MasukQingfeng mengambil baskom air hangat lalu menaruhnya di depan Rong Tian. “Cuci tangan dulu.”Rong Tian menuruti. Air itu perlahan berubah kelabu ketika debu dua benua larut dari ujung jarinya.Wang Fu memperhatikan perubahan kecil itu. Ia tak butuh daftar panjang untuk tahu apa yang pulang bersama pria berjubah putih itu, sebab cukup dari cara lampu condong menjauh, cara jarum diam, dan cara seluruh ruangan menahan napas, ia paham satu hal.Kegagalan ini tidak diterima Rong Tian dengan tenang karena ia tak marah. Kegagalan ini diterima dengan tenang karena kemarahannya sudah menemukan bentuk yang jauh lebih padat.“Itu yang paling buruk,” gumam Zhao Meiyan tanpa sadar.Wu Laosan menoleh sedikit. “Apa.”“Kalau dia meledak, orang masih tahu apa yang harus ditakuti.” Zhao Meiyan memandang ke dalam balai. “Kal
Wang Fu yang akhirnya mengucapkannya dengan bahasa paling lurus. “Berarti dia memegang empat.”Tak seorang pun membantah. Pedang Emas Langit Barat, Pelindung Bahu Fajar Abadi, Sarung Tangan Api Nirwana, dan Sepatu Jejak Langit kini tak lagi berdiri sebagai ancaman terpisah.Empat artefak itu telah menyatu di satu tangan, dan justru karena nama Jubah Perak tak perlu dipukul keras-keras, dominasinya terasa lebih dingin. Seolah seluruh arc ini memang dibangun untuk membuat dunia fana akhirnya sadar bahwa musuh yang mereka kejar bukan lagi pemburu pusaka biasa, melainkan poros kekuasaan yang bergerak lebih cepat daripada rasa malu, lebih rapi daripada dendam, dan lebih tenang daripada semua orang yang mencoba membacanya.Di luar balai, perubahan arah sosial merayap dari rumah teh ke lorong kain, dari tong air umum ke gudang kecil, sampai ke atap tempat para pengintai murah biasa berteduh. Satu penarik iuran yang
Shiqiao tidak menyambut kepulangan Rong Tian dengan gaduh. Justru itulah yang membuat seluruh blok utara terasa lebih janggal daripada malam ketika rumah obat dikepung pemburu hadiah.Penjual mi tetap mengaduk kuah. Rumah teh Wu Laosan tetap mengepulkan teh hitam dan krisan. Penarik iuran lorong tetap berjalan membawa papan hitung. Penjaga loteng tetap berjaga di sudut atap.Namun ketika Rong Tian berjalan melewati gerbang blok utara, bunyi-bunyi itu seperti turun sendiri setengah tingkat. Orang-orang yang dulu tak punya malu untuk mengukur Balai Pengobatan Bulan Patah dengan cemooh dan tawa kini justru menunduk, pura-pura sibuk mengikat karung, menyusun baki, atau menyapu ambang.“Katanya dia pergi merebut pusaka.”“Kalau gagal, kenapa malah terasa begini.”“Jangan tatap terlalu lama. Rumah obat itu sudah tidak sama sejak malam orang-orang dipaksa b
Rong Tian mematikannya sebelum hidup penuh. “Hasilnya, ayahmu tetap mati, rumah lelang ini tetap patah, dan kau akan mengubur orang-orangmu di jalur yang sudah dibaca lawan lebih dulu.”Tak ada seorang pun yang bergerak. Kalimat itu bukan penolakan biasa. Ia seperti pisau yang ditarik lurus di atas meja teh mahal dan memotong lapisan kepalsuan seluruh ruangan.Paman He menurunkan pandangan ke tangannya sendiri. Lu Jinhai menggertakkan gigi. Tuan Qin menggeser cangkirnya, dan bunyi porselen itu terdengar terlalu keras dalam ruang yang mendadak kehilangan seluruh etiketnya.“Di Xing Chen mereka mendorongku dengan darah negara,” kata Rong Tian. “Di sini kalian mendorongku dengan kehormatan rumah lelang dan muka jianghu. Bentuknya berbeda. Bau busuknya sama.”Paman He akhirnya mengangkat mata. “Kau menyebut rumah ini busuk.”“Aku
