Masuk“Tiga tahun aku membiarkanmu menjadikanku pemuas di atas ranjang. Tapi setelah malam ini... giliranmu yang akan berlutut di bawah kakiku.” Di mata Samudera Vance Alexander, sang miliarder dingin penguasa kota. Celina hanyalah mahasiswi miskin berwajah manis yang patuh dan bisa dibeli dengan uang bulanan serta fasilitas mewah. Hubungan mereka murni transaksi: kenikmatan ranjang tanpa ikatan perasaan. Tepat saat Samudera memutuskan kontrak demi pertunangan bisnis dengan putri konglomerat Sanjaya, Celina pergi tanpa meneteskan setitik pun air mata.Samudera mengira ia baru saja melepas wanita simpanannya dengan mudah. Ia tidak pernah tahu bahwa gadis lugu di tempat tidurnya adalah Celina Sanjaya—pewaris sah berdarah biru yang identitas dan warisannya direbut paksa oleh calon tunangan Samudera yang ternyata adik tiri Celina. Ig : Missnhanie Fb : Nanitamam TT : Nanitamam
Lihat lebih banyak“Setelah malam ini kontrak kita berakhir?”
Celina yang masih berada di atas ranjang sutra itu mengerutkan kening dengan senyum tipis yang sarat misteri. Rambut hitam bergelombangnya tergerai berantakan di atas bantal, membingkai wajah cantiknya yang masih memancarkan sisa-sisa peluh kenikmatan. “Kenapa?” bisik Celina dengan nada malas, seolah tidak ada beban sedikitpun dalam nada suaranya. Pria di hadapannya tidak langsung menjawab. Ia sibuk merapikan penampilannya, mengancingkan kemeja putihnya satu per satu dengan gerakan presisi dan tenang. Tubuh kekar dan atletis itu terbungkus sempurna di balik bahan katun mahal, menyembunyikan tato samar di balik punggung yang baru saja dicakar Celina beberapa puluh menit lalu. “Minggu depan aku akan bertunangan,” jawab Samudera dengan nada datar, dingin seperti es di kutub utara. Tidak ada jeritan histeris. Tidak ada air mata dramatis. Celina justru menyibak selimut satin yang membungkus tubuhnya, membiarkan udara dingin penthouse menyentuh kulitnya yang mulus. Ia melangkah anggun mendekati Samudera dengan tubuh polos tanpa sehelai benang. Tanpa ragu, jemari lentik Celina membantu mengancingkan satu kancing terakhir di kerah kemeja Samudera, lalu merapikan dasi sutra pria itu. “Kalau begitu, selamat.” “Selamat?” Kedua alis tebal Samudera terangkat, menatap wanita di depannya dengan kilatan bingung yang jarang terlihat dari seorang konglomerat dingin sepertinya. “Selamat karena Anda akhirnya akan punya pasangan resmi,” jawab Celina seraya berjinjit, mengecup rahang tegas dan leher berotot Samudera yang harum aroma cedarwood. “Jadi mulai hari ini, Anda tidak butuh saya lagi sebagai pemuas di ranjang.” Samudera menatapnya lekat-lekat, rahangnya sedikit mengeras saat tangan Celina turun dari lehernya. “Aku harap tidak ada jejak apa pun di antara kita setelah kamu melangkah keluar dari pintu itu.” Celina membungkuk, memungut pakaian dalamnya yang berceceran di lantai marmer hitam tanpa rasa canggung sedikit pun. Ia menoleh ke arah Samudera yang masih berdiri kaku memperhatikannya. “Tentu dengan senang hati, Tuan Samudera. Setelah malam ini, kita kembali menjadi dua orang asing yang tidak saling mengenal.” “Apa kamu benar-benar tidak merasa keberatan?” tanya Samudera. Nada suaranya sedikit meninggi, terselip rasa tersinggung karena wanita yang menemaninya tiga tahun terakhir ini sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda kehilangan. Celina menggeleng pelan sambil menyunggingkan senyum paling manis yang ia miliki. “Tidak sama sekali. Bukankah sejak awal