LOGINCamelia baru saja kembali ke tanah air setelah bertahun-tahun menetap di luar negeri. Belum sempat menikmati kepulangannya, ia sudah dipaksa menghadiri pesta ulang tahun sahabat yang paling ia percaya. Namun malam yang seharusnya penuh kebahagiaan berubah menjadi mimpi buruk. Sahabatnya sendiri mengkhianatinya dan menjebaknya hingga Camelia berakhir di kamar seorang pria asing. Di sisi lain, Morgan datang ke hotel itu dengan satu tujuan—bertemu untuk pertama kalinya dengan cinta pertamanya yang selama ini hanya dikenalnya dari kejauhan. Sayangnya, sebuah kesalahan membuatnya memasuki kamar yang salah. Takdir mempertemukan mereka dalam situasi yang sama sekali tidak terduga. Morgan terkejut ketika mendapati wanita di hadapannya adalah Camelia, musuh bebuyutannya semasa SMA yang selalu membuat hidupnya berantakan. Satu malam yang penuh kesalahpahaman mengikat dua orang yang saling membenci. Ketika rahasia, pengkhianatan, dan perasaan yang selama ini terkubur mulai terungkap, akankah mereka tetap menjadi musuh... atau justru jatuh cinta?
View More"Pradipta Nusantara..." bisik Noah dengan suara tertahan.Pria tua di atas kursi roda itu terkekeh pelan—sebuah suara parau yang bergetar dari dada yang rapuh. "Senjata itu tidak diperlukan lagi, Anak Muda. Waktuku di dalam bayangan sudah genap."Di dalam ruangan berukuran empat kali empat meter tersebut, jajaran layar monitor masih menampilkan lalu lintas data terenkripsi yang rumit. Di sanalah seluruh transaksi peracunan Valeria, penguncian akun cangkang di Zurich, hingga pengalihan perhatian pihak keamanan terkendali. Pria yang selama lima belas tahun diyakini tewas dalam ledakan helikopter di atas perairan Kepulauan Seribu itu rupanya hidup membusuk di dalam paviliun keluarga Erlangga, bergerak bagaikan hantu yang mengendalikan papan catur dari balik dinding tebal."Tuan Morgan harus mengetahui hal ini sekarang juga," tegas Noah, merogoh perangkat komunikasi di dadanya."Jangan ganggu fajar sucinya," potong Pradipta cepat dengan nada penuh otoritas pimpinan masa lalu. Tatapannya m
"Ulangi ucapanmu, David," pangkas Morgan dengan nada bariton yang begitu rendah, dingin, dan mengancam.Udara di ruang kendali bawah tanah Grand Ballroom seketika membeku. David menundukkan kepalanya dalam-dalam, menyodorkan tablet digital yang menampilkan grafik lokasi pemancar sinyal satelit terenkripsi. Titik merah berkedip presisi di atas peta digital kompleks kediaman utama Erlangga di Menteng."Sinyal perintah peracunan Valeria dikirimkan pukul dua puluh tiga empat belas semalam, Tuan," ujar David cepat dengan suara gemetar. "Sinyal tersebut memanfaatkan pemancar satelit privat yang terhubung ke jaringan komunikasi lama di paviliun belakang rumah Nyonya Helena."Morgan menatap titik merah di layar monitor tanpa berkedip. Pikiran pria tegap itu bekerja secepat kilat, menganalisis setiap kemungkinan. Apakah ada penyusup yang bertahun-tahun bersembunyi di dalam kediaman keluarganya sendiri? Ataukah bayangan masa lalu yang diyakini telah mati lima belas tahun lalu sebenarnya tak per
"Bencana sesungguhnya..." gumam Morgan Erlangga dengan suara serak yang amat dingin.Ia mematikan sambungan telepon dari Mabes Polri, lalu meletakkan ponsel terenkripsi itu di atas meja kayu mahoni. Suasana ruang kerja pribadi di lantai dua kediaman Menteng seketika berubah mencekam. Angin malam yang berembus melintasi celah jendela kaca terasa membekukan.Camelia Nusantara melangkah mendekat, matanya menatap Morgan dengan raut penuh kecemasan yang tertahan. "Morgan... apa yang terjadi pada Valeria? Apa pesan yang ditinggalkannya?"Morgan memutar tubuhnya perlahan, menatap Camelia. Pria tegap itu berusaha keras menutupi riak kegelisahan di matanya agar tidak memicu kepanikan pada calon istrinya. Namun, Camelia mengenalnya terlalu baik untuk bisa dibohongi."Valeria diracun di dalam sel isolasinya," pangkas Morgan tenang namun tegas. "Dia saat ini dalam kondisi kritis di rumah sakit Bhayangkara di bawah pengawalan ketat."Camelia menahan napasnya, jemarinya mengepal kencang di tepi gau
"Lakukan penguncian total pada seluruh aset *Aegis Capital* sekarang!" perintahkan Morgan Erlangga dengan nada dingin yang tidak menerima bantahan.Di dalam ruang kerja pribadi lantai paling atas Gedung Erlangga Holding, layar monitor menampilkan jaringan transaksi perbankan internasional yang terhubung langsung dengan otoritas moneter di Singapura, Zurich, dan Kepulauan Cayman. Berdasarkan bukti telepon satelit dan pengakuan kelompok penyusup yang tertangkap basah di Tanjung Priok beberapa jam lalu, tim hukum internasional Morgan meluncurkan serangan balik finansial tercepat dalam sejarah aliansi mereka.David berdiri di samping meja, menatap barisan angka dan kurva transaksi yang mulai memerah di layar monitor."Otoritas Keuangan Singapura (MAS) telah menerima perintah pembekuan aset tingkat darurat," pangkas David cepat. "Rekening utama senilai empat puluh juta Dolar Singapura milik loyalis Bagaskara yang tersisa telah dikunci sepenuhnya. Mereka tidak lagi memiliki akses dana untuk






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.