LOGINGulungan itu tidak pernah dibuka sejak Rong Tian menerimanya bertahun-tahun lalu dari tangan seseorang yang sudah lama tidak ada lagi di dunia ini.Panjangnya hanya sebesar pergelangan tangan orang dewasa ketika digulung rapat. Tidak ada lambang di luarnya.Tidak ada nama.Tidak ada tanda apapun yang menunjukkan bahwa isinya layak disimpan selama ini tanpa pernah dibuka, namun cara Rong Tian menyimpannya, di lipatan jubah paling dalam yang paling dekat dengan tubuhnya, sudah mengatakan sesuatu yang lebih jelas dari lambang apapun.Malam itu, di ruang dalam kapal spiritual yang sudah mengubah arah ke timur, Rong Tian membukanya.Imam Taois Qingfeng berdiri tiga langkah dari mejanya. Tidak lebih dekat dari itu.Ia sudah berdiri di posisi itu sejak sebelum Rong Tian mengambil gulungan dari lipatan jubahnya, seolah ia sudah tahu malam ini gulungan itu akan dibuka
"Aku hanya melihat sesuatu," kata Yeo Gwansu. "Malam itu semua orang menatap makhluk besar. Semua orang. Para prajurit, para kapten, bahkan komandan armada yang sudah puluhan tahun di laut. Mereka semua menatap ke atas ke punggung yang tidak ada ujungnya.""Dan kau menatap ke bawah," kata Rong Tian. Bukan pertanyaan.Yeo Gwansu mengangkat kepalanya sedikit. "Ya," jawabnya dengan nada yang mengandung sesuatu seperti lega karena ada yang memahami tanpa penjelasan panjang."Aku selalu menatap ke bawah di laut. Ikan ada di bawah permukaan, bukan di atas. Kebiasaan enam puluh tahun tidak bisa diubah bahkan oleh makhluk setinggi cakrawala.""Cahaya yang diam," kata Rong Tian. Masih bukan pertanyaan."Satu titik," jawab Yeo Gwansu. "Di antara ribuan titik cahaya yang bergerak bersama-sama. Semuanya bergerak mengikuti makhluk itu. Tapi satu titik tidak bergerak. Tidak ikut ke kiri ketika
"Seorang peramal tua bilang padaku," kata Yeo Gwansu dengan nada yang sedikit memohon, "bahwa orang yang tepat untuk mendengar ini adalah orang yang memakai jubah putih dan berjalan tanpa meninggalkan bekas. Aku sudah mencari satu bulan lebih.""Peramal tua," ulang Xiao Li dari sisi kanannya dengan nada yang mengandung skeptisisme yang tidak sepenuhnya disembunyikan. "Kau naik rajawali tua yang hampir mati ke ketinggian ini berdasarkan kata peramal tua.""Aku tidak punya pilihan lain," jawab Yeo Gwansu."Kau punya pilihan untuk tidak naik sama sekali," kata Xiao Li. "Itu pilihan yang lebih masuk akal."Yeo Gwansu menatap Xiao Li dengan ekspresi seseorang yang sudah lelah berdebat tentang masuk akal atau tidak."Anak muda, aku sudah enam puluh dua tahun di laut. Aku tahu perbedaan antara sesuatu yang masuk akal dan sesuatu yang benar. Yang masuk akal adalah tidak naik. Yang benar
Enam bulan sebelumnya…Kapal spiritual itu melaju di ketinggian yang membuat awan-awan tipis terbelah di kiri dan kanannya seperti kain sutra yang disobek oleh haluan yang tidak kenal hambatan.Angin di atas sana berbeda dari angin di permukaan bumi, lebih dingin, lebih bersih, dan tidak membawa suara apapun kecuali desisan udara yang terpotong panjang tanpa jeda.Rong Tian berdiri di haluan dengan kedua tangannya di belakang punggung. Jubah putihnya tidak berkibar meski angin menghantam dari depan, seolah ada lapisan tak kasat mata yang memisahkan tubuhnya dari udara di sekitarnya.Matanya menatap ke arah timur di mana langit mulai berubah warna dari biru muda ke jingga tipis menjelang sore.Wang Fu berdiri di sisi kiri geladak dengan tangannya di gagang pedangnya secara naluri. Xiao Li berdiri di sisi kanan dengan postur yang sama, cara dua orang yang sudah begitu lama b
