LOGINRésumé : Après la mort tragique de son frère jumeau dans des circonstances mystérieuses, Samuel, le frère survivant, décide de se faire passer pour lui auprès de sa femme et de son fils. Il espère ainsi découvrir la vérité sur l'assassinat de son frère, qu’il venait à peine de retrouver après des années de séparation. Au cœur du deuil et des faux-semblants, Samuel se retrouve plongé dans une double vie difficile à maintenir. En imitant son frère, il fait face à des secrets enfouis, des mensonges et des tensions au sein de la famille. Au fil de son enquête, il découvre que la vérité derrière la mort de son frère est plus complexe et sombre qu’il ne l’imaginait. Sa mission prend alors un tour plus personnel, car il se retrouve confronté à ses propres émotions, à ses sentiments ambigus envers la femme de son frère, et aux conséquences de son rôle trompeur. Alors qu'il s’approche peu à peu du meurtrier, Samuel doit aussi affronter les implications de son choix : la rédemption est-elle encore possible lorsqu'on vit dans l’ombre d’un autre ? Entre trahison, recherche de justice et réconciliation familiale, " Dans l'ombre de mon frère" est un thriller psychologique intense qui explore les thèmes de l'identité, du deuil, et de la quête de vérité.
View MoreBrakk
"Astagfirullah! Ibu, ada apa?" tanya seorang gadis yang tengah mengaji itu.
Seorang wanita paruh baya dan juga wanita muda mendatangi kamarnya. Wajah mereka berdua begitu menyeramkan, menatap tajam pada gadis yang masih terduduk menggunakan mukenanya.
"Ibu, ada apa? Bukankah seharusnya kalian bersiap-siap?" tanyanya heran.
"Lepaskan mukenamu! Dan ikut bersama kami, saat ini juga!"
Gadis cantik bermata sendu itu tampak menatap heran pada ibu tirinya itu.
Sementara itu, gadis muda yang berdiri di samping ibunya, hanya tersenyum menyeringai. Entah apa yang tengah mereka rencanakan.
"Ikut aku!" ucapnya tegas seraya menarik tangan sang gadis dengan kasarnya.
"Ya Tuhan, Ibu tunggu! Ada apa ini?" tanyanya panik.
Sementara itu, wanita paruh baya itu menutup mulutnya tidak menjawab pertanyaan anak tirinya.Ia terus menarik tubuh kurus sang anak tiri.
Ketika tiba di luar kamar, sang ayah yang tengah duduk di atas kursi roda hanya menatap sendu pada putrinya. Ia tidak bisa berbuat apapun, meski ia ingin.
"Ikut aku! Dan gantikan posisi Zahra, menikah dengan kekasihnya, Kevan!" tegas wanita paruh baya itu.
"Tidak, Ibu! Lepaskan tanganku, bagaimana bisa aku menggantikan posisi Zahra. Ibu aku mohon jangan seperti ini!"
Gadis itu terus mencoba memberontak. Namun cekalan di tangannya semakin erat, membuatnya kesakitan.
Bruk
Gadis itu di dorong dengan begitu kasar. Hingga ia terjatuh di lantai dingin itu. Di dalam kamar sudah ada beberapa orang yang akan mendandaninya.
"Dandani dia! Karena dia'lah yang akan menikah dengan lelaki cacat itu!"
******
Beberapa jam sebelumnya ...
"Apa?"
Teriakan wanita paruh baya itu membahana di dalam kamar sang putri, Zahra Putri. Ia kaget setelah mendengar pernyataan sang putri.
"Bagaimana bisa, Zahra? Bagaimana bisa kau berniat untuk membatalkan pernikahanmu dengan kekasihmu itu? Sedangkan, acara pernikahan kalian nanti pagi akan terlaksana! Bagaimana bisa kau melakukan ini, apakah kau memang berniat untuk mempermalukanku di hadapan teman-temanku hah!"
Zahra hanya diam menatap kemarahan sang ibu. Sudah ia duga jika ibunya akan marah besar, mendengar rencananya.
