LOGINChyara terbangun di dalam sebuah novel sebagai antagonis yang ditakdirkan mati. Mengetahui seluruh alur cerita, ia memilih memanfaatkan takdir demi bertahan hidup dan merebut masa depannya sendiri. Namun, perubahan itu justru menarik tiga tokoh utama ke arahnya. Darian, tunangannya yang dingin dan berbahaya, mengalihkan obsesinya padanya. Arthur, sosok hangat yang seharusnya mencintai pemeran utama wanita, tak mampu melepaskan Chyara. Reynard, siluman rubah merah yang licik dan menggoda, pun terikat padanya. Ketika takdir yang ia kendalikan berbalik mengikat mereka di sisinya, Chyara menyadari, di dunia yang seharusnya membunuhnya, tiga tokoh utama justru bertekuk lutut padanya.
View More“Itu dia! Perempuan iblis!”
“Dasar pembunuh!” “Kau pantas mati!” “Matilah, pengkhianat!” “Habisi dia!” “Pengkhianat terkutuk!” Teriakan kebencian rakyat menggema tanpa henti. Chyara diarak menuju panggung eksekusi dan dijatuhkan untuk berlutut di atasnya. Rambut birunya yang dahulu berkilau kini kusut dan layu, menutupi sebagian wajahnya yang lebam dan nyaris tak lagi menyerupai putri Marquess Everardo. Batu kecil dan sayuran busuk dilemparkan ke arahnya, menghantam tubuhnya berkali-kali. Namun, Chyara tetap diam, seolah rasa sakit telah lama mati bersamanya. Di hadapannya berdiri Putra Mahkota Darian Ramiro. Ia mengenakan baju seremonial algojo berwarna hitam. Pedang besar terhunus di tangannya, dingin dan tak berperasaan seperti pemiliknya. Darian menekan sarung pedang di bawah dagu Chyara, memaksa wajah lemah itu menengadah. “Chyara,” katanya datar tanpa emosi. “Dulu kau gadis yang lembut, bagaimana bisa kau berubah menjadi iblis seperti ini?” Tatapan Darian menusuk, mata merah darahnya menyala, memancarkan kebencian yang tak lagi ia sembunyikan. Namun, Chyara menatapnya kembali tanpa gentar. Mata biru lautnya yang dulu bersinar kini redup, seakan seluruh cahaya hidupnya telah direnggut. “Jadi kau yang akan mengeksekusiku, Darian?” tanyanya parau. Darian tak menjawab, tatapannya justru semakin mengeras. “Kenapa kau berniat membunuh Azelia?” tanyanya dingin. “Dia adikmu!” Suaranya menggema lebih kejam daripada teriakan rakyat. Tawa Chyara pecah membuat darah mengalir dari sudut bibirnya “Azelia pantas mati!” desisnya. “Dia merampas segalanya dariku, hidupku ... keluargaku ....” Suaranya bergetar saat ia menambahkan, “bahkan kau, Darian.” Darian memalingkan wajah dan menarik pedangnya kembali. “Hentikan omong kosongmu,” balasnya tajam, kemudian menyeringai tipis. “Dengan kematianmu ini, Azelia akhirnya akan menjadi milikku selamanya.” Kata-kata itu membuat dada Chyara terasa tertusuk. Ia tertawa lirih, pahit, dan hancur. “Jadi ini akhirnya ...,” bisiknya. “Aku mati di tangan orang yang paling kucintai.” Dentang lonceng eksekusi menggema di udara. Sorak sorai rakyat kembali membahana, haus darah dan kegembiraan. Darian mengeratkan genggaman pedangnya tanpa ragu. “Sampaikan kata terakhirmu,” perintah Darian dingin. Chyara mengangkat wajahnya perlahan, menatap pria yang menjadi awal dan akhir hidupnya. “Pernahkah, meski hanya sedetik, kau mencintaiku?” Hening menyelimuti panggung. Darian terdiam sesaat sebelum menjawab. “Tidak," imbuhnya. “Sejak awal aku membencimu.” Kata-kata itu menghantam lebih tajam