MasukSelama tiga tahun menikah, Elena Seraphina bertahan dalam rumah tangga yang perlahan menghancurkan hatinya. Demi membantu perekonomian keluarga, ia diam-diam menjadi guru privat, meski harus menyembunyikannya dari sang suami. Di sanalah ia bertemu Enzo Raphael, mahasiswa tengil yang lima tahun lebih muda darinya. Awalnya mereka hanya guru privat dan murid. Namun seiring waktu, batas itu mulai memudar, terlebih saat satu per satu rahasia yang selama ini disembunyikan dari Elena mulai terungkap. Saat cintanya dikhianati, haruskah Elena memberi kesempatan pada hati yang baru?
Lihat lebih banyakBAB 1
Anniversary yang Terlupakan ### Sejak sore, Elena sudah beberapa kali melirik jam dinding. Waktu sudah menunjukkan pukul enam. Meja makan pun sudah tertata rapi. Ada dua piring, dua gelas, sepasang lilin kecil, dan vas berisi bunga putih yang ia beli tadi siang. Di tengah meja, sebuah cake berukuran sedang berdiri dengan tulisan sederhana. — Happy Anniversary, Arga & Elena— Elena tersenyum, saat menatap kue yang menjadi simbol perjalanan pernikahannya yang sudah menginjak tahun ke tiga. Tak terasa waktu berjalan begitu cepat. Tiga tahun bukanlah waktu yang singkat. Ia tidak meminta perayaan mewah. Tidak perlu restoran mahal atau hadiah besar. Malam ini, ia hanya ingin makan bersama suaminya dan berbicara seperti dulu. Apalagi Arga baru saja pulang dari luar kota. Pagi tadi laki-laki itu hanya mengirim pesan singkat, [Hari ini Mas pulang. Mungkin malam.] Elena langsung membalas. [Aku tunggu. Hati-hati di jalan. ❤️] Sejak itu, Elena menyiapkan semuanya. Ia memasak makanan kesukaan Arga, membuat cake sendiri, bahkan membeli sebuah hadiah yang sudah disiapkannya sejak dua minggu lalu. Sebuah jam tangan. Tidak murah, tetapi juga tidak berlebihan. Elena hanya ingin melihat senyum suaminya ketika membuka kotak itu. Pukul tujuh Arga masih belum pulang. Pukul delapan makanan mulai dingin, dan Elena menghangatkannya kembali. Pukul sembilan, tidak ada pesan dari sang suami. Elena mengambil ponselnya, dan mengirim pesan kembali, [Mas, sudah sampai mana?] Pesan itu terbaca beberapa menit kemudian. Namun, tidak ada balasan. Elena menatap layar cukup lama sebelum akhirnya meletakkan ponselnya, dan mencoba berpikir positif. "Mungkin Mas Arga lagi nyetir." Waktu terus berjalan, hingga jarum jam menunjukkan pukul sepuluh malam, dan Elena pun masih menunggu. Tepat di pukul sebelas, kelopak mata perempuan itu mulai terasa berat. Elena menyandarkan siku di meja, menopang pipinya dengan telapak tangan. "Sebentar lagi," bisiknya. "Mas Arga pasti pulang." Tatapannya jatuh pada cake di tengah meja, seulas senyum kecil muncul di bibirnya. Malam ini mungkin tidak akan sempurna. Tetapi setidaknya mereka masih bisa merayakan tiga tahun pernikahan bersama. Itu saja sudah cukup, bagi Elena. Namun tanpa disadari, ia akhirnya tertidur. Kepalanya terbaring di atas kedua lengannya. Di sampingnya, kotak hadiah masih tersimpan rapi. --- Suara pintu rumah terbuka membuat Elena tersentak dan terbangun. Ia mengangkat kepala dengan mata berat. Melirik jam dinding, yang menunjukkan pukul dua belas lewat sepuluh menit. Arga