Share

Bab 7

last update Last Updated: 2025-10-17 19:17:58

"Tidak! Tidak! Tidak! Aku tidak mau, lepaskan aku!" teriak Fanny kembali.

Fanny mencoba menggerakkan tangan dan tubuhnya kembali secara kasar. Dia mencoba meloloskan diri. Mana mungkin dia akan tinggal diam diperalat seperti boneka.

"Mau kamu teriak sampai bisu tidak akan ada yang menolong kamu. Dan kamu juga tidak akan bisa melepaskan diri dari ikatan kami," kata Tasya memutari Fanny sekilas.

Setelah itu Tasya, Mila dan Raya mengikuti langkah Farhan. Sebelum meninggalkan Fanny, Mila menyempat diri mengambil kacamata Fanny dan menaruh di atas kepadanya sebagai hiasan. Setelah itu mereka ikut mendekat ke arah Vicky. Mereka sudah tidak sabar menunggu teman yang lain datang.

Fanny tahu apa yang katakan Tasya benar. Tidak akan ada yang akan menolongnya. Satu-satunya harapan dia adalah Ricko, tapi Ricko juga sedang ditahan sama Coki dan Doni. Fanny kembali menangis meratapi nasibnya yang malang.

"Kalian kalau jalan hati-hati dong. Jangan sampai menghapus mantranya," tegur Vicky melihat mereka berjalan yang santai.

Mereka berempat melihat ke arah kaki mereka yang menginjak pola mantra. Mereka bergeser dan berjalan lebih dengan hati-hati agar tidak menginjak pola mantra lagi. Vicky bangun dan membetulkan kembali pola mantra dengan arang kayu khusus yang terbuat dari kayu misterius.

"Nanti kalian harus menjauh dari pola ini. Ritual pemanggil ini akan gagal jika pola mantra ini terhapus," kata Vicky menjelaskan sambil memperbaiki pola mantra.

"Terus ada yang lain?" tanya Farhan.

"Ada, dan ini lebih gawat. Jika nanti ada bagian pola yang terhapus maka aku tidak bisa sepenuhnya lagi menahan tubuh Fanny yang sudah dirasuki. Sekarang aku akan menjelaskan bagaimana cara kerjanya dulu. Kalian dengarkan aku baik-baik. Jangan sampai ada yang terlewatkan," terang Vicky.

Mereka mengangguk kepala setuju. Mereka patuh apa yang dikatakan Vicky. Vicky lah yang menjadi peran utama ritual pemanggil. Jadi mau tidak mau mereka harus mendengar arahan Vicky.

"Langkah pertama sudah selesai. Kita sudah buat pola mantra, perlengkapan dan juga tumbal. Nanti saat kita memulainya, kita harus menyalakan ketujuh belas lilin itu," tunjuk Vicky pada lilin yang melingkari Fanny.

"Kemudian aku akan mencoba memanggil arwah gentayangan. Selama proses ini aku harap tidak ada yang mengganggu aku sedikitpun. Karena aku butuh konsentrasi."

"Selanjutnya semua lilin akan mati sendiri jika ritual pemanggil berhasil dilakukan. Jika telah selesai kita sudah bisa bertanya kepada mereka. Kalian semua paham," sambung Vicky.

Semuanya pada mengangguk mengerti. Sejauh itu mereka masih paham. Bagi mereka ritual pemanggil ini sangatlah mudah.

"Tapi, jika sampai pola terhapus seperti yang aku bilang tadi, maka arwahnya akan sulit dikendalikan. Nanti tugas kalian adalah menggambar ulang pola sesuai pola yang aku buat. Kalian tidak boleh menambahkan setitik garis pun, karena itu akan sangat berpengaruh. Kemudian, jika kalian belum selesai melukis garis yang telah dihapus dan ada lilin yang menyala, maka kalian harus bagi-bagi tugas. Harus ada yang melukiskan pola kembali dan yang mematikan lilin yang menyala. Pengendalian arwah tergantung pada jumlah lilin yang menyala, semakin banyak lilin yang menyala maka semakin sulit dikendalikan. Kalian harus meniup atau memengang sumbu lilinnya supaya lilin tidak menyala. Selama itu aku tidak bisa bergerak dulu karena aku harus menjaga mantra tetap stabil," terang Vicky secara detail.

"Terus apa yang akan terjadi jika semua lilin menyala?" tanya Raya penasaran.

"Jika itu terjadi, maka arwah gentayangan akan lepas kendali dan proses ritual pemanggil bisa dibilangkan gagal karena kita belum memutuskan kontrak ritual pemanggil. Seharusnya lilin tidak boleh menyala sebelum proses penutup selesai," jawab Vicky.

