로그인William membiarkan tangannya diam di tempatnya, tidak mencoba mengejar atau memaksakan sentuhan yang baru saja ditolak Sasha. Penolakan itu dingin, senyap, namun getarannya terasa begitu kuat di atas kasur yang sama.Di antara mereka berdua, Arlan mendengkur halus. Tangan kecil bocah itu memegang ujung kaus William, sementara kakinya menempel pada paha Sasha. Anak itu menjadi satu-satunya jembatan hidup di atas jurang pemisah yang sengaja mereka bangun malam ini.William menoleh ke samping, menatap ubun-ubun Arlan, lalu beralih pada siluet punggung Sasha yang masih melengkung kaku. Sisi keras kepala William bergolak lagi. Ada bagian dari dirinya yang ingin bangkit, kembali ke ruang kerja, dan menenggelamkan diri dalam baris-baris kode Aegis sampai pagi. Mengapa dia harus bertahan di ranjang ini jika kehadirannya hanya dianggap sebagai gangguan? Dia tidak terbiasa diabaikan seperti ini. Di kampus, kata-katanya didengar. Di dunia digital, perintahnya mutlak.Namun, setiap kali egonya me
Malam kian merambat larut, melampaui pelataran sunyi dan menyisakan deru kipas laptop yang berputar konstan di atas meja kerja William. Baris-baris kode hijau dan putih terus bergulir di layar, merefleksikan perang tak kasat mata yang sedang ia bangun dari balik dinding rumahnya sendiri. Setiap ketukan taktis jemarinya di atas papan ketik adalah bentuk perlawanan, penolakan mutlak untuk merunduk pada takdir yang coba didekte oleh ayahnya.Bagi William, melunakkan sikap malam ini terasa seperti sebuah kekalahan total. Jika ia menyerah pada rasa bersalahnya kepada Sasha sekarang, ia merasa bagian dari benteng pertahanannya akan runtuh, menyisakan celah yang bisa dimanfaatkan Aditama untuk mengobrak-abrik privasi yang selama sepuluh tahun ini ia bangun dengan susah payah.Sifat keras kepalanya menuntut satu hal: ia harus kuat, mandiri, dan tak tertembus, bahkan jika itu berarti harus mengorbankan kehangatan di ranjang utamanya untuk sementara waktu.Saat jam digital di sudut layar menun
"Sasha, dengar dulu..." William mencoba melangkah maju, tangannya terulur refleks untuk menenangkan. Namun, melihat sorot mata Sasha yang mengeras, ia menahan diri. Jarak dua langkah di antara mereka terasa seperti jurang yang menganga lebar. William menurunkan tangannya, membiarkan helaan napas berat lolos dari bibirnya. Ia memilih tidak membela diri lebih jauh, sadar bahwa setiap kalimat pembenaran hanya akan menyiram bensin ke dalam api amarah istrinya.Sasha tidak berniat memberikan panggung bagi William untuk bersilat lidah. Menghadapi sikap diam William, kemarahannya justru terasa semakin solid, membeku menjadi dinding es yang tebal."Aku tidak butuh penjelasanmu, William. Simpan saja semua teori dan logikamu untuk kelas kuliahmu besok pagi," lanjut Sasha, suaranya bergetar menahan luapan emosi yang nyaris pecah menjadi tangisan, namun ia menolak terlihat lemah. "Malam ini, kamu sukses membuktikan satu hal. Kamu benci Aditama, tapi kamu memperlakukan orang yang mencintaimu deng
"Jadi diam dan jangan banyak berkomentar!"Kalimat itu menggantung berat di udara kabin mobil, dingin dan tajam. Detik itu juga, napas Sasha tertahan. Kata-kata William barusan bukan lagi sekadar bentuk pertahanan diri dari trauma masa lalunya itu adalah batasan mutlak yang sengaja ditarik William untuk membungkamnya.Sasha menatap suaminya yang masih menatap lurus ke depan dengan rahang mengeras. Rasa terkejut akibat rem mendadak tadi kini bergeser menjadi rasa perih yang menjalar di dadanya. Bukan karena dia takut pada amarah William, melainkan karena untuk pertama kalinya, William menggunakan nada otoriter yang sangat familier. Nadanya persis seperti Aditama saat memotong pembicaraan orang lain di meja makan tadi.Sasha melepaskan sabuk pengamannya dengan gerakan pelan yang sengaja dibuat dingin. Ia memalingkan wajahnya ke arah jendela samping, menatap lampu-lampu jalanan kota yang berkelebat kabur di balik kaca yang mulai berembun."Baik," ucap Sasha, suaranya mendadak datar, kehi
