Saat Aku Menjadi Istri Kakak Sepupumu

Saat Aku Menjadi Istri Kakak Sepupumu

By:  Sari TangUpdated just now
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel16goodnovel
Not enough ratings
50Chapters
1views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Liora Pramana menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri pengkhianatan paling memalukan yang dilakukan suaminya, Ehren Januarta. Pria itu telah menghamili kakak iparnya sendiri, tetapi masih berkata tanpa rasa bersalah, "Karena kamu nggak bisa melahirkan, Keluarga Januarta nggak boleh sampai kehilangan keturunan." Betapa ironisnya. Dulu, orang yang berlutut sembilan kali untuk melamarnya dan bersumpah rela menjalani vasektomi demi tidak memiliki anak juga adalah dia. Karena cinta telah berubah menjadi bahan tertawaan, tidak ada lagi martabat yang perlu dipertahankan. Malam itu juga, Liora menghubungi nomor yang tidak seorang pun berani mengusiknya, lalu memutuskan menikah lagi dengan pria paling berkuasa di Kota Nartua. Mereka kembali bertemu di pesta pernikahannya. Mata Ehren memerah. Dia berlutut di hadapan Liora. "Sayang, aku salah. Kumohon, lihat aku sekali lagi. Cuma sekali ...." Namun, Liora justru mundur selangkah dan tepat jatuh ke dalam pelukan pria di belakangnya. Devon Januarta, pria yang dijuluki "Raja Neraka" — sosok yang dirumorkan kejam, dingin, dan menguasai setengah kota — melingkarkan lengannya erat di pinggang Liora. Suaranya sedingin mata pisau. "Sepertinya kamu lupa pada senioritas keluarga." "Sekarang, kamu harus memanggilnya Kak Ipar Liora."

View More

Chapter 1

Bab 1

"Sayang, anak yang dikandung kakak iparmu itu, adalah anakmu?"

Wajah Liora seketika pucat pasi. Dia tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.

Tujuh bulan lalu, kakak kandung Ehren meninggal dalam kecelakaan mobil. Karena iba melihat kakak iparnya, Yuna Laksono, yang baru saja menjanda sekaligus tengah mengandung, Liora setiap hari memasakkan sup bergizi untuk Yuna dan selalu menemaninya setiap pemeriksaan kehamilan. Dia mencurahkan segenap perhatian dan tenaganya. Namun pada akhirnya, semua itu justru dibalas dengan pengkhianatan yang begitu hina!

Tidak pernah sedikit pun terlintas dalam benaknya bahwa Ehren, pria yang selalu memanjakannya dan mencintainya sepenuh hati, akan berselingkuh.

"Jelaskan semuanya!"

Suara Liora bergetar hebat hingga nyaris tidak terdengar jelas. Tatapannya terpaku pada pria yang duduk di sofa.

Cahaya lampu membentuk bayangan di alis tebal Ehren yang berkerut. Ketenangan dan wibawa yang biasanya melekat padanya kini tergantikan oleh beban berat yang nyaris mencekik.

Dia mengembuskan napas panjang.

"Liora, tenanglah."

"Keluarga Januarta ... membutuhkan seorang pewaris."

Kalimat itu bagaikan sebilah pisau yang menghunjam tepat ke jantung Liora.

Tiga tahun lalu, demi menyelamatkan Ehren, rahimnya mengalami cedera hingga dokter menyatakan dia akan sulit hamil.

Saat itu, di samping ranjang rumah sakit, Ehren pernah bersumpah dengan penuh keyakinan, "Yang kuinginkan cuma kamu. Anak bukanlah apa-apa. Seumur hidup ini aku nggak bakal punya anak!"

"Butuh pewaris?" Liora tertawa getir. Air matanya akhirnya jatuh tanpa bisa dibendung. "Jadi, karena itu kamu tidur dengan kakak iparmu sendiri? Ehren, bagaimana bisa kamu menjijikkan seperti ini?"

Plak!

Sebuah tamparan keras mendarat di pipinya.

Wajah ibu mertuanya, Rania Maheswara, dipenuhi rasa jijik dan sinis. "Dasar nggak tahu sopan santun! Begitukah caramu berbicara dengan Ehren? Kakaknya sudah meninggal, jadi adik laki-lakinya yang menggantikan. Itu sudah sewajarnya. Kamu nggak berhak berteriak-teriak di sini."

"Lagi pula, kamu sendiri yang nggak bisa melahirkan. Masih punya muka buat mempertanyakan semua ini? Seharusnya kamu bersyukur dan berterima kasih karena Ehren bahkan nggak menceraikanmu!"

Nggak bisa melahirkan?

