LOGINAir mata semakin deras berjatuhan, membasuh darah segar yang menodai wajah.Bibir Lilian terkatup rapat menelan sakit dan katakutan yang telah menjadi satu. Suara tembakan yang berkali-kali sempat pecah di pendengaran, menyisakan kesunyian dan jejak kengerian yang kini mencekam.Segala hal yang telah Lilian alami, segala hal yang telah Lilian saksikan, telah buatnya merasa seperti kehilangan sisi kemanusiaannya. ‘Mengapa ini terjadi? Mengapa aku harus menyaksikan situasi ini, disaat aku sedang belajar berdamai dan menerima sisi lain Mante?’ batin Lilian bertanya dalam tangisan.Lilian memanggilnya datang hanya ingin dapatkan perlindungannya yang normal dan membalas kejahatan semua orang di jalan yang benar, bukan membalasnya dengan kejahatan yang jauh lebih kejam.Apa yang telah Mante lakukan di depan mata, telah buat Lilian merasa kehilangan sosoknya yang selama ini dia cintai. Sosok laki-laki yang penuh kelembutan, pandai bicara manis dan tampil seperti seorang pahlawan yang menyel
Kerasnya suara jendela yang pecah menghamburkan serpihan kaca, berterbangan dan berserakan di lantai menyakiti pendengaran.Lilian bergerak lemah memeluk diri di lantai sebagai perlindungan terakhir yang bisa dia lakukan, serpihan kaca yang berterbangan itu menggores kaki dan lengannya.Lilian terisak sudah tidak mampu melakukan apapun, sudah tidak dapat berpikir apapun..Lilian berkubang menahan sakit yang begitu menyiksa. Sakitnya yang luar biasa sampai tidak mampu diwakilkan dengan kata-kata.Lilian sudah pasrah, jika memang takdirnya harus tiada dengan cara memilukan seperti ini, Lilian akan menerimnya. Namun, jika ternyata ini semua adalah sebuah ujian hidupnya, Lilian tahu kedepannya apa yang harus dia lakukan.Pergi! Persetan dengan kehidupan rumit seperti ini!Lampu-lampu kendaraan padam di depan café, tampak terlihat siluet pergerakan orang-orang yang datang mendekat.Dua anak buah Shopie saling lirik tanpa suara, secara naluri mereka perlahan mundur seraya mengeluarkan pisau
Shopie menelan salivanya dengan kesulitan, tangannya terkepal kuat menyembunyikan gugup yang sulit dia hindarkan. Pertanyaan Lilian tidak hanya berhasil menghantam ketenangannya, namun kesadaran Lilian yang tahu bahwa Shopie telah membohonginya juga membuat Shopie curiga…Mengapa Lilian tahu tidak ada klinik disekitar sini? Apakah Lilian telah menghubungi seseorang yang saat ini sedang dalam perjalanan menjemputnya?Lilian telah sadar perbuatan Shopie, lantas apa yang kini harus Shopie lakukan? Shopie tidak mungkin membiarkan Lilian pergi begitu saja apalagi membuatnya selamat, jika Lilian selamat maka dia akan melakukan tes lab dan mengusutnya di ranah hukum, menyeret Shopie yang memang telah melakukan tindakan criminal yang mengancam nyawa.Perasaan was-was mulai merayap disetiap denyut jantung Shopie. Wanita itu mendekat selangkah, meneliti wajah pucat pasi Lilian, meneliti bibirnya yang dihiasi darah mengeluarkan suara rintihan kesakitan disetiap tarikan napasnya, kakinya gemetar
Gigi Shopie saling mengerat kuat menahan makian tidak sukanya menghadapi sikap so ekslusifnya Lilian menanggapi ucapannya yang masih punya hati mengajaknya bicara baik-baik. Lilian tidak tahu saja.. bahwa sebentar lagi jangankan untuk bersikap ketus kepada Shopie.. untuk bernapas pun Lilian mungkin sudah tidak bisa melakukannya.Di bawah meja, tangan Shopie terkepal kuat meremas pakaiannya sendiri sampai kusut. “Aku bertanya hanya karena kita tidak memiliki obrolan yang bisa dibicarakan denganmu,” jawab Shopie beralasan, tidak membenarkan tebakan Lilian bahwa sesungguhnya.. Shopie akan melaporkan setiap informasi kepada Celestine, memastikan bahwa rencaa jahat mereka berjalan dengan sukses.Shopie perlu tahu, siapa yang akan menjemput Lilian..Jika hanya sebatas sopir biasa maka semuanya masih bisa ditangani, lain cerita yang menjemput orang yang punya hubungan pribadi.“Jika kau tidak punya obrolan denganku, maka diamlah dibandingkan terus-terusan berakting ramah. Aku sangat lelah me
