LOGINDi puncak kariernya sebagai koki ternama abad ke-21, Moran tewas secara tragis. Namun ia justru terbangun di dunia novel yang pernah dibacanya sebagai wanita antagonis yang dalam cerita aslinya akan mati dengan mengenaskan. Mengetahui masa depannya, Moran bertekad mengubah takdir. Ia hanya ingin hidup tenang, menjauh dari intrik istana dan pernikahan politik yang rumit. Sayangnya, semakin ia berusaha menghindar, semakin ia terseret ke dalam permainan kekuasaan yang bahkan melibatkan para pria paling berpengaruh di negeri itu.
View More“Nona Kedua buat masalah lagi?”
“Iya. Katanya karena berebut pemerah pipi dengan Putri Perdana Menteri Jiang. Lihatlah sekarang dia bahkan tidak ingat siapa dirinya.” “Nyonya dan Tuan Besar terlalu memanjakannya sampai jadi seperti ini. Setiap hari hanya memikirkan perona pipi dan bedak. Berbeda dengan Nona Shuyan yang tekun belajar puisi dan guqin.” “Ya … Nona Pertama memang layak diberi penghargaan gadis berbakat di Ibu Kota.” Bisik-bisik pelayan terdengar dari balik jendela. Moran menutupnya pelan. Ia menghela napas panjang melangkah mendekati meja rias di sudut kamar. Sebuah cermin perunggu bundar berdiri di atasnya, memantulkan wajahnya sendiri. Pemerah pipi tampak berjajar rapi, warnanya merah mencolok. Kertas pemerah bibir dengan warna menyala, lalu koleksi bedak putih dari berbagai toko semua ada di meja itu. “Pantas saja mereka menertawakan pemilik tubuh ini,” gumam Moran lirih. Moran sepenuhnya sadar bahwa dia telah bertransmigrasi ke dunia novel yang dia baca beberapa hari lalu dan menjelma wujud adik tiri dari pemeran utama yang memiliki nama sama dengannya. Tokoh utama di novel itu adalah Yang Shuyan, putri tertua yang lahir dari istri kedua, gadis berhati lembut dan berbakat di bidang sastra dan musik. Ketika keluarga Yang menerima perintah pernikahan dengan Song Jingren, Shuyan dipilih menjadi selirnya. Sementara itu, adik tirinya, Yang Moran dia adalah putri sah, tetapi tergila-gila pada Song Jingren dan melakukan segala yang ia bisa untuk memenangkan hati sang Jenderal. Ia bahkan tega mencelakai dan memfitnah Shuyan demi obsesinya. Namun, meski berhasil menyingkirkan kakaknya, akhir hidup Moran tetap tragis. Tanpa sadar ia telah bersekutu dan diperalat oleh Putra Mahkota yang memberontak. Setelah naik takhta, Moran dijadikan gundik dan mati sendirian di istana dingin. Moran menghela napas, lalu memilah beberapa kosmetik yang menurutnya masih bisa dipakai untuk sehari-hari. Menyisihkan beberapa pemerah bibir berwarna kalem dan bedak yang tidak terlalu putih saat dipakai. Pada saat itulah pintu kamar berderit pelan. Moran refleks menoleh. Seorang gadis muda melangkah masuk sambil membawa baskom air bercampur kelopak mawar merah. Gadis itu berhenti mendadak di ambang pintu ketika melihat Moran menyisihkan benda-benda di meja riasnya. “Xi Bao, tolong buang semua bedak tebal ini, juga semua pemerah pipi yang menor ini,” titah Moran ketika melihat pantulan Xi Bao dari cerminnya. “A–ah?” suara Xi Bao terdengar ragu, tangannya meletakkan baskom ke meja dengan hati-hati. “Nona Kedua sudah tidak suka berdandan lagi?” Moran sempat terdiam sepersekian detik sebelum tersenyum