LOGINLiang Cheng masih berdiri di depan pasukannya. Harga dirinya baru saja jatuh bersama formasi Tentara Serigala Perak, tetapi ketika cahaya perak muncul di langit, wajahnya mengangkat kembali seolah ia menemukan tiang untuk menyandarkan malu.“Yang Mulia datang,” bisiknya.Ucapan itu menyebar lebih cepat daripada perintah militer. Beberapa prajurit muda Tentara Serigala Perak langsung berlutut, bukan karena disuruh, tetapi karena sejak kecil mereka dibesarkan untuk percaya bahwa Dewa Perak tidak turun ke dunia fana untuk urusan kecil.Di barisan saksi, seorang tetua sekte kecil ikut menekuk lutut. Murid di belakangnya ragu, menatap gurunya, lalu menunduk setengah badan karena takut tampak kurang hormat.Namun tidak semua orang berlutut. Pengawal dari Balai Angin Senja tetap berdiri dengan tangan menahan gagang pedang, sedangkan beberapa murid Akademi Linchuan hanya menoleh kepada Chen Shouy
Rong Tian memandang formasi di bawah. Ia melihat panji utama, tiga genderang kecil di sisi kiri, perwira pembawa papan perintah, dan prajurit muda di baris depan yang telapak tangannya mulai basah di gagang tombak.“Pasukanmu datang untuk membuat saksi takut,” kata Rong Tian.“Pasukan saya datang menjaga hukum.”“Kalau hukum harus dibawa naik gunung dengan tombak, berarti hukum itu tidak sanggup berdiri dengan kakinya sendiri.”Wajah Liang Cheng menegang. Tangannya naik, dan tiga genderang kecil di sisi kiri langsung menyambut gerak itu dengan ketukan yang rapat.Formasi Tentara Serigala Perak bergerak seperti pintu besi yang menutup. Barisan pertama menurunkan tombak sampai ujungnya menutup jalur tangga, barisan kedua menyilang dari dua sisi, sementara barisan ketiga merapatkan sudut agar siapa pun yang hendak turun dari pelataran harus melewa
Pagi di Gunung Xuandu belum sepenuhnya terang ketika kabar tentang pasukan kekaisaran naik dari jalur bawah. Kabut masih menggantung di antara pinus tua, menyentuh atap paviliun seperti kain basah, sementara halaman batu Sekte Gunung Xuandu sudah dipenuhi saksi dari berbagai faksi.Gunung itu bukan lagi sekadar tanah tinggi yang dijaga Sekte Gunung Xuandu. Sejak Rong Tian memilih tempat ini sebagai arena, setiap tangga, lonceng, pilar batu, dan jalur pinus berubah menjadi mata yang menunggu peristiwa besar.Zhang Qingshan berdiri di tangga utama dengan wajah berat. Di sisi kiri, Biksu Mingyuan memutar tasbih kayu perlahan, sedangkan Chen Shouyi dari Akademi Linchuan menahan kuas kecil di atas lembar catatan, belum berani menurunkan satu goresan pun.Di jalur samping, beberapa murid sekte kecil mulai goyah. Mereka datang karena ingin melihat bagaimana Tuan Jubah Putih menantang nama Dewa Perak, tetapi saat mendengar Tentara Serigala Perak bergerak menuju kaki gunung, keberanian yang la
Bunyi rendah itu menyentuh dada orang-orang di pelataran. Asap dupa naik perlahan, tidak lurus seluruhnya karena angin gunung, tetapi juga tidak pecah.Biksu Mingyuan menatap Rong Tian. “Jika hatimu membawa pembantaian, asap dupa ini akan pecah.”Rong Tian berdiri di tengah lingkar dupa. “Kalau asap pecah, saya turun dari gunung.”Jawaban itu membuat sebagian orang diam. Ia tidak membela diri, tidak meminta belas, dan tidak meminjam nama siapa pun untuk menekan saksi.Penjilat Klan He berbisik, “Biara Tiantai tidak bisa ditipu. Jika hatinya gelap, hari ini semua orang akan melihat.”Utusan istana menambahkan, “Orang yang terlalu tenang sering menyimpan niat paling berat.”Asap dupa mendekati Rong Tian. Ujung jubah putihnya bergerak perlahan, bukan karena tekanan besar, melainkan karena angin gunung turun melewat