Liora menutupi pipinya yang terasa perih. Dia memandang Ehren dengan tatapan tidak percaya. Ternyata di dalam hatinya, Ehren juga berpikir seperti itu.

Bersyukur?

Hanya karena Ehren tidak memandang rendahnya, apa itu sudah dianggap anugerah terbesar baginya?

Dulu, apa Liora yang mati-matian ingin menikah? Tidak. Justru Ehren yang melamarnya sampai sembilan kali!

Dialah yang berkali-kali berjanji bahwa mereka tidak perlu memiliki anak!

Dialah yang membawa surat bukti operasi vasektomi sambil memohon dengan mata memerah agar diberi kesempatan! Surat itu bahkan masih tersimpan rapi di dalam brankasnya hingga hari ini.

Melihat bekas tamparan merah di pipi putih Liora, sebersit rasa sakit hati dan kegelisahan melintas di mata Ehren. Namun, semuanya sudah terlanjur terjadi. Pada akhirnya, dia hanya bisa berkata.

"Kakakku sudah tiada. Tanggung jawab Keluarga Januarta sekarang berada di pundakku. Aku harus memikulnya. Kamu ... nggak bisa punya anak. Itu kenyataannya, dan kita berdua harus menerimanya."

"Bukannya kamu juga suka anak kecil? Setelah bayi itu lahir, kami bakal mengangkatnya menjadi anakmu. Dia bakal memanggilmu ibu. Dengan begitu, keluarga kecil kita yang beranggotakan tiga orang nggak bakal lagi memiliki penyesalan."

"Ha ...."

Liora merasa muak. "Jadi, apa aku harus berlutut berterima kasih kepada Pak Ehren karena sudah membuatku jadi ibu tanpa perlu hamil dan melahirkan?"

"Liora, aku lagi bicara baik-baik denganmu. Haruskah kamu terus menyindir seperti ini?"

Ehren mengerutkan dahinya rapat-rapat. Sorot matanya mulai dipenuhi rasa tidak sabar.

"Dasar nggak tahu diri! Dikasih anak secara cuma-cuma masih merasa dirugikan? Benar-benar nggak tahu berterima kasih!"

Ibu mertuanya tiba-tiba menyerbu ke depan dan mendorongnya dengan kasar. "Keluar! Pergi dari rumah ini! Keluar sana dan pikirkan baik-baik bagaimana caranya menjadi menantu Keluarga Januarta yang tahu aturan dan mengerti sopan santun! Kalau belum sadar juga, jangan pernah kembali!"

Saat itu, sudah lewat pukul sepuluh malam. Salju turun makin lebat, hawa dingin menusuk tulang, dan suhu di luar terus turun.

Mereka benar-benar hendak mengusirnya keluar rumah, padahal dia hanya mengenakan pakaian tipis.

Liora refleks menoleh ke arah Ehren, masih berharap pria itu akan membelanya. Namun, yang ditemuinya hanyalah tatapan Ehren yang rumit dan berat.

Alis pria itu berkerut, jemarinya mengepal begitu erat. Setelah sesaat diliputi keraguan, pada akhirnya ... dia memalingkan tubuh dan menghindari tatapan Liora.

Dia memilih untuk diam.

Membiarkan ibu mertuanya memaksa Liora menyerah dengan cara seperti ini.

Brak!

Pintu kayu berukir yang berat itu dibanting tepat di depan Liora. Bunyi mekanis kunci yang mengatup terdengar begitu dingin dan menusuk.

Hawa dingin yang menusuk seketika menyelimuti tubuhnya.

Liora berdiri terpaku di anak tangga, menatap pintu yang tertutup rapat di hadapannya bagaikan patung yang kehilangan jiwanya.

Tiga tahun pernikahan ....

Dulu, Ehren benar-benar memperlakukannya dengan sangat baik.

Liora punya kebiasaan menendang selimut saat tidur. Tanpa pernah mengeluh, setiap malam Ehren menyelimutinya puluhan kali.

Suatu kali, Liora hanya memandangi sedikit lebih lama sebuah gaun adibusana edisi terbaru di majalah. Keesokan harinya, gaun itu beserta seluruh koleksi musim tersebut sudah memenuhi ruang pakaian miliknya.

Ehren sebenarnya tidak suka bepergian. Namun, selama Liora ingin pergi, dia selalu sanggup menghentikan semua pekerjaannya dan langsung mengajaknya berangkat hari itu juga.

Liora pernah berpikir bahwa dirinya telah menikah dengan pria yang tepat.

Ternyata, di hadapan tanggung jawab dan kenyataan versi Keluarga Januarta, perasaannya sama sekali tidak berarti.

