MasukDua tahun menikah, Maura selalu percaya Dimas adalah cinta sejatinya. Pria yang dulu membuatnya rela menentang keluarga demi cinta. Tapi semua itu hancur ketika ia mendapati kenyataan pahit bahwa Dimas telah berselingkuh di belakangnya, bahkan yang lebih menyakitkan dengan adik sepupunya sendiri. Dalam hancurnya hati, Maura menemukan Revan, kakak iparnya, yang selalu ada di sisinya, bahkan memberi rasa aman yang tak pernah lagi didapatkan dari suaminya sendiri. Namun semakin lama, kedekatan mereka berubah menjadi sesuatu yang berbahaya. Maura tahu perasaannya pada Revan adalah sebuah dosa, tapi semakin ia mencoba menjauh, semakin kuat godaan itu menariknya. Akankah Maura memilih mempertahankan rumah tangga yang sudah hancur, atau menyerahkan diri pada cinta terlarang yang perlahan menguasai hatinya?
Lihat lebih banyakSetelah kejadian di rumah sakit itu, waktu berlalu dengan cepat. Cornelia pulih total dan memutuskan untuk menjalani hidup dengan lebih damai, bahkan sering mengunjungi makam Dimas bersama Revan dan Maura untuk berdoa bersama. Maura melahirkan seorang bayi laki-laki yang sehat dan segar. Mereka memberinya nama Rafael Tama Mahendra – nama pertama dari Revan, nama tengah dari ayahnya, dan nama terakhir sebagai penghormatan pada keluarga. Sementara anak perempuan Nabila dan Dimas diberi nama Sofia Aulia. Dua tahun kemudian, rumah Cornelia dipenuhi dengan suasana bahagia. Sudut ruangan penuh dengan dekorasi balon warna-warni dan bunga segar. Hari ini adalah ulang tahun Rafael. Maura sedang mengasuh Rafael, sementara Revan berdiri di sisinya dengan wajah penuh kebanggaan. Tiba-tiba, pintu rumah terbuka lebar. Masuklah Mira bersama suaminya Tama Herlambang, serta keluarga besar Maura yang datang dengan membawa banyak hadiah – mulai dari kerajinan tangan hingga makanan khas yang disiapka
"Aduh, Sayang, Mama sudah tidak marah lagi jauh-jauh hari," jawab Mira dengan suara penuh cinta. "Mama hanya marah pada diri sendiri karena terlalu keras kepadamu dulu. Kamu adalah anak satu-satunya kami Maura, bagaimana mungkin kami bisa benar-benar marah padamu selamanya? Saat kamu menikah dengan Dimas, kami hanya takut kamu akan terluka, dan ternyata ketakutan kami itu menjadi kenyataan. Mama sangat menyesal, Sayang, mama harusnya mendukungmu, bukan malah menjauhkanmu." Maura menangis terisak-isak, akhirnya tidak mampu lagi menahan emosinya. Suaranya terdengar jelas di lorong yang sunyi itu. Ia bersandar lembut pada dinding, tangannya masih menggenggam ponsel erat-erat sementara yang satunya terus mengelus perutnya yang membesar. "Mama ... Mama sudah lama sekali tidak menyapa Maura seperti ini," ucap Maura dengan suara berdesis, menelan ludahnya yang sudah penuh rasa pahit. "Mama tahu, Sayang, mama tahu," jawab Mira dari seberang, dan kali ini terdengar jelas tangisan wanita itu
Beberapa hari sudah Cornelia dirawat di rumah sakit. Kondisinya perlahan mulai membaik, meski masih perlu waktu lama untuk pulih total. Maura pun selalu ada di sana untuk menjaga ibu mertuanya itu, meskipun perutnya yang sudah sangat membesar membuatnya sering merasa capek. Revan sudah berkali-kali melarangnya untuk menjaga Cornelia, takut kondisi fisik Maura akan terpengaruh. Namun Maura tetap bersikeras ingin membantu. Kadang ia bergantian dengan Revan menjaga di rumah sakit, kadang pula ia datang sendirian saat Revan harus menangani urusan bisnis yang tertunda. Hari ini, Maura duduk di sisi ranjang Cornelia, tangan kirinya sedang mengupas kulit jeruk dengan hati-hati. Gerakannya terlihat sedikit berat karena ukuran perutnya yang membesar, tapi ia tetap melakukan itu dengan senang hati. Tiba-tiba, suara lembut menyapa dari arah ranjang. "Maura ..." Maura langsung mengangkat pandangan dari jeruk yang ada di tangannya ke arah Cornelia yang sudah sadar. "Iya, Ma?" Pandangan Maura
Pemakaman Dimas dipenuhi pelayat. Sanak saudara, teman, dan kolega bisnis datang untuk memberikan penghormatan terakhir. Namun, di antara kerumunan orang itu, Cornelia berdiri seorang diri di depan nisan putranya. Nisan itu masih basah oleh air mata dan hujan yang turun sejak pagi. Cornelia mengulurkan tangannya yang gemetar dan mengelus nisan itu dengan lembut, seolah sedang membelai wajah Dimas. "Nak, kenapa kamu meninggalkan Mama?" bisiknya lirih, suaranya pecah oleh kesedihan. "Kenapa kamu pergi secepat ini? Mama belum siap kehilanganmu." Air mata Cornelia mengalir deras membasahi pipinya. Ia merasa bersalah atas kematian Dimas. Ia merasa, jika saja ia tidak terlalu keras padanya, mungkin Dimas tidak akan frustrasi dan mengalami kecelakaan. "Kamu marah sama Mama, ya? Karena Mama sudah menamparmu? Karena Mama sudah menyakitimu, iya?" Cornelia terisak, dadanya sesak oleh penyesalan. Bayangan malam itu kembali berputar di benaknya. Malam ketika ia pulang bersama Dimas dar
Suara bisik-bisik yang semakin meriah menggema di setiap sudut restoran. Para tamu saling memandang dengan ekspresi terkejut, beberapa di antaranya mengangkat ponsel untuk merekam kejadian yang tak terduga ini. Cahaya layar yang menyala terang masih menampilkan adegan yang membuat malu, sementara
Suasana restoran mewah di pusat kota benar-benar memukau. Cahaya lilin yang menyala dari setiap meja menerangi ruangan yang dihiasi dengan bunga mawar merah dan putih, sementara musik jazz instrumental terdengar dari sudut ruangan. Lantai yang dilapisi karpet tebal menghilangkan suara langkah kaki
Di ruang kerja rumah Dimas, sinar matahari siang hari menerpa meja kayu besar yang penuh dengan berkas-berkas proyek dan laptop yang masih menyala. Dimas sedang berdiri di dekat jendela, ponsel di telinganya, sedang melakukan panggilan dengan salah satu rekan bisnisnya. Suaranya terdengar tenang
Sinar matahari siang hari menerpa lantai supermarket yang ramai. Nabila sedang berdiri di lorong makanan kaleng, sambil memilih beberapa kaleng sup ayam untuk menyediakan makan malam. Tangannya yang menggenggam keranjang belanja bergerak perlahan, namun pikirannya masih terjebak pada pembicaraan d


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.