Home / Fantasi / Dari Penguasa Kegelapan Menjadi Raja Pedang / Malu yang Tidak Bisa Ditelan (Pertama)

Share

Malu yang Tidak Bisa Ditelan (Pertama)

Author: Jimmy Chuu
last update Last Updated: 2026-02-28 20:03:50

Xiao Li mengepalkan tangannya.

Wang Fu menatap tabib itu sebentar, lalu mengangguk. "Lakukan yang bisa kau lakukan."

Bing Ruoxue yang berdiri di sisi ruangan mendengar semua itu. Ia menatap Xiao Li sebentar, lalu memalingkan pandangannya ke jendela kecil yang menghadap ke jalan luar.

Di luar, angin gurun masih terasa masuk melewati celah-celah kota. Lorong bawah tanah masih tertutup. Siapapun yang bisa menyelesaikan racun ini masi

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Dari Penguasa Kegelapan Menjadi Raja Pedang    Catatan Lelang Pulau Hyeongseong (Bagian 2)

    "Lima ratus," kata Han Jisoo dari pojoknya dengan nada yang tidak mengandung emosi apapun, seperti seseorang yang menyebut angka dari daftar belanjaan.Dari baris belakang, seorang kultivator muda dengan jaket kulit laut berbisik kepada temannya. "Siapa pria rambut keperakan itu? Ia menawar seperti orang yang sudah tahu isinya.""Seo Hyunwoo," jawab temannya dengan suara yang lebih pelan. "Pengumpul peta reruntuhan. Ia sudah dua kali masuk ke zona berbahaya yang tidak ada orang lain yang berani. Kalau ia mau sesuatu, artinya sesuatu itu bernilai."Seo Hyunwoo menghitung cepat.Ia tahu nilai salinan itu. Ia juga tahu bahwa siapapun yang memenangkan lelang ini tidak akan bisa berjalan keluar dari pulau ini dengan tenang.Namun ia sudah datang jauh-jauh dari kota pelabuhan Haeryong untuk ini, dan ia tidak datang untuk pulang dengan tangan kosong."Enam ratus," k

  • Dari Penguasa Kegelapan Menjadi Raja Pedang    Catatan Lelang Pulau Hyeongseong

    ARC. Geger di Laut TimurPaviliun Lelang Bintang Laut berdiri di ujung barat Pulau Hyeongseong, menempel di tebing batu karang yang menghadap langsung ke laut terbuka. Bangunan itu tidak megah dan tidak pernah mencoba terlihat megah.Dindingnya dari batu laut yang sudah menghitam karena garam dan angin selama puluhan tahun, dan retakan-retakan kecil di sudut-sudutnya dibiarkan terbuka seperti luka yang tidak mau sembuh. Lampion-lampion merah tua digantung di sepanjang lorong masuk, dan cahayanya tidak cukup terang untuk menerangi sudut-sudut aula yang dalam.Malam itu aula penuh.Kursi-kursi kayu panjang sudah diisi sejak satu jam sebelum lelang dimulai. Para kultivator dari berbagai latar belakang duduk berdampingan dengan jarak yang cukup untuk tidak saling menyentuh, namun cukup dekat untuk saling mendengar napas masing-masing.Tidak ada yang berbicara keras. Percakapan berlan

  • Dari Penguasa Kegelapan Menjadi Raja Pedang    Rumor di Kota Ashgar

    Idris tidak berkata lebih lanjut. Ia berjalan dengan matanya yang mulai bergerak mengingat-ingat setiap wajah yang ia lihat semalam di ruang pusat.Rafiq Mahrun yang berjalan di sisi kanan Qasim berbicara sangat pelan. "Kain itu aman?""Di tempat yang paling aman yang ada," jawab Qasim.Guan Shiqi dari Sekte Tapak Batu Kunlun mengumpulkan dua muridnya di luar gerbang selatan kota saat matahari sudah setinggi dua tombak."Berapa yang kita bawa?" tanya murid pertamanya sambil mengecek isi kantong di pinggangnya untuk ketiga kalinya sejak pagi."Dua belas tabung pil kultivasi, tiga ikat herbal, dan dua manual," jawab Guan Shiqi sambil ia sendiri mengecek dengan satu sentuhan cepat. "Tidak banyak. Lebih sedikit dari yang aku harapkan ketika pertama kali mendengar ada ruang rahasia di bawah sini.""Senior Guan kecewa?" tanya murid keduanya dengan nada hati-hati.