muncul, lalu masuk sambil menyeret koper kecil. Wajahnya terlihat lelah. Begitu melihat Elena berdiri dari kursinya, Arga hanya menghela napas. "Kamu belum tidur?" tanyanya dengan raut datar. Elena mengusap matanya, dan menjawab, "Aku nungguin kamu, Mas." Tak ada tanggapan dari Arga, dan pandangan lelaki itu beralih ke meja. Ia melihat cake, bunga, makanan, dan dua piring yang sejak tadi menunggu. Namun ekspresinya tetap datar. Elena tersenyum, dan berkata, "Happy anniversary, Mas." Reaksi Arga sama sekali di luar ekspektasi Elena. "Oh...." Hanya itu yang terlontar dari mulutnya. Satu kata, dan itu sukses membuat dada Elena mencelos. Ia pun masih menunggu beberapa detik. Berharap Arga akan tersenyum. Atau barangkali akan mendekat dan memeluknya. Barangkali akan berkata bahwa dirinya juga tidak lupa. Namun Arga hanya menarik napas panjang, dan bicara ketus, "Aku capek. Aku mau tidur dulu." Elena menatapnya. "Tapi... aku udah masak." "Nanti aja." "Kamu nggak mau makan sedikit, Mas?" "Nggak." Arga kemudian menarik koper menuju kamar, tanpa memikirkan perasaan sang istri yang seharian ini sudah bersusah payah. Elena masih berdiri di tempatnya, mencoba memanggil suaminya lagi, "Mas..." Arga pun berhenti, tetapi tidak berbalik. "Kenapa?" Elena menggigit bibir, dan menjawab lirih, "Nggak apa-apa." Merasa tidak ada yang penting, Arga lantas kembali berjalan menuju kamar dan menutup pintu. Melihat tingkah suaminya yang dingin dan tak acuh, membuat dada Elena berdenyut sakit. Ia menatap nanar pintu itu. Beberapa saat kemudian ia kembali duduk. Tatapannya jatuh pada cake yang masih utuh. Perlahan ia mengambil pisau, memotong satu bagian, dan meletakkannya di atas piring. Elena tersenyum getir, sambil berkata, "Happy anniversary, Elena." Ia lantas menyendok cake itu seorang diri. Rasanya manis. Tetapi air matanya justru jatuh. Kotak hadiah untuk Arga masih berada di kursi sebelah. Elena meraihnya, menatapnya sebentar, lalu menyimpannya kembali. "Mungkin besok aja." Mungkin besok Arga akan punya waktu. Mungkin besok semuanya akan terasa lebih baik. Dengan harapan kecil itu, Elena membereskan meja makan. Ia tidak tahu, malam itu bukan hanya anniversary mereka yang terlupakan. Tetapi juga satu hal yang selama ini ia anggap pasti. Kepercayaan. *** Setelah membereskan meja, Elena masuk ke kamar, dan mendapati Arga sudah berada di ranjang. Pria itu sudah terlelap, dan nampaknya benar-benar kelelahan setelah perjalanan dari luar kota. Elena berdiri beberapa detik di depan lemari. Tangannya menyentuh sebuah pakaian tidur yang jarang ia kenakan. Ia agak ragu, dan terlihat menimbang-nimbang. Namun akhirnya pakaian itu dibawa ke kamar mandi. Beberapa menit kemudian, Elena keluar, dan berdiri di depan cermin kecil. Penampilannya tidak berlebihan. Hanya sedikit lebih cantik dari biasanya. Ia menarik napas, dan berpikir—mungkin malam ini masih bisa diselamatkan. Mungkin suaminya hanya lelah. Mungkin setelah beristirahat, suaminya akan kembali menjadi laki-laki yang dulu selalu membuatnya merasa dicintai. Elena berjalan mendekati ranjang, dan memanggil suaminya, "Mas..." Tidak ada jawaban, karena Arga sudah tertidur