"Lalu kita ke mana?" tanya muridnya."Kita mencari cara lain untuk mendapatkan apa yang kita butuhkan tanpa harus masuk ke zona itu," jawab Master Lan Qiyue. "Mungkin artefak itu bukan satu-satunya pintu menuju apa yang kita cari."Muridnya mengangguk, meski wajahnya belum sepenuhnya meyakinkan.Mereka berlayar kembali ke arah timur pada pagi yang sama tanpa upacara apapun.Di Dataran Tengah, kabar tentang Laut Xinghai sampai ke kota-kota besar dan memicu pertemuan tertutup yang tidak diumumkan siapapun di luar lingkaran mereka.Feng Cangyun, yang selama setengah tahun pertama masih bergantung pada ramuan penstabil untuk menahan racun meridiannya, akhirnya pulih penuh pada bulan kedelapan. Bukan dari tabib biasa.Seseorang yang melewati kota tempat ia dirawat, seseorang yang tidak meninggalkan nama, melihat kondisi meridiannya dan menghabiskan satu malam mena
Laut Xinghai tidak pernah kembali seperti sebelumnya.Kedua kaisar mengirim perintah yang sama kepada komandan armada masing-masing dalam waktu dua hari setelah malam itu. Jaga posisi. Jangan menyerang lebih dulu. Namun tidak ada perintah yang bisa mengembalikan apa yang sudah berubah di laut itu.Di Pelabuhan Haeryong yang biasanya ramai bahkan di musim hujan, seorang pedagang tua duduk di kedai tepi dermaga dengan separuh meja kosong di sekelilingnya."Kapal dari timur sudah empat minggu tidak masuk," kata pedagang itu kepada pemilik kedai yang sedang menyapu di belakang meja."Tidak ada yang berani melewati jalur tengah sekarang," jawab pemilik kedai tanpa berhenti menyapu. "Dua armada kekaisaran masih saling berhadapan di sana. Berlayar di antara dua armada yang hampir perang sama bahayanya dengan berlayar di dekat makhluk itu.""Makhluk itu sudah turun kembali," kata pedagan
Di cermin itu, terpantul wajah seorang remaja muda berusia sekitar sembilan belas tahun. Kulitnya halus, wajahnya tampan, matanya jernih. Tidak ada kerutan. Tidak ada tanda-tanda usia.Ini bukan wajah pria berusia lima ratus tahun lebih.Ini wajah pemuda yang baru saja memasuki dunia persilatan."A
Pagi menyusul malam yang penuh darah dan keheningan mencekam di Kota Sembilan Ngarai.Aroma samar darah dan ketakutan masih menggantung di udara luar, namun di dalam kamar penginapan yang sederhana, suasana jauh lebih tenang. Cahaya matahari pagi menembus jendela kayu, menerangi ruangan dengan hang
Rong Tian langsung menyadari sesuatu yang aneh saat mengamati sekeliling. "Auranya lemah," gumamnya dalam hati sambil menatap para pemuda itu dengan tatapan tajam."Bahkan yang terkuat hanya Tahap Eliksir Emas tingkat awal. Apakah ini yang mereka sebut jenius dari sekte besar?"Ia mengamati lebih t
Di Balairung Agung Istana Kekaisaran Lingxiao Tian, ketegangan masih menyelimuti udara seperti kabut tebal yang tak kunjung pudar. Pilar-pilar batu giok putih menjulang tinggi, menopang langit-langit yang dihiasi ukiran naga dan phoenix yang rumit, namun keindahan itu tidak mampu mengurai simpul ke