  • Dari Penguasa Kegelapan Menjadi Raja Pedang    Jalan yang Berbeda

    "Dan kau membawa pulang lebih banyak," kata Lin Jianfeng."Setengah detik lebih cepat," ulang Bai Yuanfeng pelan.Lin Jianfeng tidak menjawab. Ia hanya mengangkat dagunya sedikit dan mengambil langkahnya ke arah timur laut."Perjalanan baik," kata Bai Yuanfeng ke punggungnya."Begitu juga," jawab Lin Jianfeng tanpa menoleh.Ku Zhen menopang Gu Zhi melalui jalur sempit di sisi utara kota yang tidak banyak dilalui orang di pagi hari.Meridian dada kiri Gu Zhi masih terasa seperti bara yang menolak padam setiap kali ia menarik napas terlalu dalam. Ku Zhen sudah menutup titik rasa sakit itu dengan teknik Qi sementara yang bisa menekan gejalanya namun tidak menyembuhkan apapun. Perbaikan sebenarnya butuh tempat yang tenang, ramuan yang tepat, dan waktu yang tidak sedikit."Kita tidak bisa lewat Pasar Jalur Barat," kata Ku Zhen sambil matanya m

  • Dari Penguasa Kegelapan Menjadi Raja Pedang    Mereka yang Pulang dari Bawah Tanah

    Perjalanan mereka singkat. Gulungan teknik kultivasi dari ruang pusat masih tersimpan rapi di dalam lipatan jubah prajurit pertama, tidak bergerak, tidak disentuh sejak dimasukkan semalam. Tidak ada yang bertanya soal isinya."Yang Mulia," kata prajurit pertama saat mereka hampir mencapai gerbang kota barat. "Kabar tentang Rakhim dan Zaryan. Kapan akan disampaikan kepada kota?""Belum," jawab Khagan tanpa memperlambat langkahnya."Keluarga mereka akan bertanya," kata prajurit itu lagi."Aku tahu," kata Khagan. Nada suaranya turun satu tingkat. "Dan aku akan menjawab mereka secara langsung. Bukan lewat rumor pasar."Prajurit pertama itu tidak bertanya lebih lanjut.Prajurit kedua berbicara lebih pelan. "Yang Mulia, tanpa Rakhim dan Zaryan, posisi pertahanan timur kota perlu diisi. Siapa yang akan mengisinya?"Khagan tidak menjawab segera.

  • Dari Penguasa Kegelapan Menjadi Raja Pedang    Pasir Menutup Jejak

    Badai gurun itu mereda menjelang fajar.Pasir yang sudah berputar semalaman turun perlahan ke permukaan tanah dan menutup semua yang ada di bawahnya dengan lapisan yang rata dan tenang, seolah tidak ada yang pernah terjadi di bawahnya. Retakan di atas lokasi ruang pusat tertutup pasir tebal. Tidak ada tanda, tidak ada jejak, tidak ada sisa yang bisa dibaca oleh siapapun yang tidak turun ke sana semalam.Di antara gundukan pasir di sebelah barat kota, dua gundukan kecil terbentuk di permukaan yang tidak akan menarik perhatian siapapun yang tidak tahu apa yang ada di bawahnya. Tidak ada tanda batu. Tidak ada nama. Hanya pasir.Rakhim dan Zaryan tidak kembali ke Ashgar.Kabar mulai beredar di antara kultivator yang bermalam di Rumah Penginapan Angin Gurun sebelum matahari naik setengah jengkal."Ruang rahasia itu runtuh," kata seorang pedagang kepada teman duduknya di kedai pagi sam

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status