Short
Demi Selingkuhan, Kakak Rela Mengorbankan Kami

Demi Selingkuhan, Kakak Rela Mengorbankan Kami

By:  Widya JulianCompleted
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel4goodnovel
11Chapters
5.2Kviews
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Di kehidupan sebelumnya, kakakku rela mengantar wanita simpanannya keluar kota hanya karena wanita itu bilang ingin melihat hujan meteor. Dia pun membawa seluruh pengawal di rumah dan mengemudi keluar kota demi menciptakan malam hujan meteor untuk wanita itu. Tak disangka, musuh lama yang pernah dihancurkan oleh kakakku malah memanfaatkan kesempatan itu untuk menyelinap ke rumah. Dia berusaha membantai seluruh keluarga sebagai pembalasan dendamnya. Ibu berjuang mati-matian untuk melindungiku. Dia terluka parah dan nyaris kehilangan nyawa. Aku terus-menerus menelepon kakakku, memohon agar dia segera pulang membawa bantuan. Akhirnya, dia pun terpaksa pulang bersama pengawal. Musuhnya berhasil ditangkap, tapi malah datang kabar buruk dari luar kota. Wanita simpanan itu meninggalkan sepucuk surat dan menghilang. Entah hidup atau mati, tak ada yang tahu. Dalam suratnya, dia menuduhku dengan kejam. Katanya aku sengaja memancing kakakku menjauh darinya, hingga dia disiksa oleh musuh dan memilih mengakhiri hidup. Kakakku hanya membakar surat itu tanpa ekspresi dan menyuruhku jangan memikirkannya. Setelah kejadian itu, kakak pun disalahkan. Ayah memutuskan menyerahkan kendali perusahaan padaku. Namun, di malam perayaan syukuran itu, aku dibunuh oleh kakakku di kamar tidurku sendiri. Wajahnya tanpa emosi dan berkata, “Orang sekejam kamu memang pantas mati.” “Yang seharusnya mati itu kamu! Aku yang seharusnya menjadi pewaris keluarga ini!” Aku mati tak tenang, tapi saat membuka mata kembali, suara pintu vila didobrak oleh para musuh pun terdengar dari luar.

View More

Chapter 1

Bab 1

Pintu besi vila yang tebal dibobol dengan suara keras menggema. Seketika membangunkanku dari sensasi sesak napas yang seolah menyeretku menuju kematian.

Aku reflek menarik ibu yang panik dan hendak berlari keluar untuk memeriksa keadaan, lalu menyeretnya masuk ke kamarku.

Begitu pintu tertutup, aku langsung menguncinya rapat-rapat, napasku terengah-engah. Aku memberi isyarat agar ibu membantuku mendorong lemari pakaian dari kayu jati yang berat itu untuk mengganjal pintu.

“Kiana, apa yang kamu lakukan? Ada pengawal di rumah ini, apain harus takut?”

Tanya ibu dengan bingung sambil menatapku, rasa takut tetap terlihat jelas dari tatapan matanya.

Dia belum tahu kalau kakak sudah membawa semua pengawal pergi demi si wanita simpanannya.

“Bu, kakak bawa pergi semua pengawal! Hanya ada kita berdua di rumah ini sekarang!”

Aku menggertakkan gigi, mengerahkan seluruh tenaga untuk mendorong lemari berat itu.

Suara gesekan lemari yang menyakitkan telinga menggema di ruangan, meninggalkan bekas goresan dalam di lantai kayu.

Ibu membeku, tak percaya bahwa kakakku yang selama ini selalu terlihat bertanggung jawab bisa melakukan hal sebodoh itu.

Keluarga Joman bukan orang sembarangan.

Keamanan selalu menjadi prioritas utama, bagaimana mungkin semua pengawal dibawa pergi?

Namun, melihat wajahku yang pucat, ibu pun terpaksa memercayaiku.

“Cepat! Telepon kakakmu! Suruh dia cepat pulang!”

Desak ibu dengan suara gemetar.

Aku tak menjawab, hanya menatap tajam ke arah pintu kamar yang kini hanya dibentengi oleh lemari besar.

Dengan tangan yang gemetar, aku memutuskan menelepon polisi lebih dulu. Aku menjelaskan situasinya dengan singkat dan cepat, lalu menyebutkan alamat kami.

Aku tak berani menyerahkan keselamatan kami sepenuhnya pada kakak, karena di kehidupan sebelumnya, dia datang terlalu terlambat.

Hingga ibu kehilangan nyawanya karena tak mendapat pertolongan medis tepat waktu.

Begitu telepon ditutup, perasaanku terasa semakin berat.

Beberapa hari terakhir ini, salju deras menutupi jalan. Vila kami yang terletak di lereng bukit cukup jauh dari kantor polisi terdekat.

Aku tak sanggup membayangkan apa yang akan terjadi sebelum polisi tiba….

“Duk!” terdengar sebuah hantaman keras mengguncang pintu kamar.

Reflek, aku menekan tubuhku ke arah lemari, rasa takut menyapu sekujur tubuh seperti gelombang pasang.

Tiba-tiba, telepon ibu akhirnya tersambung dengan kakak.

“Jack, cepat pulang! Ada… ada perampok yang masuk ke rumah!”

Suara ibu sudah hampir menangis.

Namun, suara kakak di balik telepon terdengar kesal,

“Sudahlah bu, jangan bohong. Aku lagi merayakan ulang tahun Mia, bakal pulang besok.”

“Aku nggak bohong! Benaran ada perampok! Cepat pulang atau kamu siap-siap melihat jasad kami!”

Teriak ibu dengan histeris.

Namun, suara kakak semakin dingin, “Aku tahu ibu nggak suka Mia, tapi nggak perlu juga buat cerita seperti ini untuk menakutiku.”

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

Comments

user avatar
Maslina Rahma
kereeennnn
2025-07-24 23:18:53
0
user avatar
meg
ngapain mapir kesini? enggak bisa dibaca juga
2025-07-24 21:29:04
1
user avatar
hutama djaya
sangat menarik
2025-07-24 06:22:16
0
11 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status