Share

57

Penulis: Dinara Sofia
last update Tanggal publikasi: 2026-07-28 13:34:35

Seketika Leni dan Baskoro jadi pusat perhatian semua pengunjung. Beberapa berbisik-bisik menyalahkan Leni yang sejak awal mencari masalah, sebagian menyalahkan Aris yang datang terlambat, sebagian lagi memuji Miranda yang rendah hati tidak membuka identitasnya.

Udara yang sejuk membuat Baskoro resah dan wajah panik. Baskoro berdiri gemetar, pria paruh baya itu baru saja mendapatkan kerja sama proyek perumahan elit bernilai puluhan miliar, yang baru saja ditandatanganinya bersama perwakilan Vard
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Dekapan Mantan Majikan   58

    ‘Haih, dasar keras kepala. Padahal udah diingatkan dari tadi, mau kasian … tapi dia terlalu sombong,’ pikir Miranda.Miranda yang berdiri di samping kakaknya menatap pemandangan itu dengan tatapan iba. Tidak ada riak kepuasan yang berlebihan di matanya, sebuah sikap kedewasaan yang lahir dari tempaan penderitaan masa lalu.Dia menggandeng lengan Aris dengan lembut, mengajak kakaknya melangkah pergi meninggalkan Leni yang masih menangis tersedu-sedu di atas lantai pameran, dibarengi tatapan cemooh para tamu undangan.“Yuk kita pergi dari sini, Kak. Jangan lupa traktiran karena telat,” bisik Miranda dengan suara yang sangat tenang dan elegan.“Oke. Mulai sekarang, gak akan ada satu orang pun yang berani menyentuh atau merendahkan kamu lagi,” sahut Aris sambil mengusap lembut jemari adiknya di atas lengannya.“Mana ada yang berani, kakaknya galak begini, hahaha.” Miranda tertawa lepas.“Kamu harus bahagia ya, Dek. Udah lama aku gak liat kamu ketawa begitu,” tutur Aris.Tanpa terasa, satu

  • Dekapan Mantan Majikan   57

    Seketika Leni dan Baskoro jadi pusat perhatian semua pengunjung. Beberapa berbisik-bisik menyalahkan Leni yang sejak awal mencari masalah, sebagian menyalahkan Aris yang datang terlambat, sebagian lagi memuji Miranda yang rendah hati tidak membuka identitasnya.Udara yang sejuk membuat Baskoro resah dan wajah panik. Baskoro berdiri gemetar, pria paruh baya itu baru saja mendapatkan kerja sama proyek perumahan elit bernilai puluhan miliar, yang baru saja ditandatanganinya bersama perwakilan Vardana Development beberapa jam lalu. Sayangnya, secercah harapan untuk menyelamatkan perusahaannya dari jurang kebangkrutan itu sirna dalam hitungan detik.“Tuan Aris, saya memohon kebijaksanaan Anda. Leni ini memang sangat bodoh dan kurang ajar, saya bakal kasih pelajaran di rumah, tetapi proyek ini tidak ada hubungannya dengan kelakuannya yang gak tau aturan itu,” ratap Baskoro dengan suara bergetar.Lelaki itu mencoba menyelamatkan perusahaannya, tanpa proyek ini … perusahaannya nyaris bangkru

  • Dekapan Mantan Majikan   56

    Seorang pria bertubuh tegap dalam balutan setelan jas buatan Italia melangkah anggun melewati kerumunan orang, diiringi oleh empat orang pengawal pribadi berseragam hitam yang langsung membuat barisan pengamanan. Pria itu adalah Aris, sosok pemilik baru Vardana Development yang kini memegang kendali penuh atas industri real estate di kota tersebut. “Ada keributan apa ini di depan stan utama perusahaan saya?” tanya Aris dengan nada dingin. Hanya mendengar suaranya saja, sudah memancarkan dominasi yang seketika membungkam suara riuh di aula pameran. “Tuan Aris! Selamat sore, Tuan! Maafkan keributan kecil ini, perempuan babu gatel yang kerja sampingan jadi sales ini yang mengganggu ketenangan pengunjung pameran,” jawab Leni penuh percaya diri. Sikapnya berubah seketika, menjadi manis, memasang senyuman paling memikat sambil merapikan gaun merahnya. Baskoro yang mengenali sosok pemilik baru raksasa properti itu langsung membungkukkan badannya secara terhormat, merasa ini adalah

