LOGIN"Bilqis... Ah, Bilqis..." Deg! Jantung Bilqis berdentum begitu keras hingga telinganya berdenging. Namanya.... Bagi seorang gadis yang selama ini hidup dalam kepolosan dan tekanan keluarga, pemandangan itu adalah sebuah hantaman visual yang tak pernah ia bayangkan. Kepalanya mendadak pening. Jemari Bilqis gemetar hebat, dan detik berikutnya— PLAK! Map cokelat berisi ijazah bernilai sempurna itu terlepas dari genggamannya, jatuh menghantam lantai parket kayu dengan suara yang memecah keheningan kamar. Mata Andika terbuka lebar seketika! Napas Andika tercekat saat matanya menangkap sosok Bilqis yang berdiri mematung di dekat pintu, menatapnya dengan mata bulat yang dipenuhi campur aduk antara syok, malu, dan ketakutan yang polos. Dalam sepersekian detik, kesadaran menghantam kepala Andika seperti godam. Rasa malu yang luar biasa, bersalah, dan panik membakar wajah dokter berwibawa itu hingga memerah padam. Dia langsung menarik selimut tebal menutupi tubuhnya, gerakannya liar dan kacau. "Bilqis?!" suara Andika melengking, kasar dan bergetar akibat syok yang luar biasa karena ketahuan di posisi paling tidak berdaya. "Apa yang... kenapa kamu tidak mengetuk pintu?!" Bilqis melangkah mundur satu tapak, bibirnya gemetar, lidahnya mendadak kelu. "Aku... aku cuma mau..." "Keluar!" bentak Andika dengan nada tinggi, mengusap wajahnya yang basah oleh keringat dingin dengan kasar. Mata pria itu tidak berani menatap Bilqis. "Keluar sekarang, Bilqis! Keluar!"
View MoreBab 22: CemburuSubuh bertabur embun yang menempel di kaca jendela kamar utama, aura kesejukannya seolah teramat betah membuai wajah lelap Bilqis. Namun gadis itu menggeliat pelan, merasakan kehangatan yang melingkupi tubuhnya. Saat kesadarannya pulih sepenuhnya, ia menyadari lengan kokoh Andika masih melingkar protektif di pinggangnya, memeluknya erat dari belakang seolah takut ia akan menghilang.Bilqis menahan napas sejenak, menatap wajah tidur suaminya dari jarak dekat. Dalam kondisi terpejam seperti ini, gurat tegas dan ketampanan Andika tidak berkurang sedikit pun, hanya tampak lebih damai dibandingkan mode dokter galak yang ia tunjukkan semalam.Perlahan dan sangat hati-hati, Bilqis memindahkan tangan Andika dari pinggangnya agar tidak membangunkan pria yang baru tidur beberapa jam itu. Dia segera turun dari ranjang, merapikan gaun tidurnya, lalu melangkah ke dapur untuk membuat sarapan sederhana.Satu jam kemudian, aroma harum nasi goreng mentega buatan Bilqis sudah memen
Bab 21: Di Antara Dua NyawaLangkah kaki Andika menggema cepat membelah kesunyian malam di koridor RSIA Kiera Medika Utama. Pria itu praktis berlari kecil dari rumahnya, mengabaikan dinginnya angin malam Banjarmasin yang menusuk kulit. Dia memilih berlari saja, bukan mengendarai mobil, karena memanaskan mesin mobil itu akan menyita waktu tersendiri, anggap saja dia sedang olahraga di tengah malam buta.Begitu melewati pintu kaca otomatis ruang operasi (OK), atmosfer langsung berubah tegang.Sisil dan tim anestesi sudah berdiri siaga di posisinya masing-masing. Di atas meja operasi, Ny. Dania tampak terpejam dengan masker oksigen yang terpasang di wajah, sementara mesin monitor di sampingnya terus berbunyi bip-bip-bip dengan irama yang terlalu lambat dan tidak beraturan."Kondisi terakhir, Sil?" tanya Andika tegas sembari melangkah cepat ke area pencucian tangan steril. Dia menggosok lengannya dengan cairan antiseptik di bawah air mengalir dengan gerakan taktis."Cairan hidrasi s
Bab 20: Panggilan TugasMalam telah larut ketika SUV hitam milik Andika kembali memasuki pekarangan rumah. Jarum jam hampir menyentuh angka sebelas malam. Andika melangkah masuk ke dalam rumah dengan tubuh yang didera letih luar biasa setelah menghadapi jadwal praktik yang padat dan visit pasien pasca-operasi di poli kandungan RSIA Kiera Medika Utama.Hal pertama yang Andika lakukan adalah melangkah menuju kamar tamu seberang koridor. Benar dugaannya, ia mendapati Bilqis sudah terlelap di sana. Istrinya itu tertidur dalam posisi meringkuk memeluk guling, tampak begitu polos dan damai di bawah temaram lampu tidur yang kuning redup.Andika tersenyum tipis. Rasa letihnya mendadak menguap sebagian. "Istriku, ternyata dia sudah tidur. Kasihan sekali, pasti capek sekali menghadapi drama tadi siang," gumam Andika seraya menggeleng samar. "Mau sampai kapan orang-orang itu menghina kamu? Padahal kamu nggak tahu apa-apa di masa lalu."Tanpa berniat membangunkan, pria itu perlahan menyusupk
Bab 19: Perhatian KecilMobil SUV hitam milik Andika akhirnya kembali terparkir dengan mulus di pekarangan rumahnya yang sepi. Selama perjalanan pulang, keheningan sempat mendominasi, namun genggaman tangan Andika pada jemari Bilqis tidak pernah terlepas, menyalurkan kehangatan yang perlahan mengikis sisa rasa sakit hati akibat makian Tante Revi barusan.Tak ada yang meminta untuk menjadi seorang anak yang statusnya seperti Bilqis. Ini murni masalah takdir, dan tak ada yang bisa merubah ketentuan Tuhan. Lalu mau sampai kapan Bilqis dihina sebagai anak di luar pernikahan atau anak haram, padahal jelas-jelas Naina dan Revan sudah mencoba menyelamatkan status Bilqis, meski kenyataan bahwa Naina sudah hamil saat menikah dengan Revan. Hal itu tidak bisa dipungkiri.Naina pun juga tidak ingin hamil diluar nikah, dia bukan perempuan murahan seperti yang selama ini dituduhkan oleh Revi. Revi menolak kenyataan jika Naina merupakan korban pemerkosaan, meski oleh kekasihnya sendiri. Albert lah












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.