tipis, berusaha terlihat biasa saja. Moran berdeham mencari jawaban. “Kemarin … Bukankah kamu bilang aku sempat berdebat dengan Nona Jiang karena tampilan wajahku? Setelah aku lihat lagi, apa yang dia katakan memang benar. Dandananku sebelumnya memang buruk.” Meski tatapannya tidak percaya tetapi Xi Bao menurut saja dan mengambil kotak kosong, mengemasi barang-barang yang dimaksud oleh sang majikan. Sudut mulut Moran berkedut. Semesta memang sedang mempermainkannya. Sebelumnya dia hanya mengutuk peran antagonis wanita di novel itu karena terlalu bodoh tetapi sekarang ia justru bertransmigrasi sebagai karakter tersebut. Sementara tangannya bergerak dalam baskom, kepala Moran tak berhenti berpikir berusaha mengingat alur cerita. “Nona? Apa Anda ada masalah?” Sebuah tepukan ringan di pundaknya membuat Moran tersentak. Ia menoleh cepat. Xi Bao sudah berdiri sangat dekat, wajahnya tampak panik. Gadis itu segera menarik kembali tangannya sendiri, seolah baru sadar telah bertindak lancang. “Maaf, Nona,” ucap Xi Bao gugup. “Nona Kedua baru saja membaik. Tuan Besar berpesan kalau Nona tiba-tiba teringat sesuatu dan merasa pusing, saya harus segera memanggil tabib.” Moran menggeleng. “Tidak perlu. Aku tidak apa-apa,” katanya singkat lalu menaruh bedak terakhirnya ke meja. “Oh ya, hari ini kenapa aku tidak melihat Shuyan?” Pertanyaan itu terdengar biasa saja, tetapi Xi Bao justru ragu. Ia menunduk sebentar sebelum menjawab, “Nona Shuyan sejak pagi pergi keluar. Saya tidak tahu kemana tujuannya. Hanya berpesan akan kembali sebelum makan siang.” Moran terdiam. Dadanya terasa mengencang. Kini ingatan itu muncul dengan jelas. Saat ini, Shuyan seharusnya berada di tepi Sungai Baihe. Di sanalah ia diam-diam bertemu dengan seorang pemuda desa. Shuyan dibawa pulang dengan paksa. Tubuhnya nyaris diseret masuk ke kediaman. Punggungnya terluka parah dipukul papan, darah merembes membasahi pakaian, sementara wajahnya pucat, tak menyisakan sedikitpun warna. Moran menegakkan punggungnya. Ia berdiri dari kursi, kain basah masih tergenggam di tangannya. “Xi Bao, cepat siapkan mobil!” Sepasang mata Xi Bao mengerjap. “Mobil? Apa itu mobil, Nona?” Moran melipat bibirnya. Ia lupa bahwa sekarang berada di jaman kuno. Mana ada mobil ataupun kendaraan bermesin?! “Ah, maksudku kereta, siapkan kereta yang bisa cepat sampai ke Sungai Baihe.” Mendengar itu, Xi Bao semakin menekuk dahi. “Nona … Tuan Besar menyuruh anda beristirahat, kalau sampai tahu anda pergi, bukankah akan menjadi masalah?” Moran menoleh dan membuang napas panjang. Ia meraih kedua bahu Xi Bao dan menatapnya dalam. “Xi Bao, saat ini nyawa Shuyan juga nyawaku! Aku harus menyelamatkan dia. Kalau aku terlambat, takdir kami berdua akan berakhir.” Semua orang tahu jika selama ini Moran tak pernah peduli pada Shuyan. Bahkan, selalu terang-terangan berbuat jahat padanya. Jadi, perubahan sikap itu jelas membuat Xi Bao terdiam kebingungan. Namun, ia tak bisa banyak bertanya dan tetap mengangguk lalu berjalan keluar kamar dengan tergesa-gesa. Beberapa menit kemudian, Moran melangkah keluar kamar. Ia menjumpai Xi Bao yang terengah-engah berlari ke arahnya. “Nona! Nona!” Moran mengernyit heran. “Xi