Home / Romansa / Dekapan Hangat Berondongku / Hadiah yang Terlambat

Share

Hadiah yang Terlambat

Author: Na_Vya
last update publish date: 2026-09-01 18:15:49

BAB 10

Hadiah yang Terlambat

###

Pagi itu Elena baru saja selesai merapikan rambut ketika terdengar suara mobil berhenti di depan rumah.

Ia yang sedang memasukkan beberapa barang ke dalam tas langsung menoleh ke arah jendela.

Arga sudah berangkat sekitar dua puluh menit lalu.

Elena sempat mengira suaminya kembali karena melupakan sesuatu, tetapi suara pintu mobil yang ter
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Dekapan Hangat Berondongku   Menunggu Waktu

    BAB 42Menunggu Waktu ###Beberapa hari berikutnya berjalan jauh lebih tenang daripada yang Elena bayangkan. Arga tetap melakukan apa yang sudah dia mulai. Dia tidak lagi menghilang tanpa kabar, tidak lagi membiarkan Elena menunggu sampai larut malam tanpa tahu kapan dia pulang, dan kalau sedang sibuk, dia akan memberi tahu lebih dulu. Bahkan ketika Elena hendak pergi mengajar, Arga sudah terbiasa bertanya apakah dia membawa semua barang yang dibutuhkan. Perubahan itu membuat Elena perlahan menurunkan pertahanannya. Dia masih ingat semua yang sudah terjadi. Dia belum melupakan rasa sakitnya, belum sepenuhnya percaya bahwa semuanya akan benar-benar berbeda. Tetapi setiap hari Arga memberikan alasan baru untuk membuat Elena berpikir bahwa mungkin kesempatan kedua ini tidak sia-sia. Sore itu, setelah selesai mengajar, Elena duduk di dalam kendaraan sambil menunggu jalanan sedikit lebih sepi. Dia membuka ponselnya dan membaca pesan dari Arga. [Aku pulang duluan. Kamu jangan buru-bur

  • Dekapan Hangat Berondongku   Memilih Menikmatinya

    BAB 41Memilih Menikmatinya####Hari berikutnya, Elena datang ke rumah Naya seperti biasa. Sejak pertama kali mengajar gadis itu, dia memang sudah terbiasa dengan suasana rumah yang terlalu besar untuk hanya diisi dua orang. Ruang tamunya luas, perabotannya mahal, tetapi hampir selalu terasa sepi. Bahkan suara langkah kaki pun terdengar jelas karena tidak banyak aktivitas di dalam rumah itu. Naya sudah menunggu di ruang belajarnya. Buku matematika terbuka di atas meja, tetapi gadis itu justru sibuk memainkan ponselnya. Elena meletakkan tas di kursi lalu menatap buku yang sama sekali belum disentuh. “Udah belajar?” Naya mengangkat wajah. “Belum.” “Kenapa?” “Belum mood.” Elena menarik kursi di sebelahnya. “Kamu tahu nggak, kalau tiap hari nunggu mood datang, ujian kamu bisa keburu selesai duluan.” Naya mendengus sambil meletakkan ponselnya. “Aku benci matematika.” “Matematika juga nggak pernah bilang dia suka kamu.” Naya terdiam beberapa detik, lalu tertawa. “Bu Elena sekaran

  • Dekapan Hangat Berondongku   Menuju Rahasia Besar

    BAB 40Menuju Rahasia Besar ### Elena tidak pernah menyangka bahwa perhatian kecil dari suaminya bisa membuat suasana hatinya berubah sejauh ini. Beberapa hari terakhir, Arga benar-benar berusaha menunjukkan bahwa ucapannya malam itu bukan sekadar janji yang keluar karena takut kehilangan Elena. Dia mulai pulang lebih cepat, meskipun tidak selalu tepat waktu. Kalau sedang sibuk di kantor, dia akan mengirim pesan dan memberi tahu Elena bahwa dia mungkin terlambat. Pagi hari, sebelum berangkat, dia selalu menyempatkan diri sarapan bersama. Bahkan beberapa kali dia membelikan makanan kesukaan Elena dalam perjalanan pulang tanpa diminta. Hal-hal sederhana yang dulu pernah menjadi kebiasaan mereka perlahan kembali. Awalnya Elena merasa canggung. Dia bahkan sempat bertanya-tanya apakah semua itu hanya akan berlangsung beberapa hari sebelum Arga kembali menjadi dirinya yang dulu. Namun hari demi hari berlalu, dan Arga masih melakukan hal yang sama. Tidak sempurna, memang. Kadang di

