Mag-log in
Vera mencengkeram seprei dengan jemari yang masih gemetar, sementara Dante membenamkan wajahnya di ceruk leher Vera, mengambil napas dalam-dalam seolah baru saja menyelesaikan marathon yang brutal.
Pria itu telah menuntaskan ‘permainan’ mereka dengan intensitas yang lebih gelap dari malam-malam sebelumnya. Seolah ia sedang mencoba menandai setiap inci dalam tubuh Vera. “Hhhh,” desah Dante, suara beratnya bergetar di kulit Vera, mengirimkan sisa gelombang gairah yang masih bisa membuat wanita itu merinding. “Bangun, Dante. Aku mau tidur sebentar sebelum pulang,” usir Vera, suaranya parau. Ia menepuk-nepuk pundak lebar Dante yang masih telanjang. “Malam ini aku agak lelah.” Dante tidak bergerak. Pria tiga puluh lima tahun itu justru menatap langit-langit kamar ‘khusus’ mereka dengan tatapan kosong yang mencekam. “Dante!” Suara Vera melengking, ia sudah siap meraih bantal untuk melemparkannya, tapi Dante bergerak lebih cepat. Dalam satu gerakan sigap dan refleks yang lincah, Dante menangkap pergelangan tangan Vera dan menguncinya di atas bantal. Pria itu memutar posisi. Kini ia mengunci Vera sepenuhnya, menjepit tubuh mungil itu dengan kedua kaki di kiri-kanan pinggul Vera menggunakan lutut yang ditekuk kuat. Tatapan kosong Dante perlahan menajam, fokus sepenuhnya pada manik mata Vera yang sekarang membulat karena terkejut dan sedikit waspada. Dante tidak melepaskan cengkeramannya, justru jemarinya menelusuri nadi di pergelangan tangan Vera, merasakan detak jantung wanita itu yang memburu tidak beraturan. “Delapan bulan,” gumam Dante tiba-tiba, suaranya serak dan sangat rendah. Vera mengernyit, napasnya tercekat karena bobot tubuh Dante yang mendominasi setengah tubuhnya. “Hmm?” “Sudah delapan bulan kita menjalani omong kosong ini. Datang jam sepuluh malam, bercinta sampai habis napas, lalu kau atau aku akan sama-sama saling mengusir.” Dante mendekatkan wajahnya, menyeringai miring. “Kau tahu apa yang kupikirkan saat menatap langit-langit tadi, Vera Nyx?” Vera menggeleng kaku, insting waspadanya sebagai seorang wanita yang keras kepala mulai menyala cepat. “Dante, minggir. Kau menakutiku.” “Bagus,” bisik Dante tepat di depan bibir Vera, aroma maskulinnya mengintimidasi indra penciuman Vera. “Rasa takut itu penting. Itu artinya kau sadar posisimu di hadapanku.” Dante memindahkan satu tangannya dari pergelangan tangan Vera untuk merogoh saku celana jeans-nya yang tergeletak di lantai dengan susah payah tanpa bangkit, lalu mengeluarkan ponselnya. Ia mengetik sesuatu dengan cepat, lalu melempar ponsel itu ke samping bantal Vera. “Kontrak lama hangus. Aku sudah menghapusnya dari penyimpanan online kita,” ucap Dante dingin. “Kau gila?! Itu peganganku supaya kau tidak macam-macam, Dante Obsidian!” seru Vera panik, wajahnya memerah karena amarah yang mulai naik. “Dan ini pegangan barumu,” Dante menekan dadanya sendiri ke dada Vera, memaksa wanita itu merasakan degup jantungnya yang keras, seirama dengan detak jantung Vera. “Mulai sekarang, tidak ada lagi aturan ‘pulang atau bubar sebelum pagi’. Tidak ada lagi aturan ‘hanya di kamar ini’. Jika aku ingin memilikimu di meja kerjamu, aku akan datang. Jika aku ingin kau menemaniku tidur semalaman hanya karena aku butuh memeluk sesuatu, kau tidak berhak menolak.” Vera memberontak hebat, mencoba menendang dengan kakinya, tapi Dante mengunci kedua paha wanita itu makin erat dengan lututnya yang kuat dan kokoh. “Itu perbudakan, Dante! Bukan kesepakatan!” “Sebut saja sesukamu,” Dante mengecup kasar rahang Vera, meninggalkan jejak panas dan tanda kepemilikan di sana. “Tapi selama delapan bulan ini, aku melihat caramu menatapku saat kau mencapai puncak. Kau milikku, Vera Nyx. Tubuhmu