로그인Bagi Karin, dikhianati oleh tunangan dan sahabatnya sendiri adalah kehancuran mutlak. Namun, pelariannya ke klub malam justru membawanya masuk ke dalam mimpi buruk yang baru: terbangun di kamar hotel asing di sebelah pria yang tak dikenalnya. Karin memilih kabur dan bersumpah akan melupakan malam terkutuk itu. Sial bagi Karin, takdir mempermainkannya. Pria asing dari malam itu ternyata adalah Gavin Alvaro Shedy—Presiden Direktur baru di kantornya yang tiba-tiba memutasi Karin menjadi sekretaris pribadinya.
더 보기"Istri?" tanya Gavin heran, keningnya mengernyit.“Iya, Pak Gavin sudah punya istri, kan? Bahkan Bapak juga sudah punya anak,” jawab Karin sambil menunduk.Davin menggelengkan kepalanya. Ia mengulum senyum mendengar jawaban yang diberikan Karin.“Aku mohon, Pak. Aku tidak mau menjadi perusak rumah tangga orang,” sambung Karin.“Maaf, aku tidak bisa menahan diri,” jawab Gavin. Ia tidak memaksa untuk meneruskan aktivitas mereka karena ia mungkin tahu semakin memaksa, maka Karin akan semakin jauh.Karin tidak menjawab. Ia menggenggam selimutnya begitu erat. Air mata menggenang di pelupuk matanya.“Aku pulang dulu, ya,” ucap Gavin sembari merapikan rambut Karin yang sedikit berantakan. Namun, ia masih sempat mengecup bibir Karin.Karin tidak menjawab. Ia hanya menatap kepergian Gavin dengan ekor matanya.Air mata Karin akhirnya jatuh setelah pintu tertutup. Ia marah pada dirinya sendiri karena tidak bisa menahan nafsunya. Sekarang, ia malah menikmati setiap sentuhan dari Gavin.Karin berd
“Pak, aku gapapa,” ucap Karin menolak.Bagaimana tidak menolak, Gavin adalah bos tertinggi di kantornya.“Kompres dingin, bisa membuat memarnya cepat hilang,” jawab Gavin.Meskipun Karin menolak, Gavin tetap memaksa sehingga membuat gadis itu tidak punya pilihan lain saat Gavin meminta handuk kecil kepadanya.Gavin membungkus es batu itu dengan handuk kecil lalu mengompres pelan-pelan pergelangan tangan Karin. Sedangkan Karin hanya diam saja, bahkan ia tampak menahan nafasnya.“Masih sakit?” tanya Gavin.Karin menggelengkan kepalanya. “Sudah tidak lagi, Pak. Terima kasih.”Alih-alih melepaskan tangan Karin, Gavin tetap memegangnya. Meskipun Karin sudah mengatakan tidak sakit lagi. Bahkan, Gavin perlahan meniupnya.“Nanti, aku kirimkan salep.”Karin menggelengkan kepalanya. “Tidak perlu, Pak. Ini sudah sembuh kok.”“Kenapa memilih tinggal disini? Cukup jauh dari kantor.”Karin ingin menarik tangannya, tapi Gavin menahannya.“Ini yang murah, Pak.”“Gaji kamu kurang?”“Gak, Pak.”“Terus,
Plak!Sebuah tamparan dilepaskan Karin ke wajah Rio. Sebenarnya itu refleks, karena emosinya yang sudah tertahan perlu untuk disalurkan.“Jalang! Kau menamparku?” tanya Rio sambil memegang wajahnya.“Iya. Agar mulutmu itu bisa mengeluarkan kata-kata yang lebih baik. Kita tidak punya hubungan apapun lagi, jadi jangan saling mencampuri urusan,” jawab Karin.Rio marah, ia tidak pernah menyangka kalau Karin berani padanya. Selama ini, yang ia tahu Karin sangat mencintainya.“Sudah lama aku muak melihatmu yang sok suci ini, Karin. Kau pura-pura menjaga kehormatan, bahkan tunangan sendiri tidak boleh menyentuhmu. Tapi, nyatanya demi jabatan kau melakukan apa saja.”“Terserah. Tuduhkan saja sesuai dengan keyakinanmu.”Karena jawaban Karin terlalu datar, Rio tidak terima. “Katakan padaku, berapa tarifmu per jam?”Karin tidak menjawab, ia melangkah menuju pintu keluar. Tapi, Rio malah menarik tangannya.“Lepaskan!” teriak Karin menepis tangan Rio.“Kenapa kau menghindariku? Malam ini kau harus
“Keenan, kenapa panggil Mama?” tanya Gavin.“Gapapa.”Keenan masih menarik tangan Karin untuk bermain di sofa, sedangkan pengasuhnya yang berdiri di belakang hanya terdiam takut.“Pak Gavin—““Yaudah, kamu tolong ajak Keenan bermain dulu, Karin. Biar aku hubungi Frengki kalau kamu ada di ruanganku,” potong Gavin cepat dan meraih gagang telepon diujung meja kerjanya dan menekan ekstension ruangan Pak Frengki.Karin hanya mengangguk pelan. Ia ingin menolak, tapi merasa kasihan juga melihat wajah Keenan apalagi anak kecil ini begitu lucu dan menggemaskan. Pipinya sedikit gembul.“Keenan, hanya tiga puluh menit, oke?” ujar Gavin kemudian.“Hmm.”“Karin mau kerja, lain kali kamu gak boleh lagi datang ke kantor Papa. Pulang sekolah pulang ke rumah dan tunggu Papa di rumah saja.”“Papa pulangnya selalu terlambat,” jawab Keenan enteng.Gavin menggelengkan kepalanya. Ia kembali berpesan kepada pengasuh Keenan agar lain kali tidak boleh membawa Keenan ke kantor, padahal tadi Keenan datang juga
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.