LOGINKarena emosi sesaat, talak tiga melayang dalam satu malam. Bukan karena perselingkuhan, hanya karena kata 'bosan' yang keluar dari mulut laki-laki yang dulu berjanji menjaganya sehidup semati. Annasya memilih merawat anaknya sendirian. Sampai seorang laki-laki yang diremehkan dunia datang, melamarnya dan berkata, "Aku ingin menjagamu." Lalu, bagaimana cara Annasya percaya pada laki-laki lagi, ketika dua orang yang pernah dia percaya justru bersekongkol di belakangnya?
View More“Aku bosan, Annasya.”
Suara Aldo menggema di ruang tamu rumah mereka. Rumah sederhana dengan cat krem yang mulai mengelupas di sudut-sudutnya. Rumah yang dulu Annasya rawat dengan penuh cinta—mengelap lantai setiap pagi, menata bunga plastik di vas, memastikan tirai selalu bersih meski hanya dicuci dengan tangan karena mesin cuci rusak dan Aldo belum juga memperbaikinya.
Annasya berhenti menggendong Chika, anak perempuan mereka yang baru genap dua tahun. Tangannya membeku di tengah usapan lembut di rambut keriting putri kecilnya. Chika sedang tidur di pangkuannya, pipi tembamnya merapat ke dada ibunya, napas kecilnya teratur dan damai.
‘Tidak,’ pikir Annasya. ‘Aku salah dengar.’
“Apa maksud kamu, Mas?” Suaranya bergetar. Dia tidak bisa menyembunyikannya.
Aldo tidak menjawab. Dia justru berjalan ke meja kecil di samping sofa. Meja kayu jati yang dulu mereka beli berdua saat bulan madu ke Surabaya. Aldo membuka laci kecil di bawah meja—tempat dia menyimpan dokumen penting.
Annasya melihat jemari suaminya mengambil sesuatu.
Cincin kawin.
Aldo melepaskan cincin kawinnya dari jari manis kiri dengan gerakan lambat. Cincin itu diletakkannya di atas meja kayu jati. Bunyi logam mengenai kayu terdengar nyaring di ruang tamu yang sempit.
“Hari ini aku talak kamu. Talak tiga. Sekarang kamu bukan istriku lagi.”
Ruangan terasa berputar.
Annasya menatap Aldo. Laki-laki yang dulu melamarnya dengan penuh hormat di hadapan mendiang kedua orang tuanya. Laki-laki yang berjanji akan melindunginya seumur hidup. Laki-laki yang membuatnya berani meninggalkan karir sebagai sarjana psikologi—lulusan cumlaude—demi menjadi ibu rumah tangga karena dia bilang, “Cukup aku yang cari nafkah, kamu fokus mengurus anak dan rumah. Aku janji tidak akan pernah menelantarkanmu.”
‘Ternyata janji laki-laki hanya setebal embun pagi. Saat matahari terbit, dia menguap dan lenyap,’ batin Annasya.
Tiga kali talak diucapkan dalam satu ucapan. Lima detik yang menghancurkan empat tahun pernikahan mereka.
Empat tahun. Dua puluh satu ribu enam puluh menit. Jutaan detik kebersamaan. Dan semuanya sirna dalam tiga ucapan pendek yang keluar dari mulut laki-laki yang dulu mengaku mencintainya.
Annasya tidak menangis saat itu. Dia hanya bertanya-tanya. Apa dosaku begitu besar sehingga Allah izinkan laki-laki ini menghancurkanku tanpa jeda?
‘Apa salahku? Apa kekuranganku? Apa karena aku hanya di rumah? Apa karena masakanku tidak enak? Apa karena aku terlalu sibuk mengurus Chika sampai lupa menanyakan kabarnya dan melayaninya setiap hari?’
Seribu pertanyaan. Tidak ada jawaban.
Diam-diam, Annasya menarik napas panjang. Dadanya terasa sesak seperti dihimpit ribuan batu. Tapi dia tidak boleh pingsan. Dia tidak boleh roboh. Chika masih di pangkuannya. Chika yang polos tidak mengerti apa-apa. Chika yang masih tidur nyenyak tanpa tahu bahwa ayahnya baru saja menghancurkan keluarganya.
Hanya satu detik Annasya menutup mata. Satu detik untuk berdoa kepada Allah. “Ya Rabb, berikan aku kekuatan.”
Lalu dia membuka mata. Dan menegakkan punggungnya.
