登入Rania Puspita tak pernah menyangka bahwa rasa kagumnya pada sang bos, akan berakhir dalam satu malam yang mengubah hidupnya. Saat terbangun keesokan harinya, Abiyya Prasetya hanya memberinya satu peringatan. "Jangan sampai ada orang di resto yang tahu." Rania lalu memilih untuk mengubur semuanya dan menjaga jarak. Namun semakin ia berusaha melupakan malam itu... semakin aneh pula sikap Abiyya. Pria yang selalu terlihat tenang dan rasional itu mulai muncul di setiap sudut hidupnya, seolah tak pernah benar-benar melepaskan pandangan darinya. Tak ada yang tahu bahwa di balik senyum sempurna sang pemilik resto The Journal itu, tersembunyi obsesi yang perlahan berubah menjadi kegilaan. Dan saat Rania menyadari bahwa dirinya bukan lagi sekadar seorang waitress di mata Abiyya, mungkin sudah terlambat baginya untuk melarikan diri. ***
查看更多"Pintu keluarnya di sebelah sana."
Rania pun sontak tertegun kala mendengar suara maskulin bernada tajam itu, ketika ia baru saja keluar dari kamar mandi. Sekujur tubuhnya masih terasa letih, pun bagian bawah tubuhnya yang nyeri tak tertahankan. Namun hanya satu hal yang membuatnya menggigil karena takut, yaitu sosok jangkung yang sekarang sedang berdiri menghadang dirinya. Wajah tampan dan ramah yang selama ini diam-diam sering Rania lamunkan, kini tampak dingin dan tak terbaca. Tubuh tinggi dan liat itu hanya mengenakan celana panjang dan bath robe yang yang tidak diikat di bagian pinggangnya, hingga tak pelak menampilkan otot-ototnya yang tampak kuat namun ramping sekaligus indah. Pria itu, Abiyya Prasetya. Rania pun mengerjap pelan, mencoba untuk mengusir dampak yang ditimbulkan oleh pria yang sekarang sedang menatapnya tajam. "Kenapa diam saja? Apa kamu menunggu pertanggungjawaban dariku?" Ucap si pria dengan satu sudut bibirnya yang melekuk naik melukiskan sebuah seringai samar. Rania menggeleng pelan. Tidak, ia tidak akan pernah meminta apa pun dari pria ini. "Semalam itu, aku juga ikut bersalah karena mabuk dan... mengakibatkan semua ini terjadi," ucap Rania dengan nada yang sangat pelan hingga nyaris tak terdengar. Rania mendongak, menatap manik gelap Abiyya yang menyorotnya dalam diam, seolah masih menunggu perkataan selanjutnya darinya. "Jadi aku tidak akan meminta pertanggungjawaban apa pun dari Pak Abiyya. Tenang saja." Usai mengucapkan kalimat yang sesungguhnya membuat sesuatu di dalam dirinya serasa tercabik, Rania pun berjalan melewati Abiyya yang masih tegak dan diam membisu. Gadis itu telah mandi dan mengenakan bajunya kembali. Baju yang semalam juga ia kenakan dalam sebuah acara perayaan ulang tahun Abiyya, yang lalu malah berakhir di kamar ini dan... bersama bosnya. "...Rania Puspita." Suara berat dan dalam itu kembali membuat langkah Rania terhenti dengan jantung yang semakin berdebar. Ia sungguh tak menyangka jika Abiyya mengetahui nama lengkapnya, karena selama ini Rania merasa lebih mirip makhluk yang tak terlihat bagi Abiyya. Abiyya adalah bosnya di tempat Rania bekerja. Pria itu pemilik The Journal, sebuah usaha cafe dimana Rania juga bekerja sebagai waitress di sana. "Ya, Pak Abiyya...?" Untuk sejenak, Abiyya terdiam seraya menatap lekat Rania. Mengamati bagaimana Rania berjalan dengan langkah sedikit tertatih seolah sedang menahan sakit... yang membuatnya memaki dirinya sendiri dalam hati, karena merasa itu adalah akibat dari sikap beringasnya kepada Rania semalam. "Ambillah cuti untuk hari ini," cetus Abiyya, beberapa saat setelah keheningan tercipta. "Dan jangan khawatir, gajimu tidak akan kupotong. Namun besok, kamu harus bekerja dua shift sebagai penggantinya." Rania merasakan sesak yang sejak tadi melanda dirinya, kini terasa semakin hebat. Semula gadis itu mengira jika akhirnya Abiyya akan mengucapkan sesuatu yang lebih peka tentang apa yang terjadi semalam, namun ternyata yang Abiyya pikirkan hanyalah masalah pekerjaan?? Lalu... bagaimana dengan dirinya?? Rania yakin jika Abiyya mengetahui bahwa dirinya adalah gadis yang masih perawan, sebelum Abiyya merampas kesuciannya semalam. Rania juga sadar diri jika ia pun turut bersalah, karena telah larut dan terhanyut dalam rayuan Abiyya akibat efek alkohol yang mempengaruhi akal sehatnya. Tapi kini dirinya sudah tidak utuh lagi sebagai wanita, dan apakah Abiyya memang setidak-peduli itu?? "Baik, Pak. Terima kasih untuk jatah cutinya." Dan Rania pun akhirnya hanya bisa mengucapkan sederet kalimat yang diucapkan dengan nada yang sama kakunya dengan wajahnya. Sungguh. Hilang sudah seluruh rasa kagum yang dulu Rania rasakan kepada pria ini. Abiyya yang sangat tampan, ramah, tipe problem-solver dan memiliki pemikiran-pemikiran visioner