Masuk“Kak Tristan ke mana, Bu?” tanya Jevier seraya menghampiri ibunya yang duduk di barisan paling depan bersama Remmer dan Raymond. Miriam menoleh sekilas. “Ibu juga tidak tahu, Jev. Tadi dia berangkat lebih dulu. Harusnya sekarang sudah ada di sini.” “Berangkat lebih dulu?” Satu alis Jevier terangkat. “Ibu yakin dia memang ke sini?” “Memangnya mau ke mana lagi?” balas Miriam dengan kening berkerut. Jevier tak menjawab. Ia hanya menghembuskan napas pelan, lalu duduk di samping Raymond. Pria tua itu melirik cucu bungsunya sekilas. “Kamu hebat juga,” ujarnya sambil terkekeh pelan. “Bisa setegar ini melihat wanita yang kamu sukai menikah dengan kakakmu sendiri.” Tak ada jawaban. Tatapan Jevier lurus tertuju ke altar. Di sana, Kaelix berdiri tegak dengan setelan jas hitamnya. Wajahnya tetap datar, tetapi sorot matanya tak pernah lepas dari pintu utama gereja. Menunggu. _____ Di sisi lain, Mahendra telah berdiri rapi di depan pintu gereja. Jantung pria paruh baya itu berdegup lebih
Hari itu, hari yang selama ini dinantikan Kaelix akhirnya tiba. Sejak pagi, mansion keluarga Valerio telah dipenuhi kesibukan. Para staf lalu-lalang mempersiapkan segala sesuatu agar hari sakral itu berjalan sempurna. Di salah satu ruangan, Kaelix duduk tenang di depan cermin. Seorang penata rias profesional merapikan rambutnya dengan teliti. Jas hitam yang melekat di tubuh pria itu semakin menonjolkan wibawa dan kharisma yang selama ini menjadi ciri khasnya. Tak jauh dari sana, Miriam duduk memperhatikan putra sulungnya. Tatapannya tak pernah lepas. Perlahan kedua matanya mulai berkaca-kaca. Hari ini, anak yang selama ini begitu sulit disentuh hatinya akhirnya akan menikah. Meski bukan dengan wanita yang selama ini ia harapkan. “Anak sulung Ibu sangat tampan hari ini.” Miriam bangkit dari duduknya, lalu menghampiri Kaelix. Dengan jemari yang sedikit gemetar, ia merapikan kerah jas putranya yang sebenarnya sudah sempurna. “Semoga kamu bahagia dengan pilihanmu.” Kaelix mengang
“M-Mas ...?” Napas Sasqia tercekat. Tatapannya mengikuti punggung Kaelix yang semakin menjauh menuju pintu apartemen. “Mas ... jangan salah paham dulu.” Suaranya terdengar lirih, nyaris tenggelam. “Tadi ... Mas Tristan cuma—” Kalimatnya menggantung. Kaelix tidak berbalik. Ia hanya berhenti sejenak di ambang pintu, lalu mengangkat telapak tangannya yang kini telah dibalut perban rapi. “Terima kasih.” Hanya itu. Tak ada pertanyaan, tak ada amarah. Pria itu kembali melangkah dan meninggalkan apartemen. Klik. Pintu tertutup pelan. Sasqia masih mematung di tempat yang sama, tatapannya kosong mengarah ke pintu yang baru saja tertutup. Ia perlahan menundukkan kepala. “Jadi ...,” bisiknya lirih. “Dia belum pulang setelah nganter aku tadi?” _____ Keesokan harinya, sekitar pukul sepuluh pagi, bel apartemen kembali berbunyi. Kali ini Soraya datang bersama Shiren dan Sherly. Saat mereka masuk, seorang perawat pribadi baru saja selesai memeriksa kondisi Mahendra. “Tekanan darah Bapak
Ding. Dong. Bel apartemen terus berbunyi memecah keheningan malam. Jam dinding sudah menunjukkan pukul sebelas tepat. Sasqia yang belum juga memejamkan mata menghela napas pelan. Ia turun dari ranjang, mengenakan sandal rumah, lalu berjalan menuju pintu. “Siapa malam-malam begini?” gumamnya pelan. “Mama? Atau Kak Shiren?” Begitu gagang pintu diputar dan daun pintu terbuka, kedua matanya langsung membulat. “Tuan Kaelix...?” Pria itu berdiri tegak di hadapannya. Jas hitam yang dikenakan masih begitu rapi, sementara kedua tangannya tersimpan di belakang punggung. Tatapannya lurus. Dingin. Sulit ditebak. “Tuan ... ada apa malam-malam begini?” tanya Sasqia hati-hati. Kaelix tidak menjawab. Ia justru melangkah masuk begitu saja, melewati Sasqia tanpa menunggu dipersilakan. Sasqia buru-buru menutup pintu, lalu mengikuti langkah pria itu dengan perasaan tidak tenang. Entah kenapa, aura Kaelix malam ini terasa jauh lebih dingin dari biasanya. “Di mana Papa kamu?” tanyanya akhirnya,
