Mag-log inBLURB Zhou Yiran, putri bungsu pengusaha kaya, diculik sekelompok orang tidak dikenal. Zhou Yiran berhasil melarikan diri dan bertemu dengan Dimas Manggala Bajradaka, direktur utama PB. Zhou Yiran meminta perlindungan pada Dimas, yang segera membawanya pergi. Namun, para penculik terus mengejar. Hingga Dimas terpaksa mengarahkan mobilnya ke Kota Guangzhou. Zhou Yiran tidak ingin kembali ke kediaman keluarganya yang tengah mengalami konflik, hingga dia meminta Dimas untuk membawanya pergi, untuk bersembunyi. Dimas yang merasa terdesak, akhirnya mengajak Zhou Yiran ke Indonesia. Namun, hal itu justru menimbulkan masalah baru yang membuat hidupnya kacau. Zhou Yiran berusaha keras beradaptasi dengan kehidupan barunya di Jakarta. Penerimaan hangat dari keluarga dan para sahabat Dimas, menjadikan Zhou Yiran merasa dihargai. Akan tetapi, banyak orang di Kota Guangzhou yang mencari Zhou Yiran. Termasuk calon tunangannya, Xiao Longwei, yang berhasil mengetahui keberadaan perempuan itu, dan menyusulnya ke Jakarta. Perdebatan antara Xiao Longwei dan Dimas, menjadikan keduanya terlibat konflik yang lebih dalam dan berkepanjangan. Hingga menyebabkan peperangan tidak terhindarkan. *** Bodyguard The Series 12 Baca juga banyak buku Emak OY di Goodnovel. Urutan Bodyguard The Series : 1. My Handsome Bodyguard. Tamat 2. Penjaga Hati. Tamat 3. Tawanan Cinta Nona CEO. Tamat 4. Pabeulit Cinta Akang. Tamat 5. My Lovely Bodyguard. Tamat di Goodnovel 6. Jaring Cinta Sang Bodyguard. Tamat di Goodnovel 7. Terjerat Daun Muda. Tamat di Goodnovel 8. Cutie Bodyguard. Tamat di Goodnovel 9. Running Away. Tamat 10. Sang Pewaris. Tamat 11. Ajudan Selembe. Tamat di Goodnovel. Judul BTS lainnya ada di pf sebelah. Bisa cek dan follow akun I-G Emak OY : olivia_yoyet Untuk mengetahui lokasi buku-buku BTS lainnya, serta banyak buku buatan Emak, yang tergabung di PG The Series, PC The Series, PCD The Series, Jurig The Series, dan Klan The Series.
view more01
Seorang perempuan bergaun hijau muda, keluar dari lift di satu bangunan puluhan lantai. Dia lari secepat mungkin keluar lobi, dan menuruni tangga teras dengan tergesa-gesa.
Zhou Yiran memerhatikan sekeliling. Dia berputar ke kanan dan merentangkan tangan, untuk menghadang seunit mobil SUV biru tua yang seketika berhenti.
"Jalan!" titah Zhou Yiran, sesaat setelah memasuki kendaraan itu.
"Maaf, Nona. Aku bukan sopir taksi," cetus Dimas Manggala Bajradaka, sembari memandangi penumpang gelapnya.
"Aku bayar kamu 500 Yuan. Cepat, jalan!" seru Zhou Yiran.
"Tidak bisa. Aku ...."
Sekelompok pria keluar dari pintu kaca. Zhou Yiran membulatkan mata, sedangkan Dimas mengernyitkan kening. Zhou Yiran menoleh ke kanan dan menunjuk orang-orang itu yang tengah celingukan.
"Mereka penculik!" jerit Zhou Yiran. "Aku kabur, dan sekarang kita harus pergi!" desaknya.
Dimas tertegun sesaat. Lalu dia menekan pedal gas, kala para pria itu lari menuju kendaraan. Dimas memacu mobilnya keluar dari area parkir gedung apartemen itu, dan bergabung dengan banyak kendaraan lainnya di jalan raya.
Dimas mengemudi sambil sekali-sekali melirik ke cermin kecil di atas. Dia mengumpat kala melihat dua unit mobil sedan hitam tengah mengekori kendaraannya.