“Chika,” panggilnya dengan suara yang anehnya tenang. Jarinya membelai rambut keriting putri kecilnya dengan lembut. “Sayang, bangun sebentar ya. Ibu ajak jalan-jalan.”
Chika menggeliat kecil. Matanya yang bulat dan hitam perlahan terbuka. “Jalan-jalan? Chika mau!”
Annasya tersenyum. Bukan senyum bahagia. Senyum yang dia pelajari dari ibunya dulu saat ayahnya meninggal dan ibunya harus membesarkan tiga anak sendirian.
Aldo masih berdiri di ruang tamu. Cincin kawinnya sudah tergeletak di atas meja seperti benda mati yang tidak berharga. Dia menatap Annasya dengan ekspresi tidak percaya.
“Kamu ... tidak mau marah?” tanya Aldo setengah berbisik. Matanya menyipit, mencari-cari kemarahan di wajah Annasya. Mencari-cari air mata. Mencari-cari tangisan histeris yang dia duga akan terjadi.
Annasya tidak menjawab. Dia dengan hati-hati menurunkan Chika ke lantai.
“Chika, main sebentar sama boneka kelincinya, ya. Ibu mau beres-beres.”
“Beres-beres?” Chika mengulang dengan cadelnya yang lucu.
“Iya, sayang. Ibu mau beres-beres.”
Chika mengangguk kecil lalu berlari menuju kamar. Meninggalkan Annasya dan Aldo di ruang tamu yang kini terasa seperti medan perang tanpa darah.
Annasya berjalan menuju kamar tidur. Aldo mengikutinya dari belakang.
“Annasya.”
Dia membuka lemari. Matanya menelusuri pakaian-pakaian yang tergantung rapi. Gaun-gaun murah yang dia beli di pasar. Baju-baju rumah yang sudah mulai lusuh karena dicuci berkali-kali. Tidak ada pakaian mahal. Tidak ada tas branded. Semua sederhana. Tapi semuanya dirawat dengan baik.
Dia mengambil satu koper kecil—koper tua warna biru navy yang sudah mulai pudar, koper yang sama dia bawa saat pertama kali pindah ke rumah ini empat tahun lalu sebagai pengantin baru.
“Kamu mau ke mana?” tanya Aldo dari balik pintu kamar.
Annasya tidak menjawab. Dia mulai memasukkan pakaian Chika. Gaun-gaun mungil warna pink dan kuning. Baju tidur bermotif kelinci. Dua pasang sepatu kecil—sandal karet untuk di rumah dan sepatu kanvas untuk jalan-jalan. Boneka kelinci kesayangan Chika. Buku mewarnai. Krayon.
“Annasya, kamu dengar aku?”
Suara Aldo mulai meninggi.
Masih tanpa menjawab, Annasya membuka laci tempatnya menyimpan pakaiannya sendiri. Jeans yang sudah mulai robek di lutut. Kaus oblong polos warna hitam dan putih. Satu baju batik untuk acara formal. Jilbab-jilbab yang sudah mulai kusam.
Semuanya masuk ke dalam koper biru navy itu.
“Annasya!”
Aldo memegang tangannya kuat-kuat.
Akhirnya Annasya menatap suaminya. Atau mantan suaminya sekarang? Dia tidak tahu harus menyebut apa lagi.
“Kamu tidak mau bertengkar? Tidak mau menangis?” Aldo bertanya. Ada sesuatu di matanya. Bukan kemarahan. Bukan kebencian. Tapi ... keheranan. Seolah dia tidak percaya perempuan yang dulu menangis saat melihat anak ayam mati di halaman rumah, sekarang tidak meneteskan air mata saat diceraikan.
Annasya menatap tangan Aldo yang menggenggam pergelangannya. Jari-jari Aldo yang dulu gemetar saat memasangkan cincin kawin di jarinya. Sekarang jari yang sama menggenggamnya dengan keras, seperti takut dia pergi—tapi bukankah Aldo sendiri yang mengusirnya?
Annasya melepaskan genggaman Aldo dengan lembut.
“Apa gunanya menangis, Mas?” tanya Annasya pelan. Lembut. Seperti angin sore. “Air mataku tidak akan mengembalikan cincin kawin ke jari manismu.”
Aldo terdiam.
Annasya melanjutkan memasukkan baju ke koper. Sekarang giliran perlengkapan mandi. Sampo Chika yang wangi stroberi. Sabun muka Annasya yang murah meriah. Sikat gigi dua buah—yang besar dan yang kecil.“Kamu bilang kamu bosan,” kata Annasya sambil melipat handuk kecil Chika. “Baik. Aku tidak akan memaksa laki-laki yang sudah bosan padaku untuk tetap bersamaku.”