tahu itu lebih dulu daripada otak keras kepalamu ini.” Dante mengangkat wajahnya lagi, menatap Vera dengan dominasi mutlak yang tidak menyisakan ruang untuk negosiasi. “Jadi, pilihannya sederhana. Revisi kontrak ini. Kau milikku dua puluh empat jam, atau kau keluar dari pintu itu sekarang tapi aku pastikan hidupmu di luar sana akan seperti di neraka. Aku akan menghancurkan siapa pun pria yang berani menatapmu, apalagi menyentuhmu.” Dante menanti jawaban, napasnya memburu, menunggu Vera menyerah pada kegelapan yang ia tawarkan. Vera menarik napas tajam, kemarahan berkilat di matanya yang indah namun tajam. “Kau bajingan, Dante!” Satu detik setelah kalimat itu keluar, Vera mengumpulkan seluruh keberanian dan sisa harga dirinya. Ia meludah tepat ke arah wajah Dante. Sebentuk tindakan penghinaan tertinggi bagi pria yang paling ditakuti di Arcadia City. Dante mematung. Setetes cairan itu mengalir di pipinya yang tegas. Suasana di kamar itu mendadak menjadi sangat dingin, seolah oksigen terserap habis. Vera mengira Dante akan meledak marah, lalu mencekik atau menamparnya, tapi yang ia dapatkan justru jauh lebih mengerikan. Dante menyeringai. Sebuah seringai khas yang licik, seolah menggambarkan bahwa pria itu telah menemukan mangsa yang paling menarik. Ia mengusap pipinya dengan punggung tangan, lalu menatap Vera dengan tatapan tajam yang intens. “Kau baru saja membuat kesalahan paling nikmat dalam hidupmu, Vera,” bisiknya. “Ganti lingkungannya secara total,” saran Dokter Hans. “Pindah ke rumah lain, atau setidaknya renovasi total lantai itu agar tidak ada lagi kemiripan dengan tempat kejadian. Dia butuh tempat yang netral untuk mulai membangun memori baru.”Dante terdiam. Pindah dari The Apex, berarti meninggalkan Obsidian Tower. Jelas bukan hal mudah baginya, tapi melihat Vera menjerit ketakutan tadi membuatnya merasa teriris.“Kita pindah ke Villa del Velo di pinggir kota besok pagi,” putus Dante final. “Siapkan semuanya. Dan pastikan di sana tidak ada satu pun benda yang bisa mengingatkannya pada masa lalu.”Di dalam mobil menuju Villa, Vera duduk bersandar di kursi belakang, menatap keluar jendela. Ia tampak tenang, namun di dalam kepalanya, ia sedang menyusun kepingan-kepingan.Ia sengaja menjerit tadi malam. Ia tahu kamar itu adalah pusat penderitaannya, dan ia butuh alasan untuk menjauh dari jangkauan Dante yang terlalu intim.Vera melirik Dante melalui pantulan kaca jendela. Pria itu rupanya men
Dua puluh jam berlalu dalam keheningan yang menyesakkan. Dante tidak beranjak sedikit pun dari sisi ranjang Vera.Ia tidak makan, tidak berganti pakaian, bahkan tidak peduli pada puluhan panggilan telepon yang masuk ke ponselnya. Matanya yang merah terus terpaku pada pergerakan dada Vera yang naik-turun dibantu mesin ventilator.Hingga akhirnya, jemari dingin dalam genggaman Dante bergerak sedikit.Dante tersentak. Ia langsung berdiri, mencondongkan tubuhnya. “Vera? Vera, kau mendengarku?”Kelopak mata Vera bergetar hebat sebelum perlahan-lahan terbuka. Matanya tampak kuyu, pupilnya mengecil saat mencoba menyesuaikan diri dengan cahaya lampu ruangan. Ia mengerjap beberapa kali, menatap langit-langit dengan tatapan kosong yang membingungkan.“Dokter Hans!” teriak Dante tanpa mengalihkan pandangan dari Vera.Vera menoleh perlahan ke arah suara itu. Ia menatap wajah Dante. Wajah yang biasanya memicu ketakutan atau gairah dalam dirinya. Namun kali ini, tidak ada reaksi apa pun. Tatap