daripada pedang yang akan menebasnya. Chyara tersenyum kecil, bukan lagi getir melainkan penuh tekad. Ia menatap Darian untuk terakhir kalinya. “Kalau begitu dengarkan aku, Darian,” racaunya pelan namun jelas. “Di kehidupan selanjutnya, atau bahkan di ribuan kehidupan sekalipun. Aku akan membuatmu mencintaiku. Aku memastikan itu, Darian.” Darian tak memedulikan ucapan Chyara. Ia mengangkat pedangnya tinggi. Angin berdesir singkat di antara mereka, kilatan baja membelah udara. Tssshhh! Pedang mengayun cepat dan sorak sorai rakyat memecah langit. Kepala Chyara jatuh dan bergulir di atas panggung kayu. Darahnya mengalir deras, menodai sumpah yang belum sempat terbalaskan. Azelia berlari naik ke panggung sambil menangis histeris. Darian langsung memeluknya dari belakang seolah menjadi pelindungnya. Namun, Azelia justru menoleh dan menatapnya dengan kebencian yang dingin. Langkah kaki berat terdengar dari kejauhan. Seorang pria muncul bersama para pengawal kerajaan. Dialah Duke Arthur Veredian. “Putra Mahkota Darian Ramiro,” tukasnya lantang, “atas titah langsung dari Baginda Raja, kau dinyatakan berkhianat. Kau memanipulasi eksekusi, menghasut rakyat, dan merencanakan kejahatan bersama Chyara Everardo.” Kerumunan langsung berubah gaduh. "Kau akan mendapatkan hukuman mati di tempat!" Darian tak sempat melawan saat pedang pengawal menebas tubuhnya. Ia mati di panggung yang sama, menyusul tunangannya, Chyara. Pada hari itu, dua nyawa berakhir dalam pengkhianatan. Duke Arthur Veredian diangkat menjadi putra mahkota dan menikahi Azelia Everardo, perempuan yang selamat dari segala tragedi untuk meraih kebahagiaan. Sementara nama Chyara Everardo, selamanya tercatat dalam sejarah sebagai perempuan iblis yang pantas mendapatkan hukuman mati. _____ Chyara ... Chyara ... Chyara! Suara itu menggema semakin keras, seolah menarik Chyara kembali dari jurang yang gelap. Kelopak matanya bergetar, lalu terbuka perlahan. Matanya disambut cahaya lembut yang menyilaukan pandangannya. Napasnya terhembus pendek, dadanya naik turun tidak beraturan. Ia mengerjap beberapa kali, berusaha memahami apa yang ia lihat. Bukan langit-langit rumah sakit, bukan pula atap apartemennya, melainkan dedaunan hijau yang rimbun, bergoyang pelan tertiup angin. Cahaya matahari menembus di sela-sela daun, menciptakan bayangan yang terasa terlalu nyata untuk disebut mimpi. Aroma bunga menyentuh inderanya, lembut namun jelas. Chyara menegakkan tubuh perlahan, jantungnya berdetak semakin cepat, seakan memberi peringatan bahwa ada sesuatu yang salah. Tubuhnya terasa ringan, ia tak merasakan sakit sama sekali. Di sekelilingnya terbentang taman bunga yang luas, dipenuhi warna-warna asing yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Rumput hijau terawat membentang sejauh pandangannya, sementara pepohonan tinggi menaungi jalan setapak dari batu yang tersusun rapi. Ini bukan tempat yang ia kenal. Bahkan bukan dunia yang ia ingat. Ingatan terakhirnya masih tergambar jelas. Ia baru saja membaca naskah novel berjudul Kamu Kebahagiaanku, cerita yang akan ia perankan sebagai tokoh utama wanita—Azelia Everardo. Novel dengan alur yang kejam, dipenuhi pengkhianatan, ambisi, dan kematian yang tak terhindarkan. Ia masih mengingat dengan jelas