Bao? Ada apa?” “Tuan besar juga mengutus orang ke sungai Baihe! Apakah kita akan tetap pergi ke sana?” Sepasang mata Moran melebar. Ia lalu menarik tangan Xi Bao dan berlari ke luar kediaman. “Cari jalan terdekat! Kita tidak boleh terlambat!” Kereta kuda melaju cepat membelah jalanan yang padat. Tubuh Moran berguncang pelan di atas bangku kayu. Kedua tangannya saling meremas cemas meski telah meminta kusir mencari jalan pintas. Di depannya Xi Bao juga duduk dengan ekspresi yang hampir sama. “Nona, sebenarnya apa yang terjadi di Sungai Baihe ini? Kenapa Tuan Besar juga mengutus orang ke sana?” Moran memijat pelipisnya. Entah bagaimana cara menjelaskan pada Xi Bao, si tokoh pelayan setia ini. Ia sedang lupa ingatan tidak mungkin mengandalkan ingatan. “Aku … Shuyan bilang padaku mau datang kesana menemui seseorang, jadi sebelum orang utusan ayah salah paham, aku harus sampai di sana,” jelas Moran pada akhirnya. Xi Bao hanya mengerjapkan sepasang matanya beberapa kali. Sampai akhirnya, ia memberanikan diri untuk bertanya, “Nona … sejak kapan anda menjadi dekat dengan Nona Shuyan?”“Song Jingren?” Sumpit dan mangkok kecil di tangan Moran hampir saja terlepas dari genggaman. Ia benar-benar tidak menyangka pria itu akan menampakkan batang hidungnya di kediaman ini.Di sisi lain, Tuan Besar Yang sudah lebih dulu pucat. Ia langsung berdiri dari kursinya, bahkan sumpitnya masih tergenggam di tangan. Kepalanya menunduk dalam.“Jenderal Song… maafkan ucapan istriku tadi,” katanya tergesa. “Kami sama sekali tidak bermaksud menyinggungmu.”Nyonya Yang ikut berdiri. Wanita itu bahkan tidak berani menatap menantunya. Kepalanya ikut menunduk.Moran yang melihat itu lantas meletakkan alat makannya di meja dan bangkit berdiri. Sudut bibirnya terangkat ringan sama halnya dengan tangan yang begitu saja melingkar di lengan Song Jingren. “Jingren, Ibu hanya bertanya kenapa kamu tidak bisa hadir bersamaku, tidak memiliki maksud lain.” Moran sebenarnya sudah bersiap menghadapi amarah, tetapi Song Jingren justru membalas senyum meski hanya sesaat sebelum menoleh pada mertuanya. “A
Jin Lin mengangguk cepat dan segera menyusul keluar. Ia tahu benar, begitu Song Jingren memutuskan sesuatu, bahkan langit pun tidak akan mampu menahannya.Pada akhirnya, ia hanya bisa merapal doa dalam hati, berharap tidak akan terjadi keributan lagi di antara pengantin baru itu.***Asap tebal mengepul di dapur kediaman Keluarga Yang. Api di atas wajan menyala liar, membuat Tuan dan Nyonya Besar Yang saling pandang dengan wajah tegang.Mereka hampir yakin Moran akan mengulang bencana terakhirnya. Namun ketika hidangan akhirnya tersaji di meja, keduanya justru terdiam.Daging sapi tampak lembut. Sayurannya tertata rapi. Aromanya bahkan… menggoda. Yang paling mengejutkan? Tidak ada yang terbakar. Semua barang kembali seperti semula di tempatnya.“Moran… sejak kapan kamu bisa memasak seperti ini?” Nyonya Yang terkesiap, matanya tak lepas dari hidangan di meja makan.“Baru sehari di rumah Jenderal Song, kau langsung hebat dalam memasak?” Yang Tianyu ikut menimpali, nadanya setengah tida
