MasukLabella Anastasia Laksani, seorang ahli bedah muda jenius, mati saat mencoba menyelamatkan nyawa orang lain. Namun, bukannya masuk surga, jiwanya justru terlempar ke dalam novel best seller yang pernah dibaca adiknya. Ia terbangun di dalam tubuh Ashyel Clarisse van de Liora, seorang figuran pendiam yang ditakdirkan mati dipenggal bersama seluruh keluarganya. "Aku belum mati? Tapi kenapa aku berada di kamar semewah ini? Dan siapa gadis cantik di cermin ini?" Labella menyadari ia masuk tepat sebelum bencana dimulai. Hanya ada satu cara untuk selamat: Menawarkan kesepakatan pada sang "Monster Utara", Duke Aslan Krossvane, pria dingin yang dikutuk dan benci pada wanita. Berbekal pisau bedah dan sifat barunya yang centil-sangat jauh dari sosok Ashyel yang asli-Labella nekat menerobos barak militer. Saat sang Duke sekarat, ia berbisik dengan berani: "Jangan mati dulu ya, Aslan. Aku sudah menjahit perutmu, jadi sekarang bayar aku dengan gelar Duchess."
Lihat lebih banyakRantai bayangan hitam pekat milik Duke Aslan menyeret tubuh Marquess Volkan yang sudah tak berdaya, melewati gerbang emas Istana Dalam yang biasanya dijaga ketat. Logam mulia pada gerbang itu kini penyok, menjadi saksi bisu sapuan badai mekanis yang tak terbendung. Di belakang mereka, ratusan pengawal internal Krossvane yang dipimpin langsung oleh Arthur dan Catherine berkuda dengan formasi barisan yang rapat. Senjata-senjata mekanis bersistem uap pneumatik di tangan mereka terkancing kokoh dalam posisi terkokang, siap memuntahkan peluru korosif kapan saja.Penampilan mereka yang dingin, berlumur debu perbatasan, dan sepenuhnya tanpa kompromi seketika melumpuhkan mental serta keberanian para ksatria penjaga istana yang tersisa. Tidak ada yang berani mengangkat senjata; mereka semua mundur ke dinding dengan napas tertahan.Sementara itu, di dalam Aula Dewan Tetua, suasananya sangat gaduh bagai pasar malam. Puluhan bangsawan tinggi dari Faksi Volkan, Faksi Netral, hingga perwakilan wil
Hening mencekam seketika mengunci pelataran kompleks laboratorium Krossvane. Ratusan ksatria dari Ordo Pengawal Kekaisaran terpaku di tempat, tangan mereka yang memegang gagang pedang mendadak basah oleh keringat dingin. Aura mana kegelapan milik Duke Aslan tidak hanya menurunkan suhu udara, tetapi juga menekan sirkuit mana di dalam tubuh mereka, membuat aliran energi mereka tersendat bagai air yang membeku.Marquess Volkan mengeratkan cengkeramannya pada jubah bulunya. Ego dan ambisi politiknya yang telanjur membubung tinggi menolak untuk runtuh begitu saja di hadapan dua pemuda ini."Ashyel! Aslan!" Volkan berteriak, mencoba mengusir getaran ketakutan dari suaranya sendiri. "Kalian pikir kalian bisa melawan seluruh Ordo Pengawal Kekaisaran? Komandan! Jangan gentar! Mereka hanya berdua! Eksekusi perintah penyitaan sekarang juga!"Komandan berbaju zirah emas, yang dikenal sebagai Sir Galahad sang Pemecah Tembok, menggeram. Ia menarik pedang besarnya yang dialiri mana atribut tanah ber
Asap hitam tipis membubung dari barikade darurat di depan gerbang utama Laboratorium Pusat Krossvane di ibu kota. Bau hangus dari gesekan peluru statis dan sisa-sisa sihir pembatas yang hancur masih melekat pekat di udara. Suasana begitu mencekam, sedingin es yang siap retak kapan saja. Ratusan ksatria berbaju zirah perak mengkilap dari Ordo Ksatria Pengawal Kekaisaran telah mengepung seluruh kompleks riset, berdiri rapat dengan perisai berat membentuk barisan barikade yang rapat, dipimpin langsung oleh perwakilan Faksi Marquess Volkan."Arthur! Menyingkirlah! Ini adalah perintah resmi penyitaan aset demi keamanan kekaisaran pasca-ledakan!" seru seorang komandan berbaju zirah emas, suaranya menggema penuh keangkuhan di antara desau angin ibu kota.Arthur berdiri di garis depan dengan napas terengah-engah, dadanya naik turun dengan cepat. Pedangnya sudah terhunus, kedua tangannya bergetar bukan karena takut, melainkan karena kelelahan setelah menahan tiga gelombang provokasi kecil sebe
"Lucia!"Aslan melompat dari atap sesaat setelah jaring kegelapannya hancur berkeping-keping. Lengannya yang kokoh menangkap tubuh sang Saintess sebelum gadis itu menghantam tanah berbatu. Wajah Lucia sepucat kain kafan, sementara sirkuit mananya bergetar hebat akibat rebound energi murni yang dipaksakan. Darah segar yang mengalir di sela bibirnya kontras dengan jubah suci putihnya yang kini ternoda debu.Di langit, pusaran ungu yang sempat tertahan kini mengancam turun seperti air bah yang siap menenggelamkan Oakhaven. Tekanan atmosfer meningkat drastis, membuat dada siapapun terasa sesak. Batuan kristal di kulit warga yang baru saja meredup, kini mulai memancarkan pendaran aneh lagi, seolah merespons panggilan dari langit."Ashyel! Kompresornya tidak akan kuat menahan gelombang kedua! Batas toleransi tekanannya sudah habis!" teriak Aslan sembari menahan denyut mana kegelapannya agar tidak lepas kendali dan melukai warga sekitar.Ashyel tidak langsung menjawab. Matanya masih tertuju
Ashyel menendang pintu ruang kerja Duke dengan ujung sepatunya karena kedua tangannya sibuk memegang nampan besar. BRAKK! Aslan yang sedang fokus memetakan strategi militer di atas meja kayu besarnya tersentak. Pena bulunya mencoret kertas dokumen penting karena kaget. Ia mendongak, matanya ber
Ashyel sedang mencuci tangannya saat Aslan masuk ke ruangan medis. Wajah pria itu lebih kaku dari biasanya, seolah ada badai yang sedang tertahan di balik mata merahnya. "Kita tidak akan pergi," ucap Aslan tanpa basa-basi, meletakkan surat undangan itu di meja kayu yang penuh dengan botol obat.
Kegembiraan Ashyel luntur seketika saat kereta kuda mereka memasuki distrik bawah kota yang kumuh. Di sana, di sebuah gang yang berbau sampah dan air limbah, ia melihat pemandangan yang menghancurkan insting medisnya. Tiga orang preman jalanan bertubuh besar sedang menendang sekumpulan anak-anak.
Keheningan Istana Krossvane di jam lima pagi terasa sangat menekan, seperti beratnya beban yang dipikul oleh pemiliknya. Labella, yang kini mendiami tubuh Ashyel, terbangun dengan peluh dingin yang membanjiri lehernya. Mimpi tentang cairan hitam itu terasa terlalu nyata untuk dianggap sekadar


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ulasan-ulasan