MasukLabella Anastasia Laksani, seorang ahli bedah muda jenius, mati saat mencoba menyelamatkan nyawa orang lain. Namun, bukannya masuk surga, jiwanya justru terlempar ke dalam novel best seller yang pernah dibaca adiknya. Ia terbangun di dalam tubuh Ashyel Clarisse van de Liora, seorang figuran pendiam yang ditakdirkan mati dipenggal bersama seluruh keluarganya. "Aku belum mati? Tapi kenapa aku berada di kamar semewah ini? Dan siapa gadis cantik di cermin ini?" Labella menyadari ia masuk tepat sebelum bencana dimulai. Hanya ada satu cara untuk selamat: Menawarkan kesepakatan pada sang "Monster Utara", Duke Aslan Krossvane, pria dingin yang dikutuk dan benci pada wanita. Berbekal pisau bedah dan sifat barunya yang centil-sangat jauh dari sosok Ashyel yang asli-Labella nekat menerobos barak militer. Saat sang Duke sekarat, ia berbisik dengan berani: "Jangan mati dulu ya, Aslan. Aku sudah menjahit perutmu, jadi sekarang bayar aku dengan gelar Duchess."
Lihat lebih banyakBisik-bisik ketakutan memenuhi aula. Ini bukan lagi sekadar pesta; ini adalah eksekusi terselubung. Beatrix di kejauhan tampak menyeringai puas. Dia tahu kakaknya, Ashyel yang asli, bahkan tidak bisa membedakan garam dan gula, apalagi racun medis. Aslan menatap nampan itu dengan rahang mengeras. "Yang Mulia, ini berlebihan—" "Jangan khawatir, Aslan sayang," potong Ashyel sembari tersenyum nakal. Ia melangkah maju mendekati nampan tersebut. Labella menggunakan insting medisnya. Ia tidak melihat apel itu sebagai buah, melainkan sebagai objek observasi. Ia memperhatikan tekstur kulitnya, perubahan warna yang sangat mikroskopis di dekat tangkai, dan aroma kimia yang samar bagi hidung orang awam, namun sangat tajam bagi seorang ahli bedah. Ashyel mengambil apel di bagian tengah. Ia memutarnya di tangannya, lalu tiba-tiba ia mengeluarkan pisau kecil dari balik korset gaunnya—pisau bedah yang selalu ia bawa. Sret! Bukannya memakan atau memberikan pada Aslan, Ashyel justru membela
Pintu besar aula pesta kekaisaran terbuka dengan dentuman yang megah. Sang pembawa acara kerajaan berteriak dengan suara lantang, "YANG MULIA DUKE ASLAN KROSSVANE DAN DUCHESS ASHYEL CLARISSE VAN DE LIORA!" Seluruh mata di dalam aula yang tadinya dipenuhi suara riuh rendah mendadak tertuju ke arah pintu masuk. Para bangsawan yang biasanya sibuk bergosip kini terdiam seribu bahasa. Mereka berekspektasi melihat Ashyel yang memakai gaun mewah berlebihan atau tampil dengan wajah ketakutan seperti biasanya. Namun, yang mereka lihat adalah sesuatu yang jauh lebih mematikan: Keanggunan yang murni. Ashyel melangkah berdampingan dengan Aslan. Gaun putih gadingnya yang simpel justru membuatnya terlihat sangat menonjol di antara para wanita yang memakai gaun berwarna-warni mencolok. Cahaya lampu kristal aula memantul di rambut peraknya yang dibiarkan terurai indah, membuatnya tampak seperti permaisuri dari kerajaan salju. Tangannya menggandeng lengan Aslan dengan sangat percaya diri. "Lih
Sepuluh menit berlalu. Ashyel keluar dengan gaun yang sangat simpel. Gaun berwarna putih gading polos dengan lengan panjang dan kerah tinggi yang menutupi hingga ke leher. Tidak ada perhiasan berlebihan, hanya sebuah bros kecil di dadanya. Namun, kesederhanaan itu justru memancarkan kecantikan yang sangat murni, seolah-olah ia adalah dewi yang baru turun dari langit. Namun, yang membuat Aslan gemetar adalah wajah Ashyel. Tidak ada lagi binar jenaka. Wajah itu datar, pucat, dan matanya merah bekas menangis. "Ayo berangkat," ucap Ashyel pendek. Suaranya sangat dingin, tanpa nada menggoda seperti biasanya. Selama perjalanan di kereta menuju Kota Luminous, Ashyel hanya menatap keluar jendela. Ia benar-benar bungkam. Aslan mencoba berdeham beberapa kali untuk memecah suasana, namun Ashyel menganggapnya seolah pria itu adalah udara kosong. Aslan mulai merasa dadanya sesak-bukan karena kutukan, tapi karena rasa bersalah yang mencekik. Ia sadar bentakannya tadi keterlaluan. "Ashyel.
Ashyel menendang pintu ruang kerja Duke dengan ujung sepatunya karena kedua tangannya sibuk memegang nampan besar. BRAKK! Aslan yang sedang fokus memetakan strategi militer di atas meja kayu besarnya tersentak. Pena bulunya mencoret kertas dokumen penting karena kaget. Ia mendongak, matanya berkilat tajam saat melihat Ashyel masuk dengan wajah tanpa dosa. "Ashyel! Apa kau tidak punya sopan santun?" geram Aslan, suaranya rendah dan mengancam. "Sopan santun tidak bisa mengisi perutmu yang kosong, Tuan Duke," balas Ashyel santai. Ia meletakkan nampan itu tepat di atas peta militer Aslan, menutupi wilayah perbatasan yang sedang dipelajari pria itu. "Singkirkan ini sekarang juga!" "Tidak mau. Makan, atau aku akan berteriak di depan jendela bahwa Duke Krossvane takut pada sayuran," Ashyel duduk di pinggir meja kerja Aslan, menyilangkan kakinya yang jenjang dan menatap Aslan dengan pandangan menantang. Aslan berdiri, aura dinginnya menyelimuti ruangan. Ia mencengkeram bahu Ashy
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.