Dia berhenti melipat. Menatap handuk mungul bergambar Doraemon itu beberapa detik. Handuk itu hadiah dari Aldo saat Chika baru lahir.
“Tapi satu hal yang perlu kamu tahu, Mas,” lanjut Annasya tanpa menoleh. “Aku bukan perempuan yang suka mengemis. Bukan juga perempuan yang suka meratapi nasib. Aku sarjana. Aku cumlaude. Aku memilih jadi ibu rumah tangga karena aku mencintaimu dan ingin mengurus anakku sendiri. Bukan karena aku tidak punya pilihan.”
Dia menutup kopernya. “Dan sekarang, karena kamu membuang pilihanku untuk menjadi istrimu, aku akan mengambil pilihan lain.”
Annasya berdiri. Koper biru navy itu dia letakkan di samping pintu kamar. Lalu dia berjalan ke ruang tamu, memungut cincin kawin yang masih tergeletak di atas meja kayu.
Cincin itu dia genggam sebentar. Merasakan dingin logam yang dulu hangat di jarinya.
“Cincin ini,” katanya pelan. “Aku simpan dulu. Untuk Chika suatu hari nanti. Biar dia tahu bahwa ibunya pernah menikah dengan ayahnya. Dan ayahnya yang memutuskan untuk mengakhiri semuanya.”
Dia memasukkan cincin itu ke dalam saku celananya.
“Chika!” panggilnya dengan suara yang dia usahakan seceria mungkin. “Ayo, Sayang. Ibu mau ajak Chika jalan-jalan!”
Chika berlari kecil dari kamar. Rambut keritingnya berantakan. Matanya masih merah karena habis tidur.
“Jalan-jalan! Jalan-jalan!” teriak Chika sambil melompat-lompat kecil.
Annasya menggandeng tangan mungil putrinya. Koper biru navy di tangan kiri. Chika di tangan kanan. Mereka berjalan menuju pintu rumah.
“Annasya.”
Suara Aldo terdengar lirih dari belakang. Annasya berhenti. Tidak menoleh.
“Kamu ... kamu beneran pergi?”
Annasya tersenyum tipis. Seulas senyum yang tidak sampai ke matanya.
“Apa yang kamu harap aku lakukan, Mas? Diam di sini? Mengabdi pada laki-laki yang sudah mentalak tiga aku?”
Dia membuka pintu. Udara sore langsung menerpa wajahnya. Hangat. Seperti pelukan yang tidak pernah dia dapatkan dari Aldo belakangan ini. Di ambang pintu, dia berhenti.
“Satu pesan terakhir aku, Mas. Jaga lisanmu. Talak tiga bukan mainan. Sekarang kamu tidak bisa rujuk denganku kecuali aku menikah dengan laki-laki lain dan bercerai dengan benar-benar, bukan untuk mainan. Itu pun kalau aku mau.”
“Dan untuk saat ini …” dia menoleh sedikit. Tidak sampai melihat wajah Aldo. Karena dia takut jika melihat wajah Aldo, dia akan ingat semua janji manis yang dulu membuatnya jatuh cinta.
“... aku pergi.”
“Ayah!” suara Chika kecil memanggil ayahnya dengan cadelnya yang lucu. “Chika ikut Ibu dulu, ya? Chika jalan-jalan!”
Aldo tidak menjawab. Pintu ditutup dengan pelan. Tidak dibanting. Tidak dihempaskan dengan emosi.Aldo terduduk di kursi. Kedua tangannya menutup wajah.
“Apa yang aku lakukan?”
Bersambung …
***
“Sekarang kamu ingin memperbaiki semuanya dengan sebuah rumah?”Namun, Annasya tidak mengucapkan kata-kata itu. Tapi matanya menatap Aldo dengan tajam.Aldo melihatnya. Wajahnya sedikit berubah. Dia tahu. Dia tahu apa yang Annasya pikirkan. Tapi dia tidak punya keberanian untuk bertanya.“Aku ... aku akan pergi dulu,” kata Aldo sambil menurunkan Chika ke lantai. “Chika, jaga Ibu ya.”“Iya Ayah! Chika jaga Ibu!” teriak Chika dengan semangat.Aldo berjalan ke pintu. Annasya tidak mengantarnya. Dia hanya berdiri di tempatnya, seperti patung yang tidak bisa bergerak.Di ambang pintu, Aldo berhenti.“Annasya …”Annasya tidak menyahut.“Aku tahu kamu marah. Aku tahu aku salah. Tapi …” Aldo menarik napas. “Tapi aku tidak ingin kalian hidup susah. Rumah itu untuk Chika. Untuk kamu. Setidaknya, pikirkan dulu, ya?”Pintu ditutup. Aldo pergi.Annasya masih berdiri di ruang tamu. Tas belanjaan akhirnya dia letakkan di lantai. Tangannya gemetar.Sepanjang sore, Annasya tidak bisa berkonsentrasi.