Saat dia harus memilih antara Liora dan tanggung jawab terhadap keluarga, Ehren bahkan tidak mencoba berdiskusi. Dia langsung memilih mengorbankannya.

Ehren begitu yakin Liora tidak akan meninggalkannya. Setelah menikah dan pindah jauh ke Kota Nartua, Liora hidup sebatang kara tanpa tempat untuk bergantung.

Dia juga tahu Liora begitu mencintainya hingga tidak sanggup pergi. Karena itu, sekalipun muak, dia pasti akan menelan semua kepedihan itu dan menerima anak haram tersebut.

Lagi pula, mereka sudah menjadi suami istri. Selama dia tidak setuju, Liora tidak akan pernah bisa lepas darinya.

Namun, ada satu hal yang dilupakannya.

Dulu, karena ibu mertuanya mengancam akan bunuh diri, Liora dan Ehren terpaksa hanya mengadakan upacara pernikahan yang sangat sederhana. Hingga hari ini, mereka bahkan belum pernah mendaftarkan pernikahan mereka secara resmi.

Artinya, secara hukum, Liora sama sekali bukan istrinya.

Perlahan, senyum tipis yang hancur dan dingin terukir di sudut bibir Liora. Sorot matanya memancarkan kejernihan serta keteguhan yang lahir setelah hatinya sepenuhnya mati rasa.

Ehren.

Aku tidak menginginkanmu lagi.

Liora mengeluarkan ponselnya. Dengan jari-jari yang kaku kedinginan, dia menekan sebuah nomor yang telah lama terkubur.

Perlahan dia berkata, "Apa ucapanmu dulu masih berlaku, Devon?"

....

"Nyonya, Tuan Muda Ehren, Nyonya Muda Liora sudah pergi naik mobil ...." Suara Bik Marya dipenuhi kepanikan dan kegelisahan.

"Pergi?"

Ibu mertuanya tampak tercengang sekaligus meremehkan. "Dia bukannya memohon supaya kami memaafkannya, malah berani kabur karena marah? Apa dia sudah gila?"

"Ma ... masalah ini memang pukulan yang sangat berat buat Nyonya Muda Liora. Dari raut wajahnya, sepertinya dia benar-benar patah hati."

Bik Marya menghela napas. "Tuan Muda Ehren, bagaimana kalau Anda mengejar Nyonya Muda Liora? Kalau berangkat sekarang, Anda masih bisa menyusulnya."

Ehren menatap ke luar jendela dengan sorot mata suram. Dadanya terasa sesak, tetapi dia sama sekali tidak beranjak. "Nggak perlu."

Dia terlalu mengenal Liora. Meskipun hatinya terluka, wanita itu tidak akan mampu melepaskan hubungan mereka.

Ini hanyalah luapan emosi sesaat. Begitu amarahnya reda, Liora pasti akan kembali dengan sendirinya.

"Benar! Buat apa dikejar? Memangnya dia sanggup hidup tanpa Ehren? Besok juga dia pasti pulang sambil menundukkan kepala dan mengakui kesalahannya!"

Makin lama berbicara, ibu mertua makin puas, seolah-olah sudah melihat Liora memohon ampun dengan rendah hati. "Kalau nanti dia pulang, hmph, minta maaf saja nggak bakal cukup. Dia harus dikasih pelajaran yang keras supaya seumur hidup nggak berani lupa. Kalau mau jadi menantu Keluarga Januarta, dia harus belajar patuh!"

"Ehren, kali ini kamu nggak boleh berhati lunak. Selama ini kamu terlalu memanjakannya, makanya dia sampai nggak tahu diri."

"Kalau dia sudah pulang, suruh dia belajar jadi pengasuh bayi. Tubuh Yuna lemah, dia nggak sanggup repot-repot mengurus anak. Pas sekali Liora, si mandul yang nggak berguna itu, bisa melayaninya. Senggaknya dia masih bisa dimanfaatkan buat memberi sedikit sumbangsih kepada Keluarga Januarta."

Mendengar itu, Bik Marya sampai menarik napas dalam-dalam. Dadanya terasa sesak. Kalau seseorang diperlakukan sehina ini .... Apa Nyonya Muda Liora benar-benar masih akan memilih diam dan menelan semuanya?

Bik Marya tidak berani memastikan. Bagaimanapun juga, selama ini Nyonya Muda Liora memang selalu memilih untuk bersabar.

....

Keesokan harinya, salju masih turun tanpa henti.

Sebuah Rolls-Royce Phantom edisi tertinggi melaju membelah salju deras sebelum berhenti di depan Vila Keluarga Januarta.

Pintu mobil terbuka dan Liora turun dari mobil. Di tangannya, terlihat jelas sebuah akta nikah yang masih baru.

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
50 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status