Moran menyesap sedikit teh Longjing sebelum meletakkan kembali cangkirnya. Ancaman seperti ini terlalu langsung. Di zamannya dulu, orang-orang akan membungkusnya dengan senyuman.“Tuan Shen bercanda? Masalah pernikahan kemarin adalah urusan kita berdua. Tidak ada kaitannya dengan ayah.”Kekehan tawa Tuan Shen terdengar renyah di ruangan itu. “Moran… Kau menikah dengan Song Jingren. Menurutmu para pejabat lain masih akan menganggap Keluarga Yang netral?” Tuan Shen menatapnya, suaranya tetap datar. Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan, “Song Jingren memang belum menyatakan sikap politiknya. Tapi ia dekat dengan Pangeran Kedua. Apa itu masih belum cukup jelas?”Sepasang mata Moran nyaris berputar malas, meski ekspresinya tetap tertahan. Gadis itu membuang napas panjang.“Aku memang tidak mengerti politik istana,” ujarnya ringan. “Tapi sekalipun Song Jingren adalah suamiku, aku juga tidak bisa mengubah pendapatnya.”Tuan Shen akhirnya mendengus, seolah kehabisan kesabaran. “Kalau begit
Moran menatap pantulan wajahnya di cermin perunggu beberapa saat. Jemarinya merapikan ujung anting di telinga sebelum akhirnya ia menoleh pada Xi Bao.“Tidak apa-apa,” ujarnya tenang. “Jingren adalah pejabat militer. Banyak urusan di Biro Keamanan Internal. Ayah dan Ibu pasti bisa memakluminya.”Xi Bao terdiam sejenak. Ia lalu perlahan mengangguk, meskipun keraguan di wajahnya belum sepenuhnya hilang. “Kalau begitu… biarkan saya menyiapkan kereta,” katanya akhirnya.***Paviliun Sepuluh Ribu Tamu.Bangunan bertingkat tiga itu berdiri megah di tepi Jalan Qingyun, salah satu jalan paling ramai di kota. Meski matahari baru saja naik, ruang makan di dalamnya telah dipenuhi para tamu. Pedagang, pengelana, hingga para cendekiawan duduk memenuhi meja-meja kayu. Sementara para pelayan lalu-lalang membawa nampan berisi teko teh dan hidangan panas.Ketika Moran melangkah masuk, gelombang keramaian itu seolah menyambutnya dari segala arah. Aroma makanan, denting mangkuk porselen, dan suara tawa
Moran menarik napas pelan sebelum melangkah maju. Ia berhenti beberapa langkah di depan pasangan paruh baya itu lalu memberi hormat dengan sopan. Kedua tangannya terangkat rapi di depan dada, tubuhnya sedikit membungkuk. Xi Bao yang berdiri di belakangnya segera menundukkan kepala mengikuti gerakan
“Nyonya ingin mengambil hati Tuan dan Nyonya Besar Song?” Xi Bao mencoba menebak isi kepala Moran. Ia sedikit memiringkan kepalanya, wajahnya penuh rasa penasaran.Moran tidak langsung menjawab. Ia menyandarkan punggung pada dinding kereta, lalu menatap pelayannya dengan senyum yang tenang namun pe
Di dalam kereta kuda, Moran duduk di bangku kayu. Kereta itu masih terparkir di depan halaman Biro Keamanan Internal dan belum bergerak sedikit pun. Ia menunggu Xi Bao yang pergi memanggil para pengawal kediaman.Memikirkan apa yang baru saja terjadi, Moran menghela napas pelan. Rasa kesal di dadan
“Eh? Aku tidak salah dengar? Kau menyebut namaku dengan lantang sekali?” Moran memutar tubuhnya hingga benar-benar menghadap pintu.Song Jingren melangkah masuk tanpa suara. Ia memang bukan pria yang mudah tersulut. Namun bahkan orang paling sabar pun akan kehilangan kendali melihat pemandangan di






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.