“Aku bosan, Annasya.”Suara Aldo menggema di ruang tamu rumah mereka. Rumah sederhana dengan cat krem yang mulai mengelupas di sudut-sudutnya. Rumah yang dulu Annasya rawat dengan penuh cinta—mengelap lantai setiap pagi, menata bunga plastik di vas, memastikan tirai selalu bersih meski hanya dicuci dengan tangan karena mesin cuci rusak dan Aldo belum juga memperbaikinya.Annasya berhenti menggendong Chika, anak perempuan mereka yang baru genap dua tahun. Tangannya membeku di tengah usapan lembut di rambut keriting putri kecilnya. Chika sedang tidur di pangkuannya, pipi tembamnya merapat ke dada ibunya, napas kecilnya teratur dan damai.‘Tidak,’ pikir Annasya. ‘Aku salah dengar.’“Apa maksud kamu, Mas?” Suaranya bergetar. Dia tidak bisa menyembunyikannya.Aldo tidak menjawab. Dia justru berjalan ke meja kecil di samping sofa. Meja kayu jati yang dulu mereka beli berdua saat bulan madu ke Surabaya. Aldo membuka laci kecil di bawah meja—tempat dia menyimpan dokumen penting.Annasya melih
Zuletzt aktualisiert : 2026-04-10 Mehr lesen