Kirana tampak tersentuh, matanya kembali berkaca-kaca mendapat kelonggaran yang tidak pernah ia duga sebelumnya dari sang ayah. "Papa... makasih."William yang menyaksikan itu hanya bisa menahan tawa sinis di dalam hati. Sungguh pikir William tak sampai jika hanya ingin membuat Kirana terharu. Aditama sengaja melonggarkan cengkeramannya pada Kirana malam ini hanya untuk membangun reputasi baru sebagai 'Papa yang pengertian' di hadapan mereka, sekaligus membuat posisi William yang tetap menjaga jarak terlihat semakin tidak rasional.William melirik jam tangan kronograf di pergelangan tangannya. Jarum panjang baru saja menyentuh angka dua belas, menandakan tepat satu jam telah berlalu sejak mereka berpindah ke ruang tengah. Jam sembilan malam."Waktu kita sudah habis," ujar William tegas sambil berdiri dari posisinya.Ia dengan cekatan namun lembut mengangkat tubuh Arlan yang sudah terlelap ke dalam dekapannya. Kepala balita itu terkulai nyaman di pundak William. Sasha pun ikut bangki
Bisikan Sasha mendarat lembut di telinga William, membawa riak batin baru di tengah kepalanya yang hampir mendidih. William menoleh sedikit, menatap sepasang mata istrinya. Ia tahu Sasha tidak sedang tunduk pada manipulasi Aditama; Sasha hanya sedang menggunakan logika dinginnya. Menghadapi singa tua yang sedang berakting menjadi korban dengan cara menyerang balik secara frontal hanya akan membuat mereka terlihat sebagai monster di mata Kirana.William memejamkan mata sesaat, mengatur napasnya yang sempat memburu. Bahunya yang semula tegang perlahan melonggar.“Kamu gak tahu siapa dia.”“Setidaknya dia orang yang sudah tua. Kita bisa menganggap beliau orang lain jika kamu keberatan.”"Satu jam," ucap William akhirnya, suaranya datar tanpa emosi, namun cukup keras untuk memutus isak tangis Kirana.Aditama yang mendengar itu diam-diam menarik sudut bibirnya tipissangat tipis hingga nyaris tak terlihat!.Sebelum kembali memasang topeng wajahnya yang layu dan penuh syukur. "Terima kasih,
“Pak Heri, boleh saya bicara sebentar?”Sasha menghampiri sang pemilik usaha saat rekan-rekan lain sedang sibuk bercerita riang tentang hidangan rendang pari yang semalam mereka nikmati. Pak Heri sedang membersihkan bibirnya dengan serbet kain, wajahnya masih merona karena keceriaan tadi malam. Ia
Langkah Sasha keluar dari kantor Distributor Sentosa Abadi terasa lebih ringan daripada saat ia masuk tadi. Sinar matahari sore di kota kabupaten itu tidak lagi terasa menyengat, melainkan hangat dan menjanjikan.Sesampainya di rumah kontrakan, aroma tumis kangkung dan tempe goreng menyambutnya. Bu
Bu Lastri menatap Sasha lamat-lamat. Ada ketegasan di mata wanita muda itu yang mengingatkannya pada Nenek Wati keras kepala namun penuh kasih. Perlahan, keraguan di wajah Bu Lastri memudar, berganti dengan anggukan mantap."Baiklah, Nduk. Ibu ikut. Harta Ibu cuma kebun kecil ini, tapi ketenangan j
“Namanya juga manusia, Bu. Lupa ya wajar.”“Duh, sehat-sehat ya. Tapi kok..." Mak Ipah mengecilkan suaranya, matanya melirik ke arah jalan raya yang sepi. “Ayah anak ini ke mana? Apa yang kemarin nganter Neng Sasha.”“Bukan, ayahnya udh meninggal, Bu.”“Innalilahi, kasihan amat jadi yatim sejak di







