LOGINCamelia baru saja kembali ke tanah air setelah bertahun-tahun menetap di luar negeri. Belum sempat menikmati kepulangannya, ia sudah dipaksa menghadiri pesta ulang tahun sahabat yang paling ia percaya. Namun malam yang seharusnya penuh kebahagiaan berubah menjadi mimpi buruk. Sahabatnya sendiri mengkhianatinya dan menjebaknya hingga Camelia berakhir di kamar seorang pria asing. Di sisi lain, Morgan datang ke hotel itu dengan satu tujuan—bertemu untuk pertama kalinya dengan cinta pertamanya yang selama ini hanya dikenalnya dari kejauhan. Sayangnya, sebuah kesalahan membuatnya memasuki kamar yang salah. Takdir mempertemukan mereka dalam situasi yang sama sekali tidak terduga. Morgan terkejut ketika mendapati wanita di hadapannya adalah Camelia, musuh bebuyutannya semasa SMA yang selalu membuat hidupnya berantakan. Satu malam yang penuh kesalahpahaman mengikat dua orang yang saling membenci. Ketika rahasia, pengkhianatan, dan perasaan yang selama ini terkubur mulai terungkap, akankah mereka tetap menjadi musuh... atau justru jatuh cinta?
View MoreDua orang penyidik berjaket kulit hitam dari Satuan Reserse Kriminal berdiri tegap di sudut lorong khusus perawatan intensif. Di hadapan mereka, Morgan menyandarkan punggungnya pada dinding porselen yang dingin. Lampu neon panjang di langit-langit memantulkan pendar putih menyengat ke wajah tampannya yang kini pucat pasi, mempertegas garis rahangnya yang menegang kaku."Tuan Morgan Erlangga," penyidik senior berwajah keras itu membuka buku catatan kecilnya seraya menatap Morgan dengan pandangan menyidik tanpa kompromi. "Sistem logistik dan manifes pengiriman armada Erlangga Holding mencatat dengan jelas bahwa paket buket bunga peony putih itu dijemput oleh kurir resmi perusahaan Anda pukul sepuluh pagi tadi. Surat jalan dan kartu ucapan berinisial nama Anda telah disita sebagai barang bukti awal."Morgan memiringkan kepalanya sedikit. Manik matanya yang pekat membara oleh amarah yang tertahan di balik ketenangannya yang dipaksakan."Saya tidak pernah memesan bunga itu, apalagi meranca
Suara monoton dari monitor garis jantung bergema konstan di dalam ruang perawatan intensif (ICU) Rumah Sakit Internasional Grand Medika. Bau cairan antiseptik yang pekat bercampur hawa dingin dari pendingin udara medis menusuk hidung. Di tengah ruangan berlapis dinding kaca tebal itu, Camelia terbaring kaku di atas ranjang besi.Berbagai selang transparan dan kabel monitor menempel di tubuhnya. Sebuah alat bantu napas (ventilator) terpasang memuat pipa udara melewati tenggorokannya, memaksa paru-parunya mengembang dan mengempis secara artifisial. Wajahnya yang biasa memancarkan dominasi dan keanggunan kini tampak memucat bagaikan pualam dingin. Kulit jemarinya yang lemas terkulai di atas sprei putih, tanpa ada sedikit pun pergerakan reflektif.Di luar dinding kaca ICU, Noah berdiri mencengkeram pembatas besi hingga buku-buku jarinya memutih. Matanya merah membara akibat amarah dan kurang tidur, menatap tubuh Camelia dengan raut wajah yang hancur.Pintu kaca otomatis ICU tergeser terbu
Sinar matahari siang menerobos masuk melalui dinding kaca ruang kerja Camelia di lantai teratas Gedung Nusantara Heritage. Ruangan yang didominasi interior kayu jati dan marmer putih itu terasa hangat. Di atas meja mahoni yang tertata rapi, tumpukan berkas ekspansi perusahaan dan laporan audit aset mendiang ibunya mulai berkurang secara signifikan—sebuah bukti dari kerja keras tanpa henti selama beberapa minggu terakhir.TOK! TOK!Pintu jati berukir ganda ketukan dua kali secara teratur. Seorang staf sekretariat melangkah masuk dengan hati-hati, membawa sebuah kotak transparan dari mika tebal yang diikat dengan pita sutra berwarna biru gelap."Permisi, Nona Camelia," ujar staf wanita itu seraya membungkukkan badan sedikit. "Baru saja ada kurir khusus dari armada pengiriman resmi Erlangga Holding yang mengantarkan ini. Katanya, ini kiriman prioritas tinggi yang harus diserahkan langsung ke meja Anda."Camelia mengalihkan pandangannya dari layar laptop. Dahi mulusnya berkerut tipis, nam
"Dua ratus miliar. Habiskan sisa napasnya, tapi buat seolah-olah hatinya berhenti secara alami."Bagaskara menghempaskan koper kulit lusuh di atas meja kayu yang lapuk. Suara gedomplak tebal kertas uang memenuhi ruangan sempit berbau apek dan tembakau murah di kawasan dermaga tua pelabuhan. Di balik remang lampu pijar yang berkedip samar, tumpukan lembaran uang tunai merah menyala menyembul dari resleting koper yang terbuka separuh.Di seberang meja, seorang pria paruh baya berkulit pucat dengan bekas luka bakar memanjang dari pelipis hingga leher tidak berkedip. Jemarinya yang kurus kering dan bernoda bahan kimia hitam meraih sebotol kaca kecil berukuran tak lebih dari ibu jari. Di dalamnya, cairan bening tanpa warna bergerak tenang—tampak sangat biasa, namun mematikan."Racun saraf ini sintetis, Tuan Bagaskara," suara pria itu terdengar serak seperti gesekan amplified kertas amplas. "Tidak berbau, tidak berasa, dan menguap bersama udara jika dipicu oleh suhu ruangan tertentu. Begitu






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.