FAZER LOGIN“Tuan Kaelix?”
“Benar.” Pria itu mengalihkan pandangannya ke jendela kamar. “Sebenarnya pertemuan itu memang sudah direncanakan sejak awal. Saya dipersiapkan sebagai kandidat pendonor ginjal untuk Pak Mahendra.” Napas Sasqia tercekat. “Jadi ... sejak dulu?” “Ya.” “Tuan Kaelix yang mengurus semuanya?” Pria itu tersenyum kecil. “Saya tidak tahu sampai sejauh mana yang beliau lakukan. Tapi yang saya tahu, s“Papa sama Mama kenapa berantem?” Suara kecil Sherly membuat Raka yang sedang terduduk di ruang tengah perlahan mengangkat kepalanya. Bocah itu berdiri beberapa langkah darinya sambil memeluk boneka kesayangannya erat-erat. Matanya sembab. Sejak semalam ia ikut menangis karena melihat ibunya terus menangis. “Kenapa Mama nangis?” tanya Sherly lagi lirih. “Apa yang Papa lakuin ke Mama?” Dada Raka terasa seperti diremas. Ia menatap wajah putrinya lama. Wajah kecil yang selama ini selalu menyambutnya dengan tawa dan pelukan. Kini hanya ada kebingungan di sana. Raka mengulurkan tangannya. “Sini sama Papa.” Sherly ragu sejenak, lalu berjalan mendekat. Raka langsung memeluk tubuh kecil putrinya erat. Sangat erat. Seolah takut kehilangan satu-satunya hal baik yang masih tersisa dalam hidupnya. “Papa bikin kesalahan, Nak.” “Kesalahan apa?” Raka memejamkan mata, tenggorokannya terasa tercekat. “Kesalahan yang bikin Mama sedih.” “Kalau salah kan tinggal minta maaf.” Kalimat polos it
Malam telah larut ketika Sasqia berdiri di depan ruang pemulihan ayahnya. Dari balik kaca, ia dapat melihat Mahendra terbaring lemah di atas ranjang rumah sakit. Jarum infus menancap di punggung tangannya, sementara berbagai alat medis terus memantau kondisinya. Sejak operasi selesai, Sasqia hampir tidak beranjak dari sana. Di belakangnya, Tristan masih setia menemani. Pria itu hanya pulang sebentar untuk mandi, berganti pakaian, dan makan. Setelah itu, ia kembali lagi ke rumah sakit tanpa banyak bicara. “Saya tahu penyebab lain yang membuat Papa kamu drop.” Suara Tristan yang tiba-tiba terdengar memecah keheningan. Tubuh Sasqia sedikit menegang, perlahan ia membalikkan badan dan menatap pria itu. “Mas tahu dari mana?” tanyanya pelan. Tristan menghembuskan napas panjang. Tatapannya jatuh pada lantai beberapa saat sebelum kembali menatap Sasqia. “Ibu saya yang memberitahu.” Seketika rahang Sasqia mengeras. Ia sudah bisa menebak arah pembicaraan ini. “Mas ....” “Saya tidak b
“Tuan Kaelix?” “Benar.” Pria itu mengalihkan pandangannya ke jendela kamar. “Sebenarnya pertemuan itu memang sudah direncanakan sejak awal. Saya dipersiapkan sebagai kandidat pendonor ginjal untuk Pak Mahendra.” Napas Sasqia tercekat. “Jadi ... sejak dulu?” “Ya.” “Tuan Kaelix yang mengurus semuanya?” Pria itu tersenyum kecil. “Saya tidak tahu sampai sejauh mana yang beliau lakukan. Tapi yang saya tahu, sejak awal beliau memang sangat serius memikirkan kondisi kesehatan Pak Mahendra.” Sasqia terdiam. Jemarinya perlahan saling menggenggam. Entah kenapa, dadanya terasa sesak. “Pak ....” panggil Sasqia pelan. “Hm?” “Terima kasih.” Pria itu tersenyum hangat. “Kamu tidak perlu berterima kasih pada saya.” Sasqia mengernyit. “Kalau memang ingin berterima kasih ...,” lanjut pria itu pelan, “Orang yan
