Mag-log inSilakan absen yg mampir dari Radjiwa🤗
Sore itu, sebuah mobil sedan putih perlahan memasuki halaman rumah keluarga Valerio. Mesin mobil dimatikan.Seorang wanita berambut panjang bergelombang turun dengan gaun krem sederhana yang membalut tubuh semampainya.Senyum ramah tak pernah lepas dari wajahnya sejak melangkahkan kaki menuju pintu utama.Ding dong.Bel rumah berbunyi. Tak lama kemudian, seorang pelayan membukakan pintu.“Selamat sore, Non.”“Selamat sore.” Yolanda membalas dengan senyum hangat. “Apa Tante Miriam ada di rumah?”“Ada, silakan masuk.”Yolanda mengangguk pelan, lalu mengikuti pelayan menuju ruang tamu.Tak berselang lama, Miriam muncul dari arah ruang keluarga.“Yolanda?” kedua alis wanita paruh baya itu terangkat. “Tumben sekali datang tanpa memberi kabar dulu. Kamu sendirian, di mana Mama kamu?”Yolanda segera bangkit dari duduknya. “Tante. Iya, aku sendirian. Mama lagi sibuk banget jadi gak ikut ke sini.”Miriam tersenyum tipis, lalu meraih kedua tangan gadis itu. “Duduk ... duduk. Gimana kabar kamu,
Mobil Kaelix akhirnya memasuki halaman rumah Mahendra. Perjalanan pulang dari mal rupanya begitu melelahkan.Sherly sudah lebih dulu terlelap di pangkuan Kaelix sejak mobil meninggalkan pusat perbelanjaan. Napas bocah itu terdengar teratur, sesekali bibir mungilnya bergerak pelan seperti sedang bermimpi.Di sisi lain, Sasqia pun tak mampu lagi menahan kantuk. Tanpa sadar, kepalanya perlahan bersandar di bahu sang suami.Kaelix menoleh sekilas. Tatapannya jatuh pada wajah istrinya yang terlihat begitu damai dalam tidur. Beberapa helai rambut menutupi pipinya.Tanpa banyak berpikir, pria itu mengangkat tangannya, lalu menyingkirkan anak rambut tersebut dengan gerakan yang nyaris tak terasa.Setelah itu, ia kembali menatap lurus ke depan. “Zidan.”“Iya, Tuan?” Sopir itu segera menoleh melalui kaca spion.“Tolong antar Sherly masuk ke dalam. Saya tidak bisa turun.” Tatapan Kaelix kembali mengarah pada Sasqia yang masih terlelap di bahunya. “Istri saya sedang tidur.”Zidan mengikuti arah p
Mobil Kaelix memasuki area parkir sebuah pusat perbelanjaan mewah di kota. Begitu pintu mobil dibuka, Sherly langsung mengulurkan kedua tangannya ke arah Kaelix. “Om, gendong.” Kaelix melirik sebentar. “Kamu capek?” suaranya berat dan tegas. Sherly mengangguk polos. “Capek jalan dari mobil.” Sasqia spontan tertawa kecil. “Padahal baru turun.” Kaelix tidak berkomentar, tidak juga menolak. Ia membungkuk, lalu mengangkat tubuh kecil itu ke dalam gendongannya. “Pegangan yang kuat.” “Iya, Om.” Sherly langsung melingkarkan kedua lengannya di leher Kaelix dengan wajah ceria. Sementara tangan mungilnya sibuk memainkan dasi pria itu. “Om ganteng,” celetuk Sherly, tatapan polos itu terus mengamati wajah tampan di hadapannya. Kaelix menoleh, sudut bibirnya terangkat tipis. “Terima kasih.” “Tapi Papa dulu juga ganteng.” Senyum di bibir Sasqia perlahan memudar. Ia khawatir ucapan polos bocah itu membuat suasana menjadi canggung. Namun Kaelix sama sekali tidak berubah ekspresi. “Setia
Raka baru saja tiba di depan sekolah TK putrinya. Sekolah itu jauh berbeda dari yang pernah ia bayangkan. Bangunannya megah, halaman bermainnya luas, dan deretan mobil mewah memenuhi area penjemputan. Ia berdiri beberapa meter dari gerbang, kedua matanya tak lepas mengamati anak-anak yang mulai berhamburan keluar kelas. Entah apa yang ia harapkan dengan datang ke sana. Mungkin hanya ingin melihat putrinya tumbuh, meski dari kejauhan. Atau mungkin, masih ada harapan kecil untuk memperbaiki semua yang telah ia hancurkan. “Itu Sherly ....” gumamnya pelan saat melihat gadis kecil berpita merah keluar sambil menggenggam tas mungilnya. Senyum tipis langsung terukir di bibir Raka. “Sher—“ Belum sempat namanya terucap sempurna, Sherly tiba-tiba berlari kecil melewati dirinya. Raka mengernyit. Tatapannya mengikuti arah lari putrinya hingga berhenti pada sebuah sedan hitam mewah yang baru saja terparkir di depan gerbang sekolah. Pintu belakang terbuka. Seorang pria bertubuh tinggi turu
