MasukCamelia baru saja kembali ke tanah air setelah bertahun-tahun menetap di luar negeri. Belum sempat menikmati kepulangannya, ia sudah dipaksa menghadiri pesta ulang tahun sahabat yang paling ia percaya. Namun malam yang seharusnya penuh kebahagiaan berubah menjadi mimpi buruk. Sahabatnya sendiri mengkhianatinya dan menjebaknya hingga Camelia berakhir di kamar seorang pria asing. Di sisi lain, Morgan datang ke hotel itu dengan satu tujuan—bertemu untuk pertama kalinya dengan cinta pertamanya yang selama ini hanya dikenalnya dari kejauhan. Sayangnya, sebuah kesalahan membuatnya memasuki kamar yang salah. Takdir mempertemukan mereka dalam situasi yang sama sekali tidak terduga. Morgan terkejut ketika mendapati wanita di hadapannya adalah Camelia, musuh bebuyutannya semasa SMA yang selalu membuat hidupnya berantakan. Satu malam yang penuh kesalahpahaman mengikat dua orang yang saling membenci. Ketika rahasia, pengkhianatan, dan perasaan yang selama ini terkubur mulai terungkap, akankah mereka tetap menjadi musuh... atau justru jatuh cinta?
Lihat lebih banyakAroma alkohol yang menyengat bercampur dengan wangi maskulin yang pekat memenuhi udara kamar nomor 404. Morgan melangkah sempoyongan, tangannya meraba-raba dinding es yang dingin untuk mencari keseimbangan. Kepalanya berdenyut hebat, menciptakan bayangan-bayangan semu yang menari-nari di balik kelopak matanya yang memberat. Di bawah temaram cahaya lampu jalanan yang menembus celah gorden, siluet sesosok wanita yang tengah berbaring di atas ranjang king-size tertangkap oleh indra penglihatannya yang kabur.
"Kau... akhirnya datang juga!" bisik Morgan, suaranya serak dan berat. Di dalam benaknya yang telah dikuasai ilusi alkohol, garis wajah wanita itu melebur menjadi sosok masa lalu—cinta pertamanya yang selalu ia dambakan. Morgan merangkak naik ke atas ranjang, berat tubuhnya membuat kasur pegas itu ambles ke dalam. Di sisi lain, Camelia merasakan seluruh tubuhnya seperti terbakar. Efek obat perangsang yang tanpa sengaja terminum olehnya di pesta tadi malam kini telah mencapai puncaknya, melumpuhkan seluruh logika dan kekuatan fisiknya. Napasnya terengah-engah, memburu udara dingin AC kamar yang mendadak terasa begitu panas di kulitnya. Ketika sebuah tubuh besar yang hangat merayap di atasnya, Camelia tidak memiliki kekuatan untuk menghindar. Setiap sentuhan pria itu bagai siraman air es di atas kulitnya yang membara, memicu insting purba yang tak bisa ia kendalikan. Dalam kegelapan kamar yang pekat, sekat-sekat realitas runtuh. Bibir mereka bertemu dalam ciuman yang menuntut, saling memagut tanpa tahu siapa lawan bicaranya. Morgan membiarkan instingnya mengambil alih; kecupan-kecupannya turun ke leher, menyusuri bahu, dan menjelajahi setiap jengkal tubuh Camelia yang gemetar pasrah. Malam itu, di dalam ruangan yang sunyi, jeritan gairah dan napas yang memburu menjadi satu-satunya melodi yang mengiringi penyatuan paksa takdir mereka. Cahaya matahari pagi yang terik menembus jendela kaca, menyorot langsung ke atas ranjang yang berantakan. Camelia mengerang kecil, merasakan pening yang luar biasa menghantam pelipisnya. Saat mencoba menggeser tubuhnya yang terasa remuk, ia merasakan sebuah lengan kekar dan berat melingkar erat di pinggangnya. Camelia tersentak. Matanya membelalak lebar melihat hamparan dada bidang berbulu tipis tepat di depan wajahnya. Sontak, ia menarik selimut untuk menutupi tubuhnya yang polos dan mendorong pria itu menjauh hingga terkesiap bangun. "Hei, sial! Siapa pria yang menyentuhku?!" teriak Camelia beralih rupa menjadi histeria. Suaranya melengking tinggi memecah keheningan pagi. Morgan melenguh, mengerutkan kening