Sasqia perlahan menarik tangannya dari genggaman Tristan. “Semuanya udah terlambat, Mas,” ucapnya lirih. “Beberapa hari lagi saya akan menikah dengan Tuan Kaelix.” Tristan menggeleng cepat. Napasnya memburu. “Belum terlambat, Sas.” Tatapannya memohon. “Masih ada waktu sebelum hari pemberkatan. Kamu masih bisa membatalkannya.” “Mas ....” “Saya tahu kalian sudah menjalani kanonik. Tapi itu bukan berarti semuanya tidak bisa dihentikan. Selama janji suci belum diucapkan di altar, masih ada kesempatan.” Tristan kembali menggenggam kedua tangan Sasqia. Kali ini lebih hati-hati, seolah takut wanita itu benar-benar pergi. “Ingat lagi waktu kita mulai saling mengenal.” Senyum tipis yang pahit terbit di sudut bibirnya. “Kita memang tidak bersama terlalu lama. Tapi semua yang kita jalani nyata. Saya mencintai kamu karena saya ingin mencintai kamu ... bukan karena kasihan, bukan karena balas budi, dan bukan karena terpaksa.” “Saya memang pernah gagal melepaskan Mina.” Suara Tristan mulai
“Ini bukan sesuatu yang bisa dijadikan bahan candaan, Kek,” ucap Kaelix datar. Tatapannya lurus menembus mata sang kakek, dingin tanpa sedikit pun nada bercanda. Raymond justru terkekeh pelan. “Kenapa terlalu serius?” tanyanya santai. “Kalau memang sama-sama suka, tidak ada salahnya berbagi.” Sorot mata Kaelix berubah semakin tajam. “Apa maksud Kakek?” “Maksud kakek sederhana.” Raymond menyandarkan tubuhnya di sofa. “Kalau kamu tidak keberatan, kenapa harus diperebutkan?” “Saya keberatan.” Jawaban itu keluar tanpa jeda. “Saya tidak suka berbagi.” Ucap Kaelix, membuat suasana ruang tamu berubah sunyi. Tanpa menunggu tanggapan siapa pun, Kaelix membalikkan badan. Langkahnya tenang, namun tegas, meninggalkan ruang tengah begitu saja. Raymond hanya menggeleng pelan sambil tersenyum tipis. “Rupanya sifat posesifnya masih sama.” Tatapannya kemudian beralih kepada Miriam. “Sepertinya kejadian bertahun-tahun lalu kembali terulang, ya?” Miriam menghembuskan napas pelan. “Entahlah, Yah.
“Terima kasih banyak, Dok,” ucap Mahendra dengan tulus. “Sama-sama, Pak.” Jevier tersenyum tipis, lalu mengalihkan pandangannya kepada Sasqia yang sejak tadi terlihat diam. “Ada masalah, Sas?” tanyanya, membuyarkan lamunan wanita itu. Sasqia tersentak pelan, kemudian tersenyum kecil. “Nggak ada,
“Mas semalam ke rumah sakit, ya?” tanya Sasqia pelan, membuka percakapan lebih dulu saat mereka makan siang bersama. Sendok di tangan Tristan terhenti di udara. Ia lalu meletakkannya kembali di atas piring, sebelum menatap Sasqia. “Kamu tahu dari mana?” Sasqia tersenyum kecil. “Semalam Tuan Kael
“Om Tristan ke mana, Sus?” tanya Sana siang itu dengan suara kecil. Usai makan dan menelan obatnya, tubuh mungilnya diminta beristirahat. Ia sudah berbaring di atas ranjang rumah sakit, selimut menutupi hingga dada. Babysitter yang menemaninya duduk di kursi dekat ranjang, mengusap pelan rambut h
“Kaelix memberikan sponsor itu pada pramugari lain?” Mata Miriam membulat tajam. “Padahal aku sudah lebih dulu mencantumkan nama Jessie.” “Ada alasannya,” jawab Remmer tenang, mencoba meredam gejolak di suara istrinya. “Apa alasannya?” dagu Miriam terangkat tinggi, s







