MasukPercakapan penting belum dimulai, namun sebuah permintaan sudah lebih Lilian ajukan tanpa dia pikirkan siapa yang kini duduk di hadapannya.Dari gerak-geriknya, siapapun juga tahu dengan jelas bahwa gadis itu tengah diliputi ketakutan. Namun, siapa yang akan menyangka bahwa di balik kegugupannya, dia memiliki keberanian untuk bicara sesuatu yang bahkan tidak sembarangan orang berani katakan.Darimana keberaniannya berasal? Apakah dari ketidak pekaannya yang tidak sadar bahwa setiap keinginan ada konsekuensinya, atau justru kebodohan yang terbungkus kepolosan?Elisio bukanlah seseorang yang bisa dengan mudah dimintai sesuatu, apalagi sesuatu yang secara tidak langsung sedang memberinya perintah. Elisio juga bukan seseorang suka sembarangan menodongkan senjata hanya untuk dapatkan kepatuhan dari orang yang dikehendakinya. Tanpa bicara sepatah katapun Elisio lepaskan genggamannya pada tongkat dan menyandarkannya ke kursi. Hal sederhana yang Elisio lakukan secara tidak langsung menyangg
Lilian menenggelamkan wajahnya di bantal, berkal-kali kakinya menghentak ranjang sampai sandal jatuh ke lantai. Terdengar iskan kecilnya yang tidak mampu menahan marah dan kecewa pada diri sendiri.Setelah dengar kata-kata Cassius, Lilian tersadar bahwa akhir-akhir ini dia telah kehilangan jati dirinya sendiri. Perlahan, Lilian ditarik dalam dunia abu-abu Mante yang tidak lagi melihat baik dan buruk suatu prilaku..Di malam itu, dimalam saat dia saksikan Shopie dan beberapa orang lainnya dihabisi Mante, normalnya Lilian pasti berlari ke kantor polisi dan membuat laporan telah terjadi pembunuhan. Tapi kini, Lilian justru bersembunyi dan melanjutkan hidupnya, sibuk meyembuhkan diri. Lilian sedikitpun tidak peduli, tidak memikirkan mungkin keluarga Shopie.. keluarga orang-orang telah Mante habisi tengah mencari dan menunggu mereka pulang.Bagaimana jika orang yang Mante habisi ternyata adalah tulang punggung sebuah keluarga? Anak tunggal yang menjadi satu-satunya harapan orang tuanya, s
Cassius datang menghampiri, mengabaikan tatapan tajam Nathan seolah memberi peringatan bahwa Cassius telah telanggar suatu aturan. Mendekati sesuatu yang tidak seharusnya di dekati!Sayangnya, Cassius tidak peduli!Dipandanginya wajah Lilian yang kini dihiasi lebam keunguan menandakan telah terjadi suatu tidak kekerasan.Hari ini Cassius sengaja datang ke rumah sakit bertujuan untuk menjenguk Celestine yang memberi kabar telah dipindahkan. Cassius sama sekali tidak menyangka jika kedatangannya justru mempertemukan kembali dengan Lilian, menyaksikan drama kecil yang diam-diam sedang Lilian lakukan dengan wanita asing.Sisi lain seorang Lilian yang mungkin menjadi alasan seorang bajingan seperti Mante Hemilton tergila-gila padanya.Di dunia ini banyak orang jahat, orang baik pun juga banyak..Namun, cara Lilian melakukan kebaikan sungguh tidak biasa, dan tidak bisa dipungkiri Cassius terpikat oleh caranya. Gadis itu tidak mempernalkan siapa namanya, kedermawanannya yang tidak terang-te
Saat Lilian kembali terbangun dari tidurnya, kamar tempatnya dirawat sunyi dan dalam keadaan rapi. Sakit kepala yang sempat kembali berdenyut sudah tidak terasa lagi.Dengan berat Lilian bangkit dari posisinya, sejenak bersandar di kepala ranjang melihat langit di luar jendela yang tampak kelabu penuh dengan gumpalan awan.Pertengkarannya dengan Mante tidak begitu Lilian ingat berakhir dimana. Meski begitu, setidaknya Lilian sudah dengar penjelasannya meski Lilian tidak tahu.. apakah itu jawaban jujur atau justru serangkai kebohongan yang seperti dia lakukan sebelumnya.Apa yang telah Mante katakan memang sedikit meredakan sakit hatinya Lilian, namun belum cukup mampu mengubah keinginannya untuk pergi diam-diam dari sisinya.Perlahan, Lilian turun dari ranjang. Ia membuka laci untuk mengambil ponsel dan sebuah topi, lalu mengenakannya untuk menyamarkan wajahnya agar tidak menarik perhatian orang-orang yang berpapasan dengannya. Lilian memutuskan keluar dari ruangan. Lilian butuh udara
