เข้าสู่ระบบSelepas pemeriksaan, Gio membawaku pulang. “Apakah kamu tidak merasa jijik padaku?” tanyaku, ketika kami telah keluar dari perkiraan rumah sakit.“Jijik?” Gio tersenyum miring. Sementara aku menunduk.Tiba-tiba Gio mendekatkan wajahnya ke arahku, tak segan dia mengecup pipiku. Aku membeliak terkejut.“Kamu?” Aku menyentuh pipiku.“Ya! Tidak harus aku jelaskan, kamu tahu hal apa yang membuatku merasa jijik!” Tentu! Aku tahu itu. Gio benci wanita murahan, dia merasa jijik pada semua itu. Aku tersenyum kecil, bersyukur dalam keadaan seperti ini pun, Gio tetap mampu membuatku tersenyum.Gio menuntunku turun dari mobil, setelah kami sampai di depan rumah.Tanpa mengulur waktu, Gio langsung memanggil Diana. Di sinilah, aku akan membuktikan bahwa kecurigaanku benar adanya.“Ada apa, Kak?” tanya Diana. Gio menolehku.“Ikut aku!” ajakku.Diana mengernyitkan dahinya. Awalnya dia hanya diam, akan tetapi Gio menuntunnya masuk ke kamarku, mengekor di belakang tubuhku.“Ada apa ini? Kenapa aku ha
Kulitku tiba-tiba terasa gatal, semakin digaruk, rasa gatal itu semakin menjalar ke seluruh tubuh hingga wajah. Bahkan sensasi perih pun begitu kurasakan.“Kenapa ini?”Kedua tanganku semakin tidak bisa diam. Rasa gatal ini cukup menyiksaku. Bahkan kulit yang kugaruk pun perlahan berubah memerah. Ini sangat perih.“Ya Tuhan, ini kenapa gatalnya tidak mau hilang?” Aku sampai membuka seluruh pakaianku, demi bisa leluasa menggaruk bagian tubuh yang terasa gatal tersebut.Aku panik, aku tidak tahu penyebab rasa gatal ini karena apa. Apa mungkin selimut yang kugunakan kotor? Atau mungkin ada ulat bulu yang menyelinap masuk? Tidak! Tidak mungkin. Selimut ini masih baru. Bahkan aku tidak pernah membiarkan kamarku kotor barang sedikit pun.“Gio!” Sambil memanggil nama itu, kedua tanganku semakin membabi buta.Kulit yang kugaruk semakin memerah, menipis. Bahkan sebagian kulitku mengeluarkan darah.“Gio! Tolong aku!” teriakku. Aku menangis dalam kondisi seperti ini. Bahkan napasku sedikit tidak
“Kamu kenapa?” tanya Gio.Kulihat sangat jelas, wajah Diana memerah, kedua matanya berair. Diana meraih tisu, lantas menyeka wajahnya.“Maaf, aku … aku tidak bermaksud menghina. Tapi ….” Diana menghentikan ucapannya.“Ada apa?” tanya Gio.Diana melirik ke arah Pak Anjas. “Maaf, aku belum terbiasa makan di hadapan Papa!”Ucapan Diana membuat Pak Anjas berhenti sarapan. Pria itu lantas beranjak dari kursi.“Maaf, Papa lupa kondisi Papa. Kalian lanjutkan saja sarapannya,” ucap Pak Anjas, lantas pergi dari ruang makan.Kupandangi pria tua itu hingga tidak terlihat lagi.“Aku rasa tidak seharusnya kamu berbicara seperti itu, Di,” kataku.Diana melirik sekilas ke arahku.“Orang luar tidak seharusnya mengatur orang dalam. Bukankah begitu?” sarkas Diana.Selera makanku hilang seketika. Diana benar-benar berubah. Dia bukan Diana seperti yang dulu. “Moza benar, kalau kamu tidak mau makan sama Papa, setidaknya cari cara lain supaya tidak menyakiti hatinya,” timpal Gio.Tiba-tiba Diana beranjak,
