Share

bab 197

Author: Azzura Rei
last update publish date: 2026-04-27 23:58:42

William kemudian menunduk, menatap Sasha dengan mata yang seolah memohon sekaligus mengancam.

“Katakan padanya, Sasha. Katakan bahwa kau bahagia di sini. Katakan bahwa kau tidak ingin pergi ke mana-mana.”

Sasha mematung. Ia menatap Raka dan berharap peluangnya untuk bebas lalu ia menatap William. Di mata William, ia melihat kegelapan yang sama dengan malam tadi, namun kali ini bercampur dengan keputusasaan yang nyata. Jika ia berkata ia ingin pergi sekarang, William mungkin akan menghancurkan
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   bab 197

    William kemudian menunduk, menatap Sasha dengan mata yang seolah memohon sekaligus mengancam. “Katakan padanya, Sasha. Katakan bahwa kau bahagia di sini. Katakan bahwa kau tidak ingin pergi ke mana-mana.”Sasha mematung. Ia menatap Raka dan berharap peluangnya untuk bebas lalu ia menatap William. Di mata William, ia melihat kegelapan yang sama dengan malam tadi, namun kali ini bercampur dengan keputusasaan yang nyata. Jika ia berkata ia ingin pergi sekarang, William mungkin akan menghancurkan segalanya termasuk Raka, termasuk dirinya sendiri, dan mungkin... masa depan Arlan.Lidahnya terasa kelu. Kebenaran yang pahit adalah: William telah membangun jaring yang begitu kuat sehingga meskipun pintunya terbuka lebar, Sasha tidak tahu ke mana ia harus lari tanpa menyebabkan kehancuran bagi orang-orang di sekitarnya.“Saya...” suara Sasha bergetar.William mencengkeram pinggang Sasha sedikit lebih keras, sebuah peringatan bisu.“Saya di sini atas kemauan saya sendiri, Raka,” ucap SashaDu

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   bab 196

    William sudah menunggunya di ujung tangga. Pria itu kembali mengenakan setelan jas tiga lapis yang sempurna. Tak ada jejak kerentanan dari malam sebelumnya. Wajahnya kembali dingin, otoriter, dan tak tersentuh.“Kau tepat waktu,” ujar William singkat. Ia mengulurkan tangannya, sebuah isyarat yang tidak memberikan pilihan bagi Sasha selain menyambutnya.Sasha meletakkan tangannya di atas telapak tangan William. Pria itu langsung menggenggamnya erat, seolah takut jika ia melonggarkan pegangannya satu inci saja, Sasha akan menguap menjadi asap.“Mari kita berangkat. Mobil sudah menunggu,” lanjut William.“Arlan?”“Dia sudah berangkat sejak tadi.”“Kok nggak nunggu?” tanya Sasha sedikit kesal tidak bertemu Arlan pagi ini.“Nanti kamu juga ketemu, ayo! Sudah siang!”Sasha mendengus, sebenarnya dia tak suka diperlakukan seperti ini. Perjalanan menuju kantor berlangsung dalam keheningan yang menyesakkan. Sasha menatap keluar jendela, melihat gedung-gedung Jakarta yang menjulang tinggi, menya

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   bab 195

    melonggar, namun ia tidak menjauh. Matanya yang tajam menelusuri wajah Sasha yang kini basah oleh air mata, mencari celah kebohongan di sana, namun yang ia temukan hanyalah kelelahan yang teramat dalam.William bangkit berdiri sepenuhnya. Tubuhnya yang tinggi menjulang menciptakan bayangan besar yang menelan sosok Sasha. Ia melangkah satu langkah maju, membuat Sasha mundur hingga punggungnya membentur tiang ranjang."Kau pikir aku melakukan ini karena benci?" William berbisik, kali ini suaranya terdengar sangat tenang, ketenangan yang justru lebih menakutkan daripada kemarahannya. "Jika aku membencimu, Sasha, kau tidak akan berada di kamar ini. Kau akan berada di tempat yang jauh lebih gelap."Ia mengulurkan tangan, menghapus air mata di pipi Sasha dengan ibu jarinya. Gerakannya lembut, namun matanya tetap dingin."Kebaikanmu... caramu merawat nenekmu, caramu melahirkan Arlan sendirian... itulah yang membuatku tidak bisa melepaskanmu. Kau adalah satu-satunya hal murni yang pernah meny

