LOGINMelompat dari gedung adalah keputusan terakhir di tangan seorang pembunuh bayaran—Lin Ya Fei—setelah tidak punya jalan kembali dari kejaran polisi. Prediksinya sudah tepat. Dia pasti mati. Namun, suara wanita tua benar-benar mengganggu. “Jangan tutup mata, Permaisuri! Tarik napas, embuskan!” “Ayo sedikit lagi!” Lin Ya Fei mengerjap lebar, tapi kemudian ada rasa yang aneh dan baru di perutnya. “Ap—” Belum sempat dia selesai bicara, mulutnya secara otomatis mengejan. “Enggg.” Lin Ya Fei membeku. Dia melompat gedung, kenapa malah berubah melahirkan? “Sialan! Kapan aku hamil?”
View MoreMalam itu dingin sekaligus basah.
Lampu kota berpendar di atas aspal yang mengilap oleh sisa hujan. Suara sirene polisi meraung-raung memecah kesunyian, menggema di antara gedung-gedung tinggi. “Berhenti! Angkat tangan!” seru mereka. Seorang wanita berlari di permukaan atap gedung seperti bayangan yang hidup. Pakaian hitam ketat membungkus tubuh rampingnya. Gerakannya ringan, cepat, dan hampir tanpa suara. Sepasang matanya tajam seperti pisau. Dialah Guli Neya—pembunuh bayaran yang selama bertahun-tahun tak pernah tertangkap. Langkahnya melompat dari satu atap ke atap lain. Di belakangnya, beberapa polisi berusaha mengejar, tapi jelas tertinggal jauh. “Dia di sana!” “Jangan sampai lolos!” Lampu senter menyapu gelap malam. Guli Neya mendecak pelan. “Ck!” Terlambat! Ketika dia hendak melompat ke gedung berikutnya, langkahnya tiba-tiba berhenti. Di depannya hanya ada udara kosong. Ujung gedung, serta gedung berikutnya terlalu jauh untuk dilompati. Di belakangnya, suara langkah polisi semakin dekat. Mata Guli Neya menajam. “Brengsek! Setan mana yang berani menjebak ku?” Firasatnya sejak awal ternyata benar, dia menoleh sekilas ke belakang. Polisi sudah muncul di pintu atap. “Jangan bergerak!” “Angkat tangan!” Guli Neya sama sekali tidak takut. Lalu, karena dia tak rela mati menua di penjara, tanpa ragu sedikit pun dia melangkah mundur satu langkah, lalu— Melompat! Tubuhnya jatuh dari gedung tiga lantai itu seperti batu yang dilepaskan dari langit. Angin malam menampar wajahnya. Aneh. Bukannya panik, dia justru merasa tenang. Mata Guli Neya perlahan terpejam. Mungkin setelah mati, hidup akan terasa lebih mudah. Namun tiba-tiba— “Tarik napas!” Suara seorang wanita tua terdengar samar. “Cepat! Jangan berhenti bernapas!” Alis Guli Neya berkerut. 'Apa-apaan ini?' 'Sejak kapan malaikat maut mengajarkan tarik napas?' Kelopak matanya bergerak. Ketika dia membuka mata, langit malam sudah tidak ada. Dan yang terlihat justru atap kayu, ruangan redup, aroma obat-obatan menyengat, serta rasa sakit luar biasa di perutnya. “Ah—!” Teriakan spontan keluar dari mulutnya. Guli Neya terkejut. Dia berbaring di atas ranjang. Kakinya terbuka lebar. Di antara kedua kakinya, seorang wanita tua sedang berjongkok dengan tangan penuh darah. “Bagus! Tetap sadar!” kata wanita tua itu tegas, “tarik napas! Lalu mengejan!” Otak Guli Neya kosong. “Apa? Apa yang sedang terjadi?” Seorang gadis pelayan di samping ranjang memegang tangannya erat-erat. “Yang Mulia, bertahanlah!” katanya dengan mata merah, “bayinya hampir keluar!” 