LOGINDua tahun menikah, Maura selalu percaya Dimas adalah cinta sejatinya. Pria yang dulu membuatnya rela menentang keluarga demi cinta. Tapi semua itu hancur ketika ia mendapati kenyataan pahit bahwa Dimas telah berselingkuh di belakangnya, bahkan yang lebih menyakitkan dengan adik sepupunya sendiri. Dalam hancurnya hati, Maura menemukan Revan, kakak iparnya, yang selalu ada di sisinya, bahkan memberi rasa aman yang tak pernah lagi didapatkan dari suaminya sendiri. Namun semakin lama, kedekatan mereka berubah menjadi sesuatu yang berbahaya. Maura tahu perasaannya pada Revan adalah sebuah dosa, tapi semakin ia mencoba menjauh, semakin kuat godaan itu menariknya. Akankah Maura memilih mempertahankan rumah tangga yang sudah hancur, atau menyerahkan diri pada cinta terlarang yang perlahan menguasai hatinya?
View More“Ah, Mas~ Aku sedang masa subur. Apa kamu nggak mau makan aku aja?”
Tubuh Maura membeku. Tiba-tiba perutnya terasa mual.
Ia baru saja akan mengejutkan suaminya dengan sebuah pelukan dari belakang, tapi batal setelah mendengar suara dari ponsel sang suami. Seketika ia kaku, tidak mampu berpikir jernih.
Suara siapa itu? Kenapa terdengar familier?
Apakah suaminya selingkuh?
“Lho, Ra. Sejak kapan di sini?” Dimas, suaminya, tampak terkejut. “Nggak ada suaranya.”
Maura menggigit bibir. “Itu tadi siapa, Mas?”
“Siapa maksudmu?”
“Perempuan,” kejar Maura. “Yang kamu telepon.”
“Telepon…? Oh!” Dimas menghela napas. “Tadi pesan suara teman kerjaku. Salah kirim dia, harusnya ke suaminya.”
Maura mengernyit. Benarkah demikian?
“Sudahlah. Kan kita mau makan malam. Duduk.”
Hari ini adalah ulang tahun pernikahan mereka yang kedua. Karenanya, mereka menjadwalkan makan malam bersama.
Maura berangkat sendiri, karena Dimas langsung datang ke restoran langsung dari kantor. Ia berpikir, Dimas akan memberinya hadiah kejutan. Memang benar Maura terkejut setibanya di restoran, tapi kejutan ini tidak membuat suasana hatinya baik. Meski merupakan ketidaksengajaan.
Apalagi sepanjang malam malam, bukannya fokus berbincang, Dimas justru mengecek ponselnya terus-menerus.
“Mas, kenapa dari tadi pegang ponsel terus? Apa ada yang penting?”
Mendengar keluhan Maura, Dimas tersentak, lalu buru-buru meletakkan ponselnya di atas meja. “Nggak, cuma chat dari kantor,” jawabnya cepat.
Maura tersenyum hambar. Ia berusaha tidak merusak suasana, tapi hatinya mulai terasa gelisah.
Dimas adalah suami yang baik, selalu memenuhi kebutuhan Maura hingga ia sepenuhnya bergantung pada Dimas.
Namun, karena hubungan mereka tersebut, belakangan Maura menyadari bahwa suaminya berubah. Dari yang dulu hangat, pengertian, dan selalu ada untuknya, kini Dimas menjadi sosok yang lebih pendiam dan terasa jauh.
Yang paling membuat Maura gelisah, Dimas kini hampir tak pernah lepas dari ponselnya.
Dengan pesan salah sambung tadi, makin besarlah kecurigaan Maura.
“Aku ke toilet dulu sebentar,” ucap Dimas seraya berdiri dari kursi.
Sementara itu, Maura hanya menatap punggung suaminya yang perlahan menghilang menuju arah toilet. Helaan napasnya terdengar berat, mencoba menahan kecewa yang sejak tadi berputar di dada.
Beberapa detik kemudian, suara getar ponsel Dimas di atas meja menarik perhatiannya.
Dengan ragu, Maura meraih ponsel itu. Jantungnya berdebar tak karuan. Ia sempat menatap sekeliling, memastikan Dimas belum kembali.
Tangannya bergetar saat ia mencoba memasukkan tanggal hari jadi mereka. Namun, layar menampilkan tulisan ‘sandi salah’.
Kening Maura berkerut. Ia mencoba lagi. Tetap salah. Sekali lagi ia mencobanya, tapi hasilnya sama.
Ponsel itu kini terkunci, dan di layar tertulis peringatan agar menunggu beberapa menit sebelum bisa mencoba lagi.
Maura mematung. Tatapannya kosong menatap layar ponsel itu. ‘Apa Mas Dimas mengganti sandinya?’
“Maura, apa yang kamu lakukan dengan ponselku?”
Suara bariton Dimas terdengar tiba-tiba, membuat Maura tersentak kaget. Ia menoleh cepat, menemukan suaminya sudah berdiri di samping meja dengan ekspresi tajam. Lelaki itu, dengan kemeja berwarna biru navy yang masih rapi, langsung meraih ponselnya dari tangan Maura dengan cepat.
