Beranda / Romansa / Dalam Dekap Hangat Kakak Ipar / Bab 12 : Tidur di Kamarku

Share

Bab 12 : Tidur di Kamarku

Penulis: Vanilla_Nilla
last update Terakhir Diperbarui: 2025-11-08 21:23:12

“A-aku … aku terpaksa bilang seperti itu ke Kak Maura,” jawab Nabila gugup, ia lalu menggenggam ujung tas di pangkuannya erat-erat untuk menahan kegugupannya, terlebih sorot mata Dimas yang menatapnya begitu nyalang. “Kemarin dia nanya soal kalung yang Kak Dimas kasih ke aku. Aku … aku jawab saja kalau kalung itu dari pacarku.”

Dimas kaget mendengar itu, dengan kesal ia berkata, “Apa kamu bilang?!”

“Ka-kak … aku gak maksud apa-apa,” ucap Nabila terbata. “Aku cuma … panik. Aku gak tahu ha
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Dalam Dekap Hangat Kakak Ipar   BAB 126: Rintangan yang Tak Terduga

    "Aku sudah menunggu kamu selama bertahun-tahun, Maura. Aku selalu ada di sisimu ketika kamu kesusahan, bahkan ketika kamu masih bersama Dimas! Semua ini aku lakukan karena cinta padamu!"Maura menundukkan kepalanya, tidak berani melihat wajah Revan yang kini penuh dengan kemarahan. "Aku tahu itu, Revan ... aku sangat menghargai semua yang kamu lakukan untukku. Tapi aku tidak bisa menerima cintamu seperti ini."Gadis itu mengangkat pandangannya perlahan, matanya sudah mulai berkaca-kaca. "Kita tidak bisa bersama karena aku masih belum bisa melupakan semua yang telah terjadi. Aku baru saja keluar dari hubungan yang menyakitkan, dan aku tidak ingin memasuki hubungan baru hanya karena merasa terluka dan butuh sandaran. Itu tidak adil bagimu, dan tidak adil juga bagi diriku sendiri."Revan berdiri dengan cepat, mengusap rambutnya dengan tergesa-gesa karena rasa frustrasi. "Jadi apa maksudmu? Kamu akan sendirian selamanya? Atau kamu masih menyimpan perasaan untuk Dimas meskipun dia telah me

  • Dalam Dekap Hangat Kakak Ipar   Bab 125 : Tidak Mungkin Bersama

    Dimas langsung melihat ke arah Maura, matanya berkaca-kaca dengan air mata yang menahan diri. Ia berusaha mendekat, langkahnya terengah-engah dan kaki-kakinya terasa lemah seolah tidak bisa menopang berat tubuhnya. Jas hitamnya sudah kusut, dasinya terlepas sedikit dari kerah bajunya, dan wajahnya tampak pucat tanpa warna. "Maura ... Sayang ..." panggilnya dengan suara yang serak, hampir tidak terdengar di tengah kebisingan malam. "Aku mohon maafkan aku ... tolong jangan tinggalkan aku ... kita bisa menyelesaikan ini bersama, kan? Aku akan berubah, aku janji!" Dimas melangkah lebih jauh, hendak meraih tangan Maura yang masih terlihat jelas di bawah cahaya lampu jalan. Namun sebelum jarinya bisa menyentuh pakaiannya, tangan kuat Revan menahannya. "Dimas," ucap Revan dengan suara yang tenang, tidak ada rasa kemarahan di wajahnya, hanya kesadaran bahwa saatnya sudah tiba untuk mengakhiri segalanya. "Kak Revan?!" ucap Dimas kaget, tidak menyangka bahwa kakaknya sendiri yang menghalan

  • Dalam Dekap Hangat Kakak Ipar   BAB 124 : Pengampunan yang Mengharukan

    Nabila langsung memeluk Maura dengan erat, tubuhnya bergoyang karena tangisan yang menghantam. "Maaf, Ka ... maafkan aku ... hanya ini yang bisa aku katakan. Aku merasa aku wanita paling jahat di dunia ini ... karena sudah merusak kebahagiaan Kak Maura yang sudah begitu baik padaku." Air mata Nabila jatuh menggelinding begitu saja, membasahi bibirnya yang berwarna merah dan bagian bahu gaun Maura yang berwarna cream. Tangannya erat menggenggam lengan kakak sepupunya itu, seolah takut jika Maura akan menjauh darinya. "Kalau saja aku bisa memutar waktu," lanjut Nabila dengan suara yang serak karena menangis, "aku pasti tidak akan pernah menyetujui ketika Dimas mulai mendekatiku. Aku akan menjauh darinya dan selalu merindukan kebahagiaan Kak Maura. Aku akan memilih untuk fokus pada kuliah dan masa depanku sendiri, bukan terjebak dalam hubungan yang salah dan merusak orang lain." Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan diri. "Aku tahu tidak ada kata maaf yang bisa membayar s