Dimas menambah kecepatan mobilnya sambil mengingat-ingat jalan pintas, yang pernah ditunjukkan Sha Jun Hui, sahabatnya. Dimas membelokkan kemudi ke kiri dan memasuki jalan yang lebih kecil.
Mengandalkan intuisi, Dimas terus melajukan kendaraan hingga tiba di ujung pertigaan. Dia memasuki lahan parkir di sisi kanan, lalu menghentikan mobil di belakang beberapa mobil box dan truk. Dimas meraih ponsel dari saku jaket guna menghubungi Sha Jun Hui.
Zhou Yiran mengamati sang sopir yang tengah berbincang dengan seseorang, menggunakan bahasa yang tidak dipahaminya. Perempuan berkulit putih itu mengalihkan pandangan ke kiri, ketika mendengar deru mesin kendaraan.
Zhou Yiran menahan napas, kala melihat kelebatan kedua mobil sedan yang tadi mengejar. Zhou Yiran menghela napas lega, sesaat setelah kedua mobil itu menghilang.
Dimas menghitung dalam hati, sebelum kembali menekan pedal gas. Mobil keluar area parkir dan dibelokkan ke kiri. Kemudian melaju di jalan yang tadi dilewati.
Setibanya di jalan raya utama, Dimas memutar mobil ke arah yang berlawanan dan melanjutkan perjalanan.
"Kamu mau diantar ke mana?" tanya Dimas.
Zhou Yiran berpikir sejenak, sebelum menyahut, "Aku bukan warga kota ini."
"Asalmu dari mana?"
"Guangzhou."
"Okay, kita ke sana."
"Bisakah kita istirahat sebentar? Aku lelah dan lapar."
Dimas melirik sekilas. "Hmm, ya."
Tidak berselang lama, keduanya telah berada di satu kafe yang dalam kondisi lengang. Dimas tertegun, karena Zhou Yiran memesan banyak makanan dan minuman.
Dimas mengalihkan perhatian saat ponselnya berbunyi, dan dia segera mengangkat panggilan dari ketua pasukan pengawal PBK, cabang China.
"Posisi, di mana, Bang?" tanya Sha Jun Hui, dalam bahasa Indonesia yang cukup lancar.
"Kafe A. Sebelum perempatan. Seberangnya, JFD Tower," terang Dimas.
"Oke, aku segera merapat."
"Bawakan semua barangku."
"Siap."
Seusai memutus sambungan telepon, Dimas mengamati perempuan berambut panjang di kursi seberang. Dia membatin saat melihat luka goresan di punggung tangan, dan beberapa lebam yang menghiasi tangan serta leher perempuan itu.
Pelayan datang dan menyajikan hidangan. Setelah dia pergi, kedua orang di meja itu bersantap tanpa berbincang. Dimas beberapa kali mengawasi area luar kafe, karena dia khawatir para penculik itu muncul kembali.
"Siapa namamu?" tanya Dimas.
"Zhou Yiran," jawab perempuan berkulit putih itu. "Kamu, siapa?" desaknya.
"Dimas."
"Namamu aneh."
"Aku bukan orang China. Aku dari Indonesia."
Zhou Yiran mengerjapkan matanya. "Bali?"
"Indonesia bukan hanya Bali. Negaraku lebih luas."
Zhou Yiran mengangguk paham. "Kamu, bagaimana bisa ada di sini?"
"Aku sedang kerja. Tadi, aku sebenarnya ingin menemui manajer apartemen, tapi karena kamu menghadang mobilku dan memaksa untuk pergi, tugasku batal."
Zhou Yiran meringis. "Maaf."
"Ya, tidak apa-apa." Dimas memerhatikan perempuan yang tengah merapikan rambutnya dengan jemari. "Selain luka gores dan memar itu, apa kamu punya luka lain?"
"Sepertinya tidak. Tapi, kakiku sakit."
"Kena pukul?"
"Bukan. Aku menendangi orang yang mau ... ehm ... memperkosaku."
Dimas tertegun. "Apa dia ada di antara orang yang tadi mengejar kita?"
Zhou Yiran menggeleng. "Dia pingsan, setelah aku menendangi selangkangannya."
Dimas terdiam. Dia spontan memegangi area bawah tubuh yang tiba-tiba nyeri. Dimas bisa membayangkan penderitaan korban tendangan Zhou Yiran, yang pastinya sangat kesakitan.