Feng Wu Dalu menyambut dengan luka yang lebih rapi dan karena itu lebih busuk. Gerbang kota tetap buka, kereta dagang tetap lalu lalang, lonceng kecil di pelana kuda berdenting ringan, dan para pelayan di depan rumah-rumah kaya masih membungkuk dengan gerak terlatih.Namun di sela wangi teh mahal, kayu cendana, dan minyak rambut yang disisir rapi, Rong Tian menangkap bau jelaga halus yang dibawa angin dari kawasan rumah lelang. Kota ini tidak patah seperti Xing Chen. Kota ini menahan patahnya sambil terus memoles wajah.Rumah Lelang Langit Putih tampak tegak dari luar, tetapi jalur menuju ruang penerimaan dalam sudah cukup untuk memberi tahu Rong Tian seberapa dalam keruntuhan itu. Lampu-lampu diganti baru, papan retak ditutup kain, halaman disapu sampai tak menyisakan satu serpih arang, dan pelayan-pelayan muda dipaksa berjalan dengan langkah yang terlalu pelan, seolah kalau bunyi alas kaki mereka terlalu keras, seluruh bangunan akan ingat
Rong Tian menoleh ke altar kecil dekat tiang bendera. “Kalau kalian benar-benar tahu berat darah itu, altar arwah di sana tak akan dipasang serong ke arah timur.”Beberapa kepala spontan bergerak. Huo Jian ikut menoleh.“Asapnya lari ke sisi kiri, bukan lurus ke depan,” lanjut Rong Tian. “Kalian terlalu terburu-buru menenangkan perasaan sendiri sampai tak memberi arwah kaisar arah yang benar.”Tamparan itu tidak besar, tapi jatuh tepat ke muka orang-orang yang selama dua hari terakhir sibuk menjaga bentuk upacara agar kota tidak terlihat hancur. Gao Ren membeku, dan dua pejabat sipil di belakangnya otomatis menunduk, seolah takut tatapan orang lain menggeser aib itu ke wajah mereka juga.Huo Jian menarik napas panjang lewat hidung. “Kalau kau memang datang untuk mencegah kami bertindak bodoh, katakan bentuk bodohnya.”Rong Tian mema
Senja mulai turun saat Rong Tian tiba di Desa Shuiluo. Langit berubah menjadi oranye kemerahan, dihiasi awan tipis yang bergerak lambat. Angin sore berhembus sejuk, membawa aroma tanah basah dan asap dapur dari rumah-rumah penduduk.Desa Shuiluo adalah desa kecil yang terletak di tepi sungai kecil.
Sore hari, ia tiba di Kota Yinfeng.Kota Yinfeng terkenal sebagai kota pedang dan besi. Dulunya, kota ini disebut Kota Angin Baja karena tradisi pandai besinya yang sangat kuat. Tapi sekarang, setelah lima ratus tahun, kota ini tertekan oleh Sekte Bayangan Yin seperti desa-desa lain.Rong Tian mema
Pagi itu cerah. Matahari baru saja naik di ufuk timur, menyinari jalan tanah yang membentang dari Kota Yinfeng menuju selatan dengan cahaya keemasan yang hangat. Kabut tipis pagi hari masih menggantung di antara pepohonan pinus di kedua sisi jalan, menciptakan pemandangan yang samar dan damai.Rong
Rong Tian meletakkan sumpitnya di meja. Ia menatap Yan Bing dengan tatapan yang masih datar."Bisa membiarkan aku selesai makan?" tanyanya dengan nada tenang sambil menunjuk piring di depannya. "Kita akan berurusan sesudahnya."Yan Bing terdiam sebentar. Ia menatap Rong Tian dengan wajah tidak perc