"Oh ayolah, Bu! Bagaimana ibu tega, membiarkan anakmu yang cantik ini menikah dengan lelaki cacat seperti Kevan hmm. Meskipun mungkin dia memiliki kekayaan yang banyak, namun apakah ibu tidak akan malu mempunyai menantu cacat sepertinya? Wajahnya hancur bu, tidak tampan seperti dulu! Ibu tenang saja, lepas dari Kevan aku akan mencari lagi mangsa yang baru. Cukup memberikan tubuhku yang indah ini, maka laki-laki manapun pasti akan bertekuk lutut di bawah kendaliku," ucapnya dengan penuh percaya diri.
Perempuan paruh baya itu masih diam, menatap tajam pada sang putri yang memiliki ide gila. Bagaimana bisa dia berniat membatalkan sedangkan pernikahannya akan berlangganan nanti pagi, pikirnya.
"Gila, kau gila Zahra. Bagaimana bisa kamu masih sesantai ini, sedangkan pernikahan kalian akan berlangsung beberapa jam lagi," ucapnya gusar.
Zahra tersenyum menyeringai. Tentu ia tenang, sebab pernikahan ini tidak akan batal.
Pernikahannya akan tetap berlangsung. Dan tentu saja dengan seorang pengantin pengganti.
Zahra menghampiri sang ibu dan merangkul bahunya," Ibu tenang saja dan tak perlu khawatir. Sebab pernikahan ini akan tetap berlangsung dan tentunya dengan pengantin berbeda."
Wanita paruh baya itu mendelik melihat sang putri yang tersenyum menyebalkan. Zahra pun membisikkan rencana briliannya.
Perempuan paruh baya itu mendengarkan dengan seksama. Kemudian, mereka pun tersenyum bersama.
"Idemu cemerlang sekali. Ya kita suruh saja anak itu untuk mengganti posisimu. Dengan mengorbankan ayahnya yang sudah tidak berguna itu."
Zahra mengangguk. Membenarkan rencana sang ibu.
"Ya, dan setelah perempuan itu pergi meninggalkan rumah ini! Kita berdua pun bisa melenyapkan pria penyakitan itu. Aku pun sudah muak melihatnya, pria tidak berguna itu bisa kita singkirkan dan maka rumah mewah ini bisa kita miliki berdua. Bagaimana bu, apa kamu setuju dengan rencanaku?" tanya Zahra.
Perempuan paruh baya itu tersenyum smirk. Lalu tak berapa lama ia pun mengangguk.
Zahra pun tersenyum puas. Tinggal melaksanakan rencana kedua, yaitu pergi dari rumah.
"Baiklah, karena waktu sudah menunjukkan pukul lima pagi. Sebaiknya kita menuju kamar Arancia. Dan membawanya ke tempat para MUA itu," ujar Zahra.
Perempuan paruh baya itu mengangguk. Lalu dengan semangat yang membara mereka pun keluar dari kamar Zahra. Alangkah kagetnya ketika membuka kamar.
Pria paruh baya yang tak lain suami dan ayah dari Arancia menghadang keduanya. Pria itu menatap tajam pada sang istri yang baru saja beberapa bulan ia nikahi.
"Ja-ngan ka-lian la-kukan hal itu pa-da put-riku!" ucapnya terbata.
Perempuan paruh baya itu menyeringai menatap sang suami. Lalu ia pun menunduk dan berbisik padanya.
"Silahkan saja, jika kamu bisa menghalangiku dan mencegahku. Maka lakukanlah Wijaya Hadikusuma," bisiknya lalu perempuan paruh baya itu menyingkirkan kursi rodanya dengan kasar.
"Se-kar, kau a-kan me-nyesali per-buatanmu ini!"
Perempuan paruh baya yang bernama Sekar itu hanya mengedikkan bahunya cuek. Begitu juga dengan Zahra yang malah tersenyum mengejek pada ayah tirinya.
Sekar pun melangkah menuju kamar anak tirinya sedangkan Zahra menatap sang ayah tiri. Lalu ia pun berbisik lirih di telinga ayahnya.
"Sebaiknya persiapkan dirimu papaku tersayang. Sebab, jika anak kesayanganmu itu sudah pergi. Maka neraka menantimu."
Zahra tersenyum puas. Sedangkan Wijaya hanya bisa menahan amarahnya.
Kedua wanita ular itu mendatangi kamar milik Arancia. Dan membukanya dengan sangat kasar.
*****
"Tolong, jangan lakukan ini, Ibu. Mengapa harus aku yang menggantikan posisi Zahra," lirih Arancia.