Dante berbisik tepat di telinga Vera, suaranya terdengar sangat terhibur.“Aku tidak sedang mencoba. Aku sedang melakukannya,” jawab Vera berani, meski hatinya masih berdenyut karena trauma. Ia mencium rahang Dante di depan umum, sebuah tindakan yang sangat berisiko namun efektif.Dante mempererat cengkeramannya di pinggang Vera hingga Vera sedikit mendesah. “Ingat ini, Vera ... aku menyukai keberanianmu. Tapi jangan pernah buat aku memilih antara bisnis dan kau, karena kau mungkin tidak akan suka jawabannya.”Mendengar penuturan Dante yang lebih mirip peringatan, membuat ekspresi Vera menjadi kaku. Ia tetap melanjutkan dansa walau kakinya sudah sulit digerakkan.Sampai dansa selesai, tidak sekalipun Vera berucap sepatah kata pun. Bahkan Dante tidak mengajaknya bicara. Hanya menatap, seolah puas telah mengancamnya seperti tadi.***Perjalanan pulang dari galeri berlangsung dalam kesunyian yang mencekam. Dante sibuk dengan ponselnya, sesekali membalas pesan yang Vera yakini berasal d
Dante tidak segera menjawab. Ia memperbaiki letak kalung berlian di leher Vera dengan tenang. “Bianca adalah putri dari keluarga Sterling. Malam ini, peresmian proyek besar hasil kerja sama kami. Bersikaplah dewasa, Vera. Aku butuh dia untuk kelancaran bisnis ini.”Kalimat itu seperti tamparan dingin. Dante tidak membantah, ia justru menegaskan posisi Bianca yang penting bagi perusahaannya.“Jadi, aku harus membiarkannya menyentuhmu lagi?” tanya Vera dengan suara yang mulai bergetar.Dante melepaskan tangannya dari leher Vera, lalu berjalan menuju pintu. “Dia tidak menyentuhku, Vera. Dia sedang berinvestasi padaku. Ada perbedaan besar di sana. Sekarang, ayo pergi. Kita sudah terlambat.”***Galeri seni itu dipenuhi oleh kaum elit Arcadia City. Cahaya lampu kristal memantul di gelas-gelas sampanye dan perhiasan mahal.Begitu Dante dan Vera masuk, seluruh perhatian tertuju pada mereka.Namun, kedamaian itu hanya bertahan beberapa menit.“Dante! Akhirnya kau datang juga!” seru Bianc
Dante melepaskan kemejanya yang beraroma parfum Bianca, melemparkannya begitu saja ke lantai, lalu berbaring di atas ranjang dengan santai.Bukannya menarik Vera ke dalam pelukannya, ia justru meraih tablet dari meja samping, mulai menggulir laporan bisnis seolah kehadiran Vera di sana tidak lebih dari sekadar pajangan saja.Vera berdiri di tepi ranjang, merasa kedinginan meski pemanas ruangan menyala. Tatapan acuh tak acuh Dante jauh lebih menyakitkan daripada amarah pria itu padanya.Dengan tangan yang sedikit gemetar, Vera melepas satin tidurnya, membiarkan pakaian itu jatuh ke lantai. Ia merangkak naik ke atas ranjang, mendekati Dante yang masih fokus pada layar digitalnya.Vera mulai menciumi rahang pria itu, turun ke leher, hingga ke dada yang bidang. Namun, Dante tetap tidak bergerak. Napasnya belum berubah, matanya pun tidak beralih dari layar.Keputusasaan Vera memuncak. Ia meraba celana pendek yang dikenakan Dante, menurunkannya perlahan hingga kejantanan pria itu terliha
Pertanyaan yang menggantung di udara, dingin dan tajam.Dante terdiam sejenak. Bukannya marah, ia justru mempererat pelukannya, memastikan Vera merasakan setiap inci keberadaannya yang masih terbenam di dalam sana. “Selama kau tidak mencoba meninggalkanku, kau tidak perlu memikirkan jawaban dari pertanyaanmu, Vera.”Dante memejamkan mata, jatuh tertidur dengan posisi yang paling posesif yang bisa dilakukan olehnya sebagai seorang pria yang sangat terobsesi akan kepemilikan utuh selamanya.Namun bagi Vera, tidur dalam keadaan seperti ini tidak lagi terasa seperti bercinta yang menyenangkan, tapi lebih terasa seperti dirantai dan dibebani rasa bersalah entah sampai kapan.***Dua Minggu Kemudian.Dante menepati janjinya untuk memberikan atau mengembalikan kehidupan normal pada Vera.Vera diizinkan kembali bekerja penuh di Lantai 10 dengan pengawalan yang jauh lebih longgar, namun tetap ada untuk memantau dari jarak tertentu yang telah ditetapkan Dante.Namun, Vera bukan lagi Vera y