rasa muak dan sesak yang tertinggal setelah menutup halaman terakhir novel itu. Dalam perjalanan menuju lokasi syuting, mobil yang ditumpanginya kehilangan kendali dan terjun ke jurang. Suara benturan menggema, rasa sakit menjalar ke seluruh tubuhnya, hingga akhirnya kegelapan menelannya sepenuhnya. Seharusnya ia mati. Namun, jika ini adalah kematian, mengapa dunia di hadapannya terasa begitu hidup? “Ara!” Langkah tergesa terdengar mendekat. Seorang lelaki berlari ke arahnya dengan wajah panik, napasnya sedikit terengah seperti sudah berlari cukup jauh hanya untuk memastikan keadaannya. Ia berhenti tepat di hadapan Chyara, menunduk dengan ekspresi cemas yang tak disembunyikan. “Ara, apa kau baik-baik saja?” tanyanya. “Kakak dengar kau terjatuh dari atas pohon dan tiba-tiba pingsan.” Nada suaranya penuh kekhawatiran, seolah kejadian itu hampir membuatnya kehilangan seseorang yang berharga. Chyara menatap lelaki itu dalam diam. Rambut biru mudanya berkilau di bawah sinar matahari, sementara sepasang mata biru laut yang jernih dan dalam menatapnya penuh kekhawatiran. Wajahnya tampan dan terlihat dewasa, tetapi lelaki itu benar-benar terlihat aneh dan asing baginya, tak satu pun ingatan tentangnya muncul di benak Chyara. Tatapan Chyara kemudian bergeser ke pakaian yang dikenakannya. Kemeja berpotongan klasik dengan bordir halus membingkai tubuhnya, dilapisi rompi gelap yang pas, sementara sarung tangan tipis menutup tangannya dengan rapi. Itu jelas bukan busana modern, juga bukan sesuatu yang pernah Chyara lihat di dunia tempat ia berasal. Chyara membeku di tempat. Tatapannya menyusuri tubuhnya sendiri, berhenti pada gaun yang kini dikenakannya, kain lembut dengan potongan yang tak pernah ia miliki sebelumnya. Rambutnya terurai panjang hingga ke punggung, dan saat ia menggenggamnya lalu menarik ke depan, kilau biru mudanya memantulkan cahaya matahari dengan jelas. Warnanya sama, sama persis dengan laki-laki di hadapannya. Sesaat, pikirannya kosong. Kemudian ingatan menyeruak ke dalam kepalanya. Potongan-potongan deskripsi dari novel yang baru saja ia baca kembali teringat. Rambut panjang berwarna biru muda, itu adalah ciri khas keluarga Marquess Everardo, keluarga bangsawan yang menjadi pusat konflik dalam cerita itu. Jantung Chyara berdetak keras. Napasnya tercekat, dadanya terasa sesak oleh kemungkinan yang tak ingin ia akui. “Tidak mungkin …,” bisiknya lirih. “Apakah aku … masuk ke dalam novel itu sebagai Azelia?”“Biarkan aku bertemu dengan bangsawan itu! Bangsawan yang memberimu pekerjaan ini!” Suara Tuan Lian menggema di dalam bengkel, keras dan penuh semangat yang tak lagi disembunyikan. Ia datang sambil menunjuk ke arah kereta besar di belakangnya, yang dipenuhi lima puluh keranjang permata berkilau. Wajahnya tampak lelah, tetapi matanya bersinar bangga, seperti seseorang yang baru saja menemukan kembali harga dirinya. “Sudah lima hari kita menggali, dan lihat ini!” lanjut Lian sambil menepuk salah satu keranjang. Ia menggeleng pelan, masih tak percaya dengan kenyataan di hadapannya. “Permatanya tidak berkurang sedikit pun, seolah tambang itu tak ada habisnya.” Nada suaranya kini berubah, bukan lagi ragu, melainkan dipenuhi kekaguman yang sulit disangkal. Beberapa pekerja lain ikut maju, wajah mereka dipenuhi harapan. “Benar, kami juga ingin bertemu dengannya,” ujar salah satu dari mereka. Ia menggenggam koin emas di tangannya, seolah benda itu adalah bukti nyata dari perubahan hidup
