LOGINPark Jaeun muncul dari sisi lain dermaga dan menyemburkan kabut racun laut berwarna kehijauan ke arah Baek Daejin yang mencoba merebut kapal yang belum sempat ia naiki. Baek Daejin menghirup setengah napas dari kabut itu, tangannya langsung menekan dadanya.Lututnya menyentuh dermaga, dan tidak bergerak lagi.Han Jisoo melompat dari ujung dermaga dengan tombaknya sudah terarah ke arah Fujimoto Kagero yang mencoba naik ke kapal yang berbeda. Tombak itu menembus bahu kiri Fujimoto dan mendorongnya kembali ke dermaga dengan suara benturan yang keras."Biarkan aku pergi," rengek Fujimoto dari lantai dermaga sambil tangannya mencoba mencabut tombak dari bahunya, wajahnya sudah pucat. "Aku tidak membaca isinya.""Aku tidak tahu apapun.""Semua orang yang masuk ke aula itu tahu sesuatu," kata Han Jisoo dengan sangat dingin sambil ia mencabut tombaknya kembali dengan satu tarikan. "Itu s
Pelabuhan Pulau Hyeongseong pada malam hari hanya diterangi oleh lampion-lampion kapal yang bergoyang mengikuti gelombang kecil, cahayanya oranye dan tidak stabil. Tidak ada penjaga resmi.Tidak ada hukum yang berlaku setelah gelap turun di pulau ini, dan semua orang yang datang ke Hyeongseong sudah tahu itu sejak pertama kali menginjakkan kaki di sini.Bau ikan asin dan tali basah mengisi udara. Beberapa nelayan yang masih terjaga di atas kapal mereka memilih berpaling dan pura-pura sibuk begitu mereka melihat siapa yang datang ke dermaga dengan langkah seperti itu.Seo Hyunwoo tiba di dermaga dengan napas yang sudah mulai tidak teratur.Ia memilih kapal kecil yang tambatannya paling mudah dilepas, kapal nelayan berukuran dua orang dengan layar kecil yang sudah setengah terlipat dan cat lambungnya yang sudah mengelupas di beberapa bagian. Tangannya bekerja cepat melepas tali tambat sambil matanya te
"Lima ratus," kata Han Jisoo dari pojoknya dengan nada yang tidak mengandung emosi apapun, seperti seseorang yang menyebut angka dari daftar belanjaan.Dari baris belakang, seorang kultivator muda dengan jaket kulit laut berbisik kepada temannya. "Siapa pria rambut keperakan itu? Ia menawar seperti orang yang sudah tahu isinya.""Seo Hyunwoo," jawab temannya dengan suara yang lebih pelan. "Pengumpul peta reruntuhan. Ia sudah dua kali masuk ke zona berbahaya yang tidak ada orang lain yang berani. Kalau ia mau sesuatu, artinya sesuatu itu bernilai."Seo Hyunwoo menghitung cepat.Ia tahu nilai salinan itu. Ia juga tahu bahwa siapapun yang memenangkan lelang ini tidak akan bisa berjalan keluar dari pulau ini dengan tenang.Namun ia sudah datang jauh-jauh dari kota pelabuhan Haeryong untuk ini, dan ia tidak datang untuk pulang dengan tangan kosong."Enam ratus," k
ARC. Geger di Laut TimurPaviliun Lelang Bintang Laut berdiri di ujung barat Pulau Hyeongseong, menempel di tebing batu karang yang menghadap langsung ke laut terbuka. Bangunan itu tidak megah dan tidak pernah mencoba terlihat megah.Dindingnya dari batu laut yang sudah menghitam karena garam dan angin selama puluhan tahun, dan retakan-retakan kecil di sudut-sudutnya dibiarkan terbuka seperti luka yang tidak mau sembuh. Lampion-lampion merah tua digantung di sepanjang lorong masuk, dan cahayanya tidak cukup terang untuk menerangi sudut-sudut aula yang dalam.Malam itu aula penuh.Kursi-kursi kayu panjang sudah diisi sejak satu jam sebelum lelang dimulai. Para kultivator dari berbagai latar belakang duduk berdampingan dengan jarak yang cukup untuk tidak saling menyentuh, namun cukup dekat untuk saling mendengar napas masing-masing.Tidak ada yang berbicara keras. Percakapan berlan
Idris tidak berkata lebih lanjut. Ia berjalan dengan matanya yang mulai bergerak mengingat-ingat setiap wajah yang ia lihat semalam di ruang pusat.Rafiq Mahrun yang berjalan di sisi kanan Qasim berbicara sangat pelan. "Kain itu aman?""Di tempat yang paling aman yang ada," jawab Qasim.Guan Shiqi dari Sekte Tapak Batu Kunlun mengumpulkan dua muridnya di luar gerbang selatan kota saat matahari sudah setinggi dua tombak."Berapa yang kita bawa?" tanya murid pertamanya sambil mengecek isi kantong di pinggangnya untuk ketiga kalinya sejak pagi."Dua belas tabung pil kultivasi, tiga ikat herbal, dan dua manual," jawab Guan Shiqi sambil ia sendiri mengecek dengan satu sentuhan cepat. "Tidak banyak. Lebih sedikit dari yang aku harapkan ketika pertama kali mendengar ada ruang rahasia di bawah sini.""Senior Guan kecewa?" tanya murid keduanya dengan nada hati-hati.
"Dan kau membawa pulang lebih banyak," kata Lin Jianfeng."Setengah detik lebih cepat," ulang Bai Yuanfeng pelan.Lin Jianfeng tidak menjawab. Ia hanya mengangkat dagunya sedikit dan mengambil langkahnya ke arah timur laut."Perjalanan baik," kata Bai Yuanfeng ke punggungnya."Begitu juga," jawab Lin Jianfeng tanpa menoleh.Ku Zhen menopang Gu Zhi melalui jalur sempit di sisi utara kota yang tidak banyak dilalui orang di pagi hari.Meridian dada kiri Gu Zhi masih terasa seperti bara yang menolak padam setiap kali ia menarik napas terlalu dalam. Ku Zhen sudah menutup titik rasa sakit itu dengan teknik Qi sementara yang bisa menekan gejalanya namun tidak menyembuhkan apapun. Perbaikan sebenarnya butuh tempat yang tenang, ramuan yang tepat, dan waktu yang tidak sedikit."Kita tidak bisa lewat Pasar Jalur Barat," kata Ku Zhen sambil matanya m







