tidak berkedip. Wajah pucatnya tetap menghadap lurus ke arahku.Aku memberanikan diri melangkah mendekat.“Arlan?”Tak ada jawaban.“Kalau kamu memang Arlan Prakoso... katakan sesuatu.”Beberapa detik berlalu.Lalu bibirnya bergerak sangat pelan.“Jangan... terlalu dekat.”Suaranya terdengar seperti dua orang berbicar

  • DOKTER SETAN   Foto dari Masa Depan

    “Intan... jangan bergerak.”Suaraku nyaris tidak terdengar. Tenggorokanku mendadak kering ketika mataku terpaku pada layar ponsel. Foto itu masih terpampang jelas. Aku, Intan, dan sosok pasien yang berdiri beberapa langkah di belakang kami.Yang membuat bulu kudukku berdiri bukan hanya keberadaan pria itu.Melainkan waktu pengambilan fotonya.Satu menit yang akan datang.“Ada apa?” tanya Intan pelan.Aku mengangkat ponsel tanpa menjawab.Ia mendekat, lalu membaca tulisan di layar.Kulihat wajahnya perlahan kehilangan warna.“Ini... editan?”Aku menggeleng.“Ponselku mati sejak tadi.”Belum sempat kami mencerna apa yang kami lihat, detik di pojok layar mulai bergerak.00:59Hitung mundur.Aku dan Intan saling berpandangan.“Kalau foto ini benar...” bisik Intan.“...ber

  • DOKTER SETAN   Mata yang Mengintip Langit

    “Langitnya... kenapa merah?”Suaraku terdengar serak. Bahkan aku sendiri nyaris tak mengenalinya. Tenggorokanku masih terasa kering setelah akhirnya membuka mata di ruang perawatan itu. Aroma antiseptik memenuhi udara, bercampur dengan bau hujan yang merembes masuk dari jendela yang sedikit terbuka.Intan tidak langsung menjawab.Ia mengikuti arah pandangku ke luar jendela. Wajahnya perlahan kehilangan warna. Jemarinya yang semula menggenggam tanganku mulai mengencang tanpa ia sadari.“Aku...” katanya pelan. “Aku juga baru melihatnya.”Aku mengerutkan dahi.Langit benar-benar merah.Bukan merah senja. Bukan pula merah karena cahaya matahari yang dipantulkan awan. Warna itu pekat, seperti lapisan darah tipis yang membentang di seluruh cakrawala. Anehnya, orang-orang di halaman rumah sakit tetap berlalu-lalang seperti biasa. Perawat mendorong kursi roda. Seorang petugas kebersihan menyapu daun. Dua keluarga pasien berbincang di bawah pohon.Tak seorang pun mendongak.“Mereka tidak melih

  • DOKTER SETAN   Ruang Pengganti

    "Radit..."Suara Intan terdengar samar, seperti melintasi lapisan-lapisan kaca tebal. Tubuhku yang berbaring di ranjang tampak tenang. Tapi aku, entah siapa versi aku yang sedang berdiri di sini, hanya bisa memandang tanpa mampu menyentuh.Aku mencoba mendekat.Tapi ruangan itu seperti menolakku.Setiap kali aku mengambil langkah, jaraknya tak berubah. Seolah ada jarak tetap antara aku yang berdiri dan tubuhku yang terbaring."Kenapa aku tidak bisa kembali?" tanyaku pelan, hampir seperti bicara pada diri sendiri.Anak kecil itu muncul lagi di sampingku, kali ini duduk di lantai putih, memainkan serpihan kaca kecil yang memantulkan cahaya redup.“Karena dia belum selesai menggunakanmu,” katanya.Aku menoleh cepat. “Siapa?”“Yang memanggil semua ini jadi mungkin.”Kata-kata itu menggantung di udara. Sunyi. Lalu bergema, seperti bayangan dari tempat lain.“Siapa yang memanggil?”Anak kecil itu berhenti bermain, memandangku dengan mata kosong.“Kamu.”Segalanya kembali runtuh.Ruang rumah

  • DOKTER SETAN   Kamar Tanpa Waktu

    Cahaya.Itu hal pertama yang menyambutku saat aku membuka mata. Bukan cahaya matahari, bukan pula lampu ruang rawat yang biasa. Ini lebih seperti semburat putih susu yang melingkupi segalanya. Datar. Tak ada arah. Tak ada bayangan.Aku terbaring di atas ranjang besi, tangan dan kakiku tidak diikat, tapi aku juga tidak bisa bergerak.Rasanya… seperti tubuhku tidak sepenuhnya milikku.“Radit.”Suara itu memanggilku, tenang dan lembut, seperti suara yang sudah lama kukenal tapi tak bisa kuingat.Aku menoleh pelan. Seseorang duduk di sudut ruangan yang kini mulai terlihat. Ia mengenakan pakaian putih sederhana. Matanya menatapku, lekat, tapi tidak menghakimi.“Siapa kamu?” tanyaku.“Nama tidak penting di sini,” jawabnya. “Yang penting adalah kamu akhirnya bangun.”Aku mencoba duduk. Leherku berat. Suaraku serak.“Di mana ini?”Ia tersenyum. “Di antara semua kemungkinan.”Kalimat itu langsung membangkitkan ingatanku akan suara terakhir yang kudengar sebelum semuanya padam.“Kami baru saja

  • DOKTER SETAN   Mata Misterius

    “Aku tahu ini sulit dipercaya. Tapi aku tidak sedang mengada-ada.”Aku menatap Intan dalam diam. Kata-katanya barusan masih bergema dalam kepala—bahwa dalam mimpinya, dia melihat sosok menyerupai diriku… dengan mata yang bukan milik manusia.Lorong tempat kami berdiri terasa makin sunyi. Bahkan sua

  • DOKTER SETAN   Tulisan Itu

    “Aku tidak menulis itu...”Aku mengangkat kepala. Suara itu lirih, pelan seperti desir angin melewati celah pintu, tetapi cukup jelas untuk membuatku menahan napas. Ibu Sri, wanita tua yang tadi siang kutolong dari kematian, duduk lemah di ranjangnya, matanya menatap kosong ke jendela.“Tapi tulisa

  • DOKTER SETAN   Aku yang Tidak Lagi Sama

    “Dok, pasien di ruang 3... dia enggak bernapas!”Aku baru saja mengganti baju jaga ketika suara panik itu menghantam telingaku. Seorang perawat muda dengan wajah pucat nyaris tersandung saat masuk ke ruang staf. Nadanya gemetar, dan tangan yang memegang tablet digitalnya berkeringat.Aku tak menjaw

  • DOKTER SETAN   Luka di Antara Lampu Neon

    “Aku minta maaf, Radit. Tapi kamu bukan tipe laki-laki yang bisa kuandalkan untuk masa depan.”Kalimat itu menghantam dadaku seperti palu godam yang dipukulkan dengan senyum. Aku menatapnya, Sofia, perempuan yang selama ini kupikir akan bersamaku sampai akhir. Tapi malam itu, di restoran yang tak s

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status