“M–Mas … tadi ponsel kamu berdering. A–aku cuma mau memastikan siapa yang kirim pesan,” ucap Maura terbata.
Dimas menatap Maura tajam. “Lancang sekali kamu berani membuka ponselku.”
“Mas, aku belum membukanya,” bela Maura cepat. “Kata sandinya salah. Sejak kapan kamu mengganti sandi ponselmu?”
Bukannya menjawab, tatapan Dimas malah semakin keras. Rahangnya mengeras menahan amarah yang siap meledak kapan saja.
Melihat itu, Maura terpaku, hatinya semakin gelisah. Ia tidak mengerti kenapa Dimas begitu marah hanya karena ia ingin memastikan siapa yang mengirim pesan. Bukankah itu hal wajar bagi seorang istri yang cemas pada suaminya sendiri?
“Mas, kenapa kamu menatapku seperti itu? Apa aku salah hanya karena ingin tahu siapa yang mengirimmu pesan?”
Dimas menarik napas berat, lalu berkata dingin, “Dengar, Maura. Aku tidak ingin kamu mengusik privasiku.”
Maura terdiam sejenak, menatap suaminya tak percaya.
“Apa?” ucap Maura getir. Tatapannya tajam, tapi ada air bening yang mulai menggenang di pelupuk matanya, menahan perih yang tak bisa lagi ia sembunyikan.
“Sudahlah, Maura. Aku tidak ingin bertengkar dengan kamu.” Nada suara Dimas terdengar dingin, tapi cukup keras untuk menarik perhatian beberapa pengunjung di meja sekitar. “Apa kamu tidak malu? Sedari tadi orang-orang melihat kita.” Ia menghela napas berat, lalu melanjutkan, “Dan satu lagi, aku sudah bilang berapa kali sama kamu kalau aku cuma chat-an karena urusan kerja. Hanya kerja, Maura.”
“Tapi, Mas. Pesan tadi–”
“Jangan mengada-ada!” potong Dimas cepat, kali ini dengan nada yang lebih tajam. “Tadi kan aku sudah jelaskan. Pokoknya aku tidak ingin buang-buang waktu di sini, apalagi cuma untuk bertengkar dengan kamu.”
Tanpa menunggu tanggapan, Dimas meraih jasnya yang tersampir di kursi, lalu melangkah pergi meninggalkan meja mereka. Suara langkahnya terdengar tegas di lantai marmer restoran, meninggalkan aroma wangi kopi dan makanan yang belum sempat disentuh.
Maura sontak berdiri, kursinya bergeser menimbulkan bunyi berderit yang membuat beberapa pasang mata menoleh. Ia menatap punggung suaminya yang kian menjauh, lalu berlari mengejarnya.
“Mas! Mas, kamu mau ke mana?” seru Maura dengan napas yang mulai berat. Tangannya berusaha meraih pergelangan tangan Dimas, tapi lelaki itu justru menepisnya pelan, tanpa menatapnya sama sekali.
“Aku ada urusan penting di kantor.”
“Mas, hari ini–”
“Aku tidak ada waktu. Kamu pulang naik taksi aja.” Dimas menarik napas berat. “Dasar perusak suasana.”
Maura menggigit bibirnya, menahan perih yang mulai naik ke tenggorokan. “Tapi Mas … ini sudah malam. Apa kamu tega membiarkan aku pulang sendirian?”
“Sudahlah, Maura! Kenapa sih kamu jadi wanita begitu manja? Aku ini mau kerja, bukan jalan-jalan. Ada urusan penting yang harus aku selesaikan!”
Kalimat itu menghantam Maura lebih keras daripada angin malam yang menusuk kulitnya.
Dimas langsung membuka pintu mobil, masuk tanpa sepatah kata pun. Suara pintu yang tertutup terdengar begitu keras di telinga Maura.
“Manja … aku?”
Dada Maura terasa perih, begitu sesak hingga napasnya nyaris tak beraturan. Kata-kata Dimas terus terngiang di kepalanya. Ia memejamkan mata, menahan air mata yang mulai mendesak keluar.
Mobil yang dikendarai Dimas sudah lenyap di tikungan, hanya menyisakan cahaya lampu belakang yang perlahan meredup, lalu hilang sama sekali. Sementara Maura berdiri di bawah langit yang mulai meneteskan hujan, menatap kosong ke arah jalan yang sama, jalan yang dulu dengan bangga ia pilih demi seorang lelaki yang kini bahkan tak sudi menatapnya.
Hatinya terasa remuk. Ia menunduk, memeluk tubuhnya sendiri yang menggigil. Hujan turun semakin deras.
Namun di antara suara hujan yang menenggelamkan segalanya, tiba-tiba sebuah payung hitam perlahan terbuka di atas kepala Maura.
Maura mendongak menatap ke arah payung hitam yang tiba-tiba terbuka di atas kepalanya. Netra coklat wanita itu perlahan beralih pada seseorang yang berdiri tepat di belakangnya. Ia tersentak kaget saat mendapati Revan, kakak iparnya, tengah berdiri di sana. Spontan Maura buru-buru bangkit.