Sasqia baru saja tiba di rumah sakit. Dengan langkah tergesa, ia memasuki lobby sambil menggenggam erat tas di tangannya. Wajahnya masih terlihat pucat setelah pergi menemui seseorang yang diharapkannya dapat menyelamatkan sang ayah. “Sasqia.” Suara yang memanggil namanya membuat wanita itu tersentak pelan. Ia segera menoleh. “Mas Tristan?” Tristan berjalan menghampirinya dengan langkah cepat. Raut wajah pria itu terlihat tegang. “Kamu dari mana saja?” tanyanya. “Nomor kamu saya hubungi terus tidak aktif.” Sasqia menundukkan pandangan sesaat. “Sa-saya tadi menemui seseorang yang memiliki donor ginjal untuk Papa, Mas,” jawabnya lirih, sengaja tidak menyebut nama orang tersebut. Tristan menghembuskan napas panjang, seolah beban besar baru saja terangkat dari pundaknya. “Kamu tidak perlu memikirkan itu lagi.” Kening Sasqia langsung berker
Kaelix menghentikan aktivitasnya, lembar dokumen yang semula berada di tangannya perlahan diletakkan ke atas meja. Tatapannya yang dingin terangkat. “Dia bilang ingin bertemu dengan Anda, Pak,” lanjut sekretaris itu hati-hati. “Apa saya minta beliau membuat janji terlebih dahulu, atau—” “Tidak.” Jawab Kaelix cepat. Sekretaris itu terdiam. “Suruh dia naik.” “Baik, Pak.” Sekretaris itu segera pergi. Pintu kembali tertutup. Ruangan mendadak terasa lebih sunyi dari sebelumnya. Asisten Kaelix melirik atasannya sekilas. “Sepertinya Nona Sasqia sedang dalam masalah besar.” Kaelix menyandarkan punggungnya ke kursi, matanya menatap lurus ke arah jendela kaca besar di belakang meja. “Dia memang selalu datang saat sedang dalam masalah.” Nada suaranya datar, membuat sang asisten tidak berani menanggapi. _____ Jevier m
Miriam refleks tersedak teh yang baru saja diteguknya. Dengan cepat ia meraih gelas dan memuntahkan kembali cairan hangat itu ke dalamnya. Wajahnya berubah antara terkejut, jijik, dan tidak percaya. “Kamu tidak sedang bercanda, kan, Martha?” tanyanya tajam pada sang asisten. Martha yang berdiri di hadapannya segera menggeleng. “Tidak, Nyonya. Saya mendengarnya langsung semalam.” Miriam menatap asistennya lekat-lekat. Seolah berharap wanita itu mengatakan bahwa semua ini hanyalah kesalahpahaman. Namun Martha tetap berdiri tenang. “Bahkan saya merekam percakapan mereka.” “Merekam?” kedua alis Miriam langsung terangkat tinggi. “Iya, Nyonya.” Martha mengeluarkan ponselnya. “Kalau Nyonya ingin mendengarnya, saya bisa memutarnya sekarang.” “No!” Miriam langsung mengangkat tangan. “Jangan.” Ia menutup matanya sejenak. “Saya tidak ingin mendengar hal-hal menjijikkan sepert
Sasqia masih menatap layar ponselnya beberapa detik setelah panggilan itu berakhir. Nama Tristan perlahan menghilang dari layar, namun suaranya seolah masih tertinggal di telinganya. Ia menghela napas pelan, lalu memasukkan ponselnya ke dalam saku celana. “Telepon da
“Dok ….” Sasqia perlahan menarik kembali tangannya dari genggaman Jevier. Gerakannya halus, tapi tegas. “Terima kasih atas niat baiknya. Tapi benar, saya tidak ingin merepotkan Anda.” “Saya tidak merasa direpotkan, Sasqia,” balas Jevier tenang. Nada su
“Tuan, kita sudah sampai.” Suara sopir membangunkan Tristan yang duduk di kursi belakang. Ia baru saja tiba di vila tempat kakeknya beristirahat. Sejak mendarat di bandara, ia langsung menuju ke sini—bahkan sempat terlelap sebentar di perjalanan. Ia membuka mata perlahan, lalu keluar dari mobi
Sejenak, Jevier hanya mampu menatap Mahendra tanpa suara. Dadanya bergetar halus, detak jantungnya terasa lebih cepat dari biasanya. Ia tidak menyangka pertanyaan itu akan datang secepat ini. Dan yang lebih mengejutkan, ia tak benar-benar ingin mengelak.