Jevier berdiri di depan jendela ruang kerjanya. Kedua tangannya masuk ke saku jas dokter, sementara tatapannya lurus ke arah gedung lain di seberang rumah sakit. Sudah beberapa hari ini ia tak lagi menerima jadwal kontrol Mahendra. Padahal sebelumnya, pria itu selalu menjadi pasien tetapnya. “Kak Kael ...,” gumamnya pelan. Sudut bibirnya terangkat tipis, tetapi tanpa senyum. “Jadi benar, kamu sengaja memindahkan Pak Mahendra ke dokter lain.” Ia menghembuskan napas panjang. Alasannya memang masuk akal. Mahendra berhak memilih dokter mana pun. Namun entah mengapa, Jevier merasa keputusan itu bukan datang dari sang pasien. “Padahal selama ini lewat Pak Mahendra aku masih bisa sesekali bertemu Sasqia.” Kini kesempatan itu benar-benar hilang. Jevier menyandarkan bahunya pada kaca jendela, tatapannya menerawang jauh. “Kamu benar-benar sedang menutup semua jalan untukku, ya, Kak?” Ia terkekeh pelan, tetapi tawa itu terdengar hambar. “Takut aku mengganggu rumah tangga kalian?” _____
“Ada keperluan apa Ibu datang ke sini?” tanya Kaelix seraya berjalan menuju sofa, lalu duduk dengan tenang. Miriam menghembuskan napas pelan sebelum ikut menghampiri. Ia mengambil tempat di samping putra sulungnya. “Ibu datang karena merindukan kamu.” Nada suaranya terdengar lembut. Tangannya perlahan menggenggam tangan Kaelix, seolah takut putranya akan menjauh. “Ibu kadang masih sulit percaya kalau anak pertama Ibu sudah sebesar ini.” Senyumnya mengembang tipis. “Rasanya baru kemarin Ibu mengandung kamu, melahirkan kamu, menggendong kamu ke mana-mana.” Kaelix hanya memandang ibunya tanpa banyak bicara. Miriam kemudian mengangkat sebelah tangannya, mengusap pelan rahang tegas putranya dengan penuh kasih. “Kamu tetap anak kecil Ibu ... meski sekarang sudah menjadi suami orang.” Kaelix menghembuskan napas pelan. Perlahan ia menurunkan tangan sang ibu dari pipinya. Namun alih-alih melepaskannya, pria itu justru menggenggam tangan tersebut dengan kedua tangannya. Tanpa ragu, Kae
“Sssh ….” Sasqia meringis pelan ketika Tristan mengoleskan salep pada lututnya yang mulai membiru. “Tahan sedikit. Sebentar lagi selesai,” ujar Tristan lembut. Ia berjongkok di hadapan Sasqia yang duduk di tepi ranjang. Gerakannya hati-hati, nyaris terlalu hati-hati untuk sekadar mengobati luka
Suara sendok beradu pelan dengan piring. Sasqia membeku. Kakek mengangkat alisnya tinggi. Kaelix tersenyum tipis—bukan karena terhibur, melainkan karena tertantang. Sementara Sasqia merasakan jantungnya berdetak tidak wajar. Tristan tetap tenang, seolah baru saja mengatakan sesuatu yang sepenu
Lebih bagus? Untuk dia? “Kapten.” Sasqia menggeleng tegas, berusaha mengusir debar aneh di dadanya. “Tidak perlu. Saya hanya perlu mengambil kembali kalung yang Mama saya ambil.” Tristan memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana seragamnya. Tatapannya tenang, namun sulit ditebak. “Jadi
Sasqia tiba di bandara dengan perasaan yang benar-benar kacau. Bayangan kalung pemberian Tristan yang kini berpindah tangan, dirampas oleh ibunya terus menghantui pikirannya. Bagaimana kalau nanti dirinya bertemu dengan Tristan? Bagaimana kalau pria itu menanyakan kalung tersebut?