dalam-dalam karena tidurnya terusik. Ia membuka matanya perlahan, menyipit akibat silau matahari. Saat ia duduk dan selimutnya merosot, tatapannya langsung tertuju pada dadanya sendiri. Kulitnya yang kecokelatan kini dipenuhi bercak-bercak merah keunguan—tanda kecupan yang ditinggalkan dengan liar oleh wanita di hadapannya semalam. Morgan mendongak, menatap tajam wanita yang kini meringkuk di sudut ranjang dengan wajah pucat pasi. Kesadarannya perlahan pulih, mengenali fitur wajah yang sangat familiar itu. "Jadi kau... Camelia? Wanita yang kusentuh malam tadi?" Morgan mendengus, membersihkan sisa kantuk dari suaranya. Mata Camelia membulat sempurna saat mengenali wajah pria yang berdiri di depannya. "Oh, kau Morgan?! Sialan! Kenapa kau bisa masuk ke dalam kamarku?!" Camelia melempar bantal terdekat ke arah dada Morgan dengan amarah yang meledak-ledak. Morgan menangkap bantal itu dengan satu tangan dengan mudah, bibirnya menyunggingkan senyum sinis yang meremehkan. Ia melipat tangannya di dada, menatap Camelia dari atas ke bawah. "Hei, Camelia. Kau sejak SMA jatuh cinta denganku, kan?" Morgan mencondongkan tubuhnya ke depan, mengintimidasi. "Jadi sekarang sudah jelas. Kau yang sengaja menyelinap dan naik ke ranjangku demi mendapatkan apa yang kau mau!" Wajah Camelia memerah padam, bukan karena malu, melainkan karena penghinaan yang baru saja ia dengar. Tubuhnya gemetar hebat menahan amarah yang mendidih di dada. "Kepedean sekali Anda, Tuan Morgan!" sentak Camelia, jarinya menunjuk tepat ke hidung pria itu. "Saya tidak pernah mau, bahkan tidak sudi, untuk tidur dengan pria arogan seperti Anda!" "Jangan berbohong!" Morgan mencengkeram pergelangan tangan Camelia yang menunjuknya, memaksa wanita itu menatap langsung ke dalam manik matanya yang dingin. "Aku tahu taktik wanita sepertimu. Aku tahu kau sengaja melakukan ini semua karena ingin menjadi istriku, bukan? Menggunakan tubuhmu sebagai tiket masuk ke keluarga besar?" "Lepaskan!" Camelia menyentakkan tangannya dengan kasar hingga terlepas. Air mata frustrasi mulai menggenang di pelupis matanya, namun ia menolak untuk menangis di depan pria brengsek ini. "Kau benar-benar sakit jiwa! Aku tidak pernah menginginkan posisi itu!" Morgan hanya mendengus meremehkan. Ia beranjak dari ranjang tanpa memedulikan tatapan benci dari Camelia, berjalan dengan tenang menuju meja rias tempat jas dan dompetnya tergeletak. Dengan gerakan santai, ia membuka dompet kulitnya, menarik seikat tebal uang pecahan seratus ribu, lalu berjalan kembali ke tepi ranjang. Plak! Morgan melemparkan seikat uang itu tepat ke atas kasur, tepat di hadapan Camelia. Lembaran-lembaran uang itu sedikit berhamburan, kontras dengan sprei putih yang kusut. "Ambil ini," ucap Morgan dingin, suaranya datar tanpa emosi. "Gunakan uang ini untuk membeli apa pun yang kau mau, dan anggap saja malam tadi tidak pernah terjadi. Ambil uang itu, pergi dari sini, dan jangan pernah berpikir untuk menggangguku lagi dengan drama 'istri' atau apa pun itu." Camelia menatap tumpukan uang di depannya, lalu beralih menatap wajah Morgan yang tampak begitu angkuh. Tangannya mengepal erat hingga kuku-kukunya memutih, menahan diri agar tidak mencakar wajah pria di hadapannya saat itu juga. "Aku bukan pelacur! Aku tidak Sudi menerima uangmu!""Pradipta Nusantara..." bisik Noah dengan suara tertahan.Pria tua di atas kursi roda itu terkekeh pelan—sebuah suara parau yang bergetar dari dada yang rapuh. "Senjata itu tidak diperlukan lagi, Anak Muda. Waktuku di dalam bayangan sudah genap."Di dalam ruangan berukuran empat kali empat meter tersebut, jajaran layar monitor masih menampilkan lalu lintas data terenkripsi yang