"Berarti selama polanya tidak terhapus, maka tidak akan ada masalahkan?" tanya Farhan memastikan.

"Iya, itu benar," sahut Vicky.

"Kalau begitu, nanti semua orang harus menjauhi pola mantra sejauh tiga meter. Tidak ada yang boleh mendekat," kata Farhan memperingati.

Mereka mengiyakan perkataan Farhan. Jika mereka tidak mendekat, maka pola itu tidak akan tersentuh. Itu yang mereka pikirkan.

"Terus, bel itu untuk apa?" tanya Tasya lagi.

Vicky melihat bel yang ada di posisi yang akan dia duduki nanti.

"Itu fungsinya untuk menggantikan arwah gentayangan. Jika kita bunyikan bel maka arwah yang ada di dalam tubuh Fanny akan terlempar keluar dan akan digantikan sama arwah yang lain," jawab Vicky.

"Tapi untuk jaga-jaga kalian berdua ambil arang ini. Arang ini hanya ada tiga. Aku pegang satu, kamu satu dan Tasya satu," ujar vicky.

Vicky memberikan arang itu pada Farhan dan Tasya. Vicky kemudian berjalan kembali ke arah pola mantra. Vicky duduk pada posisinya semula.

Farhan dan Tasya menerima arang itu tanpa bertanya lebih lanjut. Mereka segera menyimpan arang tersebut agar aman.

"Apa sekarang sudah bisa dimulai? sebelum lainnya datang?" tanya Vicky.

"Ayo kita mulai," jawab mereka semangat.

Bersambung ....

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Dendam Arwah Bully   Bab 32. Histeris Farhan

    Hal pertama yang Farhan lihat adalah kondisi Adam dengan punggung yang menyentuh lantai. Dengan kedua kaki yang berada di atas kepalanya. Ternyata Adam baik-baik saja. Hanya saja posisi dia yang sangat membingungkan. "Kamu tidak apa-apa, Adam?" tanya Farhan. "Aku baik-baik saja. Tadi aku hanya kaget," sahut Adam. Adam segera bangkit dari lantai. Dia memegang pinggangnya yang terasa sakit karena terjatuh. Punggungnya juga tidak kalah sakit terbentur keras dengan lantai. "Ahhh .… Kita ada di mana?" tanya Adam yang masih merintih kesakitan. Farhan terdiam. Dia juga bingung mereka ada di mana. Farhan mencoba melihat ke sekitar. Kemudian mata Farhan kembali terkejut dengan melihat sosok tubuh Sonya terikat di kursi yang bersimbah darah. "Sonya!" teriak Farhan. Farhan dengan sekuat tenaga menarik tangannya yang berada di balik tembok. Sehingga menyebabkan Abian, Mila dan Raya juga ikut tertarik ke dalam balik tembok. "Huwaaa …," teriak mereka bertiga kaget. Karena tiba-tiba tertari

  • Dendam Arwah Bully   Bab 31. Mencari Tasya

    "Salah satu dari kita pasti bukan pelakunya. Yang mengambil botol itu pasti orang lain," tebak Adam. "Terus, siapa yang mengambilnya?" tanya Abian dan Farhan. "Yang mengambil botol itu pasti pak Agus," jawab Naura tiba-tiba ikut nimbrung. Naura, Mila dan Raya tiba di depan mereka bertiga. Mereka masih setia memapah Naura berjalan. "Apa yang terjadi sama kaki kamu Naura?" tanya Abian mendekati Naura. Farhan dan Adam juga ikut mendekati mereka. Mereka membantu memapah Naura. Dari wajah Mila dan Raya, mereka terlihat sangat kelelahan. Mereka membiarkan Naura untuk duduk supaya Naura lebih nyaman. Tubuh keduanya sudah tidak kuat memapah Naura. "Yang membuat kaki aku seperti ini adalah pak Agus," sahut Naura. "Pak Agus? Tidak mungkin itu pak Agus. Pak Agus kan orang baik," bantah Adam. "Aku tidak mungkin bohong. Buat apa juga aku berbohong. Kita sedang dalam kondisi yang bisa diajak bercanda," ucap Naura berdecak kesal dikira berbohong.. Adam, Farhan dan Abian terdiam. Mereka masi