pulas. Elena tersenyum tipis. "Capek banget, ya?" Ia duduk di tepi ranjang. Untuk sesaat, ia hanya memandangi wajah suaminya. Kemudian matanya turun pada pakaian Arga. Laki-laki itu bahkan belum berganti baju. Elena berniat membantu mengganti pakaian suaminya itu. Tangannya perlahan meraih bagian kerah kemeja Arga. Satu kancing dibuka, kemudian satu lagi. Namun, gerakannya terhenti. Tatapan Elena terpaku pada leher suaminya. Ada sesuatu di sana. Sebuah bekas kemerahan. Elena mengerutkan kening, lalu mendekat. Jantungnya tiba-tiba berdetak lebih cepat. Bekas itu samar, tetapi cukup jelas untuk membuat napasnya tercekat. Ia tentu tahu tanda seperti itu. Terlalu tahu, malah. Kissmark. Tangan Elena perlahan terlepas dari kerah Arga. Wajahnya memucat. "Enggak..." Bisikannya nyaris tidak terdengar. Ia menatap bekas itu sekali lagi. Mungkin ia salah. Mungkin bukan seperti yang dipikirkannya. Mungkin... Elena berusaha mencari alasan. Apa saja. Namun semakin lama ia melihatnya, semakin sulit untuk menyangkal. Itu bukan luka. Bukan memar biasa. Itu bekas bibir seseorang. Seseorang yang jelas bukan dirinya. Elena mundur perlahan, dadanya terasa sesak, matanya mulai panas. Selama ini Arga selalu mengatakan dirinya sibuk. Pekerjaan, meeting, perjalanan dinas, lembur. Elena selalu percaya. Bahkan ketika Arga mulai jarang pulang tepat waktu. Bahkan ketika laki-laki itu semakin sering menjauh. Namun malam ini, sebuah tanda kecil di leher suaminya membuat semua alasan itu mendadak terasa berbeda. Elena menatap Arga yang masih tertidur. Tangannya mengepal di sisi tubuh. Ia ingin membangunkannya. Ingin bertanya. Ingin mendengar penjelasan langsung dari mulut suaminya. Tetapi bibirnya tidak mampu mengeluarkan satu kata pun, karena ada satu ketakutan yang lebih besar. Bagaimana jika jawaban Arga benar-benar menghancurkan pernikahan mereka? Elena akhirnya mundur, urung membangunkan Arga. Tidak malam ini. Ia hanya berjalan ke sisi tempat tidurnya dan berbaring membelakangi suaminya. Air mata mengalir diam-diam. Tatapannya kosong ke arah dinding. Tiga tahun. Tiga tahun ia mempercayai laki-laki itu. Dan malam ini, untuk pertama kalinya, Elena mulai mempertanyakan semuanya. Matanya terpejam. Namun satu pertanyaan terus berputar di kepalanya. "Mas... sebenarnya kamu dari mana?" BERSAMBUNG.BAB 7Peringatan### Begitu pintu rumah tertutup di belakangnya, Elena berhenti beberapa langkah dari ruang tengah. Tangannya masih menggenggam tali tas, sementara pikirannya belum sepenuhnya lepas dari perjalanan pulang tadi. Suara motor Enzo yang semakin menjauh masih terngiang samar di kepalanya, tetapi perhatian Elena segera tertarik pada satu hal yang jauh lebih mengganggu. Arga masih berdiri di sana. Wajahnya terlihat tegang sejak tadi, seolah kedatangan Elena bersama Enzo telah mengubah suasana rumah yang memang sudah tidak nyaman menjadi semakin buruk. Elena menundukkan pandangan sebentar. Ia sebenarnya tidak ingin bertengkar lagi. Sejak semalam, rasanya tubuh dan pikirannya sudah terlalu lelah untuk menghadapi pertengkaran baru. Namun Arga sepertinya tidak berpikiran sama. "Kamu sekarang kerja?" Suara itu terdengar dingin. Elena mengangkat wajah. "Iya.""Sejak kapan?" "Mulai hari ini."Arga tertawa pendek. Bukan tawa yang menunjukkan rasa senang, melainkan seperti s