hubungan kita murni simbiosis mutualisme? Anda membiayai kuliahku sampai lulus cumlaude, membelikan apartemen, dan menanggung gaya hidupku, sementara tugasku adalah memuaskan Anda di atas ranjang. Sekarang tugasku selesai, gelarku sudah di tangan, dan Anda mau menikah. Fair enough, bukan?” Tanpa menunggu balasan pria itu, Celina melenggang santai menuju kamar mandi. Begitu pintu kaca tebal itu tertutup rapat, Celina menyalakan keran wastafel dan menatap pantulan dirinya di depan cermin besar berlampu temaram. Wajahnya tetap tenang, tetapi sorot matanya berubah tajam dan penuh perhitungan. Di leher jenjang dan tulang selangkanya, jejak-jejak merah keunguan terpatri jelas—bukti dari pergulatan liar yang mereka lalui beberapa jam lalu. Celina menyentuh bekas merah itu perlahan, lalu menarik sudut bibirnya hingga membentuk seringai tipis. “Sudah berakhir, Celina. Panggung sandiwara pertama selesai, sekarang saatnya memulai permainan yang sesungguhnya,” gumamnya lirih pada pantulan dirinya sendiri. Dua puluh menit kemudian, Celina keluar dari kamar mandi dengan penampilan yang segar. Ia telah mengenakan gaun terusan hitam sederhana yang membalut lekuk tubuhnya dengan sopan namun memikat, dipadukan dengan mantel panjang berwarna krem. Di ruang utama kamar hotel mewah itu, Samudera sedang duduk bersandar di kursi kulit sambil menyesap cerutu. Asap tipis mengepul di udara, berpadu dengan aroma wiski dari gelas kristal di sampingnya. Di atas meja kaca bundar di depan Samudera, tergeletak selembar dokumen resmi, pulpen bertatahkan emas, dan sebuah black card tanpa batas limit. “Tandatangani surat pelepasan tuntutan itu dan ambil kartunya,” titah Samudera dengan suara berat yang bergetar rendah di udara. Celina melangkah mendekat tanpa ragu. Suara hak sepatunya mengetuk lantai marmer dengan ketukan berirama. Ia mengambil pulpen emas itu, membubuhkan tanda tangannya di atas kertas tanpa membaca klausul-klausul panjang yang tertulis di sana. Ia sudah hafal isi perjanjian semacam itu di luar kepala. “Kamu tidak mau bertanya?” tanya Samudera tiba-tiba, matanya mengunci pergerakan tangan Celina. “Soal apa?” Celina meletakkan pulpen itu kembali dan mengangkat dagunya, pura-pura bingung. “Pertunanganku. Siapa wanitanya, dari keluarga mana dia berasal, atau kenapa aku memilihnya.” Celina tertawa kecil, suara tawanya terdengar renyah namun menusuk telinga Samudera. Jemari lentiknya yang dingin menyentuh pipi Samudera yang tertutup bayang janggut tipis. Celina mencondongkan tubuhnya ke depan hingga napas hangatnya menyapu bibir Samudera, mengikis jarak di antara mereka hingga hanya tersisa satu tarikan napas. “Tidak ada hal yang perlu kutanyakan, Tuan Samudera. Kehidupan pribadimu di luar ranjang ini bukan urusanku lagi. Semua sudah jelas di surat perjanjian. Terima kasih atas tiga tahun yang sangat menguntungkan ini.” Cup. Celina mengecup lembut bibir Samudera untuk terakhir kalinya, sebuah ciuman perpisahan yang singkat namun membakar. Sebelum pria itu sempat membalas atau meraih tengkuknya, Celina sudah menarik diri dengan lihai. Tangannya bergerak cepat menyambar black card berkilau di atas meja. Mata Samudera menggelap, pupilnya melebar menahan gejolak amarah dan kebingungan yang bercampur menjadi satu. Ada sesuatu yang salah dari ketenangan Celina, tetapi ego prianya menolak untuk mengakui bahwa ia baru saja dilepaskan begitu mudah. “Selamat untuk pertunanganmu besok malam. Semoga kalian berdua bahagia