  • Dendam Arwah Bully   Bab 30. Penyesalan Farhan

    Farhan terus berjalan tanpa menoleh ke belakang. Dia berjalan menatap ke depan, kiri dan kanan. Dia dengan serius melihat sekeliling berharap tidak bertemu Fanny. "Kalian jika melihat yang lain kabarin aku ya," ujar Farhan. "...." Tidak ada satupun suara yang menjawab. Hanya ada bunyi daun yang bergesekan. "Kalian dengar aku tidak?" tanya Farhan tanpa menoleh ke belakang. "Tasya, Mila, Raya, kalau aku tanya jawab do … wah!" teriak Farhan setelah berbalik. Farhan tersandung dengan sebuah dahan pohon. Dia sampai terjatuh terduduk. Pantatnya duluan yang menghantam lantai. Sekarang pantatnya berdenyut kesakitan. "Ah, sial. Kalian kenapa …." Farhan tidak lagi melanjutkan kalimatnya. Ketika dia menoleh ke arah belakang, dia tidak melihat lagi satupun temannya. Dia tinggal sendiri. Farhan dengan cepat bangkit berdiri. Dia menepuk sekilas tangan dan bagian belakang celana yang kotor. "Tasya! Mila! Raya!" teriak Farhan menggema. "Kalian dimana? Kalian jangan menakuti aku!"

  • Dendam Arwah Bully   Bab 29. Titik Terang 2

    Tasya menghindar sendiri kali ini. Dia sudah bisa menguasai tubuhnya. Dengan cepat Tasya berlari ke arah seberang meja. Meja yang menjadi penghalang antara dia dan pak Agus. "Nak, jangan takut. Bapak tidak akan melukai kamu," ujar pak Agus dengan senyum ramah. Senyum itu membuat Tasya merinding disko. Seluruh bulu di tubuhnya ikut berdiri. Siapa juga yang percaya dengan perkataan pak Agus. Tidak sesuai antara perkataan sama tindakan. "Bapak gila ya! Siapa yang mau percaya sama Bapak!" teriak Tasya dengan keras. "Bapak tidak gila kok, Nak. Bapak baik-baik saja. Ayo ke sini! Temani Bapak bermain ya," ajak pak Agus dengan menggerakan tangan. "Whusss …." Tongkat kembali diayunkan. "Bapak pikir aku bodoh. Awas saja ya, Pak. Jika aku lepas dari sini, aku akan pastikan Bapak menyesal seumur hidup!" kata Tasya dengan mengancam dan menekan rasa takut. Tasya tidak akan pernah mengampuni pak Agus. Pak Agus sudah berniat melukainya. Jika dia bertemu Farhan, Tasya akan melaporkan sem

  • Dendam Arwah Bully   Bab 28. Titik Terang

    Di dalam memori, Doni melihat jika ada seorang gadis yang sangat ingin berteman dengan suatu kelompok. Tetapi kelompok itu malah mengerjai gadis itu sehingga gadis itu mendapatkan hukuman dari pihak sekolah, yaitu dikeluarkan dari sekolah. Dia meminta pertanggung jawab sama teman-temannya itu. Tapi teman-teman itu malah bilang kalau mereka hanya mengerjai dia saja. Kemudian mereka menyuruh gadis itu pergi begitu saja Gadis itu tidak mau pergi dan tetap minta pertanggung jawaban. Dia mengancam akan melapor kepada sekolah jika perbuatan yang dia lakukan itu mereka yang suruh. Kelompok itu yang tergantung dengan suaranya, mereka mengurung gadis itu di sebuah ruangan yang ada di gudang sebagai pelajaran. Mereka kembali tertawa puas saat mendengar teriakan gadis itu yang terkurung di gudang. Mereka melanjutkan kegiatan mereka sambil merokok. Tidak sengaja salah satu diantara mereka membuang puntung rokok ke sembarang arah. Puntung rokok itu mengenai kain bekas yang kering. Tanpa mereka

  • Dendam Arwah Bully   Bab 27. Persahabatan

    Coki, Doni dan Mahmud sudah menunggu terlalu lama di ruang penyimpanan. Mereka mulai bosan bersembunyi. Sejak insiden Wati tenggelam, mereka terlalu takut pergi ke tempat lain. "Apa sebaiknya kita keluar saja?" tanya Coki sangat jenuh. "Tapi bagaimana dengan keadaan di luar?" tanya Mahmud takut. "Kalau kita hanya menunggu di sini saja, kita juga belum tentu selamat," sambung Coki. "Ya, aku setuju sama Coki. Kita juga bisa mencari kawan kita yang lain. Siapa tahu kita ada kesempatan keluar dari sekolah," sahut Doni. "Lebih baik kita segera mencari yang lain daripada kita menunggu di sini tanpa kejelasan," ucap Coki setuju dengan ide Doni. Mahmud tidak punya pilihan lain dia juga ikut. Dia tidak mau jika tinggal sendiri. Terlalu menakutkan ditinggal sendiri daripada berkeliling. Mereka bertiga akhirnya memutuskan untuk mencari yang lain. Mereka keluar dari sana dengan cara menyelinap dan hati-hati. Mereka berjalan pelan-pelan supaya tidak bertemu dengan Fanny atau hantu l

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status