Share

bab 50

Author: Azzura Rei
last update publish date: 2026-01-28 00:04:16

"Aku tidak yakin saya bisa berjalan di depan umum dengan gaun terbuka seperti ini," bisik Sasha, suaranya tercekat.

William tersenyum penuh arti, menekankan bahwa dia memang menyukai Sasha dengan pakaian terbuka itu. Ia menarik Sasha lebih dekat lagi. William mencondongkan kepalanya, menekan leher Sasha dan mencium bibir Sasha.

“Ssh…”

Suara itu membuat William menambah dalamnya ciuman. Lalu setelah bermain dengan lidah manisnya, ia melepaskan ciuman dan membisikkan instruksi dominan di teling
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   bab 153

    Sasha mengikuti langkah lebar William keluar dari ruangan itu dengan perasaan yang berkecamuk. Lorong gedung fakultas yang sepi di sore hari itu terasa begitu panjang. Setiap langkah kaki William yang terburu-buru seolah-olah sedang mengejar waktu yang hilang selama lima tahun, sekaligus melarikan diri dari ketegangan intim yang baru saja meledak di antara mereka.Di dalam lift, keheningan kembali menyergap. William berdiri tegak, menatap angka-angka yang bergerak turun di layar digital dengan rahang yang mengeras. Ia sama sekali tidak menoleh pada Sasha, seolah-olah sentuhan panas di atas meja kerja tadi hanyalah sebuah halusinasi sesaat yang memalukan."Rumah Sakit Medika. Lantai empat, bangsal anak," suara Sasha memecah kesunyian, nyaris berbisik.William hanya mengangguk singkat, kunci mobil di tangannya berdenting pelan.Begitu sampai di parkiran, William membukakan pintu mobil SUV hitamnya dengan gerakan kasar. Sepanjang perjalanan, ia mengemudi dengan kecepatan tinggi, menyalip

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   bab 152

    "Apa yang kamu lakukan di sini?" Tanya William. “Maaf, Pak. Saya…”“Saya pikir kamu sudah mati. Ternyata, kamu dan ayahmu sama saja. Penipu!” Suara William terdengar rendah, datar, namun ada getaran keterkejutan yang gagal ia sembunyikan sepenuhnya. Tidak ada pelukan hangat, tidak ada kata maaf. Hanya nada interogasi yang masih sama arogannya seperti dulu. Bahkan sengaja menggunakan sikap arogansinya agar Sasha takut padanya.Sasha mengepalkan tangannya di samping tubuh, kuku-kukunya memutih karena menekan telapak tangan. "Maaf jika saya mengganggu, saya tidak akan datang jika ini bukan masalah hidup dan mati, Pak."William mengangkat sebelah alisnya, sebuah seringai tipis yang dingin muncul di sudut bibirnya. "Hidup dan mati? Dramatis sekali, Sasha. Setelah menghilang tanpa kabar dan memutus semua akses, sekarang kau muncul di depan ruanganku bicara soal tragedi?"Ia memberi isyarat kepada asisten dosennya untuk pergi, lalu beralih kembali pada Sasha. "Masuklah. Aku tidak ingin

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   bab 151

    "Aku tahu, Bu. Aku tahu," rintih Sasha.“Kamu harus kuat, demi Arlan. Ibu yakin semua akan baik-baik saja.”Sasha mengusap wajahnya, matanya merah dan sembap. Cahaya lampu neon di koridor rumah sakit memantul di lantai keramik yang dingin, menciptakan suasana yang kian mencekam. "Ibu tahu sendiri... aku bahkan tidak ingin Arlan tahu wajahnya. Bagaimana mungkin aku harus menyeret pria itu kembali ke hidup kami?""Ini soal nyawa, Sasha!" suara Lastri mulai melunak, membujuk Sasha meski tertahan oleh keheningan bangsal. "Arlan butuh sumsum itu. Kalau hasil tesmu tidak cocok, siapa lagi yang kita punya? Kamu mau membiarkan bocah itu layu hanya karena kamu terlalu takut menghadapi masa lalu?"Sasha terdiam. Kata-kata Lastri menghantamnya lebih keras daripada diagnosis dokter. Ia menoleh ke arah bangsal, melihat tubuh kecil Arlan yang terbaring lemah dengan selang infus yang tampak terlalu besar untuk tangannya yang mungil. Dada Arlan naik turun dengan napas yang pendek dan berat."Aku ak