Bab 7Perubahan Elena###Elena tidak langsung bergerak. Tangannya masih menggantung di sisi tubuh, sementara jantungnya berdetak lebih cepat setelah melihat Arga berdiri di depan pintu rumah. Ada begitu banyak hal yang ingin ia katakan, tetapi tatapan suaminya yang dingin membuat semua kalimat itu kembali tertahan di tenggorokan. Arga tidak bertanya bagaimana harinya. Tidak juga menanyakan dari mana Elena baru pulang. Tatapan laki-laki itu justru tertuju pada motor yang masih terparkir beberapa meter dari mereka. Enzo. Pemuda itu masih duduk di atas motornya sambil melepas sarung tangan. Begitu menyadari Arga sedang memperhatikannya, Enzo hanya mengangkat dagu sedikit sebagai bentuk sapaan.Elena menelan ludah. "Mas...""Siapa dia?"Nada suara Arga terdengar datar, tetapi Elena tahu suaminya sedang menahan sesuatu.Elena menarik napas sebelum menjawab. "Dia muridku." Kening Arga mengernyit samar. "Murid?" "Iya."Arga mengalihkan pandangan kepada Elena. "Sejak kapan kamu puny
Bab 6 Ketegangan ### Elena akhirnya menghela napas panjang. Entah kenapa, berdebat dengan laki-laki yang baru dikenalnya kurang dari satu jam itu terasa jauh lebih melelahkan daripada menerima tawarannya. "Saya ikut sampai rumah saja," katanya akhirnya, masih dengan nada ragu. Senyum Enzo langsung muncul. "Nah, gitu dong." "Tapi jangan macem-macem." Enzo mengangkat kedua tangannya seolah menyerah. "Emang gue kelihatan kayak orang jahat?" Elena memperhatikannya dari ujung kepala sampai kaki. Kaus hitam, celana jeans, rambut sedikit berantakan, dan ekspresi santai yang seolah tidak pernah mengenal kata serius. "Iya," jawab Elena spontan. Enzo terdiam beberapa detik sebelum tertawa kecil. "Jujur banget, sih." Elena sendiri baru sadar dengan jawabannya. Sudut bibirnya hampir terangkat, tetapi buru-buru ia tahan. Rasanya aneh bisa bercanda seperti itu dengan orang yang baru saja dikenalnya, apalagi setelah malam yang begitu buruk. Mereka turun bersama menuju area pa
BAB 5 Enzo ### Pagi datang tanpa membawa kabar dari Arga. Elena terbangun ketika cahaya matahari menyentuh wajahnya. Untuk beberapa detik, ia hanya menatap langit-langit kamar dengan pikiran kosong. Lalu semuanya kembali. Pertengkaran semalam. Lip balm. Kucir rambut. Tamparan Arga. Dan pintu yang ditutup suaminya setelah pergi tanpa memberikan penjelasan. Elena mengangkat tangan, menyentuh pipinya. Bekasnya masih terasa nyeri. Namun rasa sakit di sana tidak seberapa dibandingkan dengan sesak yang memenuhi dadanya. Ia meraih ponsel di atas nakas, mencoba mengecek balasan pesan dari Arga. Tetapi ternyata, tidak ada pesan dari suaminya itu. Elena lantas membuka ruang percakapan mereka. Pesan terakhirnya masih sama. Tidak ada penjelasan. Tidak ada permintaan maaf. Bahkan tidak ada kalimat sederhana seperti 'aku baik-baik saja'. Elena menatap layar cukup lama sebelum akhirnya menguncinya kembali. Ia tidak ingin menangis lagi. Setidaknya bukan pagi ini.
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ulasan-ulasan