rumit. Di sanalah seluruh transaksi peracunan Valeria, penguncian akun cangkang di Zurich, hingga pengalihan perhatian pihak keamanan terkendali. Pria yang selama lima belas tahun diyakini tewas dalam ledakan helikopter di atas perairan Kepulauan Seribu itu rupanya hidup membusuk di dalam paviliun keluarga Erlangga, bergerak bagaikan hantu yang mengendalikan papan catur dari balik dinding tebal."Tuan Morgan harus mengetahui hal ini sekarang juga," tegas Noah, merogoh perangkat komunikasi di dadanya."Jangan ganggu fajar sucinya," potong Pradipta cepat dengan nada penuh otoritas pimpinan masa lalu. Tatapannya m
"Ulangi ucapanmu, David," pangkas Morgan dengan nada bariton yang begitu rendah, dingin, dan mengancam.Udara di ruang kendali bawah tanah Grand Ballroom seketika membeku. David menundukkan kepalanya dalam-dalam, menyodorkan tablet digital yang menampilkan grafik lokasi pemancar sinyal satelit terenkripsi. Titik merah berkedip presisi di atas peta digital kompleks kediaman utama Erlangga di Menteng."Sinyal perintah peracunan Valeria dikirimkan pukul dua puluh tiga empat belas semalam, Tuan," ujar David cepat dengan suara gemetar. "Sinyal tersebut memanfaatkan pemancar satelit privat yang terhubung ke jaringan komunikasi lama di paviliun belakang rumah Nyonya Helena."Morgan menatap titik merah di layar monitor tanpa berkedip. Pikiran pria tegap itu bekerja secepat kilat, menganalisis setiap kemungkinan. Apakah ada penyusup yang bertahun-tahun bersembunyi di dalam kediaman keluarganya sendiri? Ataukah bayangan masa lalu yang diyakini telah mati lima belas tahun lalu sebenarnya tak per
"Bencana sesungguhnya..." gumam Morgan Erlangga dengan suara serak yang amat dingin.Ia mematikan sambungan telepon dari Mabes Polri, lalu meletakkan ponsel terenkripsi itu di atas meja kayu mahoni. Suasana ruang kerja pribadi di lantai dua kediaman Menteng seketika berubah mencekam. Angin malam yang berembus melintasi celah jendela kaca terasa membekukan.Camelia Nusantara melangkah mendekat, matanya menatap Morgan dengan raut penuh kecemasan yang tertahan. "Morgan... apa yang terjadi pada Valeria? Apa pesan yang ditinggalkannya?"Morgan memutar tubuhnya perlahan, menatap Camelia. Pria tegap itu berusaha keras menutupi riak kegelisahan di matanya agar tidak memicu kepanikan pada calon istrinya. Namun, Camelia mengenalnya terlalu baik untuk bisa dibohongi."Valeria diracun di dalam sel isolasinya," pangkas Morgan tenang namun tegas. "Dia saat ini dalam kondisi kritis di rumah sakit Bhayangkara di bawah pengawalan ketat."Camelia menahan napasnya, jemarinya mengepal kencang di tepi gau
"Lakukan penguncian total pada seluruh aset *Aegis Capital* sekarang!" perintahkan Morgan Erlangga dengan nada dingin yang tidak menerima bantahan.Di dalam ruang kerja pribadi lantai paling atas Gedung Erlangga Holding, layar monitor menampilkan jaringan transaksi perbankan internasional yang terhubung langsung dengan otoritas moneter di Singapura, Zurich, dan Kepulauan Cayman. Berdasarkan bukti telepon satelit dan pengakuan kelompok penyusup yang tertangkap basah di Tanjung Priok beberapa jam lalu, tim hukum internasional Morgan meluncurkan serangan balik finansial tercepat dalam sejarah aliansi mereka.David berdiri di samping meja, menatap barisan angka dan kurva transaksi yang mulai memerah di layar monitor."Otoritas Keuangan Singapura (MAS) telah menerima perintah pembekuan aset tingkat darurat," pangkas David cepat. "Rekening utama senilai empat puluh juta Dolar Singapura milik loyalis Bagaskara yang tersisa telah dikunci sepenuhnya. Mereka tidak lagi memiliki akses dana untuk
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.