“Lamaran aku, Annasya.”Annasya menunduk. Dia memainkan sendok nasi di piring tanpa benar-benar menyuap ke mulut.“Aku ,... masih berpikir, Raka.”Raka mengangguk. “Tidak apa-apa. Aku tidak terburu-buru.”“Tapi …” Annasya menggigit bibirnya. “Ada satu hal yang mengganjal.”“Apa?”“Aldo mengirimiku pesan. Dia melarangku menerima lamaranmu.,Raka berhenti mengunyah. Ekspresi wajahnya berubah. Sehelai alis Raka naik sedikit. Rahangnya mengeras.“Aldo? Dia menghubungimu?”“Iya. Dia bilang kamu tidak baik untukku. Dia bilang kamu punya motif lain.”Raka diam.Annasya menatapnya. “Raka, apa ada sesuatu yang tidak kamu katakan padaku?”Raka menutup matanya sejenak. Dadanya naik turun. Seolah dia sedang berperang dengan dirinya sendiri.“Annasya …” suaranya lirih. “Aku tidak akan berbohong padamu. Tapi aku juga tidak bisa menceritakan semuanya sekarang. Yang bisa aku katakan adalah, Aldo bukan orang yang tepat untuk memberi nasihat tentang pernikahan. Dia sendiri yang menghancurkan pernikahan
Tiga hari sejak Raka datang melamar. Tiga hari Annasya tidak bisa tidur nyenyak. Tiga hari pikirannya tak fokus.Malam itu, Chika sudah tidur. Rumah kontrakan kecil itu sunyi. Hanya terdengar suara jangkrik dari luar.Annasya duduk di kursi plastik di teras rumah. Secangkir teh jahe sudah dingin di tangannya. Tidak disentuh. Pikirannya terlalu sibuk untuk menikmati hangatnya minuman.‘Raka melamarku,’ pikirnya.Semuanya masih terasa tidak nyata. Laki-laki itu—sahabat mantan suaminya—datang dengan kemeja putih rapi dan keranjang buah, lalu berkata, “Aku ingin menikahimu.”Annasya menghela napas. “Aku harus menjawab apa? Aku bingung.”Annasya tidak pernah menyangka akan berada di posisi ini. Sebagai perempuan yang baru saja diceraikan talak tiga oleh suaminya. Sebagai ibu tunggal, sekaligus seseorang yang luka hatinya belum benar-benar sembuh.Namun takdir berkata lain.Dan sekarang, ia memiliki dua pilihan. Menerima Raka, laki-laki yang mengaku mencintainya sejak empat tahun lalu. Atau
Raka menarik napas. Annasya bisa melihat kegelisahan di balik wajah tenang itu. Jari-jari Raka menggenggam lututnya sendiri.“Annasya …”Dia ragu. Matanya menatap Annasya—lama, dalam, seolah dia sedang menghafal wajah perempuan itu untuk terakhir kalinya sebelum melakukan sesuatu yang tidak bisa ditarik kembali.“Aku datang ke sini bukan tanpa alasan,” katanya.Annasya menunggunya menyelesaikan kalimat.“Aku tahu ini mungkin tidak pantas. Aku tahu kamu belum lama bercerai dengan Aldo. Tapi …” Raka menunduk. “Tapi aku tidak bisa berbohong lagi, Annasya. Aku tidak bisa lebih lama lagi menahannya.”Jantung Annasya berdetak lebih cepat. ‘Apa maksudnya?’“Aku ingin menikahimu, Annasya.”Annasya terdiam. Matanya membelalak. Bibirnya bergerak, tapi tidak ada suara yang keluar.“Kamu ... apa?”“Aku tahu ini tiba-tiba,” Raka melanjutkan dengan cepat, seolah takut keberaniannya akan lenyap jika dia berhenti. “Aku tahu kamu mungkin mengira ini karena Aldo. Tapi ini bukan tentang Aldo. Ini tentan






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.