LOGIN***
Kendaraan roda Empat yang Leonal Vadas Smith naiki baru saja tiba di lokasi syuting Lima menit setelah Savana merampungkan make upnya. Sesi pengambilan adegan pertama akan segera dimulai.
Leon memang sengaja datang ke lokasi syuting untuk memantau keadaan. Ini jarang terjadi, tetapi karena banyak yang menunggu film terbaru Savana setelah skandal gilanya, membuat Leon harus memastikan sendiri kualitas aktris yang beberapa waktu ini resmi menjadi istrinya.
Jika ada yang membuatnya tidak puas, maka kelak bisa menjadi bahan diskusinya dengan Savana. Bahkan dia sudah berencana menuntut hasil syuting terbaik dari gadis bar-bar itu.
“Tuan Leon apakah Anda yakin akan mengikuti proses syuting hingga selesai hari ini? Aku dengar shooting akan memakan waktu sampai tengah hari nanti.” tanya David kepada atasannya itu.
Leon hanya mengangguk tanpa mengatakan apa-apa lagi. Fokusnya kini kepada Savana yang mulai take sebuah adegan.
Sudut bibir Leon tertarik tipis saat melihat Savana benar-benar mendalami perannya. Tidak ada drama pengambilan gambar hingga berulang kali karena Savana mahir melakukan perannya. Sutradara juga terlihat puas dan berkali-kali memuji Savana karena kemampuannya.
“Apakah dia memang seperti ini setiap kali shooting?”
David memahami pertanyaan itu ditujukan untuknya. Sebelum menjawab, pria itu memperhatikn Savana lekat. Tidak ada riak seperti yang sesaat lalu Leon tunjukkan. Wajahnya datar seakan sedang mengingat moment shooting yang Savana lakukan sebelumnya.
“Benar tuan, nona Savana terkenal paling disayang oleh sutradara karena sangat mampu mendalami perannya. Dia bisa melakukan apapun tanpa harus mengambil gambar berkali-kali.” jelasnya.
Leon menoleh ke arah David. Dahinya sedikit berkerut saat melihat David terlalu lekat memandang Savana. Sedikit terganggu karena menganggap sangat tidak pantas jik sampai asistennya itu menyukai istrinya walau dia dan Savana hanya menikah di atas kontrak.
“Jauhkan pandangan matamu darinya, David! Itu tidak pantas.” Suara Leon terdengar dingin hingga membuat David yang masih melabuhkan tatapannya kepada Savana merasa terkejut.
David dapat melihat tatapan Leon menajam. Dalam hati David merasakan kepuasan. Leon seperti seorang suami yang sedang cemburu.
“Kau jangan salah paham, aku tidak sedang cemburu kepadamu. Tetapi akan sangat merepotkan jika sampai muncul berita kau berselingkuh dengan istri bosmu sendiri.”
Seakan dapat membaca isi pikiran David, Leon dengan tajam namun tenang menjelaskan maksudnya.
David mengangguk. “Saya hanya sangat mengagumi nona Savana, tuan.” katanya.
Leon berdecak kesal. Membuat David keheranan.
“Kenapa kau terus memanggilnya nona? Kau seharusnya memanggil Savana dengan panggilan Nyonya!”
Kalau bukan karena demi kelancaran balas dendamnya, David tak mungkin sudi menuruti semua keinginan Leon. Memanggil sang adik dengan panggilan Nyonya? Tck! Savana pasti akan semakin besar kepala.
“Kau dengar David?”
“Baik tuan. Nyonya Savana maksudku.”
Tatapan Leon kembali kepada Savana yang baru saja menyadari kehadirannya. Wanita Dua Puluh Enam tahun itu sedang memperbaiki riasan wajahnya.
“Kenapa dia ada di sini?” tanyanya sambil berbisik kepada Dyana. Matanya melirik tipis ke arah Leon yang juga sedang memperhatikannya.
Dyana ikut membawa pandangan matanya kepada Leon. Ada David juga di sana hingga membuat gadis itu sedikit salah tingkah.
“Dia seperti sedang mengawasiku, Dyana,” bisik Savana sekali lagi.
Dyana seakan tersadarkan. “Benar. Sebaiknya kau menyapanya,” sarannya.
Savana mendelik sebal. Dia tak ingin menyapa Leon. Konsentrasinya akan terganggu jika sampai berdebat dengan pria itu sekarang.
“Aku takut dia menggangguku. Kau tahu sendiri aku tak suka padanya.”
“Hei!” tegur Dyana. “Kau lupa dia suamimu? Justru aneh jika kau tak senang melihatnya di sini.”
Dyana benar. Dan, kebenaran itu membuat mood Savana menjadi sedikit kacau. Dia lebih suka tak melihat Leon di tempat shooting. Apalagi kakaknya juga ada di sana. Dia merasa sedang diawasi dua orang sekaligus.
“Ayo cepat! Kalian terlanjur mengumumkan pernikahan itu. Jangan sampai orang-orang curiga dengan sikap dingin kalian berdua.” Dyana mengingatkan.