'Bayi?' Guli Neya refleks menatap perutnya. Perut itu besar. Dan saat itu juga, gelombang rasa sakit menghantamnya. “AAH!!” Rasa sakit itu belum pernah dia rasakan sepanjang hidupnya. Dia pernah ditembak, pernah ditusuk, pernah patah tulang. Namun, rasa sakit ini benar-benar berbeda. “Cepat! Tarik napas!” bentak wanita tua itu, “lalu dorong!” Guli Neya menggertakkan gigi. Dia adalah pembunuh bayaran. Dia tahu cara menembak, cara membunuh, cara melarikan diri, tetapi mengejan? “Dorong!” teriak wanita tua itu lagi. Pelayan di sampingnya menangis sambil menyemangati. “Yang Mulia! Sedikit lagi!” Sedikit lagi? Sedikit lagi apa? Sebelum Guli Neya sempat memahami situasinya— potongan-potongan ingatan tiba-tiba membanjiri kepalanya seperti pemutaran film dokumenter. Ada seorang gadis kecil bermarga Lin. Ibunya mati saat melahirkannya, ayahnya dingin karena menganggap dia sebab kematian ibunya, pernikahan politik, seorang pangeran bernama Han Xiao Se, intrik istana, pengkhianatan, fitnah, pengasingan di istana Timur yang dingin, permaisuri baru bernama Liao Shu Lan, dan racun kebencian yang terus mengincarnya. Semua kenangan itu bukan miliknya. Namun, terasa nyata. Nama seorang wanita menggema di kepalanya. LIN YA FEI—pemilik tubuh ini. Kemudian satu emosi terakhir muncul dari kedalaman ingatan itu; putus asa, sakit hati, dendam. Dan tepat pada saat itu— “Sekarang! Dorong!” Guli Neya menggertakkan gigi. “Kalau begitu—keluar saja sekalian!!” Dia mengejan sekuat tenaga. “AAAAH!!” Detik berikutnya tangisan bayi memecah ruangan. “Owaa!!” Wanita tua itu langsung mengangkat bayi kecil yang berlumuran darah. “Laki-laki!” serunya, “bayi laki-laki!” Pelayan di samping ranjang langsung menangis bahagia. “Yang Mulia! Anda berhasil!” Tubuh Guli Neya terasa seperti habis dihancurkan. Napasnya tersengal-sengal. Keringat membasahi wajah sekaligus lehernya. Namun, matanya menatap kosong ke langit-langit kamar. Perlahan dia menyadari satu hal. Dia tidak mati, tetapi berpindah ke tubuh seorang wanita bernama LIN YA FEI. Permaisuri pertama yang diasingkan. Dan bayi yang baru saja lahir itu adalah putranya. Sudut bibirnya bergerak perlahan. Senyum dingin seorang pembunuh muncul di wajah pucat itu. “Baiklah,” suaranya serak, “ternyata aku masih hidup.” Matanya berkilat tajam. “Kalau begitu, kita lihat saja, siapa yang akan menyesal telah membuang ku!” Waktu bergulir. Pada tabib yang membantunya melahirkan, Lin Ya Fei berkata, “Siapapun yang menanyakan bayiku, katakan kalau bayi itu mati sebelum dilahirkan.” Tabib mengangguk pelan. “Baik, Permaisuri.” Lin Ya Fei mengisyaratkan pelayannya—Wan Ning, kedipan singkat. Lalu, Wan Ning segera mengeluarkan kantong koin dari balik bajunya. Dia hendak mengambil beberapa saja. Namun— Lin Ya Fei menegaskan, “Berikan semuanya sebagai kompensasi!” Wan Ning terkejut, tabib jauh-jauh lebih terkejut! “Yang Mulia, kita—” Kalimat Wan Ning terpotong. “Jangan pikirkan yang lain. Ini adalah kompensasi yang harus diberikan padanya. Benar begitu, Tabib?” Tatapan Lin Ya Fei tajam, jauh berbeda dari dia yang biasanya selalu lembut. Tidak ada yang aneh dari kata-kata Lin Ya Fei, tetapi tabib dapat merasakan aura mencekam di setiap katanya. Membuat wanita tua itu tanpa sadar mengangguk, bahkan secepatnya menarik kantong koin di tangan Wan Ning. “Hamba bersumpah akan mengikuti instruksi Permaisuri!” sumpah tabib begitu meyakinkan. Lin Ya Fei menggerakkan kepala; memerintah