  • Dekapan Hangat Berondongku   Mungkin Seharusnya Begitu

    BAB 39Mungkin Seharusnya Begitu ###Sejak pagi, Elena merasa ada sesuatu yang berbeda dalam dirinya.Bukan sesuatu yang besar. Tidak ada kejadian istimewa yang membuatnya tiba-tiba bahagia. Hanya saja, setelah beberapa hari terakhir Arga kembali menunjukkan perhatian yang dulu hampir ia lupakan, hati Elena terasa sedikit lebih ringan. Pagi tadi Arga bahkan sempat mengantarnya sampai depan pintu sebelum berangkat kerja. “Hari ini pulang jam berapa?” tanyanya. “Belum tahu. Nanti kalau selesai ngajar, aku kabarin.” Arga mengangguk. “Jangan pulang terlalu malam.” Elena hanya tersenyum. Kalimat sederhana seperti itu seharusnya biasa saja. Tapi setelah beberapa bulan ini terbiasa dengan sikap Arga yang seolah tidak peduli kapan ia pulang atau ke mana ia pergi, perhatian sekecil apa pun terasa cukup berarti. Mungkin benar kata Arga—Mungkin seseorang memang bisa berubah kalau benar-benar mau. Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Elena ingin memberinya kesempatan. Setidakn

  • Dekapan Hangat Berondongku   Belum Rela Kehilangan Keduanya

    BAB 38Belum Rela Kehilangan Keduanya ###Pagi itu Elena terbangun bukan karena suara alarm, melainkan aroma makanan yang berasal dari dapur. Perempuan itu mengerjapkan mata beberapa kali. Selama beberapa detik, ia hanya menatap langit-langit kamar sambil mencoba mengingat kapan terakhir kali ia mencium aroma seperti itu dari rumah mereka sendiri. Dulu, hal seperti ini biasa. Arga sering bangun lebih pagi, membuatkan sarapan sederhana sebelum berangkat kerja. Kadang hanya roti panggang dan telur, kadang nasi goreng yang rasanya terlalu asin karena Arga memang tidak pandai memasak. Elena biasanya akan mengomel sambil tertawa, lalu Arga akan membela diri dengan mengatakan bahwa yang penting adalah niatnya. Sudah lama sekali masa itu berlalu. Elena perlahan bangkit dari tempat tidur. Begitu tiba di lantai bawah, ia langsung melihat Arga yang sedang berdiri di depan kompor. Pria itu mengenakan kemeja kerja dengan lengan yang sudah digulung sampai siku. Di meja makan, sudah ada dua

  • Dekapan Hangat Berondongku   Kamu masih bahagia?

    BAB 37Kamu masih bahagia?###Sejak pagi, Elena terus mengingat ucapan Arga semalam.Makan malam berdua.Sebenarnya bukan sesuatu yang luar biasa. Mereka adalah suami istri, dan pergi makan bersama seharusnya menjadi hal biasa dalam sebuah rumah tangga. Tetapi entah kenapa, ajakan Arga kali ini terasa sedikit berbeda bagi Elena.Mungkin karena sudah cukup lama mereka tidak benar-benar pergi berdua tanpa ada masalah yang menyertai.Beberapa bulan terakhir, setiap kali mereka duduk bersama, Elena selalu merasa ada jarak yang sulit dijelaskan. Arga sibuk dengan ponselnya, pekerjaannya, atau urusan lain yang tidak pernah dia ceritakan. Bahkan ketika mereka berada dalam satu ruangan, Elena sering merasa seperti sedang sendirian.Karena itu, ketika Arga tiba-tiba mengajaknya makan malam, ada bagian kecil dalam hati Elena yang kembali berharap.Mungkin Arga memang sedang berubah.Mungkin semua perhatian beberapa hari terakhir bukan sekadar kebetulan.Mungkin suaminya benar-benar mulai menya

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status