  • Dekapan Mantan Majikan   55

    “Satpam! Satpam mana satpam? Usir perempuan miskin ini dari sini, bikin rusuh!” teriak Leni sambil berdiri.Tempat pameran real estate nasional itu tampak begitu dipadati oleh para pengusaha kelas atas, investor asing, dan deretan selebriti ibu kota. Seketika berbisik-bisik sambil menunjuk ke arah Leni.“Kalau yang aku lihat dari tadi, Anda yang mengganggu dia. Fitnah juga bisa dituntut secara hukum,” ucap seorang lelaki berpakaian rapi.Leni merasa malu karena banyak yang membela Miranda dan menyudutkannya, lalu memberi kartu nama ayahnya untuk mengirimkan tagihan ganti rugi.Miranda pergi meninggalkan tempat itu, lalu berdiri di depan stan pameran utama dengan tenang, memerhatikan nomor dokumen perizinan perdata yang pernah dia buat. Aris memintanya datang sebenarnya sebagai perwakilan tim hukum riset, Miranda tampil begitu anggun dan berkelas dalam balutan kemeja sutra putih dan rok pensil hitam yang memperlihatkan keanggunan alaminya. Hal ini terjadi karena karyawan Aris memperca

  • Dekapan Mantan Majikan   54

    [Jangan harap kamu bisa hidup tenang, Mira. Kamu harus ikut hancur juga, tunggu aja balasanku,] tulis Erna.“Kapan sih mereka ini berhenti ganggu aku? Udah cerai juga,” gumam Miranda.Miranda mengabaikan pesan itu, kemudian dia kembali membuka pesan itu dan mengambil tangkapan layar atas ancaman dari Erna tersebut.Wanita itu tidak bisa tidur, memilih merapikan pakaian dan beberapa benda miliknya. Keesokan harinya, Aris dan Miranda pindah ke rumah baru. “Mira, besok jam pulang kantor supirku jemput kamu, trus ke pameran properti. Aku mau kenalin kamu ke beberapa rekan bisnis, biar ga ditindas kalo ada urusan sama mereka. Nanti kita pulang bareng kalo acara di sana udah selesai,”kata Aris.“Oke, Kak,” sahut Miranda.Keesokan harinya Miranda ke kantor dan sibuk seperti biasa, di sela kesibukannya dirinya juga hadir ada kelas secara virtual. Ya, Miranda kini sudah kuliah di Universitas Terbuka.Hari Senin adalah hari sibuk bagi Rolan, hanya mengirim pesan mesra beberapa kali, tanpa sem

  • Dekapan Mantan Majikan   53

    “Itu masa lalu, Kak. Aku senang kita bisa kumpul lagi,” kata Miranda sambil memeluk kakaknya.“Maaf, ga maksud membuka lukamu, Mira. Oh ya. Kakak udah beli rumah, kita besok pindah ke sana,” ungkap Aris.“Hah? Serius, Kak? Di mana? Ajak aku liat rumah,” rengek Miranda.“Ayo, sekalian kakak mau pamer mobil baru,” sahut Aris.Kedua kakak beradik itu keluar kamar, tanpa mengganti pakaian dan mandi, mereka meninggalkan kos.Mobil yang dikendarai Aris menuju sebuah salah satu perumahaan elit, terkenal mahal dengan desain yang modern.“Waaah, ini mobil kakak keluaran terbaru? Nyaman, ya. Eh … ini ke perumahan Golden Eagle, Kak?” tanya Miranda.“Iya, ini tuh salah satu aset dari perusahaan properti yang aku beli kemaren, ada tiga unit. Sisanya udah dibeli orang,” terang Aris.Mereka tiba di sebuah rumah tiga lantai, rumah mewah dengan desain minimalis modern ala luar negeri.Halaman depan tidak terlalu luas, tetapi bagian belakang memiliki kolam renang dan sebuah taman kecil.“Keren banget.

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status