Seunit mobil SUV hitam berhenti di tempat parkir. Kelima penumpangnya turun dan bergegas memasuki kafe. Mereka mendatangi Dimas, lalu memberi hormat yang dibalas pria itu dengan anggukan.
"Dia siapa, Bang?" tanya Sha Jun Hui, setelah melirik perempuan berparas cantik.
"Dia ngaku diculik. Dia berhasil kabur dan nyegat mobilku, lalu maksa masuk," jelas Dimas. "Aku terpaksa membawanya pergi, karena para penculik itu ngejar," sambungnya.
"Lalu, bagaimana?"
"Aku mau mengantarnya ke Guangzhou. Dari sana, aku langsung ke Shanghai."
"Kami antar kalian."
"Barangku, di mana?"
"Mobilku. Kursi tengah."
Dimas mengangguk, kemudian dia menoleh ke kanan. "Ayo, Nona. Kita harus berangkat sekarang," ajaknya.
Zhou Yiran berdiri sambil menggapai tas kecilnya dari meja. Gadis itu mengikuti langkah Dimas menuju tempat parkir. Namun, belum sempat mereka mencapai mobil, dua unit mobil sedan mendekat, lalu berhenti.
Kedelapan pria bertampang sangar keluar dari kedua mobil itu. Mereka menatap tajam pada kelima lelaki berseragam biru tua, yang membentuk perisai guna melindungi Dimas dan Zhou Yiran.
"Berikan gadis itu pada kami!" pekik pria berjas hitam yang berdiri paling depan.
"Tidak akan!" tegas Dimas.
Pria yang menjadi ketua kelompok lawan itu berdecih, kemudian dia memerintahkan ketujuh orang lainnya untuk menyerang. Sha Jun Hui dan keempat rekannya spontan melawan, sedangkan Dimas meminta Zhou Yiran guna memasuki mobil.
Dimas berpindah ke mobil operasional PBK. Dia membuka pintu tengah dan mengambil 2 tas travel. Dimas memutar tubuh dan segera jalan ke mobilnya.
Ming Harold, ketua kelompok penculik, menyerang Dimas yang refleks menghindar. Dimas meletakkan kedua tas ke jalan, lalu menyongsong serangan selanjutnya dengan semangat.
Keduanya bertarung dengan jurus wushu yang sama selama beberapa saat. Dimas yang ingin segera menyudahi perkelahian, akhirnya mengubah jurusnya dengan silat.
Ming Harold tampak kebingungan. Dia tidak mengenal jurus yang digunakan Dimas. Hingga beberapa kali terkena pukulan dan tendangan pria bertubuh jangkung itu.
Dimas menyerang lawannya dengan gerakan cepat yang tidak bisa ditangkis. Pada satu kesempatan, Dimas berhasil menghantamkan tinjuan ke rahang Ming Harold, yang seketika terdorong ke belakang.
Dimas maju dan melakukan tendangan putar, yang menyebabkan Ming Harold terlempar ke jalan. Dimas berteriak memanggil Sha Jun Hui untuk mengabarkan jika dirinya akan pergi. Kemudian Dimas menyambar kedua tas dari jalan dan bergegas menaiki mobil.
Dimas memacu kendaraannya dengan kecepatan tinggi. Supaya bisa segera tiba di Guangzhou. Namun, tepat sebelum memasuki jalur lintas antar kota, seunit mobil van marun menyerempet mobil Dimas, dan memaksa pria itu untuk menghentikan kendaraan.