Penasaran apa yang terjadi, aku pun keluar dari kamarku. Kunaiki anak tangga demi mencari tahu alasan Diana berteriak.Di saat yang bersamaan, ketika aku telah berada di ujung tangga bagian atas, pintu kamar Gio terbuka. Reaksinya sama sepertiku, terkejut.“Apa yang terjadi?” tanyaku.Gio mengedikan bahunya. “Aku juga tidak tahu!”Aku dan Gio berlari masuk ke kamar Diana. Di sana, kamar itu berantakan dengan bantal, selimut, serta vas bunga telah berserakan di lantai. “Apa yang terjadi?” tanya Gio.Pak Anjas ada di dalam kamar ini, dahinya terluka.“Kak! Lihat pria jelek itu, dia main masuk ke kamarku. Siapa dia, Kak? Kenapa dia bisa berkeliaran di rumah kita?” tunjuk Diana ke arah Pak Anjas.“Diana! Ini papa kita. Kenapa kamu melukainya?” tanya Gio. “Ck, aku yang salah. Seharusnya tadi aku menemani Papa masuk ke sini.” Gio mengusap kasar wajahnya.“Papa?” Diana membeliak.“Iya, aku adalah papanya Gio, papa kamu juga. Papa ke sini hanya ingin melepas rindu Papa sama kamu. Ternyata k
“Bu, sudah!” cegahku, sebelum Ibu berbicara lebih tentang Diana di hadapan Gio. Bagaimanapun aku tidak enak jika sampai itu terjadi.“Em … pelakor?” tanya Gio.“Iya, dia–”Tiba-tiba Diana memotong jawaban Ibu. “Kak, sebaiknya kita pulang sekarang, yuk! Aku mau ketemu sama Papa!”Ibu mengernyitkan dahi, mungkin bingung mendengar ucapan Diana. Gio mengangkat sebelah tangannya ke udara, menginstruksi Diana supaya diam.“Bisa Tante jelaskan, kenapa Tante bisa menyebut adikku dengan sebutan pelakor?” tanya Gio.Ibu membeliak, sementara Ayah yang tidak paham dan belum mengenal Gio, hanya diam memperhatikan tanpa sedikit pun menyela obrolan kami.“Sehari sebelum Moza menikah, Diana mengaku hamil anak calon suami Moza. Karena dia, kami harus mengalami hal yang memalukan. Undangan sudah disebar, dan biaya pesta pernikahan yang sia-sia karena perbuatan Diana!” jelas Ibu. Kulihat Ibu begitu murka terhadap Diana.Kulihat gerak Diana tidak nyaman. Kubiarkan saja Ibu mengatakan semuanya. Aku tidak
“Apa? Calon istri?!”Diana tampak terkejut mendengar ucapan Gio. “Ya! Kamu kenal, kan, sama Moza? Ibumu saja kenal dengannya,” jawab Gio.Diana menyilangkan kedua tangannya di depan dada. Rahangnya mengeras seraya mengalihkan pandangan ke arah lain.“Ya! Dia temanku waktu SMA,” jawab Diana dengan enggan.“Syukurlah kalian sudah saling mengenal. Kak Gio jadi senang kita akan menjadi satu keluarga. Em … Tante, aku mau bicara sesuatu sama Tante. Aku harap Tante tidak akan keberatan,” kata Gio.“Mau bicara apa?” tanya Tante Vivian.Gio merangkul bahu Diana. Tidak ada penolakan sama sekali dari wanita itu. Diana menerima apa yang menjadi takdirnya.“Ini kali pertama aku bertemu dengan adikku. Tante, aku sayang pada adikku, jujur aku tidak ingin jauh darinya. Aku mau meminta izin ingin membawa Diana ke rumahku. Ah bukan, itu rumah Diana juga. Boleh kan, Tante?” Tante Vivian menunduk dalam. “Boleh kan, Bu?” timpal Diana.Hening! Tante Vivian terlihat berat atas permintaan Gio.“Tan, tolon