Terpaksa Savana berdiri dari duduknya walaupun riasannya belum sepenuhnya selesai diperbaki. Wajahnya masih sedikit merengut karena dipaksa menghampiri Leon.
“Kendalikan ekspresi wajahmu, Savana.” Dyana berbisik, nadanya terdengar geram. Ia bahkan sedikit menggelitiki pinggang aktris kesayangannya itu.
“Auuu! Hentikan.”
Keduanya terkekeh. Langkah kaki Savana sedikit lebih ringan. Wajahnya berubah ceria sesuai dengan isi kontrak pernikahan. Dia dan Leon harus terlihat saling mencintai jika di depan umum.
“Sayang!” ujar Savana mengubah langkahnya menjadi larian kecil saat jaraknya dan Leon tak lagi begitu jauh. Dia bahkan sengaja melompat mesra ke dalam pelukkan Leon saat sampai di depan pria itu.
“Kenapa kau tak memberitahu bahwa kau akan datang ke sini?” tanyanya manja. Nada suaranya bahkan terdengar lebih nyaring dari pengambilan adegan yang beberapa saat lalu dia lakukan.
Leon sempat terkejut melihat reaksi Savana yang tiba-tiba saja melompat ke arahnya. Beruntung posisinya tak lagi sedang duduk. Dia langsung berdiri saat melihat Savana mendekat tadi. Namun, dia betul-betul tak menyangka Savana akan melompat ke dalam pelukkanya.
“Tak perlu berlebihan!” bisik Leon sambil menahan geraman. Tentu dia melakukan itu diam-diam. Dia tak akan bersikap ceroboh di saat semua mata kini memandang ke arahnya dan Savana yang masih bergelayutan manja.
Savana menyadari perasaan tidak nyaman yang sedang berusaha Leon sembunyikan. Dia tersenyum miring. Bukannya melepas Leon, Savana justru semakin mengeratkan lingkaran tangannya pada leher suami di atas kontraknya itu.
Leon mendelik tajam. Savana sengaja menggodanya. “Lepaskan tanganmu sekarang!” bisiknya tajam.
Hampir saja Leon melepas paksa tangan Savana andai David tak buru-buru mengingatkannya. “Tuan, kita sedang di depan umum. Semua mata tertuju kepada Anda dan nyonya Savana.” ucapnya.
Kepada sang adik yang dia sadari sengaja menggoda, David mendelik tajam saat Leon tak menyadarinya. Memberi Savana peringatan lewat tatapannya.
Savana yang selalu merasa takut kepada David akhirnya melepas dekapannya pada leher Leon. Dia tak ingin terkena amukan David karena berani bermain-main. Namun, siapa yang menyangk apa yang Leon lakukan selanjutnya? Pria itu membalas dengan cara yang tak pernah Savana pikiran sebelumnya.
To be continued.
***“A-apa maksudmu?” tanya Dyana gugup. Meskipun dia paham apa yang David inginkan, tapi dirinya pun harus mencari tahu lebih dalam.David berdecak kesal. Tanpa menjawab pertanyaan Dyana, David menarik Dyana dalam sekali hentakan. Terang saja hal itu membuat Dyana terkejut.“Apa yang kau lakukan?” pekiknya.“Kau terlalu banyak berpikir. Aku yakin kau menyukaiku!” ujar David percaya diri, tapi dia tak salah juga karena Dyana memang menyukainya.“Lepaskan aku! Kau …”“Diamlah jika tak ingin kucium!”“Apa?!”Sesungguhnya Dyana ingin sekali David melakukan itu padanya, tapi dia terlalu gengsi untuk berharap. Dyana memilih mematung agar David tak melaksanakan ancamannya.“Kau bisa diam juga ternyata,” kekeh David sedikit melonggarkan pelukannya. Pria itu menatap lekat wajah Dyana. “Ternyata kau cukup cantik,” pujinya seakan tersadarkan akan pesona manager adiknya itu.Dyana salah tingkah. Dia tak berani membalas tatapan David. Khawatir tiba-tiba dirinya menerkam bibir pria itu.“Dyana, ka
***“Dasar mesum! Kau tak tahu tempat!” ujar Savana sembari merapikan rambutnya.Hukuman yang Leon maksud nyatanya tak sesederhana yang Savana pikirkan. Suaminya itu tak peduli di mana mereka sedang berada. “Kau tetap membuka celanaku, padahal kita sedang di basemant,” deliknya.Leon terkekeh. “Jangan salahkan aku. Kau yang selalu membuatku tergoda untuk melakukannya,” balasnya terlampau tenang.Tck!Savana benar-benar malu. Namun, dia juga menikmati setiap perlakuan yang Leon berikan kepadanya tadi.“Ayo pulang. Aku mulai merasa tidak nyaman,” protesnya.Leon mengacak rambutnya, membuat wanita itu kembali mendelikkan mata. “Aku baru saja merapikan rambutku, Leon!” ujarnya.Leon memilih acuh. Dia menghidupkan mesin mobil mewahnya, lalu menekan pedal gasnya. Kendaraan roda Empat itu pun bergerak perlahan. Meninggalkan parkiran apartemen. Selisih lima menit tamu yang Savana undang tiba dengan menaiki driver online yang Savana pesankan.Dyana, dia yang Savana maksud. Wanita itu menggerut
***David mengalihkan perhatiannya pada Savana. Kepalanya menggeleng untuk menjawab kekhawatiran adik semata wayangnya.