LOGINRumah teh menjadi lebih hening. Tabib lokal ingin bicara, tetapi mulutnya terbuka sepersekian terlambat, tepat ketika beberapa saksi sudah lebih dulu paham bahwa orang itu baru saja diseret ke sudut yang tak bisa ia hindari.Rong Tian mengeluarkan gulungan jarum tipis dari lengan jubahnya. “Saya bisa membuka jalur ini. Yang sulit bukan membuka, tetapi menahan rasa sakit saat tenaga lama mulai bergerak lagi.”Pengawal tua itu menunduk ke tangannya sendiri. Ada sesuatu yang rapuh dan keras sekaligus di wajahnya, karena orang yang terlalu lama hidup dengan aib tubuh biasanya tak lagi takut pada sakit, melainkan takut berharap lalu gagal lagi.“Saya sudah hidup dua belas tahun dengan lengan seperti kayu,” katanya pelan. “Saya tak takut sedikit sakit.”Rong Tian mengangguk. Ia menanam jarum pertama di dekat bahu, kedua di sisi dalam siku, ketiga di pergelangan, dan keem
Pelayan tua yang kemarin melayani Rong Tian menaruh semangkuk bubur gandum, sepiring acar lobak asin, dan teko teh hangat di meja dekat jendela. Gerakannya lebih pelan dari biasanya, seolah ia takut satu bunyi cangkir yang terlalu keras akan membuka keributan sebelum matahari naik setengah tombak.“Silakan, Tuan,” katanya.“Terima kasih.”Pelayan tua itu menunduk sedikit, lalu melirik ke arah meja-meja yang sudah terisi. “Pagi ini banyak orang datang bukan untuk makan, Tuan. Mereka mau melihat apakah kabar semalam sungguh punya isi, atau cuma rumah teh ini yang terlalu pandai melahirkan gosip.”Rong Tian mengangkat mangkuk buburnya. “Rumah teh hidup dari lidah yang liar. Itu bukan kesalahan.”Pelayan tua itu tersenyum pahit. “Benar, tapi kadang meja dan jendela saya yang harus menanggung akibatnya.”
Rong Tian hanya mengangguk tipis. Pelayan tua itu lalu mundur, tetapi rumah teh belum sempat tenang ketika suara dari meja dekat pilar kanan terdengar cukup jelas untuk ditangkap setengah ruangan.“Kota Biramaki sekarang memang terlalu murah,” kata seorang murid berjubah kuning tua. “Pendatang asing yang bahkan tak membawa lambang sekte pun berani masuk rumah teh seperti orang yang punya tempat.”Beberapa kepala menoleh. Seorang pengawal tua dekat jendela mengangkat mata dari tehnya, dan dua pelayan muda di dekat dapur spontan memperkecil langkah mereka.Rong Tian duduk, menuang teh ke cangkirnya sendiri, lalu menjawab tanpa menoleh, “Kalau satu rumah teh saja sudah membuatmu sibuk menjaga wilayah, dada Saudara Muda pasti sempit sekali.”Tatapan dalam rumah teh langsung berubah. Baru sekarang orang-orang yang tak terlalu paham jianghu melihat sulaman matahari kecil
Garis tipis di permukaan Cermin Sutra Ruang Waktu memanjang seperti benang perak yang ditarik dari dasar sumur tua. Ia tak lagi mengarah ke Xing Chen Dalu atau Feng Wu Dalu, melainkan menembus gelap ke satu arah baru yang sudah lama menunggu jejak kaki Rong Tian menyentuhnya.Qingfeng berdiri dekat meja obat dengan mangkuk ramuan di tangan. Wang Fu menjaga sisi tangga, Xiao Li berhenti setengah turun dari loteng, dan bahkan Zhao Meiyan yang biasanya paling cepat melempar komentar justru menggenggam kipasnya rapat sambil menunggu satu nama keluar dari mulut pria berjubah putih itu.“Benua Longhai,” kata Rong Tian.Nama itu cukup untuk menutup semua pertanyaan kecil. Mereka yang berdiri di ruang bawah Balai Pengobatan Bulan Patah bukan orang bodoh, dan semua paham bahwa garis perak seperti itu takkan muncul hanya untuk mengantar seorang tabib berjalan-jalan.Wang Fu yang bicara lebih dulu. “Tuan berangkat sekarang.”“Ya.”“Anda tetap pergi sendiri.”“Ya.”Wang Fu mengangguk sekali. Tak