  • Dalam Dekap Hangat Kakak Ipar   BAB 123: Tandatangan yang Beracun

    "Tidak! Ini semua tidak mungkin! Aku tidak mungkin menandatangani semua ini!" Dimas menggelengkan kepalanya dengan cepat, tubuhnya bergetar hebat saat mengambil amplop dari meja dan membukanya dengan tergesa-gesa. Ketika lembaran surat cerai terbuka di hadapannya, matanya langsung melebar tak percaya — di sana jelas terlihat tandatangan khasnya yang ia kenal sangat baik, tepat di kolom yang sudah disediakan. Bagaimana bisa ada tandatangannya di atas kertas tersebut? Keringat dingin menyelimuti punggungnya, dan pikirannya mulai berjalan cepat mencari jawaban. Ia menutup mata sejenak, mencoba mengingat setiap momen di mana ia pernah menandatangani berkas penting tanpa membacanya terlebih dahulu. Lalu ingatannya tiba-tiba terbuka. Ia mengingat saat pertama kali pindah ke rumah baru, sekitar enam bulan yang lalu. Maura telah mengatur semua urusan administrasi rumahnya sendiri, dan pada hari itu ia menyerahkan sebuah berkas putih. Tanpa berpikir panjang dan tanpa membaca satu kata p

  • Dalam Dekap Hangat Kakak Ipar   BAB 122: Pemujaan yang Runtuh

    Cornelia bergetar hebat saat melipat-lipat hasil tes DNA dan catatan harian yang ada di dalam amplop. Tangannya gemetar setiap kali membuka lembaran kertas yang menjadi bukti kebenaran apa yang telah dikatakan Nabila. Wajahnya yang biasanya penuh kedamaian kini tertutup kesedihan yang mendalam. "Tidak ... ini semua tidak mungkin ..." bisiknya dengan suara yang hampir tidak terdengar, matanya mulai berkaca-kaca. Ia tidak bisa mempercayai bahwa anaknya yang telah dia besarkan dengan cinta dan kasih sayang ternyata mampu melakukan hal yang begitu menyakitkan. "Ma ..." gumam Dimas dengan suara yang lembut, mendekat perlahan ke arah ibunya. Matanya penuh dengan ketakutan dan harapan bahwa Cornelia masih akan membela dirinya. "Diam kamu, Dimas!" pekik Cornelia dengan suara yang menusuk hati, membuat seluruh ruangan kembali menjadi sunyi. Wajahnya memerah karena kemarahan yang sudah tidak bisa ditahan lagi. "Sekarang katakan padaku — apa semua ini benar?! Jangan kau berbohong padaku lagi

  • Dalam Dekap Hangat Kakak Ipar   BAB 121: Pertikaian yang Tak Terhindarkan

    "Aku ... juga tengah hamil anaknya!" Perkataan Nabila seperti kilatan petir yang menghantam langsung hati setiap orang di ruangan. Suara bisik-bisik yang tadinya meriah tiba-tiba hilang, digantikan oleh keheningan yang menusuk hati. Beberapa tamu menjatuhkan barang yang mereka pegang, sementara yang lain menutup mulut dengan tangan tak percaya. Cornelia bahkan hampir jatuh jika tidak segera ditopang oleh salah satu tamu yang berada di dekatnya. Begitu juga dengan Dimas — wajahnya yang sudah pucat kini semakin memucat, matanya melotot ke arah Nabila dengan ekspresi penuh kemarahan. Wanita itu benar-benar sudah lancang hingga menjatuhkan dirinya di depan semua orang, pikirnya dengan penuh kemarahan. 'Apa Nabila sudah lupa dengan ancamanku dulu? Bahwa jika dia memberitahu siapapun tentang hubungan kami dan anaknya, aku akan memastikan dia kehilangan segalanya?!' "TIDAK BENAR!" hardik Dimas dengan suara yang mengguntur, melompat dari panggung dan mendekat dengan cepat ke arah Nabila.

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status