LOGIN"Bilqis... Ah, Bilqis..." Deg! Jantung Bilqis berdentum begitu keras hingga telinganya berdenging. Namanya.... Bagi seorang gadis yang selama ini hidup dalam kepolosan dan tekanan keluarga, pemandangan itu adalah sebuah hantaman visual yang tak pernah ia bayangkan. Kepalanya mendadak pening. Jemari Bilqis gemetar hebat, dan detik berikutnya— PLAK! Map cokelat berisi ijazah bernilai sempurna itu terlepas dari genggamannya, jatuh menghantam lantai parket kayu dengan suara yang memecah keheningan kamar. Mata Andika terbuka lebar seketika! Napas Andika tercekat saat matanya menangkap sosok Bilqis yang berdiri mematung di dekat pintu, menatapnya dengan mata bulat yang dipenuhi campur aduk antara syok, malu, dan ketakutan yang polos. Dalam sepersekian detik, kesadaran menghantam kepala Andika seperti godam. Rasa malu yang luar biasa, bersalah, dan panik membakar wajah dokter berwibawa itu hingga memerah padam. Dia langsung menarik selimut tebal menutupi tubuhnya, gerakannya liar dan kacau. "Bilqis?!" suara Andika melengking, kasar dan bergetar akibat syok yang luar biasa karena ketahuan di posisi paling tidak berdaya. "Apa yang... kenapa kamu tidak mengetuk pintu?!" Bilqis melangkah mundur satu tapak, bibirnya gemetar, lidahnya mendadak kelu. "Aku... aku cuma mau..." "Keluar!" bentak Andika dengan nada tinggi, mengusap wajahnya yang basah oleh keringat dingin dengan kasar. Mata pria itu tidak berani menatap Bilqis. "Keluar sekarang, Bilqis! Keluar!"
View MoreBAB 118: Tak Ada Yang Sempurna (BAB PENUTUP)Delapan bulan kemudian.Lorong ruang bersalin RSUD Setia Budi dipenuhi ketegangan berbaur kehangatan. Jarum jam dinding menunjukkan pukul dua dini hari. Di dalam kamar bersalin utama, erangan halus bertukar dengan napas teratur yang dipandu oleh tim medis.Andika melepas sebagian profesionalismenya sebagai dokter spesialis kandungan malam itu. Sebagai gantinya, ia hadir sepenuhnya sebagai seorang suami. Ia berdiri di sisi kiri tempat tidur bersalin, menggenggam erat jemari Bilqis yang dingin dan berpeluh. Dengan tangan kanannya, Andika mengusap lembut kening istrinya, membisikkan doa-doa penguat di setiap selang gelombang kontraksi."Sedikit lagi, Sayang... Tarik napas pelan, hembuskan. Mas ada di sini, kamu luar biasa," bisik Andika, suaranya yang serak menyembunyikan getar emosi yang luar biasa.Di sisi kanan tempat tidur, Naina tak henti-hentinya mengusap rambut putri sulungnya. Air mata mengalir dipipinya yang mulai digaris keripu
BAB 117: Muara HidupSuara panggilan antrean dari mikrofon suster Rini terdengar samar-samar menembus dinding kedap suara ruang kerja Andika. Di dalam ruangan sejuk itu, Bilqis baru saja menyelesaikan potongan buah apel terakhirnya. Rasa lega menyelimuti hatinya saat ia mengelus perutnya yang masih rata. Tidak ada lagi rasa mual yang menyiksa seperti kemarin pagi, seolah sang janin di dalam sana mengerti bahwa kedua orang tuanya tengah dikelilingi kedamaian.Waktu bergulir cepat di RSUD Setia Budi. Jarum jam dinding tepat menunjukkan pukul satu siang lewat lima belas menit ketika pintu penghubung ruang kerja berbunyi pelan. Andika melangkah masuk seraya melepas jas putih dokternya. Garis-garis kelelahan tampak samar di paras tampannya setelah memeriksa puluhan pasien sepanjang pagi, namun binar matanya seketika hangat begitu tatapannya jatuh pada sang istri."Bagaimana, Sayang? Bosan menunggu Mas?" tanya Andika lembut seraya menggantung jas dokternya di kapstok kayu, lalu melangka
BAB 116: Kagum dalam KeheninganPintu kayu ruang kerja Andika kembali tertutup rapat setelah Suster Rini berpamitan keluar. Bilqis mengulas senyum tipis, lalu meraih potongan buah apel segar yang disajikan dengan rapi di atas nampan. Rasa manis dan renyah apel itu seketika memanjakan lidahnya, mengusir sisa-sisa rasa mual yang sempat mengintai. Di layar televisi, tayangan berita tentang dinamika bisnis dan politik terus bergulir, namun hati Bilqis sudah berada di tempat yang jauh lebih tenang, di dalam perlindungan hangat sang suami.Sementara itu, di balik meja pendaftaran Poliklinik Kebidanan dan Kandungan yang padat oleh antrean pasien, Suster Rini berjalan kembali dengan langkah yang perlahan melambat. Nampan kosong di genggamannya terasa sedikit lebih berat dari biasanya.Perawat muda itu menarik kursi kerjanya, lalu mendudukkan diri di depan layar komputer pendaftaran. Tatapannya tertuju lurus ke arah pintu ruang kerja Dokter Andika yang tertutup rapat, lalu beralih menyapu
BAB 115: Dokter Khusus di Rumah SendiriSuasana rumah dinas terasa jauh lebih lapang dan hangat setelah kepulangan Naina ke Jakarta. Tidak ada lagi ketegangan yang menggantung di udara, tidak ada lagi rasa cemas, yang tersisa di rumah nan sederhana itu hanyalah kedamaian yang telah lama dinantikan oleh Andika dan Bilqis.Matahari pagi baru saja menyembulkan sinarnya yang hangat dari balik pepohonan. Di dalam dapur, aroma harum teh chamomile yang diseduh hangat menguar pelan, membaur dengan aroma roti panggang.Bilqis berdiri di dekat kompor, bersiap untuk menggoreng telur mata sapi untuk sarapan mereka. Namun, baru saja ia menyalakan kompor dan menuang sedikit minyak ke atas wajan, sebuah lengan kokoh melingkar hangat di pinggangnya dari arah belakang."Eits, mau buat apa, Sayang?" bisik suara bernada rendah yang sangat familiar tepat di samping telinganya.Bilqis mengecap bibirnya pelan, menoleh sedikit seraya tersenyum manis. Andika sudah tampil segar dengan kemeja kasualnya,






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.