“Aku terguncang, tapi aku tidak akan tinggal diam. Hans benar-benar telah mempermainkan kita!” ujarnya dengan tangan yang semakin kencang terkepal.“Tenanglah, David. Kita harus mengumpulkan bukti yang kuat untuk menjebloskan pria tua itu ke dalam penjara. Aku tak sudi dia berkeliaran di dunia ini tanpa rasa bersalah!” Leon membalas tajam, seolah dapat membaca isi pikiran David saat ini.Benar, tadinya David akan menemui Hans lalu menghajarnya. Memaksa pria tua itu mengakui perbuatannya.Jika Leon tak menyadarkannya, mereka pasti telah kehilangan kesempatan untuk membuat Hans membayar mahal perbuatannya.“Aku tahu apa yang kau pikirkan, tapi tolong jangan gegabah. Aku sedang mencari bukti untuk membuat Hans dan Clara tak bisa mengelak lagi.”“Kau juga belum menemukan asal peluru yang menembus kulit kakek Jordan hari itu, kan?” tanya Leon.David mengiyakan meskipun da
***“Apa maksudmu?” tanya Leon dengan rahang yang mengeras.Savana mulai khawatir. Dia kembali menggenggam tangan Leon. Wajahnya tampak sedih. “Sayang itu semua hanya salah paham, aku yakin,” ucapnya.“Mana mungkin salah paham, Savana? Aku dengar sendiri kalau kematian Benjamin berkaitan denganku,” sahut David cepat. Nadanya mulai gelisah, tak seangkuh tadi.Membuat Leon semakin penasaran. Namun, ada yang harus dirinya lakukan terlebih dahulu sebelum bertanya lebih lanjut tentang masalah ini.“Jangan khawatir, aku akan membuka apapun yang pernah menjadi rahasia di masa lalu kakek kita. Aku tidak akan menelan mentah-mentah informasi yang aku terima. Tenanglah, Sayang,” ucapnya karena sadar Savana sednag mengkhawatirkan kepercayaannya.Savana akhirnya dapat menghembuskan napasnya dengan lega. Dia mengangguk sambil terus mengeratkan genggaman tangannya pada Leon.“Ayo aku antar kau beristirahat di kamarmu,”“Aku tidak mau, aku ingin tetap berada di sini, Leon.” Savana menolak saat Leon m
***Tak lekang David memandang Leon dengan tatapan tajamnya. Terlihat jelas pria itu teramat tidak menyukai keturunan Smith tersebut. Dia juga melirik Savana yang secara terang-terangan lebih membela Leon. Adiknya itu bahkan telah berpindah tempat duduk di samping Leon.“Katakan!” ujarnya terdengar malas.Savana ingin protes melihat cara kakaknya berbicara dengan Leon. Namun, dengan cepat Leon menghentikannya. Kepala pria itu menggeleng, sementara bibirnya tersenyum lembut.“Tenang dan dengarkan saja aku dan kakakmu bicara, Sayang,” ucapnya.Savana menghela napasnya, namun dia mengiyakan dengan anggukkan kepala. Melihat itu membuat David mendengus kesal. Dia tak suka adiknya menjadi penurut di depan Leon.“Bolehkah aku memanggilmu kakak ipar?” tanya Leon setelah perhatiannya terfokus pada David.“Kau tak pantas!” jawab David, yang lagi-lagi membuat Savana ingin mengeluarkan sumpah serapahnya. Akan tetapi, wanita itu ingat janjinya pada Leon. Dia hanya akan menjadi pendengar yang baik h
***“Apa kau mendengarku, Savana?” Suara David yang jauh berbeda dari bisanya membuat Savana paham betapa marahnya sang kakak saat ini.Savana tak berani menolak. Namun, Leon tak bisa menahan kekesalannya lagi. Pria itu mengabaikan permohonan Savana yang memintanya agar tetap diam.“Kau tak bisa membawanya pergi begitu saja, David.”Sejenak Savana memejamkan matanya. Ego seorang pria yang terluka memang tidak bisa dikendalikan. Lihat saja sekarang, Leon telah kehilangan kesabaran.“Aku bisa!” David membalas, keras dan terdengar tidak bersahabat.“Dia istriku!” balas Leon.David mendengus. “Kau mungkin baru kemarin mengetahui ikatan yang sebenarnya di antara kami berdua, tapi seumur hidupnya Savana adalah adik kandungku. Aku lebih berhak darimu!” ujarnya.Tentu saja Leon semakin kesal mendengar itu. “Tapi dia mencintaiku. Jangan memaksanya ikut denganmu,” ucapnya tak ingin kalah.“Kau pikir darah lebih kental dari ikatan semua istri kontrak kalian berdua?”“Kami sudah merobek kontrak i