sampai maut memisahkan. Aku pergi,” pamit Celina dengan nada riang. “Celina!” panggil Samudera dengan nada dingin yang menuntut saat wanita itu berbalik menuju pintu. Celina menghentikan langkahnya tepat di ambang pintu, menoleh sekali lagi ke belakang, lalu melemparkan kecupan jauh di udara disertai kedipan nakal yang mematikan. “Selamat malam, mantan sugar daddy-ku yang tampan!” Pintu kayu jati berat itu tertutup dengan bunyi klik yang halus, meninggalkan Samudera sendirian di tengah ruangan megah yang mendadak terasa begitu hampa dan sunyi. Celina terus melangkah di koridor hotel bintang lima yang sepi tanpa menoleh ke belakang sedikit pun. Punggungnya tegak, langkahnya mantap, memancarkan aura percaya diri yang mutlak. Ketika ia memasuki lift berdinding cermin, senyum manis yang tadi ia pasang untuk Samudera seketika lenyap tak berbekas, digantikan oleh ekspresi dingin dan penuh perhitungan. Celina mengangkat kartu hitam pemberian Samudera ke depan wajahnya, mencium permukaannya yang berkilau dingin, lalu menyelipkannya ke dalam tas jinjing mewahnya. Ia merogoh saku mantelnya dan mengeluarkan ponsel lain—ponsel rahasia yang tidak pernah diketahui Samudera. Jarinya menari lincah di atas layar, membuka sebuah folder terkunci yang berisi puluhan dokumen digital, foto-foto rahasia pengalihan aset perusahaan, serta riwayat rekening penampung milik Samudera yang telah berhasil ia kumpulkan selama tiga tahun tidur di samping pria itu. Lift berdenting pelan, membawanya meluncur turun menuju lantai lobi. Di layar ponselnya, Celina membuka sebuah foto undangan pertunangan mewah yang akan digelar besok malam di Grand Ballroom hotel terbesar di kota ini. Nama Samudera tertera jelas di sana, bersanding dengan nama seorang wanita bangsawan dari keluarga konglomerat farmasi: Agatha Sanjaya. Bibir Celina melengkung membentuk senyuman penuh racun. Clarissa Wijaya bukan orang asing baginya. Clarissa adalah saudara tiri yang telah merebut warisan mendiang ibunya sepuluh tahun lalu, mendepak Celina ke jalanan, dan membiarkannya bertahan hidup dalam kemiskinan hingga ia harus menjual harga dirinya demi sebuah gelar dan koneksi. Tiga tahun lalu, Celina tidak sengaja masuk ke kehidupan Samudera. Pria itu mengira Celina hanyalah mahasiswi cantik yang polos dan butuh uang, mangsa empuk untuk dijadikan simpanan rahasia. Samudera tidak pernah tahu bahwa sejak malam pertama mereka bertemu di bar eksklusif itu, Celina sudah merancang seluruh skenario ini dengan sangat rapi. Celina sengaja mendekati pria yang paling diincar oleh keluarga Wijaya, menghabiskan tiga tahun mempelajari setiap kelemahan bisnis Samudera, dan mengumpulkan semua bukti korupsi internal yang bisa menghancurkan kerajaan bisnis pria itu dalam semalam. “Kerja sama yang sangat menyenangkan selama tiga tahun ini, Tuan Samudera. Tapi aku punya kejutan spesial untukmu."Pagi itu, Celina sudah duduk manis di kursi belakang mobil bersama Dinda dengan sebuah black card berkilau di antara jemarinya, sementara senyum keduanya perlahan berubah semakin lebar ketika mobil mewah tersebut berhenti tepat di depan butik desainer paling eksklusif di pusat kota.“Celina, aku masih tidak percaya kamu benar-benar membawa kartu milik Samudera untuk belanja hari ini,” ujar Dinda sambil menatap kartu hitam tersebut dengan mata berbinar, seolah benda kecil itu merupakan tiket menuju surga bagi dua perempuan yang sudah terlalu lama hidup dengan perhitungan anggaran.Celina tertawa kecil sambil membuka pintu mobil. “Bukan membawa kartu milik Samudera untuk belanja, Din, tetapi memanfaatkan fasilitas kontrak baru yang memang sudah dia setujui.”“Kalau begitu, berapa batas nominalnya?” tanya Dinda dengan antusias.“Tidak ada,” jawab Celina.Dinda langsung tersenyum lebar muncul di wajahnya. “Aku suka kontrak baru kalian.”Celina tertawa renyah sebelum melangkah memasuki but