Celestine terbaring santai di ranjang, menikmati perawatan spa kecantikan yang kini sedang dia terima. Di balik masker yang terpasang di wajahnya, bibirnya yang merah itu tersenyum merekah memancarkan kebahagiaan.Pesta ekslusif keluarga Hemilton akan dilaksanakan besok.. Hari ini diam-diam orang-orang penting dari berbagai kota dan negara sudah mulai bermunculan dan beristirahat di private residence, villa dan sebagiannya memboking seluruh lantai.Tidak mengherankan, Elisio Hemilton sudah bagikan undangan dua minggu sebelum pesta diselenggarakan. Untuk orang-orang kelas atas, mereka tidak hanya perlu mengatur jadwal, namun juga mengatur tempat untuk keamanan.Menjelang pesta dilaksanakan, ayah Celestine sudah melakukan berbagai upaya untuk mendoronnya berada dia antara sorotan. Zicola sambut beberapa orang berpengaruh yang dikenalinya, berbincang dengan mereka sambil menceritakan perjodohan antara Celestine dan Mante.Dan kini.. tugas Celestina adalah mempersiapkan semuanya sebaik m
“Urusan apa?” tanya Mante seraya merongoh handponenya dari dalam saku jass.Shwan mengikuti dari belakang, pria itu menutupi mulutnya dengan tangan, lalu berbisik, “Dari apa yang telah dilaporkan, ada urusan pekerjaan. Proyek film kolosal yang dirancang TsTV, bagian kostum dan property tetap dikerjakan perusahaan Dies meski nona Celestine beberapa kali sempat bersikeras ingin menghentikannya secara sepihak. Sekarang, semua orang kembali berjumpa karena syuting akan segera dimulai beberapa hari lagi,” cerita Shwan menyampaikan semuanya dengan seksama.“Apa hari ini, Lilian bertemu dengan Celestine juga?” tanya Mante lagi. “Benar.”Langkah Mante memelan. Semua pergerakan Lilian tidak pernah lepas dari pemantauannya, dan seingatnya.. sudah dua kali Lilian berjumpa Celestine, dan di dua pertemuan itu juga Lilian telah hadapi masalah.Di pertemuan ketiga ini, rasanya mustahil jika semuanya berjalan normal..Soalnya, di pertemuan pertama, hanya karena kalah berdebat Celestine sampai memper
Lilian menelan salivanya dengan kesulitan, kulitnya menggigil merasakan intimidasi hebat yang menekan. Ada kilatan liar seperti hewan pemburu dimata pria itu asing itu.. Apa ada yang salah dengan jam tangan yang Lilian bawa hingga pria itu bertanya berkali-kali? Apa jangan-jangan.. justru jam ta
Jarak yang begitu dekat menyisakan sedikit celah, hangat deru napas Lilian menyapu dinginnya kulit Mante.Pria itu menahan diri untuk tidak bergerak, diam-diam menarik napas ingin mengulang kembali sensasi pertama yang menyapa indranya saat sadar dari pingsan, yaitu aroma lembut milik Lilian. Aroma
Lilian meringkuk tertidur lelap di bathub, mengistirahatkan tubuh dan pikirannya yang lelah, mengumpulkan energinya kembali agar bisa kuat menghadapi banyak kenyataan pahit dari kehidupannya yang tidak lagi sama seperti dulu. Bukan hanya kehilangan orang tua, Lilian juga harus siap kehilangan seg
“Hutang orang tua Anda pada pihak bank lebih dari 20 juta dollar belum termasuk bunga, dan Lilian’s hotel ini adalah jaminannya. Saya turut berduka cita atas kecelakaan yang telah menimpa kedua orang tua Anda, Nona Lilian. Tetapi hutang tetap harus dibayar, pihak pasar obligasi tidak bisa menunggu







