FAZER LOGINAldo mengangkat wajah. Matanya bertemu dengan Annasya dan untuk sesaat, ada sesuatu yang terlihat di sana. Bukan marah, bukan kesal, bukan kebencian. Tapi... kesedihan. Kesedihan yang sangat dalam.“Annasya,” sapa Aldo, suaranya parau, seperti orang yang baru saja bangun tidur atau orang yang sudah lama tidak bicara.Aldo mendekat, tapi Annasya mundur selangkah. Aldo berhenti. Matanya sedikit menyipit — terluka — tapi dia tidak maju lagi.“Chika mana?” tanya Aldo. Bukan basa-basi. Bukan pembuka percakapan tentang cuaca atau kabar. Langsung ke inti. Langsung pada anaknya.Annasya menggenggam erat tali tas selempangnya. Jari-jarinya yang dingin meremas kulit tas itu hampir sampai memutih. “Chika masih di rumah Bu RT. Aku belum jemput dia. Rencananya aku mau masak makan malam dulu, baru jemput dia.”Aldo mengangguk. Matanya menatap ke arah rumah Bu RT di ujung gang — rumah dengan cat hijau pucat ya
“Aku perlu waktu sendirian. Tanpa kamu. Tanpa Aldo. Tanpa tekanan dari siapa pun. Aku perlu berpikir jernih, dan aku tidak bisa berpikir jernih kalau kamu terus datang ke sini, mengantar Chika jalan-jalan, dan membuat Chika semakin dekat denganmu.”Raka terdiam. Ada sedikit kekecewaan di matanya, tapi dia mengangguk.“Aku mengerti.”“Ini bukan karena aku tidak suka dengan kehadiranmu,” lanjut Annasya cepat, seolah takut Raka salah paham. “Ini karena aku perlu ... jujur pada diriku sendiri. Tanpa pengaruh dari siapa pun. Termasuk kamu, dan Chika.”Raka tersenyum tipis. “Aku tahu. Aku akan menjaga jarak. Dua minggu. Tapi setelah itu ... aku datang lagi.Aku jJanji.”Annasya mengangguk.Raka berjalan ke pintu. Di ambang pintu, dia berhenti. Tidak menoleh, hanya membelakangi Annasya.“Annasya.”“Iya?”“Apa pun jawabanmu nanti ... aku aka
Sore hari saat Annasya tiba di kontrakan, langit mulai berwarna jingga kemerahan. Matahari di ufuk barat perlahan tenggelam, meninggalkan sisa-sisa cahaya yang hangat di balik pepohonan. Udara mulai terasa sejuk, angin sore membawa aroma tanah basah dan dedaunan kering dari selokan di belakang rumah. Burung-burung mulai pulang ke sarangnya, bertengger di dahan pohon rindang di depan gang, sesekali berkicau pelan seolah mengucapkan selamat tinggal pada hari yang berlalu.Tapi di sela-sela kesibukannya, pikiran Annasya tidak pernah benar-benar tenang.Dua hari. Sudah dua hari sejak Raka bertanya di mobil. Sudah dua hari sejak Annasya mengatakan bahwa dia belum yakin. Sudah dua hari sejak Chika dengan polosnya memilih Raka daripada ayah kandungnya sendiri.Dan sekarang, Raka akan bertanya lagi.Annasya bisa merasakannya. Ada sesuatu kegugupan yang tidak bisa dia sembunyikan, kegelisahan yang membuat jemarinya dingin meskipun cuaca tidak sedingin itu. Sejak R
Dia teringat empat bulan terakhir. Sejak perceraian, Aldo memang jarang datang untuk bertemu Chika. Kadang seminggu sekali, kadang dua minggu. Itu pun hanya sebentar — setengah jam, paling lama satu jam. Aldo akan menggendong Chika, menanyakan kabarnya, lalu pergi lagi.Tidak pernah lebih. Tidak pernah mengajak Chika bermain seharian seperti Raka. Tidak pernah membawanya ke mall atau ke taman seperti yang dilakukan Raka akhir-akhir ini.Dan Chika yang ceria, Chika yang selalu tersenyum, Chika yang jarang menangis, mungkin diam-diam merasakan kehilangan itu.Annasya menunduk. Jari-jarinya yang masih memainkan ujung jilbab kini berhenti.“Ibu sudah berusaha, Chika,” bisiknya lirih. “Ibu sudah berusaha menjadi ibu sekaligus ayah untukmu. Tapi Ibu tahu, Ibu tidak akan pernah bisa menggantikan ayah.”Di dalam hatinya, Annasya mengakui sesuatu yang selama ini tidak pernah dia ucapkan dengan lantang bahwa Chika butuh sosok ay
Annasya penasaran, tetapi ia tidak bisa keluar. Dia tetap di dalam toko, melanjutkan pekerjaannya. Merapikan rak, melayani pembeli, sesekali membantu Bu Dewi menghitung kembalian.Sampai akhirnya jam istirahat tiba.Bu Dewi menepuk pundak Annasya. “Silakan istirahat dulu, Nas. Kamu sudah bekerja keras sejak pagi.”“Terima kasih, Bu."Annasya keluar dari toko. Di halaman depan, Raka masih duduk di kursi plastik bersama Chika. Chika duduk di pangkuan Raka, asyik menceritakan sesuatu tentang boneka kelincinya. Raka mendengarkan dengan sabar, kadang mengangguk, kadang bertanya, kadang tertawa kecil mendengar cerita imajinasi Chika yang tidak masuk akal tapi menggemaskan.Chika melihat Annasya keluar, langsung meronta ingin turun dari pangkuan Raka. “Ibu! Ibu! Chika mau cerita!”Annasya mendekat, mengambil Chika dari Raka, lalu memangku putrinya di kursi sebelah.“Cerita apa, Sayang?”&ldquo
Chika berhenti berlari. Dia menatap Raka dengan mata bulatnya yang hitam dan penuh kejujuran. Tanpa kebohongan, tanpa keraguan.“Mau!”“Kenapa?”“Soalnya Om Raka sayang Chika. Om Raka sayang Ibu juga. Om Raka nggak pergi kayak Ayah.”Raka tidak bisa menahan air mata yang mulai menggenang di pelupuk matanya. Dia cepat-cepat menyeka mata dengan punggung tangan, menutupi, berpura-pura ada debu masuk.“Terima kasih, Chika,” bisiknya. “Om juga sayang Chika. Sayang banget.”“Chika tahu, Om! Soalnya Om Raka matanya basah kayak Chika kalau dikasih es krim!”Raka tertawa.“Iya, Chika. Om Raka matanya basah karena bahagia.”Matahari pagi semakin tinggi. Sinar matahari mulai masuk ke halaman depan toko, menerangi wajah Raka yang masih tersenyum, dan wajah Chika yang tertawa riang.Di dalam toko, Annasya melayani pembeli pertama pagi itu. Seorang ibu muda dengan dua orang anak yang masih balita. Annasya tersenyum ramah, menawarkan gamis batik dengan harga terjangkau, membantu si ibu memilih warna







