Compartir

Dendam yang Mengakar di Jiwa
Dendam yang Mengakar di Jiwa
Autor: Tina

Bab 1

Autor: Tina
Dua jam kemudian, aku menandatangani surat pernyataan kematian putriku, membantu dokter membawa jenazah putriku ke ruang jenazah.

Tepat pada saat itu, Andre baru menghubungiku.

Begitu sambungan terhubung, terdengar suara musik yang memekakkan telinga hingga hampir membuat kepalaku pecah.

Suasana hati Andre tampaknya sangat baik, dia bertanya dengan suara keras, "Winda, kenapa kamu menghubungiku berkali-kali, mungkinkah putri kita merindukanku …."

"Kenapa kamu meninggalkan putri kita di tengah operasi? Andre, kamu sudah berjanji akan membuatnya sehat kembali!"

Aku menahan amarah, hampir berteriak saat menyela ucapannya.

Di seberang telepon, Andre terdiam beberapa saat.

Lalu, Andre berkata dengan nada acuh tak acuh, "Winda, maaf, ini memang salahku, tapi kondisi putra Diana sangat kritis, nggak bisa ditunda. Tenang saja, aku sudah mendapat kabar ada pendonor jantung baru, dua hari lagi aku akan menyiapkan operasinya …."

Dua hari lagi?

Apa dia masih ingat bahwa dia meninggalkan putrinya di meja operasi, dengan dada tersayat terbuka hingga sekarat?

"Andre, putri kita sudah …."

"Kak Andre, Ryan sakit lagi, cepat ke sini periksa!"

"Kita bahas masalah ini nanti, anjing peliharaan Diana sedang sakit, aku mau periksa dulu, sudah dulu, ya."

"Andre!"

Sambungan terputus.

Melihat wajah putriku yang pucat dan dingin, sekujur tubuhku terasa lemas, lalu jatuh terkulai di lantai.

Di ruang jenazah yang bersuhu di bawah nol derajat, punggungku justru basah karena keringat dingin.

Rasa dingin itu menjalar dari punggung masuk ke jantungku.

Kata-kata terakhir putriku masih terngiang di telingaku.

"Bu, Ayah bilang, kondisi putra Bibi Diana jauh lebih kritis, jadi Ayah harus pergi menolongnya, Yoan pasti bertahan sampai Ayah kembali … Bu, jangan marah sama Ayah, ya …."

Namun, "Ayah" yang paling dia sayangi justru meninggalkannya saat kondisinya kritis.

Andre adalah ahli bedah paling terkemuka di dunia medis.

Selama ada hasil pemeriksaan, sekali lihat saja Andre sudah bisa langsung mengetahui penyakit pasiennya.

Aku tidak percaya dia tidak tahu bahwa anak Diana sebenarnya salah diagnosis.

Dia hanya ingin mengambil hati wanita yang dicintainya.

Dulu, aku masih memilih menutup sebelah mata.

Namun, kali ini dia telah mencelakai putri kami.

Dalam kondisi linglung, aku mengambil ponsel, lalu menghubungi ayahku.

Mendengar suara tangisanku, suara ayahku terdengar sedih.

"Winda, Ayah pulang tiga hari lagi, tenang saja, Ayah pasti akan membalas mereka semua."

Setelah menutup telepon, aku memeluk tubuh putriku yang dingin di ruang jenazah yang kosong sambil menangis ….

...

Karena putriku tidak suka keramaian, aku hanya mengundang sahabat-sahabat terdekat di pemakamannya.

Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App

Último capítulo

  • Dendam yang Mengakar di Jiwa   Bab 9

    Kemarahan mereka membuat Diana ketakutan.Dia berlutut sambil menatap kotak abu jenazah putriku dengan kedua lutut yang gemetar tanpa henti, lalu dia meminta maaf kepada putriku, "Maafkan aku, Yoan. Ini salah Bibi, maafkan Bibi, ya. Jangan salahkan Bibi, salahkan ayahmu yang berperasaan, dia nggak layak disebut ayah ….""Bibi hanya menghubunginya sekali saja. Bibi nggak memaksanya, dia sendiri yang datang menemui Bibi.""Dia juga yang membawa pergi jantung yang seharusnya didonorkan untukmu, maafkan Bibi, ya. Kalau nggak, salahkan putraku saja, dia yang berbohong, dia yang membohongi ayahmu …."Ucapan Diana membuat semua orang kaget.Demi terbebas dari hukuman, Diana bahkan tega mengorbankan putranya sendiri ….Mata Andre memerah, dia menatap Diana dengan penuh amarah."Sialan! Yang mencelakai Yoan itu kamu! Kamu yang merayuku agar aku tidur denganmu. Kamu yang merayuku, menyebabkan aku kehilangan putriku! Dasar nggak tahu malu, kamu pantas mati, kamu pantas masuk neraka!"Dia menyeran

  • Dendam yang Mengakar di Jiwa   Bab 8

    Hanya dalam waktu setengah jam, asisten kembali setelah mengambil obat anestesia.Dia melihat darah mengalir deras dari tubuh putriku telah membasahi meja operasi.Pada adegan berikutnya, asisten Andre buru-buru keluar untuk memanggilku masuk.Durasi video kurang dari setengah jam.Itu berarti Profesor Andre yang terkenal menyayangi putrinya, ketika kondisi putrinya sedang kritis, sang ayah hanya menemaninya setengah jam.Hanya karena satu panggilan telepon dari mahasiswinya, dia meninggalkan putri kandungnya sendiri tanpa ragu sedikit pun.Setelah video selesai diputar, karena marah, tubuhku gemetar tanpa henti.Namun aku tahu, saat ini masih ada hal lebih penting yang harus dilakukan.Aku menenangkan diri, kemudian mematikan ponsel.Tanpa memedulikan Andre yang wajahnya pucat pasi, aku berbalik dan menghadap ke arah para wartawan di bawah panggung."Aku sudah tahu kalian semua diundang Andre ke sini untuk mentertawakan Keluarga Surya, tapi hari ini kalian sudah menonton video yang me