Dengan langkah tergesa, Lilian meninggalkan ruangan. Air mata berderai membasahi pipinya, sementara dadanya terasa sesak oleh amarah dan kekecewaan yang semakin tidak terbendung.Lilian kesal! Sangat kesal!Butuh banyak kekuatan dan keberanian untuk Lilian akhirnya mengambil keputusan bicara membahas Celestine.Tetapi.. Mante justru tidak benar-benar menganggap serius perkataannya. Bahkan ketika Lilian sudah menodongkan pisau dan berusaha mengiris jaketnya untuk meyakinkan seberapa serius masalah Celestine baginya, Mante justru menanggapinya dengan gelak tawa. Seolah kemarahan Lilian hanyalah amukan kecil yang tengah menghiburnya.“Tunggu, Lilian!” panggil Mante.Lilian tidak menghiraukannya. Dia terus melangkah secepat yang mampu dilakukan tubuhnya, meskipun gerakan tergesa-gesa itu membuat perutnya sedikit keram sakit.Lilian tidak peduli! Sekarang Lilian sudah tidak ingin dengarkan penjelasan apapun lagi.Bukan salahnya jika kini dia marah, bukan salahnya juga jika mereka terus ber
Pupil mata Mante melebar tak dapat menutupi ekspresi terkejutnya mendengar pertanyaan Lilian yang menggelikan dan sungguh berada di luar logikanya.Bisa-bisanya Lilian berpikir Mante memiliki hubungan dengan Celestine. Andaipun ada, logikanya justru Lilian yang menjadi orang ketiga karena Mante sudah mengenal Celestine lebih dulu.Tatapi, apa yang sebenarnya mendasari Lilian sampai berpikir Mante memiliki hubungan dengan Celestine? Apakah mungkin, semua hal yang selama ini Mante berikan padanya dirasa kurang? Ataukah mungkin.. ada seseorang yang telah berbicara hal tidak benar padanya?Selama ini semua aktivitas Lilian tidak pernah lepas dari pantauannya, kecuali handponenya. Benda itu adalah satu-satunya tempat privasi yang tidak pernah Mante ganggu.Haruskah, mulai sekarang Mante juga pantau semua aktivitas handponenya untuk memastikan tidak ada siapapun yang mencoba melakukan adu domba?Sepertinya Mante harus menahan diri dulu, dia tidak bisa merusak sisa kesabaran Lilian yang mun
Lilian meringkuk tertidur lelap di bathub, mengistirahatkan tubuh dan pikirannya yang lelah, mengumpulkan energinya kembali agar bisa kuat menghadapi banyak kenyataan pahit dari kehidupannya yang tidak lagi sama seperti dulu. Bukan hanya kehilangan orang tua, Lilian juga harus siap kehilangan seg
Jarak yang begitu dekat menyisakan sedikit celah, hangat deru napas Lilian menyapu dinginnya kulit Mante.Pria itu menahan diri untuk tidak bergerak, diam-diam menarik napas ingin mengulang kembali sensasi pertama yang menyapa indranya saat sadar dari pingsan, yaitu aroma lembut milik Lilian. Aroma
Saat matahari mulai tenggelam membawa cahayanya di langit, Mante kembali ke tempat dimana dia tinggalkan kudanya. Penampilan Mante telah berubah kotor penuh debu, ada darah segar yang menghiasi wajahnya dari cipratan hewan buruan yang telah dia habisi. Dengan langkah gontai dan suara napas kasar,
“Hutang orang tua Anda pada pihak bank lebih dari 20 juta dollar belum termasuk bunga, dan Lilian’s hotel ini adalah jaminannya. Saya turut berduka cita atas kecelakaan yang telah menimpa kedua orang tua Anda, Nona Lilian. Tetapi hutang tetap harus dibayar, pihak pasar obligasi tidak bisa menunggu