“Kenapa tertawa?!” bentak Samudera dengan suara rendah yang terdengar jauh lebih kasar daripada biasanya. Sementara napasnya masih memburu akibat perjalanan tergesa-gesa menuju apartemen wanita itu. Tangan Samudera masih mencengkeram pergelangan tangan Celina dengan kuat ketika wanita itu justru tertawa renyah. Celina tidak menjawab pertanyaan tersebut secara langsung. Dia malah mengangkat tangan satunya, merapikan kerah kemeja putih Samudera yang berantakan akibat pria itu keluar dari mobil tanpa memperhatikan penampilannya sendiri. Kemudian menepuk-nepuk bagian dada kemeja tersebut dengan gerakan santai seolah sedang merapikan pakaian seorang pria yang baru saja selesai melakukan perjalanan bisnis. “Lucu sekali melihat Tuan Samudera seperti ini,” ujar Celina dengan senyum penuh kemenangan yang perlahan menghiasi bibirnya. “Selama tiga tahun, aku selalu melihatmu sebagai pria paling tenang, paling terkendali, dan paling sulit ditebak di dunia ini, tetapi malam ini kamu bahkan
“Ya ampun, Tuan Samudera... bukankah kita baru berpisah beberapa waktu lalu? Jangan bilang Anda sudah merindukanku lagi?” kekeh Celina santai. Tidak ada raut tegang ataupun cemas yang membayang di wajah cantiknya saat menatap ekspresi murka Samudera. Sudut bibirnya justru melengkung manis, memamerkan senyuman menggoda yang selama tiga tahun terakhir selalu berhasil melucuti akal sehat pria di hadapannya. Napas Samudera memburu kasar. Sorot matanya yang gelap dan menusuk seolah ingin menelanjangi seluruh rahasia yang disembunyikan wanita itu di balik topeng kepolosannya. “Jangan banyak bicara! Ikut denganku sekarang!” tegas Samudera dingin. Tanpa menunggu persetujuan, jemari kokoh pria itu mencengkeram pergelangan tangan Celina dengan dominasi mutlak. Tarikannya begitu bertenaga hingga tubuh ramping Celina terhuyung menabrak dada bidang Samudera yang berbalut kemeja putih kusut. “Celina!” panggil Dinda cemas dari balik ambang pintu, bola matanya membulat ngeri melihat sahabatnya
"Jadi kalian benar-benar selesai?” tanya Dinda, menatap sahabatnya dengan sorot mata tak percaya. “Minggu depan dia akan bertunangan. Lihat ini, aku mendapat black card sebagai kompensasinya.” Celina menunjukkan kartu hitam berkilau di jemarinya dengan senyum tipis yang getir. Ia menjatuhkan tubuhnya yang ramping dan padat berisi ke atas sofa beludru apartemennya yang temaram. Kepalanya bersandar lelah pada bantal sofa yang empuk, memejamkan mata sejenak untuk menahan denyut perih yang tiba-tiba menusuk dadanya. Dinda menyambar kartu hitam tanpa batas itu dengan bola mata berbinar takjub, namun segera menatap Celina dengan raut cemas. “Apa kamu tidak akan menyesal, Celina? Melepaskan tambang emas begitu saja?” Celina membuka matanya perlahan, menghela napas panjang yang terasa begitu berat membebani rongga dadanya. Ia menatap Dinda lekat-lekat. “Lalu kamu ingin aku bagaimana? Menangis meraung-raung, menjerit histeris, atau bersujud di bawah kakinya dan memohon agar dia tidak












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.