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   bab 194

    William langsung menoleh pada Arlan, wajahnya berubah seketika menjadi sosok ayah yang hangat. "Arlan, sayang, selesaikan makanmu di kamar bersama Bi Mirah ya? Papa dan Mama ada urusan orang dewasa yang harus dibicarakan sebentar." Arlan memandang Sasha ragu. Sasha hanya bisa mengangguk lemah, memberi isyarat bahwa semuanya baik-baik saja. Setelah Mirah membawa Arlan pergi, suasana di ruang makan langsung berubah menjadi dingin dan mencekam. William bangkit dari duduknya, berjalan perlahan mengitari meja hingga ia berdiri tepat di belakang kursi Sasha. Ia membungkuk, menumpukan kedua tangannya di sandaran kursi, mengurung Sasha. "Dunia luar itu berbahaya, Sasha. Kamu sudah merasakannya sendiri sebulan lalu, bukan? Saat kamu mencoba kabur dan hampir mencelakai dirimu sendiri... dan Arlan," bisik William tepat di telinga Sasha. "Di sekitar kita adalah tempat di mana orang bisa menghilang. Dan aku tidak akan membiarkanmu menghilang lagi. Tidak akan pernah." Sasha memejamkan mata rapa

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   bab 193

    “Papa, mama ke mana?” tanya Arlan.William tersenyum, lalu mengusap kepala sang anak.“Nanti nyusul. Arlan makan dulu.”“Tapi aku mau sama mama, mama sibuk terus,” protes Arlan yang semakin hari semakin dekat dengan William.William mengusap wajahnya pelan, memberi kode pada Mirah untuk melihat keadaan Sasha di kamar. Akhir akhir ini dia memang lebih suka mendiamkan Sasha. Bukan karena dia sangat membenci Sasha, tapi dia tahu Sasha sedang dia disiplinkan jadwalnya. Mirah mengangguk patuh, segera melangkah menaiki tangga kayu ek yang megah itu dengan langkah tanpa suara. Sementara itu, William kembali memusatkan perhatiannya pada Arlan. Ia menarik kursi di sebelah putranya, membantu memotongkan daging steak yang masih mengepul."Mama sedang belajar untuk menjadi lebih baik, Arlan. Sama seperti Arlan yang belajar membaca, Mama juga sedang belajar untuk selalu ada di samping kita tanpa harus merasa sedih lagi," ujar William dengan nada yang begitu tenang, begitu meyakinkan.Arlan menata

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   bab 192

    William tidak menjawab. Ia justru menarik Sasha masuk ke dalam dekapannya, sebuah pelukan yang terasa seperti belenggu. "Aku tidak menyembunyikannya, Sasha. Aku hanya menjauhkannya agar kamu tidak punya distraksi untuk melarikan diri dariku lagi. Kamu hanya butuh aku. Hanya aku."Sasha merasa mual. Pria di depannya ini benar-benar gila. Dua sisi yang ia lihat pagi tadi bukanlah sebuah perbedaan karakter, melainkan sebuah strategi manipulasi yang sangat rapi. William menggunakan kasih sayangnya pada Arlan sebagai umpan, dan menggunakan keselamatannya serta orang-orang yang ia cintai sebagai ancaman.Sore itu, Sasha hanya bisa mengurung diri di kamar setelah makan siang yang terasa seperti menelan duri. Ia menatap ke luar jendela, melihat William yang sedang bermain bola dengan Arlan di taman bawah. Dari kejauhan, William terlihat seperti malaikat pelindung bagi anak itu. Namun Sasha tahu, di balik tawa renyah itu, ada iblis yang siap mencabik-cabik siapapun yang mencoba merusak kesemp

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   bab 152

    "Apa yang kamu lakukan di sini?" Tanya William. “Maaf, Pak. Saya…”“Saya pikir kamu sudah mati. Ternyata, kamu dan ayahmu sama saja. Penipu!” Suara William terdengar rendah, datar, namun ada getaran keterkejutan yang gagal ia sembunyikan sepenuhnya. Tidak ada pelukan hangat, tidak ada kata maaf. H

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   bab 146

    "Semuanya hancur. Semua gara gara ayah begomu ini, Clarissa!”Clarisa pun dihubungi. Bukan hanya shock, Clarissa pun mendapat imbas dari perbuatan ayahnya. Dia bekerja di perusahaan besar Aditama, membuat dia dalam masalah besar.“Mama gak lagi bercanda kan? Aku baru saja akan naik jabatan.”“Entah

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   bab 144

    "Banyakk. Termasuk….”William menyesap kopinya perlahan, matanya tidak pernah lepas dari wajah Bramanto yang mulai memucat. Keheningan di ruangan itu terasa mencekik, hanya menyisakan suara detak jam dinding yang seolah menghitung mundur sisa napas ketenangan Bramanto."Tentang golongan darah.Sasha

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   bab 144

    “Jika benar Sasha masih hidup, aku akan balas kebohongan ini!”William menyandarkan kepalanya di sandaran kursi mobil yang empuk, namun pikirannya bekerja dengan kecepatan tinggi. Pantas selama ini dia curiga dengan Bram yang kembali dan meminta belas kasihnya dengan dalih kematian Sasha. Benar ben

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status