Wan Ning mengantar keluar si tabib. Begitu tabib cukup jauh meninggalkan istana timur, seseorang dengan pakaian tertutup mencegahnya seraya menodongkan belati ke leher. “Katakan!” perintahnya, “bayi itu mati atau hidup!” Tabib gugup luar biasa, tetapi untungnya dia tidak salah menjawab, “Mati! Dia mati sebelum dilahirkan!” Seseorang itu menodongkan belatinya lebih dekat; nyaris menyentuh kulit. Tabib berkata cepat, “Aku bersumpah! Kalau tidak percaya silahkan lihat sendiri.” Belati perlahan ditarik. Tabib lolos dari kematian. Namun, pembuktian itu tidak perlu, karena pada saat yang sama .... “Huaaa, putraku! Putraku!” Lin Ya Fei sungguh-sungguh menangis. Wan Ning menatapnya kebingungan. “Hanya kamu yang ku punya di dunia ini, kenapa kamu mati sebelum lahir. Putraku, huaa.” Tangisan Lin Ya Fei menjadi-jadi. Wan Ning tidak tahu harus menenangkan atau tetap berdiam bagai patung. Hingga ketika Lin Ya Fei merasakan pergerakan menjauh, bahkan menghilang .... Tangisannya seketika mereda. Dan dia mengusap air matanya bak mengusap ingus. Mata-mata mengira putra Lin Ya Fei benar-benar mati! “Hamba pastikan kabar ini tidak salah, Yang Mulia!” “Bayi yang dilahirkan Permaisuri Lin telah meninggal. Wanita itu menangisinya seperti orang gila!” Tanpa satu pun orang luar tahu .... Guli Haoran tidak mati, melainkan tidur setelah kekenyangan.Lin Ya Fei terdiam.Punggungnya masih menempel pada sesuatu yang terasa hangat sekaligus empuk.Sesaat, seluruh tubuhnya menegang. Namun, wanita itu segera memejamkan mata.Tarikan napasnya diperlambat.Dia berusaha keras menenangkan detak jantung yang tiba-tiba berpacu tidak beraturan sambil membatin, 'Jangan panik.'Pikirnya, dia sedang mengenakan pakaian prajurit, wajahnya juga sudah dibuat sedikit berbeda.Tidak mungkin ada yang mengenalinya hanya dari belakang! Kemudian, ketika Lin Ya Fei baru hendak berbalik—“Yang lain berpatroli, kamu malah sembunyi di sini.” Yang di belakang akhirnya buka suara.Nada suara itu biasa saja; terdengar tenang. Namun, jantung wanita itu justru seolah langsung jatuh ke dasar perut.Dia tanpa sadar menelan ludah!Bukan karena ditemukan seseorang, tetapi karena dia tahu itu adalah suara Kaisar Han.'Sialan,' umpat Lin Ya Fei dalam hati.Beberapa saat wanita itu masih berdiri membelakanginya.Dalam diam, dia berpikir cepat. Apakah dia ketahuan? Apak
Huza Ergen langsung berbalik. Tanpa membuang waktu sedikit pun, dia menerobos keramaian arena rumah bordil. Langkahnya cepat, meskipun tubuhnya masih sempoyongan akibat arak. “Guli Neya!” teriaknya, nyaris tak terdengar diredam keramaian. Hanya saja, beberapa wanita Ling Long yang sedang duduk di sekitar meja segera menoleh. “Tuan?” “Cari siapa?” “Wanita yang tadi bersamamu?” Suara mereka dominan lemah lembut, tapi tidak satu pun pertanyaan itu dijawab. Huza Ergen terus berjalan. Tatapannya bergerak ke segala arah, menyisir setiap sudut ruangan. Dia berjalan ke dekat panggung, menyibak tirai, mencari di antara meja-meja, bahkan ke arah tangga yang mengarah ke lantai atas. Tidak ada. “Guli Neya!” Dia kembali memanggil. Seorang pelayan yang sedang membawa nampan segera menghampirinya. “Tuan, apa Anda sedang mencari seseorang?” “Wanita yang tadi bersamaku. Ke mana dia pergi?” Huza Ergen tak sabar ingin tahu jawabannya. Wanita itu berpikir sejenak. Lalu, menjawab, “Seperti