serta cerdas. Pemimpin yang tidak sok kuasa, juga mudah didekati oleh siapa saja. Abiyya yang dulu begitu sempurna di mata Rania, dan sering kali gadis itu berharap bahwa suatu hari akan datang saatnya ketika bosnya itu akan melirik dirinya. Menyadari keberadaan sosok Rania, dan kemudian... ah, sudahlah. Sekarang Rania telah sadar, bahwa semua khayalannya itu adalah semu. Abiyya adalah manusia biasa, yang juga tak luput dari kekurangan sama seperti dirinya. Maka Rania pun memilih untuk pergi, membawa serta semua rasa perih ini sendiri. "Kalau begitu, aku pamit dulu, Pak Abiyya. Selamat pagi." "Rania, tunggu." ***Perjalanan menuju kediaman keluarga Prasetya memakan waktu cukup lama. Sepanjang perjalanan, Rania hanya bisa diam sambil sesekali melirik ke luar jendela. Kirby yang duduk di sampingnya pun tidak banyak bicara. Hingga akhirnya mobil itu memasuki sebuah pintu gerbang besar, lalu melaju melewati jalan panjang yang diapit pepohonan rapi. Beberapa menit kemudian, mobil berhenti di depan sebuah bangunan yang membuat kedua gadis itu sejenak terdiam. Rumah itu... lebih pantas disebut istana. Bangunannya besar dengan fasad batu berwarna terang, jendela-jendela tinggi, pilar klasik, serta atap bertingkat yang memberikan kesan seperti kediaman bangsawan Inggris. Taman luas terbentang di kedua sisi halaman, lengkap dengan semak yang dipangkas rapi dan beberapa patung batu yang berdiri di antara pepohonan. Kirby pun turun dari mobil lebih dulu, lalu disusul oleh Rania. Ia mendongak cukup lama sebelum akhirnya mendekatkan wajahnya ke telinga Rania. “Ran...” “Hm?” “Aku tahu Pak Abiyya i
Mereka memilih sebuah kafe yang cukup ramai di pusat kota.Tempat itu tidak terlalu besar, tetapi memiliki dinding kaca lebar yang membuat bagian dalam kafe terlihat jelas dari luar.Kirby dan Devon memilih meja di dekat jendela.Sesuai janjinya, Rania tidak ikut duduk bersama mereka.Ia memilih kursi di area luar kafe, tepat di sisi jendela yang masih memungkinkan dirinya melihat meja Kirby dengan jelas.“Kalau ada apa-apa, aku di sini,” ujar Rania sebelum Kirby masuk.Kirby mengangguk. “Terima kasih.”Rania hanya tersenyum dan mengibaskan tangannya, menyuruh Kirby segera masuk ke dalam. Dari tempatnya duduk, Rania bisa melihat Kirby berjalan mendekati meja Devon, lalu keduanya mulai berbicara.Awalnya terlihat biasa.Devon mengatakan sesuatu, Kirby menjawab, kemudian Devon kembali berbicara.Sayangnya, Rania tidak bisa mendengar percakapan mereka karena terhalang kaca. Ia hanya bisa membaca bahasa tubuh keduanya.Beberapa menit berlalu, dan Rania mulai merasa tidak nyaman saat meli
Di sudut lain The Journal, Kirby sedang duduk sendirian di meja kecil dekat area belakang.Secangkir kopi di hadapannya sudah hampir dingin tak tersentuh.Kirby menarik napas panjang.Tatapan gadis itu terpaku pada satu pesan dari Devon yang masih terbuka di layar ponselnya.Devon: Aku sudah bicara dengan Mama. Beliau masih belum berubah pikiran.Jemarinya menggenggam ponsel sedikit lebih erat.Sudah beberapa hari terakhir hubungan mereka terasa berbeda karena masalah ibunya Devon yang terang-terangan menolak hubungan mereka.Ponsel Kirby kembali bergetar.Devon: Jangan berpikir macam-macam. Aku nggak akan putus dengan kamu hanya karena Mama tidak menyetujui hubungan kita.Kirby pun membaca pesan itu berulang kali. Tapi bukannya merasa lega, matanya justru kembali berkaca-kaca.Ia tahu Devon bersungguh-sungguh... namun sampai kapan?Mungkin mereka bisa melawan, tetapi bagaimana jika penolakan itu terus berlangsung?Bagaimana jika keluarga Devon terus memaksanya memilih?Bagaimana jika
Tok. Tok. Tok. Rania sontak menoleh ke arah pintu. Wajahnya pun berubah panik. Sementara itu Abiyya justru masih duduk dengan tenang, tampak sama sekali tidak mengkhawatirkan apa pun.. “Pak Abiyya?” terdengar suara seorang pria dari luar. “Aku Tian. Ada hal yang ingin kubicarakan dengan Bapak.” Seketika Rania menoleh ke arah Abiyya. Tian?? Pemuda itu... kenapa harus datang sekarang?? Ia buru-buru hendak bangkit dari pangkuan Abiyya, tetapi pria itu sempat menahan pinggangnya. “Tunggu dulu,” bisik Abiyya. Rania mendelik. “Tunggu gimana, sih? Ada orang di luar!” “Aku tahu.” Rania menatap pria itu tidak percaya. “Lalu kenapa Pak Abiyya masih~~” “Tenanglah, Sayang.” Abiyya akhirnya melepaskan pelukannya. “Rapikan dulu penampilan kamu.” Kali ini Abiyya membiarkan Rania yang segera berdiri. Gadis itu membenahi seragam dan celemek hitamnya, menyisir rambutnya dengan jemari, lalu mengusap sudut bibirnya yang masih terasa bengkak dan hangat akibat ciuman tadi. Abiyya sendiri mera
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
評論