05Seorang pria berkemeja putih, merunduk sedikit untuk memberi hormat pada Zhou Yongrui dan Xue Quan. Marko menyalami kedua orang tersebut, lalu mengajak mereka ke ujung kiri, di mana seunit mobil sedan hitam telah menunggu. Setelah ketiganya memasuki kendaraan, sang sopir segera memacu kendaraan ke luar area terminal kedatangan luar negeri, di Bandar Udara Internasional Soekarno-Hatta. Sepanjang perjalanan itu, Marko menerangkan hasil penyelidikannya tentang sosok Dimas. Immanuel turut menambahkan informasi, sembari terus mengemudi. Setibanya di depan lobi hotel, Immanuel menghentikan mobil dan ketiga penumpangnya turun. Marko menyeret koper sang bos sembari melangkah memasuki lobi. Sementara Immanuel memindahkan mobil ke tempat parkir. Tidak berselang lama ketiga pria itu telah berada di salah satu President Suite hotel tersebut. Immanuel menyusul bersama seorang petugas hotel, yang hendak menyajikan pesanan para tamu. Seusai pegawai hotel itu keluar, Marko dan Immanuel kembali
04Zhou Yiran memerhatikan pasangan suami istri di kursi seberang, yang tengah berbincang dengan Dimas. Meskipun tidak memahami bahasa Indonesia, tetapi Zhou Yiran yakin jika mereka tengah membicarakan dirinya. Zhou Yiran menggigit bibir bawah kala Haikal Jabbar mengamatinya. Aura berkuasa yang keluar dari pria bertubuh tinggi besar itu, membuat Zhou Yiran sedikit terintimidasi. Perempuan berbaju abu-abu tersebut membuka tas-nya dan mengeluarkan pasport serta kartu identitas. Zhou Yiran menyerahkan kedua benda itu pada Haikal yang segera mencatat keterangan identitas sang tamu di buku tebal. "Nona, aku harus memanggilmu apa?" tanya Lula Fawaida, istri Haikal, dengan menggunakan bahasa Inggris. "Panggil aku, Yiran," jawab Zhou Yiran dalam bahasa serupa."Boleh aku tahu, apa profesimu?" "Desainer perhiasan." Lula membulatkan matanya. "Kamu berarti bisa melukis?" "Tidak terlalu pandai, Nyonya. Hanya bisa." "Jangan panggil Nyonya, Kakak saja." "Ka-kak. Okay." "Aku dan anak-anak
03Zhou Yiran memerhatikan sekeliling ruang tamu luas bernuansa abu-abu muda, di kediaman atasan Dimas. Dia menyukai tempat itu yang terasa nyaman, sekaligus hangat. Celotehan Zayd Yaqzan Adhitama, putra ketiga Wirya, yang tengah berbincang dengan mamanya, menyebabkan Zhou Yiran tersenyum. Gadis berjaket putih itu terkekeh, kala Zayd mengajaknya bercakap-cakap dengan bahasa Mandarin yang terpatah-patah. Perhatian Zhou Yiran teralihkan pada kedua orang yang tengah memasuki rumah, sambil membawa helm. Zhou Yiran mengamati saat seorang laki-laki muda menyalami Liu Yuwen Vanetta Zeline dengan takzim. Demikian pula yang dilakukan seorang bocah perempuan pada sang mama. "Yiran, perkenalkan, ini anak-anakku," tukas Vanetta. "Yang pertama, Bayazid. Kedua, Marwa," lanjutnya."Salam kenal," sapa kedua bersaudara itu menggunakan bahasa Mandarin."Salam kenal, Adik-adik," jawab Zhou Yiran. "Berapa usia kalian?" tanyanya. "Aku, 14 tahun. Marwa, 10 tahun," jelas Bayazid. "Usia Bibi, berapa?" de
02Dimas memaksa otaknya berpikir cepat, sebelum mengambil tindakan nekat. Dia memundurkan mobil, lalu melaju dan menabrak belakang mobil van. Zhou Yiran menjerit saat benturan keras itu terjadi. Dia kaget saat Dimas menekan kepalanya agar merunduk. Belum sempat Zhou Yiran bertanya, terdengar bunyi letusan senapan dari samping kiri dan menghantam kaca pintu tengah. Zhou Yiran kembali memekik ketika beberapa tembakan menerpa badan mobil. Sementara Dimas sibuk mengarahkan kemudi sambil terus melajukan kendaraan menjauhi area itu. "Nona, telepon Sha Guan Lin," pinta Dimas sembari memberikan ponselnya. "Tekan angka 6. Itu akan langsung tertuju ke nomornya," lanjutnya. Zhou mengambil ponsel itu dan melakukan permintaan sopir. "Aku harus bilang apa?" tanyanya sambil menegakkan tubuh. "Jelaskan posisi kita." Dimas melirik cermin atas. "Bilang juga, kita dikuntit mobil van marun, yang tadi menembaki mobil," lanjutnya. Terdengar suara sapaan seorang pria dari seberang telepon. Zhou Yiran






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.