Dari jalur tengah, Akademi Linchuan datang dengan meja batu formasi, kotak tinta hitam, keping giok, dan peti alat ukur qi. Murid-murid mereka berjalan rapi, tidak cepat, tidak lambat, seolah setiap langkah telah diukur oleh aturan.Pelataran Batu Hitam sudah penuh oleh rumah pengawal, sekte kecil, pengamat jianghu, pedagang jimat, kusir karavan, dan orang-orang yang wajahnya terlalu bersih untuk disebut penonton biasa. Di antara mereka, beberapa mata Paviliun Perak Langit dan utusan istana menyamar sebagai pencatat rumah pengawal.Rong Tian berdiri di sisi pelataran. Ia tidak memilih tempat tinggi, tidak menyapa kerumunan, dan tidak memakai bunyi lonceng kemarin untuk memaksa orang memberi hormat.Justru sikap itu membuat orang makin gelisah. Mereka lebih mudah membenci orang sombong yang berteriak daripada seseorang yang diam dan membiarkan aturan bergerak menuju dirinya.Biksu Mingyuan dari Biara
Zhang Qingshan, Pemimpin Sekte Gunung Xuandu, akhirnya muncul di atas tangga. Rambutnya memutih di pelipis, matanya tenang, dan kehadirannya membuat murid-murid di sekitar gerbang menunduk serempak.“Pemimpin Sekte,” ucap para murid penjaga.Zhang Qingshan memandang Rong Tian dari atas tangga. “Nama Anda datang lebih cepat daripada kaki Anda, Tuan Jubah Putih.”Rong Tian menangkupkan tangan. “Kabar sering berlari tanpa meminta izin.”“Gunung Xuandu tidak bergerak mengikuti kabar,” kata Zhang Qingshan. “Kami menjaga tanah ini agar tidak berubah menjadi tempat orang besar menyelesaikan dendam tanpa aturan.”“Karena itu saya datang ke gerbang, bukan langsung ke pelataran,” jawab Rong Tian.Tetua Lu Wen berkata, “Kata-katamu rapi. Tapi orang yang rapi belum tentu membawa niat bersih.&rd
Xu Ying Ming, Gu Yan, dan Ku Lou Huang, ketiga pemimpin sekte iblis terbesar yang tersisa itu langsung menundukkan kepala hingga hampir menyentuh lantai, tubuh mereka gemetar."Hancur?!" suara Bai Lie si Raja Kelelawar bergema dalam dan bergetar karena amarah yang tertahan. Suaranya seperti gemuruh
Sehari semalam telah berlalu sejak Imam Taois Qingfeng memulai pengobatannya terhadap Wang Fu dan Xiao Li.Aroma samar ramuan herbal dan energi kehidupan yang pekat memenuhi kamar penginapan, berpadu dengan keheningan yang khusyuk.Rong Tian duduk bersila di sudut ruangan, punggungnya bersandar pad
Seketika, mata semua orang mereka membelalak. Ekspresi congkak mereka berubah menjadi ketakutan yang murni, wajah mereka pucat pasi.Rong Tian, yang selama ini diam bagai patung, tiba-tiba bergerak.Gerakannya begitu cepat, begitu halus, nyaris tak terlihat oleh mata telanjang. Seperti kilatan caha
Rong Tian menyaksikan semua ini dengan mata terbelalak. Ia bisa merasakan energi yang dipancarkan Imam Qingfeng sangat berbeda dari Qi murni miliknya.Ini bukan sekadar energi spiritual biasa. Ini adalah energi kehidupan murni yang sangat pekat, sebuah kekuatan yang mampu menghidupkan kembali sel-s