  • Dendam yang Mengakar di Jiwa   Bab 7

    Di video itu, terlihat Andre sedang sibuk mengoperasi.Dering telepon mengganggu konsentrasinnya. Andre tetap melanjutkan pekerjaannya sambil memberikan instruksi kepada asistennya, "Lihat siapa yang menelepon, kalau Nyonya yang telepon, nggak usah …."Asisten melihat nomor si penelepon dan menjawab pelan, "Dok, Kak Diana yang menelepon …."Sebelum asistennya selesai bicara, Andre langsung menaruh pisau bedahnya, lalu berbalik dan membentak asistennya, "Cepat angkat! Kenapa masih diam saja di sana?"Asisten melihat putriku di atas meja operasi.Setelah ragu sejenak, akhirnya dia mengangkat telepon dengan perasaan serba salah.Di seberang telepon, terdengar suara Diana sedang menangis."Andre, kamu yakin hasil pemeriksaannya itu salah diagnosis? Aku masih merasa nggak tenang. Saat bangun pagi ini, Ryan mengeluh nggak enak badan. Bisakah kamu datang dan memeriksanya sebentar ….""Diana, tenang saja. Pengamatanku nggak pernah salah, Ryan sehat kok ….""Andre, kamu sudah nggak peduli sama

  • Dendam yang Mengakar di Jiwa   Bab 6

    Andre panik.Dia segera maju, lalu menatap abu jenazah yang dipegang ayahku."Ayah, Ayah terus bilang aku mencelakai Yoan, tapi kemarin Winda masih mengirimkan video Yoan padaku! Ryan juga masih mengobrol dengan Yoan beberapa hari lalu!"Aku menatap Andre, lalu membuka riwayat obrolanku dengan Andre di WhatsApp."Andre, lihat lagi dengan saksama, video yang aku kirimkan padamu itu direkam tanggal berapa?"Sekarang sudah memasuki musim hujan.Sementara di video itu, Yoan masih mengenakan pakaian musim kemarau.Andai saat itu Andre melihat lebih teliti lagi, dia pasti menyadari kejanggalan itu.Bahkan, kemungkinan besar dia belum membuka video itu.Andre menatap video dari ponselku sambil membelalakkan mata, wajahnya tiba-tiba memucat ….Dia menyadari kejanggalan itu.Lalu, dia segera berbalik dan menoleh ke arah anak laki-laki di samping Diana. Dia mencengkeram lengan anak itu sambil berteriak, "Bukankah kamu sendiri yang bilang kalau hari itu kamu mengobrol dengan Kak Yoan? Kamu bohong

  • Dendam yang Mengakar di Jiwa   Bab 5

    Begitu mengatakannya, Diana tertegun lama di atas panggung.Andre naik ke atas panggung, lalu mencengkeram kerah bajuku sambil berteriak seperti orang gila, "Sialan, omong apa sih kamu! Yoan sebentar lagi sampai. Setelah Yoan sampai, dia akan bilang sendiri bahwa dia menyayangiku!"Banyak lampu kilat kamera menyorot ke atas panggung.Wajah Andre memucat, dia mengguncang tubuhku dengan kasar."Aku mau ketemu Yoan sekarang juga! Hubungi Yoan! Cepat! Aku mau putri kesayanganku membelaku!"Begitu Andre selesai bicara, terdengar suara helikopter.Beberapa saat kemudian, ayahku turun sambil membawa abu jenazah dan memberikannya kepada Andre …."Putri kesayanganmu sudah datang …."Andre perlahan menunduk dan melihat kotak kecil yang dipegang ayahku, lalu refleks mengulurkan tangannya.Namun, tangannya yang sudah terangkat turun kembali.Wajah Andre terlihat kesal."Ayah, sebagai kakeknya Yoan, nggak seharusnya menjadikan nyawa Yoan sebagai bahan candaan, benar 'kan ….?"Sebelum Andre selesai

  • Dendam yang Mengakar di Jiwa   Bab 4

    Pada tengah malam, Andre baru kembali ke rumah dengan tubuh lelah.Dia sebenarnya tidak ingin pulang, tetapi entah kenapa dia merasa sikap Winda hari ini sangat aneh."Winda, aku pulang."Begitu membuka pintu, saat melihat rumah yang gelap gulita, perasaan Andre tidak enak."Winda?"Di dalam kamar, dia juga tidak menemukan Winda, lemari baju juga kosong.Ke mana dia?Andre mengernyit, lalu pergi ke ruang tamu, barulah dia menyadari ada meja altar di sana."Meja Altar Yoan .… Omong kosong!"Andre membalik meja altar itu dengan kasar.Sampai kapan Winda mau terus membuat keributan?Dia mengeluarkan ponsel dengan marah, lalu menghubungi Winda.Namun, telepon tidak diangkat.Andre mengirimkan pesan WhatsApp. Ketika menyadari nomornya diblokir, dia langsung tertegun.Lalu, kemarahannya meledak.Winda memblokir nomornya hanya karena dia bersama Diana dan anaknya selama beberapa hari?Andre membanting ponselnya dengan keras."Jangan kira aku nggak tahu kamu kabur ke mana! Winda, ini salahmu s

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status