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   bab 150

    Di dalam taksi online yang mereka pesan dengan terburu-buru, Sasha memeluk Arlan erat-erat. Kepala Arlan bersandar di dadanya, terasa begitu panas hingga menembus kaus yang dikenakan Sasha. Sepanjang jalan, Sasha terus membisikkan doa, namun pikirannya terus kembali pada gambar krayon tadi sore."Ma..." Arlan membuka matanya sedikit, namun pandangannya kosong. "Dingin... Arlan dingin...""Sabar ya, Sayang. Sebentar lagi sampai rumah sakit," Sasha mencium kening Arlan berkali-kali, berusaha menyalurkan kekuatan yang ia sendiri pun hampir kehilangan.Sesampainya di Unit Gawat Darurat (UGD), perawat segera mengambil tindakan. Arlan dipasangi infus dan diberikan obat melalui dubur untuk menurunkan demamnya dengan cepat. Sasha hanya bisa berdiri di sudut ruangan, meremas tangannya sendiri hingga buku-bukunya memutih.Lastri mendekati Sasha, merangkul bahu Sasha yang berguncang karena tangis yang ditahan. "Dia akan baik-baik saja, Sha. Arlan anak yang kuat.""Aku takut, Bu. Aku takut kalau

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   bab 149

    “Mama, tadi aku gambar ini.”Arlan menunjukkan gambar keluarga yang terdiri dari ibu, ayah, nenek dan dirinya. Sasha tersenyum melihatnya. “Ini siapa?”“Papa.”“Kok gelap wajahnya?” tanya Sasha. “Habis Arlan gak tau wajah Papa gimana. Mama gak kasih tahu.”Sasha hanya mengusap kepala Arlan, lalu meletakkan kertas gambar itu. “Arlan mau makan apa? Biar mama siapkan,” kilah Sasha mengalihkan topik. Dia selalu kesal jika Arlan sudah berbicara tentang ayahnya.“Arlan gak lapar,” lirih Arlan yang juga seperti tahu kebiasaan ibunya yang selalu berbohong tentang ayahnya.Sasha bergegas ke dapur, membiarkan bunyi sutil dan wajan menjadi tameng dari kesunyian yang menyesakkan. Di ruang tengah, Arlan masih menatap kertas gambarnya. Sosok jangkung dengan coretan hitam tebal di bagian wajah itu seolah menatap balik padanya, menuntut identitas yang selama lima tahun ini disembunyikan rapat-rapat oleh ibunya.Sasha memotong wortel dengan gerakan yang terlalu bertenaga. Suara pisau beradu dengan

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   bab 146

    "Semuanya hancur. Semua gara gara ayah begomu ini, Clarissa!”Clarisa pun dihubungi. Bukan hanya shock, Clarissa pun mendapat imbas dari perbuatan ayahnya. Dia bekerja di perusahaan besar Aditama, membuat dia dalam masalah besar.“Mama gak lagi bercanda kan? Aku baru saja akan naik jabatan.”“Entahlah! Mama tak tahu harus ke mana. Rumah, mobil sudah disita. Mama mau ke mana coba?”“Ya udah, ke apartemen aku dulu. Aku yakin papa juga akan ke sana.”Linda pun mematikan telepon, dia langsung meminta supir menuju apartemen Clarissa. Di sana, ternyata Bram ternyata sudah menunggu."Dengar, Linda! Aku tidak tahu kalau akan jadi seperti ini.”Clarisa belum sampai di sana, dia masih di jalan dan keduanya tengah menunggu dan berdiri di ambang pintu.“Aku udah gak peduli. Mas harus cari Sasha dan minta anak itu membuat William percaya lagi dengan kita.”“Bagaimana mungkin? Aku saja tidak tahu di mana anak itu sekarang!" Jawab Bram.Clarisa sampai. Wajahnya terlihat marah dan meledak. “Claris

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status