LOGINBatal menikah, calon suami selingkuh, dan orang tua tak mendukung, membuat Raniya frustrasi. Pelarian di bar itulah yang membuat Raniya akhirnya bertemu Abimana, mantannya dulu. Perasaan insecure pada diri Raniya yang tak bermahkota lagi memaksanya mengambil jalan pintas dengan memanfaatkan Abimana untuk menggagalkan rencana perjodohan dari orang tuanya itu. Namun, siapa sangka mereka meminta Abimana agar menikahi Raniya cepat sebagai bukti keseriusan. Demi menjaga nama baik dan perasaan orang tuanya, Raniya pun mendatangi Abimana dan menawarkan pernikahan kontrak pada pria itu sebagai gantinya. Namun yang tidak diketahui Raniya, Abimana yang bermasalalu buruk itu adalah pria yang akhirnya dapat memberikan segalanya yang Rania inginkan, bahkan yang tidak pernah didapat Raniya selama ini. Ketika Raniya menyadari perasaannya dan Abimana merasa telah lelah, kontrak pernikahan mereka segera berakhir. Bagaimana Raniya memperjuangkan hubungan mereka?
View More“Ini beneran nggak bakal ketahuan sama calon istri culunmu itu, hah?” Sintia mengalungkan tangannya ke leher Raditya.
Raditya menggelengkan kepalanya. “Namanya aja culun, kita jalan barengan bertiga aja dia nggak ada curiga sama sekali, hehehe. Buruan, aku udah nggak tahan ini! Minggu ini belum kamu puasin!” jawabnya seraya mendorong wanita itu ke kamar dan mencuri ciuman di bibir beberapa kali. “Dit! Sabar!” “Nggak bisa, Sin! Aku udah nggak nahan!” Raditya meloloskan celananya, begitu juga sang wanita hingga bagian bawah mereka tak tertutupi sehelai benang pun. “Kalaupun udah nikah sama si culun itu, aku bakal terus sama kamu. Kita beli apartemen di samping, biar bisa terus main!” Wanita itu tertawa, tubuh mereka sama-sama terbakar oleh gairah hingga tak menyadari jika sejak tadi ada sepasang mata yang sedang menatap jijik sekaligus kecewa. Raniya tak menyangka, pria sekaligus kekasih idaman yang sebentar lagi akan menjadi suaminya itu berselingkuh dan mempunyai niat busuk kepadanya, bahkan meremehkannya yang tulus. Dua minggu lagi mereka akan menikah, tetapi ia justru harus melihat adegan menjijikkan itu. Di apartemen dan ranjang yang seharusnya menjadi saksi cintanya bersama Raditya disahkan. “RADITYA!” Raniya berteriak, matanya memerah dan basah, nafasnya tersengal seakan tak ada lagi oksigen di sana. Raditya yang tengah menindih kekasihnya itu sontak menoleh, matanya terbelalak melihat Raniya berada di apartemen itu, terlebih melihat dirinya tanpa sehelai benang pun bersama wanita lain. Miliknya yang nyaris memasuki kewanitaan Sintia pun ditarik mundur, kedua tangannya spontan sibuk menarik selimut guna menutupi tubuh polos Sintia dan bagian bawahnya. “Ran, kam—” “Jadi, kayak gini kamu di belakangku?” Raniya tak memberikan kesempatan untuk Raditya menjawabnya. “Selama ini, kamu nganggep aku bego buat tetep jalan sama jalang ini, hah! Aku nggak nyangka kamu sebrengsek ini, Dit!” Raditya mendecakkan lidah, tatapannya pada Raniya sudah berubah, tampak sekali aslinya, tidak seperti biasanya yang seolah-olah penuh dengan cinta. “Aku nggak brengsek-brengsek amat kok! Cuman, kamu aja yang culun! Cewek kayak kamu itu bosenin, nggak menarik! Masa pacaran udah lama, cuman gandengan, mikir dong!” balas Raditya tak merasa bersalah sama sekali. “Sekarang, kamu udah liat, kan? Mau batalin, hah? Terserah, kalau emang ada yang mau sama kamu! Lagian, aku juga males!” Jantung Raniya seperti diremas hebat, pria itu sama sekali tidak ada belas kasihnya meskipun hubungan mereka terhitung lama. Tak mau terlihat lemah, Raniya segera mengambil keputusan daripada hidup teraniaya sampai mati. “Oke, kita nggak usah nikah aja. Aku juga males dan jijik sama kamu!” kata Raniya mengepalkan tangannya, menahan kuat agar tak semakin rapuh di sana. Setelah mengatakan itu, Raniya tak mendengar lagi panggilan dari Raditya. Ia mengambil tas kemudian meninggalkan apartemen yang seharusnya menjadi saksi cinta mereka, bahkan susah payah ia menyisihkan uang untuk membayar setengahnya. Namun, semua sudah terjadi meskipun menyakitkan, setidaknya seumur hidup tidak terkurung bersama pria yang salah. Sore itu, Raniya berniat langsung mengabarkan pada orang tuanya sebelum benar-benar meninggalkan apartemen, ia menelpon sang ibu. “Ma,—” Pecah tangisnya tanpa bisa ditahan. [Ada apa, Ran? Udah ketemu sama Raditya? Gimana jadi kapan pelunasan gedungnya?] Raniya menutup matanya yang basah dengan satu tangan. “Raniya nggak jadi nikah, Ma. Ditya selingkuh, dia bawa perempuan ke apartemen. Ditya bohongin aku!” Hancur sudah perasaan Raniya mengatakan itu. [Kok bisa sih! Kamu pasti buat salah sama dia, nggak mungkin Ditya kayak gitu kalau kamu nggak ada salahnya, Ran! Atau jangan-jangan kamu nggak ngasih dia apa-apa, iya?] Raniya terdiam, berusaha mencerna kalimat ibunya yang alih-alih iba kepadanya, justru terdengar seperti sedang menyudutkan dirinya di sana. “A-apa maksud, Mama?” tanyanya gagu. [Apa lagi? Laki-laki selingkuh atau nyari enak dari perempuan lain itu ya karena kamu nggak bisa ngasih ya dia mau! Selama ini, kamu pasti bosenin, terlalu hati-hati, pacaran maunya di rumah aja, nggak prioritasin dia. Kamu egois! Pantes kalau Ditya males lama-lama! Kamu bikin malu aja!] Raniya menjauhkan ponselnya, memutus sambungan sepihak. Ia pikir ibunya akan memberikan dukungan dan membelanya, ternyata tak jauh berbeda dengan Raditya. Raniya mematikan teleponnya, ia tidak ingin pulang dulu, rasanya percuma tidak akan memperbaiki keadaan. Raniya terus berkeliling sampai langit berubah gelap, kesedihannya yang tak kunjung mereda membawa Raniya mengambil jalan pintas, yakni datang ke club malam yang kerap didengarnya dari salah seorang teman. “Kamu beneran mau mabuk?” Fana menyipitkan matanya, merasa tidak yakin. Raniya mengangguk. “Aku nggak seculun itu kok, kita udah dewasa!” kata Raniya tersenyum centil pada pelayan yang mengantarkan pesanannya sangat frustrasi. “Yaiya sih! Cuman, ini bukan kebiasaan kamu, takutnya malah kamu sakit nanti!” Fana khawatir. Raniya tersenyum tipis, ternyata semua orang meragukannya, memandang dirinya tidak bisa apa-apa dan layak sekali diperlakukan buruk. [Kamu bikin malu aja!] “Kamu itu culun! Pacaran udah lama, cuman gandengan!” Raniya menutup telinganya yang berisik, ragu-ragu matanya melirik minuman beralkohol di mejanya. Tetapi, semua perkataan itu terlalu menyakitkan. “Ran!” Fana terpekik. Raniya menepis tangan temannya itu. “Jangan halangin aku!” ucapnya. Raniya ingin mencicipi sesuatu yang baru, seperti datang ke club malam, minum-minuman beralkohol, berjoget dalam kondisi mabuk dan pulang pagi dengan penampilan kacau balau. Semua itu, tak lain sebagai bentuk kekecewaan dan pelampiasannya atas rencana pernikahan yang gagal. Semakin lama, Raniya merasa tubuhnya panas dan terbakar, pandangannya mulai kabur juga bergoyang-goyang. “Ran, aku tinggal ya, cowokku udah dateng! Kalau ada apa-apa, telpon aja!” kata Fana tak bisa menemani lebih lama. Raniya hanya mengangguk dan terkekeh tidak jelas, rasa panas di tubuhnya membuat Raniya mulai membuka kancing cardigannya, menyisakan tanktop berwarna krem dengan bentuk depan rendah sehingga belahan dadanya terlihat, lalu membuang cardigannya begitu saja. “Dia bilang aku culun, heh!” kata Raniya sambil tertawa sekaligus menangis, tangannya mulai bergerak melepaskan kancing celananya untuk meredakan hawa panas di tubuhnya itu. “Na, pesenin lagi! Aku mau lagi! Ayo, kita minum sampe mampus!” katanya tak kuasa menegakkan kepala, keningnya menempel pada meja. Namun, bukan Fana yang kini duduk di depannya, melainkan seorang pria berpakaian serba hitam berwajah tampan yang sejak tadi diam-diam memperhatikan Raniya dari meja lain. Abimana Hanendra, mantan kekasih Raniya yang terpaksa putus karena jarak usia mereka yang terpaut 12 tahun dan masa lalu buruknya yang kerap menginap dengan para kekasihnya. “Nggak akan ada minuman lagi malam ini!” katanya. Raniya mengangkat kepalanya, suara itu berbeda sekali dengan suara Fana, lebih berat dan tegas. Matanya memicing guna memastikan, rambut panjang yang terjatuh semua ke depan cukup membuatnya kesulitan untuk melihat, tetapi gaun merah terang milik Fana telah berubah gelap sekarang. “Kamu ganti baju, Na?” tanyanya masih menebak, mempertajam indra penglihatannya. Pria itu melirik. “Ikut aku, Raniya! Aku antar pulang, sekarang!” Raniya menunjuk dadanya kemudian tertawa. “Kamu sapa mau segala anter pulang, hah? Aku nggak mau pulang, mau di sini aja sampe mampus! Atau kamu mau nemenin aku? Aku bisa apa aja loh buat nyenengin kamu!” “Nggak akan!” tolak Abimana. “Kenapa? Aku bisa kok!” desak Raniya sambil menghentakan tubuhnya tampak kesal. “Aku bakal senengin kamu, puasin dan lakuin apa aja sama kamu yang kamu suka!” katanya disusul gemetar. Raniya menangis lagi, tidak jelas, cukup lama pria itu menunggu sampai tangis Raniya berhenti, tetapi setelah itu alih-alih Raniya mudah diajak berbicara, wanita itu justru bangkit dan pergi ke lantai dansa di tengah, bergoyang di sana mengikuti yang lain. Bahkan, tak segan Raniya menempelkan badannya ke para lelaki di sana. Raniya makin menggila, wanita itu juga menerima minuman dari pria lain. Lama-lama, geram juga, apalagi pakaian Raniya terbuka. Abimana pun menyusul Raniya ke tengah dan membawa tubuh itu bersandar kepadanya seorang. “Waaah, kamu ganteng banget!” puji Raniya dengan kedua tangan mengalung ke leher Abimana, tinggi Raniya yang tak sampai bahunya membuat matanya dengan mudah melihat isi belahan sang wanita. “Aku anter pulang!” kata Abimana. Raniya menggelengkan kepala. “Aku nggak mau!” Pria itu menganga tak percaya, entah darimana pikiran seperti itu mengisi kepala Raniya yang dikenal polos soal dunia malam. Gesekan berulang yang Raniya lakukan, tatapan sayu yang hanya tertuju kepadanya penuh damba dan usapan di belakang kepala yang begitu lembut nan menggoda. Sebagai pria dewasa, disuguhkan hal serupa tentu membangkitkan keganasannya, terlebih Raniya terus saja menggoda dengan berjinjit dan berusaha menciumi lehernya. “Berhenti, Raniya!” tegurnya berusaha menghindari bibir Raniya, menahan tubuh wanita itu supaya tidak terus bergoyang dan bergesekan dengannya. Raniya berdecak kesal. “Aku nggak mau pulang, bawa aku ke mana aja! Pakai aku malam ini, gratis! Kamu nggak perlu bayar, aku yang bayar kamu!” “Ran—” “Habisin malam ini sama aku!” Raniya mendesah tepat di telinga Abimana.Senggol kanan, senggol kiri. Saling lirik-lirik sebelum akhirnya duduk berhadapan dengan tante Sena yang pernah marah sekali karena Abimana dianggap memanfaatkan perempuan tidak berdaya, apalagi baru saja direnggut keperawanannya dalam kondisi mabuk. Abimana menegakkan punggungnya, berdeham gugup, berbeda dengan Raniya yang datang lagi mendapatkan pelukan hangat, lebih disayang dibandingkan dirinya. “Mau apa?” tanya tante Sena memicing. “Tentu saja yang tidak jauh-jauh dari perempuan yang sekarang Tante peluk itu,” jawab Abimana menunjuk Raniya dengan segala centilnya meledek, bahkan jual mahal sekali. “Aku meminta restu untuk kami, Te. Kali ini dan yang terakhir, izinkan dan restui kami memulai kehidupan baru. Izinkan aku menikahi Raniya dengan segala kesungguhan dan segenap hati, bukan semata karena kejadian malam itu, tapi karena aku sangat mencintainya. Te, kenalan-kenalan itu aku tolak karena aku menunggunya kembali,” katanya sedikit mengadu. Tante Sena menghela nafasnya.
Tidak mempunyai pengalaman dekat dengan seorang ibu, justru sebaliknya. Tantangan Raniya untuk bisa meluluhkan dan mengambil percaya di hati tante Sena tak serta merta mudah. Akan tetapi, Raniya tidak ingin menyerah lagi demi hubungannya bersama Abimana yang tak melepaskannya begitu saja, pria itu akan selalu menjadi garda terdepan dan menunggunya setiap kali usaha dengan menjamin kenyamanan dan keamanan. “Om segitunya, kayak aku mau ditampar aja!” omel Raniya karena menurutnya Abimana berlebihan. “Kita nggak tau marahnya orang bagaimana, meskipun nggak pernah juga. Saya khawatir,” jawab Abimana hampir saja menelpon perawat untuk bersiaga seperti Raniya sedang berperang. Raniya menepuk lengan kekasihnya itu, om-om yang kelewat khawatir karena saking sayangnya. Demi apapun ia merasa beruntung sekali mendapatkan kesempatan untuk dicintai lagi oleh pria itu meskipun memang jarak usia mereka terbentang jauh. “Aku masuk ya,” kata Raniya sementara Abimana menunggu di ruang tengah sem
“Nggak ada yang tidur sekamar, Te,” ujar Abimana langsung mendapatkan lirikan tajam dari tante Anggun. Wanita itu menoleh pada Raniya yang mendapatkan banyak pelukan tadi, sampai sekarang mereka masih meyakini perceraian itu terjadi karena Abimana selingkuh dan tidak mau Raniya mengalami hal itu lagi meskipun selama tiga tahun terakhir Abimana sudah menyesalinya. “Raniya, beneran nggak kasih rayuan gombal?” Tante Anggun memastikan, tak lupa lirikan penuh curiga ia lemparkan pada Abimana. Raniya tersenyum seraya menggelengkan kepalanya. “Nggak sama sekali kok, Tante. Kami bertemu lagi di versi yang jauh lebih baik dan perasaan yang jauh lebih besar,” tuturnya. “Kamu secinta itu sama buaya ini, heh? Yakin mau balikan sama dia?” Raniya menoleh pada Abimana yang juga melihat ke arahnya. “Iya, Raniya mau banget memperbaiki semua bareng Mas Abi, Te. Banyak mimpi yang ingin kami wujudkan dan hanya bisa kami raih jika kami bersama. Tiga tahun cukup buat Raniya dan Mas Abi saling
Anggap saja malam itu Abimana tertidur karena faktanya sepanjang malam pria itu terus terjaga memandang wajah pulas sang mantan istri-Raniya. Entah mantan seperti apa mereka, rasanya tak pantas dianggap sebagai mantan jika mengingat bagaimana mereka berciuman kemarin. “Om, masih di kamar ya?” Raniya benar-benar datang pagi itu selepas mandi. Raniya berjalan dengan langkah kecilnya menuju kamar Abimana, melihat pintunya tidak tertutup rapat, ia pun mendorong pintu itu dan tiba-tiba tubuhnya ditarik kemudian didorong hingga terjerembab ke atas ranjang dengan Abimana di atasnya. “Om, ya ampun!” Raniya menekan dadanya, memukul lengan Abimana yang hanya memakai kaos singlet itu. “Udah mandi?” Abimana mengangguk. “Cuddle bentar boleh?” “Hem, sini!” Raniya membiarkan kepala Abimana berada di ceruk lehernya, jika dulu dirinya terganggu sekali, kali ini tidak, justru yang akan menahan Abimana untuk berlama-lama. Cukup lama keduanya diam sambil menikmati kebersamaan yang telah lama d
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.