Qingfeng mengambil baskom air hangat lalu menaruhnya di depan Rong Tian. “Cuci tangan dulu.”Rong Tian menuruti. Air itu perlahan berubah kelabu ketika debu dua benua larut dari ujung jarinya.Wang Fu memperhatikan perubahan kecil itu. Ia tak butuh daftar panjang untuk tahu apa yang pulang bersama pria berjubah putih itu, sebab cukup dari cara lampu condong menjauh, cara jarum diam, dan cara seluruh ruangan menahan napas, ia paham satu hal.Kegagalan ini tidak diterima Rong Tian dengan tenang karena ia tak marah. Kegagalan ini diterima dengan tenang karena kemarahannya sudah menemukan bentuk yang jauh lebih padat.“Itu yang paling buruk,” gumam Zhao Meiyan tanpa sadar.Wu Laosan menoleh sedikit. “Apa.”“Kalau dia meledak, orang masih tahu apa yang harus ditakuti.” Zhao Meiyan memandang ke dalam balai. “Kal
Wang Fu yang akhirnya mengucapkannya dengan bahasa paling lurus. “Berarti dia memegang empat.”Tak seorang pun membantah. Pedang Emas Langit Barat, Pelindung Bahu Fajar Abadi, Sarung Tangan Api Nirwana, dan Sepatu Jejak Langit kini tak lagi berdiri sebagai ancaman terpisah.Empat artefak itu telah menyatu di satu tangan, dan justru karena nama Jubah Perak tak perlu dipukul keras-keras, dominasinya terasa lebih dingin. Seolah seluruh arc ini memang dibangun untuk membuat dunia fana akhirnya sadar bahwa musuh yang mereka kejar bukan lagi pemburu pusaka biasa, melainkan poros kekuasaan yang bergerak lebih cepat daripada rasa malu, lebih rapi daripada dendam, dan lebih tenang daripada semua orang yang mencoba membacanya.Di luar balai, perubahan arah sosial merayap dari rumah teh ke lorong kain, dari tong air umum ke gudang kecil, sampai ke atap tempat para pengintai murah biasa berteduh. Satu penarik iuran yang
"Lima ratus," kata Han Jisoo dari pojoknya dengan nada yang tidak mengandung emosi apapun, seperti seseorang yang menyebut angka dari daftar belanjaan.Dari baris belakang, seorang kultivator muda dengan jaket kulit laut berbisik kepada temannya. "Siapa pria rambut keperakan
Zaryan melepaskan serangannya.Ia melesat duluan dengan seluruh Qi Jiwa Muda level 7 puncaknya yang dilepaskan sekaligus ke satu titik, mengumpulkan semua tenaga yang tersisa dalam meridiannya menjadi satu gelombang yang padat dan cepat.Serangan itu buka
Biarawati Thunder berdiri di tepi bukaan di atas, menatap ke bawah ke kegelapan lorong itu selama beberapa detik. Wajahnya tidak menampilkan ragu namun juga tidak menampilkan keyakinan.Lalu ia turun tanpa meminta izin siapapun.Salim Khoraz yang berdiri di tepi dataran melihat Biarawati Thunder tu
Di cermin itu, terpantul wajah seorang remaja muda berusia sekitar sembilan belas tahun. Kulitnya halus, wajahnya tampan, matanya jernih. Tidak ada kerutan. Tidak ada tanda-tanda usia.Ini bukan wajah pria berusia lima ratus tahun lebih.Ini wajah pemuda yang baru saja memasuki dunia persilatan."A