Sekar hanya menatap datar pada Arancia. Tidak berniat menimpali ucapan anak tirinya itu.
Air mata jatuh membasahi kedua pipi Arancia. Ia tidak dapat membayangkan bagaimana nasibnya ke depan.
"Ya Allah, Ya Tuhanku. Tolong lindungi hambamu yang tidak berdaya ini. Bila ini memang suratan takdir di dalam kehidupanku, aku ikhlas. Namun berilah perlindunganmu padaku, Tuhan," batin Arancia berkecamuk.
Sekar hanya tersenyum sinis. Ia akui jika Arancia begitu cantik dengan wajah alaminya. Berbeda dengan putrinya, Zahra.
"Ma, aku pamit ke kamarku! Awasi dia, nanti takutnya dia kabur. Dan mempermalukan Mama," ucap Zahra mengompori Sekar.
"Pergilah, Sayang. Biar ini menjadi urusanku! Tunggu! Bagaimana dengan lelaki cacat itu, apa kamu sudah berbicara padanya?" tanya Sekar.
Zahra tersenyum lebar. Lalu ia mengangguk. Seolah meyakinkan pada Sekar jika ia sudah berbicara dengan Kevan sang kekasih.
Namun, pada kenyataannya Zahra sama sekali belum memberi kabar apapun pada Kevan. Ia sengaja.
"Sudah, Ibu tenang saja. Soal Kevan aku yang urus," tukas Zahra.
Sekar pun mengangguk tenang. Zahra pun berlalu dari sana. Arancia hanya bisa menatap nanar kepergian saudara tirinya itu.
"Pegang kedua tangannya dengan erat! Jika sampai dia berulah, pukul saja!" perintahnya pada para pelayan yang berada di rumahnya itu.
Zahra pun masuk ke dalam kamarnya. Lalu ia pun mengirimkan pesan untuk sang kekasih.
"Sorry, Kevan! Aku tidak bisa melanjutkan pernikahan ini, dan aku harap kamu mengerti dengan alasan yang aku punya. Namun, kamu tidak perlu khawatir, pernikahan ini akan tetap berlangsung tentu dengan pengantin penggantiku!"
GabrielleLa maison est silencieuse quand je rentre.Une paix étrange, presque déroutante, m’enveloppe dès que je passe la porte. Elle n’est pas vide, cette paix. Elle est pleine de chaleur, de détails minuscules qui disent « tu peux poser tes armes ici ».L’odeur est familière.Un mélange de café froid oublié sur la table, de bois ciré, de lessive chaude, et cette senteur de cèdre qui imprègne les murs depuis toujours. Rien de spectaculaire. Mais ici, je peux respirer. Ici, je redeviens quelque chose d’humain.Pas un symbole. Pas une victime. Pas un témoin.Juste moi.Les clés glissent de mes doigts, tombent dans la corbeille à l’entrée dans un tintement doux.Je ferme les yeux.J’inspire.Je suis là.Alexandre est là aussi.Je l’entends avant de le voir. Les pas feutrés dans le couloir, le craquement du parquet sous son poids, le bruissement d’un livre qu’on referme, lentement. Il ne se précipite pas. Il m’attend.À sa manière.Il sait que je reviens de loin.Et il sait comment m’ac
GabrielleLes jours qui suivent sont d’une lenteur cinglante.Rien ne va vite dans la justice.Surtout pas la vérité.Elle n’arrive jamais comme une illumination. Non. Elle s’installe par strates, par ratures, par témoignages partiels, souvent douloureux, parfois hésitants. Elle se faufile entre les convocations, les regards froids des magistrats, les délais administratifs, les visages fermés. La vérité, celle que j’ai portée seule pendant si longtemps, doit maintenant se plier aux exigences du droit.Elle devient dossier.Elle devient preuve.Elle devient sujet d’État.Chaque mot que je prononce est enregistré. Chaque silence que je garde est noté.On me demande de raconter. Encore.De répéter. Encore.De revivre. Encore.Je m’y attendais. Mais savoir ne protège pas.Je ressens une fatigue immense, une usure lente qui me ronge de l’intérieur. Parfois je tremble sans raison. Parfois je serre les poings jusqu’à m’enfoncer les ongles dans la peau.Mais je reste debout.Parce qu’il le fa