“Hore! Kita akhirnya mendapatkan pekerjaan!”Sorak-sorai para pekerja pecah memenuhi tambang, menggema hingga ke lorong-lorong gelap yang tadi terasa sunyi. Wajah-wajah yang semula dipenuhi keraguan kini berubah cerah oleh kegembiraan. Mereka bergerak cepat, seperti menemukan kembali semangat yang lama terkubur.Beberapa pekerja segera mengumpulkan batu permata yang tersebar di berbagai titik galian. Keranjang demi keranjang diisi dengan batu berkilau itu, lalu diangkat dan dimasukkan ke dalam kereta kayu yang telah disiapkan di luar.Roda kereta berderit pelan, membawa hasil tambang yang jauh melampaui dugaan siapa pun. Kilau permata itu seolah menyalakan harapan baru di mata mereka.Joseph berdiri di dekat pintu tambang, mencatat setiap keranjang yang keluar dengan teliti. Tangannya bergerak cepat di atas kertas, sementara matanya sesekali melirik ke arah kereta yang terus terisi.“Lima puluh keranjang …,” gumamnya pelan, hampir tak percaya dengan angka yang ia tulis. Dan yang lebih
“Beberapa tahun lalu … aku tidak pernah menggali di bagian ini.”Tuan Lian menatap sketsa itu dengan kening berkerut, lalu melirik tajam ke arah Joseph. Ia menghela napas pelan sebelum melanjutkan. “Bagaimana bisa bangsawan itu menyuruhmu menggali di sini? Dari permukaan luarnya saja sudah terlihat keras seperti ini, biasanya itu tanda kalau isinya hanya batu biasa.” Nada suaranya penuh keyakinan, seolah pengalaman lamanya tak mungkin salah.Joseph mengangkat bahu pelan, tidak menunjukkan emosi berlebihan. “Aku juga tidak tahu,” jawabnya jujur, suaranya datar namun mantap. Ia menunjuk kembali pada titik di sketsa tersebut. “Tapi aku diminta menggali di sini, jadi kita ikuti saja perintahnya.”Lian menghela napas panjang sambil menggelengkan kepala. “Bangsawan kaya memang senang menghambur-hanburkan uang,” gumamnya dengan nada setengah mengejek.Ia melipat sketsa itu lalu mengembalikannya pada Joseph. Meski ragu, ia tetap memberi aba-aba pada para pekerja untuk mulai menggali.Beberapa
“Apa kau bercanda, Joseph? Bagaimana mungkin tambang terbengkalai itu menyimpan batu permata?”Seorang pria paruh baya menyilangkan kedua tangannya di dada, tatapannya dipenuhi ketidakpercayaan yang kental. Ia berdiri dengan sikap kukuh, seolah pengalaman bertahun-tahunnya tak bisa digoyahkan oleh ucapan sepihak. Suaranya berat, membawa beban keraguan yang menggantung di udara seperti kabut tebal.“Aku sudah bekerja bertahun-tahun dengan Tuan Rober, pemilik tambang itu sebelumnya,” lanjut pria itu dengan nada tegas. “Selama itu, kami bahkan tidak menemukan satu batu berharga pun.”Ia menggeleng pelan, bibirnya menyunggingkan senyum tipis penuh sindiran. “Bangsawan yang menyuruhmu itu mungkin hanya sedang mempermainkanmu.”Joseph tidak langsung menjawab. Ia berdiri diam, tangannya menggantung di sisi tubuh, sementara pikirannya berputar menimbang antara logika dan keyakinan.Keraguan itu bukan hanya milik orang lain, ia pun merasakannya, seperti suara kecil yang terus mengetuk di bena
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviewsMore