로그인Bunyi rendah itu menyentuh dada orang-orang di pelataran. Asap dupa naik perlahan, tidak lurus seluruhnya karena angin gunung, tetapi juga tidak pecah.Biksu Mingyuan menatap Rong Tian. “Jika hatimu membawa pembantaian, asap dupa ini akan pecah.”Rong Tian berdiri di tengah lingkar dupa. “Kalau asap pecah, saya turun dari gunung.”Jawaban itu membuat sebagian orang diam. Ia tidak membela diri, tidak meminta belas, dan tidak meminjam nama siapa pun untuk menekan saksi.Penjilat Klan He berbisik, “Biara Tiantai tidak bisa ditipu. Jika hatinya gelap, hari ini semua orang akan melihat.”Utusan istana menambahkan, “Orang yang terlalu tenang sering menyimpan niat paling berat.”Asap dupa mendekati Rong Tian. Ujung jubah putihnya bergerak perlahan, bukan karena tekanan besar, melainkan karena angin gunung turun melewat
Dari jalur tengah, Akademi Linchuan datang dengan meja batu formasi, kotak tinta hitam, keping giok, dan peti alat ukur qi. Murid-murid mereka berjalan rapi, tidak cepat, tidak lambat, seolah setiap langkah telah diukur oleh aturan.Pelataran Batu Hitam sudah penuh oleh rumah pengawal, sekte kecil, pengamat jianghu, pedagang jimat, kusir karavan, dan orang-orang yang wajahnya terlalu bersih untuk disebut penonton biasa. Di antara mereka, beberapa mata Paviliun Perak Langit dan utusan istana menyamar sebagai pencatat rumah pengawal.Rong Tian berdiri di sisi pelataran. Ia tidak memilih tempat tinggi, tidak menyapa kerumunan, dan tidak memakai bunyi lonceng kemarin untuk memaksa orang memberi hormat.Justru sikap itu membuat orang makin gelisah. Mereka lebih mudah membenci orang sombong yang berteriak daripada seseorang yang diam dan membiarkan aturan bergerak menuju dirinya.Biksu Mingyuan dari Biara
Zhang Qingshan, Pemimpin Sekte Gunung Xuandu, akhirnya muncul di atas tangga. Rambutnya memutih di pelipis, matanya tenang, dan kehadirannya membuat murid-murid di sekitar gerbang menunduk serempak.“Pemimpin Sekte,” ucap para murid penjaga.Zhang Qingshan memandang Rong Tian dari atas tangga. “Nama Anda datang lebih cepat daripada kaki Anda, Tuan Jubah Putih.”Rong Tian menangkupkan tangan. “Kabar sering berlari tanpa meminta izin.”“Gunung Xuandu tidak bergerak mengikuti kabar,” kata Zhang Qingshan. “Kami menjaga tanah ini agar tidak berubah menjadi tempat orang besar menyelesaikan dendam tanpa aturan.”“Karena itu saya datang ke gerbang, bukan langsung ke pelataran,” jawab Rong Tian.Tetua Lu Wen berkata, “Kata-katamu rapi. Tapi orang yang rapi belum tentu membawa niat bersih.&rd
Kaki Gunung Xuandu sudah penuh sebelum matahari berdiri tinggi. Jalan batu yang biasanya dipakai peziarah kini dipenuhi rumah pengawal, murid sekte kecil, pedagang jimat, kusir karavan, penjual teh, dan orang-orang yang datang bukan untuk berdoa, melainkan untuk menilai apakah nama dari barat benar-benar punya berat.Tangga menuju gerbang Sekte Gunung Xuandu membelah lereng seperti punggung naga tua. Di kiri kanan tangga, pinus tua berdiri dengan akar mencengkeram batu, sementara lonceng angin di bawah atap gerbang mengeluarkan bunyi tipis setiap kali angin gunung lewat.Nama Tuan Jubah Putih sudah tiba lebih dulu daripada orangnya. Di bawah pohon pinus, beberapa murid sekte kecil memperdebatkan kabar yang mereka dengar dari rumah teh.Murid Lembah Batu Hijau berdiri paling depan dengan pedang baru di pinggang. Dagu mudanya terangkat seolah ia sudah menjadi penilai Gunung Xuandu hanya karena berdiri dekat tangga.
Liang Cheng mengetukkan jari pada gagang pedang. “Berikan perintah. Pengawal Langit bisa memotong jalurnya sebelum ia mencapai Gunung Xuandu.”Seorang pejabat sok netral mengusap janggut. “Bakar suratnya, lalu biarkan namanya mati seperti asap. Jika istana tidak menjawab, siapa yang berani berkata surat itu pernah ada?”Xu Changhe menatapnya. “Asap sudah sampai ke rumah teh sebelum api kalian padam.”Ruangan itu berhenti bernapas sejenak. Pejabat sok netral tadi menunduk, dan seorang penjilat yang sudah membuka mulut untuk menambah hinaan segera meminum teh.Zhao Mingde menyipitkan mata. “Perdana Menteri Agung terlalu meninggikan orang liar.”“Orang liar tidak membuat tiga jalur pos, dua rumah pengawal, dan lima rumah teh menyebut nama yang sama dalam satu hari,” jawab Xu Changhe. “Orang liar tidak menulis surat ya
Duan Heng yang tadi menjilat tidak berani mengangkat kepala.Kurir ketiga masuk dengan lutut menabrak lantai. “Pemimpin Paviliun, satu paket obat sudah masuk jalur Xuefeng Du. Tanda luarnya biasa, tetapi beberapa penjaga luar berkata ada surat di dalamnya.”He Yuanji menatap abu di anglo. Baru saat itu ia sadar, benda yang terbakar di depannya bukan jalan Rong Tian, melainkan lentera yang sengaja diletakkan agar semua mata Paviliun Perak Langit menatap tempat yang salah.Duan Heng berbisik, “Paviliun sudah membakar suratnya, Tuan.”He Yuanji meletakkan cawannya. “Kita membakar surat yang ia izinkan untuk kita bakar.”Dari luar pintu, kurir ketiga menunduk lebih rendah, suaranya nyaris pecah. “Tuan, Xuefeng Du sudah membaca tantangannya.”+++Gerbang luar Xuefeng Du tidak pernah benar-benar s
Gerbang Makam Pedang Kekaisaran berdiri kokoh di antara dua tebing curam yang menjulang bagai dua raksasa penjaga. Batu pucat yang membentuk gerbang itu telah aus oleh waktu, permukaannya penuh retakan halus bagai jejak usia yang tak terbantahkan.Simbol-simbol pedang yang diukir di sana nyaris tak
Dengan langkah ringan, Rong Tian melompat. Tubuhnya melayang di udara, mendarat dengan elegan di atas menara gerbang batu kuno yang menjulang tinggi.Gerbang itu adalah pintu masuk ke Makam Pedang Kekaisaran, tertutup rapat dengan ukiran-ukiran kuno yang memancarkan cahaya samar.Dari sana, ia mena
Setelah gemuruh Nadi Pedang mereda dan pedang raksasa hancur berkeping-keping, Makam Pedang Kekaisaran kembali diselimuti keheningan yang dalam. Keheningan yang berbeda dari sebelumnya.Bukan lagi keheningan yang mencekam atau mengancam, melainkan keheningan yang penuh hormat.Rong Tian berdiri di
Rong Tian berdiri di hadapan pedang hitam yang terletak di sudut Makam Pedang. Meskipun penampilannya sangat sederhana dan tidak mencolok, aura yang terpancar dari pedang itu kini terasa begitu kuat dan menindas.Seolah roh pedang di dalamnya telah terbangun sepenuhnya. Mengamati Rong Tian dengan i