GabrielleLe couloir résonne d’un écho mat, chaque pas martèle mon esprit comme le rappel d’un battement de cœur qui refuse de se calmer. Les murs sont lisses, glacés, couverts d’une peinture blanche trop fraîche, trop clinique. Une odeur âcre flotte dans l’air désinfectant, métal, tension.Tout a été pensé pour neutraliser la moindre trace de vie, de chaleur, d’humanité. Rien ne doit filtrer ici, pas même les émotions. Mais moi, je transpire de l’intérieur. Pas de peur. De tension maîtrisée. De cette conscience aiguë que l’instant qui arrive ne sera pas une simple déposition.Je serre le dossier contre ma poitrine. À l’intérieur, une liasse de feuilles : procès-verbaux, rapports médicaux, extraits de journaux intimes, coupures de presse, fragments de poèmes arrachés à ses carnets ou griffonnés pendant ses premières gardes à vue, il y a des années. Le fruit d’années de douleur, de survie, de reconstruction. Mais aussi… de traque.Devant moi, Laurence marche d’un pas rapide, sans hésit
GabrielleLe lendemain, le silence est partout.Pas celui de la paix.Celui… de l’après. Celui qui laisse la tête bourdonnante, et la peau trop froide.Le Poète est en cellule. Séparé du monde. Enfermé dans un endroit sans nom, sous un protocole discret, hors du circuit traditionnel. Pas encore officiellement arrêté, pas encore jugé.Mais contenu.Et moi ?Moi, je suis dans mon lit, le regard planté dans le plafond, incapable de cligner des yeux. Alexandre dort à côté, la main posée sur mon ventre, comme une ancre. Comme s’il voulait m’empêcher de me perdre de nouveau.Mais ce n’est pas moi qui me perds.C’est lui, le monstre, qui rôde encore dans ma mémoire.Il est enfermé.Et pourtant, c’est ici qu’il me parle.Dans ma tête. « Tu m’as toujours appartenu un peu. »Je ferme les yeux. Mais l’image revient. Son regard. Ce vert faux, presque fluorescent. Son souffle maîtrisé. La manière dont il est entré dans cette pièce, comme s’il pénétrait dans un souvenir sacré.Il m’a vue. Il m’a r
GabrielleIl y a des soirs où la lumière tombe doucement sur les murs, comme si le monde décidait de se faire discret pour nous laisser respirer.Je suis assise sur le rebord de la fenêtre, une tasse entre les mains, les jambes repliées contre moi. Alexandre est encore sous la douche. On ne s’est p
GabrielleLe printemps s’installe sans fracas, comme une main tiède sur l’épaule. Chaque jour, les rues s’illuminent un peu plus, les murs gris se parent de reflets dorés, et dans les fissures du trottoir, des fleurs minuscules percent le béton. Je les regarde en rentrant du marché, mon cabas à moi
GabrielleJe n’ouvre pas les yeux tout de suite.Je laisse le jour filtrer doucement derrière mes paupières, j’écoute les bruits familiers d’un appartement qui commence à respirer. Les oiseaux dehors, le grincement de la chaise qu’Alexandre vient de tirer, le léger tintement d’une tasse contre le p
GabrielleLe matin s’infiltre par les rideaux entrouverts, timide et doré, comme s’il ne voulait pas brusquer la paix précaire qui règne dans l’appartement. Je suis réveillée depuis longtemps. Alexandre dort encore, paisible, une main posée sur mon oreiller comme si son corps refusait de lâcher le






Bienvenue dans Goodnovel monde de fiction. Si vous aimez ce roman, ou si vous êtes un idéaliste espérant explorer un monde parfait, et que vous souhaitez également devenir un auteur de roman original en ligne pour augmenter vos revenus, vous pouvez rejoindre notre famille pour lire ou créer différents types de livres, tels que le roman d'amour, la lecture épique, le roman de loup-garou, le roman fantastique, le roman historique et ainsi de suite. Si vous êtes un lecteur, vous pouvez choisir des romans de haute qualité ici. Si vous êtes un auteur, vous pouvez obtenir plus d'inspiration des autres pour créer des œuvres plus brillantes. De plus, vos œuvres sur notre plateforme attireront plus d'attention et gagneront plus d'adimiration des lecteurs.