“Kak Revan …” gumam Maura dengan suara bergetar.
“Kenapa hujan-hujanan seperti ini? Di mana Dimas?”
Maura perlahan turun dari taksi, membayar ongkos dengan tangan yang sedikit gemetar. Setelah sopir taksi mengangkat tangan sebagai ucapan selamat malam dan kemudian mengemudi menjauh, dia menoleh dan berjalan pelan ke arah Revan. Langkahnya terasa lebih ringan dari biasanya, meskipun hati masih berdebar kencang seperti akan keluar dari dada. "Kak ... kamu ngapain di sini?" tanya Maura dengan suara lembut yang hanya bisa terdengar di antara hembusan angin malam. Matanya tidak bisa lepas dari wajah Revan yang terpapar cahaya lampu pagar dengan lembut. Revan sedikit mengangkat bahu, kemudian menjauhkan tangannya dari saku celananya. "Aku hanya ingin bertemu dengamu," jawabnya dengan nada yang dalam dan penuh dengan makna. Ia melangkah satu langkah mendekat, membuat jarak antara mereka semakin menyempit. "Setelah kejadian tadi malam, aku tidak bisa tinggal diam dan hanya berpikir tentangmu." Maura mengerutkan kening dengan tatapan penuh kebingungan. "Tapi kamu tahu dari siapa rumahku?
Setelah Maura membawa Nabila keluar dari ruangan, Revan langsung mengeluarkan Alyssa dari ruang tamu menuju teras belakang yang sunyi. Udara malam yang sejuk menyapa wajah mereka, namun tidak mampu mendinginkan amarah yang sedang meluap di dalam diri Alyssa — atau kemarahan Revan yang baru saja muncul ke permukaan. "Kenapa kamu berkata kasar pada Nabila?!" hardik Revan dengan suara yang mengguntur, wajahnya memerah karena kemarahan. Matanya yang biasanya tenang kini membara seperti bara api, menatap Alyssa dengan penuh ketidaksetujuan. "Dia baru saja pingsan dan dalam kondisi yang sangat lemah, tapi kamu bahkan berani menarik rambutnya dan hampir menamparnya!" Alyssa menoleh, tidak mau melihat wajah Revan yang sedang marah padanya. "Dia sudah mengaku hamil dan menyatakan kalau anaknya adalah milikmu! Bagaimana mungkin aku tidak kesal?!" ucapnya dengan suara yang sama kerasnya, tubuhnya menggigil karena emosi yang mendalam. "Kalau kamu tidak marah, itu bukan berarti aku juga harus d
"Jangan pernah menampar Nabila!" kata Maura dengan suara yang tegas dan penuh dengan keyakinan, tangan kanannya dengan cepat menghalangi tangan Alyssa yang hampir mengenai wajah Nabila. Matanya yang biasanya lembut kini menunjukkan ketegasan yang jarang terlihat. "Eeeh!" Alyssa kesal, ia dengan kasar menepis tangan Maura. Wajahnya merah membara karena kemarahan yang meluap. "Kalau saja dia bukan adikmu, aku sudah membunuhnya!" serunya dengan suara yang mengguntur, membuat seluruh ruangan terasa semakin tegang. "Silakan saja kalau kamu bisa," tantang Maura yang tidak ada rasa takutnya sama sekali. Ia berdiri tepat di depan Nabila, seperti ingin melindungi gadis muda itu. "Tapi kamu harus tahu bahwa setiap tindakan memiliki konsekuensi, Alyssa. Jangan sampai kamu menyesal karena melakukan sesuatu yang tidak bisa kamu ubah lagi." Alyssa terpana dengan jawaban Maura, matanya melotot tidak percaya. "Kamu ...?" ucapnya dengan suara yang sedikit bergetar. "Kamu membela adik sialanmu ini
Nabila keluar dari kamar dengan langkah yang goyah, tubuhnya masih terasa lemah setelah pingsan tadi. Ia melihat semua orang telah menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan — ada kekhawatiran, namun juga rasa penasaran yang jelas terpampang di wajah mereka. Pandangan matanya perlahan jatuh pada Cornelia yang duduk di sofa, tangan terlipat rapi di pangkuannya sambil memperhatikannya dengan seksama. Air mata Nabila tak bisa dibendung lagi, luruh begitu saja membasahi wajahnya yang masih pucat. Ia merasa seluruh tubuhnya menjadi lemas, gadis itu tidak punya kekuatan untuk berdiri lagi. "Dokter Reza bilang kamu hamil," ucap Cornelia dengan suara yang tenang namun penuh dengan kekerasan. Matanya yang biasanya lembut kini tampak tajam seperti pisau. "Kenapa begitu? Siapa ayah dari anakmu itu? Jangan kau sembunyikan dari kami, Nabila." Lutut Nabila terasa lemas seketika, tubuhnya pun bergetar hebat sebelum akhirnya luruh ke lantai yang dingin. "Maafkan aku, Tante ..." ujarnya dengan
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.