Lin Ya Fei masih menahan kekehan kecil. Sudut bibirnya terangkat, sementara tatapan centilnya sama sekali tidak berubah. “Aku bisa menggambar sketsa beliau.” Dia sengaja berhenti sejenak. Lalu, tubuhnya kembali sedikit mendekat kepada Huza Ergen, seolah hendak membisikkan sesuatu yang sangat rahasia. “Tapi ....” Jemari Lin Ya Fei terangkat, dengan ringan menyentuh dagunya sendiri, “bayarannya harus lebih mahal.” Huza Ergen yang sudah agak mabuk langsung mengangkat alis. “Masih meminta bayaran?” Lin Ya Fei terkekeh. “Tentu saja.” Dia memainkan ujung lengan bajunya dengan gerakan manja. “Informasi tentang orang biasa mungkin cukup dibayar satu keping emas.” Tatapannya perlahan berubah lebih menggoda. “Tapi informasi tentang Permaisuri Kekaisaran ....” Lin Ya Fei sengaja menggantung kalimatnya. “Sudah pasti tidak semurah itu.” Huza Ergen menyipitkan mata. “Lalu berapa?” Lin Ya Fei tidak langsung menjawab. Dia justru mengulurkan satu jari dan menggoyangkannya perlahan di depan
Di bawah kepemimpinan Jenderal bintang tiga Murong Jinghe, suasana di sekitar Istana Dingin berubah drastis.Ratusan prajurit Pasukan Sayap Kanan Kekaisaran bergerak cepat menuju lokasi.Tidak ada satu pun yang berani bersantai.Mereka membentuk formasi penjagaan berlapis, mengepung Istana Dingin dari segala arah.Bagian depan istana dijaga ketat oleh barisan prajurit bersenjata lengkap. Di sisi kanan dan kiri, beberapa kelompok pasukan ditempatkan dengan jarak tertentu agar tidak ada seorang pun yang dapat menyelinap masuk.Bahkan bagian belakang Istana Dingin pun tidak luput dari penjagaan.Di sana terbentang hutan bambu yang luas dan seolah tidak memiliki ujung.Batang-batang bambu menjulang tinggi, saling berhimpitan, sementara angin yang berembus membuat dedaunannya bergesekan dan menciptakan suara lirih yang terdengar seperti bisikan.Murong Jinghe berdiri tegak di antara para prajurit. Rambut kemerahannya bergerak perlahan tertiup angin. Tatapan tajam pria itu menyapu ke arah h
“HARUSNYA WANITA ITU SUDAH MATI DELAPAN TAHUN YANG LALU!” Ibu Suri Guo mengamuk. Plakat harimau emas, yang sekarang tidak ada fungsinya lagi—selain dijual untuk menghasilkan uang—wanita tua itu lempar ke sembarang arah. Permaisuri Liao mengusap-usap pundaknya penuh kelembutan. “Tenangkan diri an
Matahari tenggelam perlahan, Permaisuri Liao tiba di Paviliun Naga Langit. Dia datang-datang langsung saja membantu Kaisar Han Xiao Se menanggalkan jubah, yang memang akan dilepaskan Kaisar sendiri. Permaisuri Liao terbiasa melakukan hal seperti ini, alhasil hanya dilirik sekilas oleh Kaisar. Ju
Matahari hampir naik ke permukaan, Kaisar Han Xiao Se baru tiba di aula pertemuan. Pejabat yang berbaris rapi di sana tidak pernah pergi sejak awal! Bukan hanya karena mereka setia menunggu kedatangan Kaisar Han Xiao Se meski kaki hampir mati rasa sekalipun, tapi juga karena melangkah keluar sebe
Di kamar masa kecil Kaisar Han Xiao Se. Pintu kayu dibuka perlahan.Bibi Su berdiri di ambang, menunduk hormat. “Silakan, Yang Mulia.”Kaisar melangkah masuk tanpa banyak bicara.Bibi Su kemudian menarik pintu. Dan sebelum benar-benar menutup, dia berkata lembut, “Selamat beristirahat, Yang Mulia.






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews