Raka.Laki-laki itu berdiri di ambang pintu dengan senyum tipis. Hari ini dia tidak memakai kemeja putih atau batik.Dia mengenakan kemeja berwarna biru dongker—warna yang dalam dan tenang, seperti langit menjelang malam. Di bahunya, tas selempang sederhana berwarna cokelat tua. Dan di tangannya, sebuah bungkusan plastik bening berisi kue basah.“Assalamu’alaikum, Annasya.”Annasya mengerjap, kembali tersadar. “Wa’alaikumussalam, Raka. Kamu datang pagi-pagi sekali.”Raka mengangkat bungkusan di tangannya. “Aku bawakan kue pukis untuk Chika. Masih hangat. Tadi lewat pasar, lihat ini, aku ingat Chika suka.”Annasya tersenyum tipis. “Chika masih tidur. Tapi pasti dia suka. Terima kasih, Raka. Mari, masuk dulu!”Annasya mempersilakan Raka masuk. Raka duduk di sofa kempes seperti biasa dengan nyaman. Dia meletakkan tas selempangnya di samping kaki dan bungkusan kue pukis di atas meja.“Kamu belum sarapan?” tanya Raka.“Belum. Baru bangun,” jawab Annasya sambil menuangkan air ke dalam gelas
Terakhir Diperbarui : 2026-04-28 Baca selengkapnya