تسجيل الدخولDi hari pemulihanku dari depresi pascamelahirkan, Yanto yang sedang mengemudi mobil tiba-tiba berkata, "Aku sebenarnya punya keluarga lain di luar." Kalimat yang datang tanpa peringatan itu membuat kepalaku berdengung. Yanto menatap lurus ke depan, lalu melanjutkan dengan nada penuh keluhan, "Saat depresi pascamelahirkanmu kambuh selama bertahun-tahun ini, kamu selalu mau mati. Saat itu, aku juga hidup sengsara. Sekarang kamu sudah sembuh, aku juga harus meluangkan waktu untuk menebus istri dan anakku yang sebenarnya." Butuh waktu yang cukup lama, aku baru susah payah mengeluarkan suara gemetar dari tenggorokanku. "Kalau begitu ... aku dan anakku ini termasuk apa? Palsu?" Yanto tidak langsung menyangkal. Setelah terdiam lama, dia baru berkata dengan tegas, "Terserah kamu mau anggap ini bagaimana. Demi anak, kamu juga nggak akan tega pergi, 'kan?" Tubuhku langsung terasa seperti kehilangan semua kehangatan. Aku yang tadinya berpura-pura telah sembuh dari depresiku pun langsung kembali ke keadaan semula.
عرض المزيد"Apa hakmu ngatur-ngatur aku? Sebenarnya apa hubunganmu sama Clarisa? Cepat bilang!"Suara teriakan Yanto makin lama makin menjauh, lalu seseorang mendorong pintu dan masuk. Ternyata itu sahabat masa kecilku, Sheldon."Jadi kamu yang membawaku ke rumah sakit?"Pria itu mengangguk, lalu merapikan selimutku."Clarisa, apa pun yang terjadi, jangan menyerah pada diri sendiri. Mulai sekarang, biar aku yang melindungimu." Sosok kakak laki-laki yang dulu, sekarang pun masih membuatku merasa aman.Beberapa hari berikutnya, dia menemaniku berjalan-jalan di luar, mengajakku mengingat banyak hal saat kecil. Dia selalu bisa membuatku tertawa lepas.Aku juga kembali menemui dokter psikolog, minum obat tepat waktu setiap hari.Sampai suatu hari Jessica muncul di depanku dengan rambut berantakan."Clarisa, jelas-jelas kamu itu pelakor. Kamu ini benar-benar sudah gila karena ingin naik derajat! Apa hakmu memaksa Yanto menceraikanku? Di mana kamu sembunyikan dia?!"Aku mundur selangkah dengan waspada,
Aku tidak menyangka aku masih bisa membuka mata lagi. Semua dokter merasa lega, sibuk menelepon Yanto untuk memberi kabar baik. Namun, aku malah berusaha mengangkat tangan untuk mencabut selang oksigen.Detik berikutnya, Yanto bergegas masuk dan menekan tanganku dengan kuat."Clarisa, kamu mau apa sebenarnya? Sudah susah payah kamu diselamatkan, bisa nggak jangan menyiksa diri lagi?"Kata-kata ini terasa tidak asing.Selama beberapa tahun terakhir, setiap kali depresiku kambuh, selalu terjadi pemandangan memalukan seperti ini. Yanto selalu datang dan menarikku kembali dari ambang bahaya. Namun, aku sudah tidak membutuhkannya lagi.Hawa dingin merayap ke seluruh tubuhku, aku tidak bisa menahan diri untuk tidak gemetar."Lepaskan aku! Mulai sekarang aku nggak butuh kamu urus aku lagi!"Yanto menahanku dengan kuat, suaranya bergetar karena menangis, "Aku nggak izinin kamu mati, aku mohon, Clarisa."Seolah dia benar-benar tidak rela kehilangan aku. Namun hanya aku yang tahu, ini hanyalah r
"Yan ... Yanto? Sejak kapan kamu datang?"Jessica memaksakan senyum. Yanto melangkah mendekat dan merebut ponselnya, lalu melihat video yang dia rekam.Plak!Tanpa ragu, pria itu menamparnya."Kenapa dari dulu aku nggak tahu kalau ternyata kamu itu selicik ini!"Orang tua Jessica buru-buru maju, melindungi putri mereka di belakang. "Yanto, kamu keterlaluan!""Memang anakku ada salah, tapi penyebab utamanya adalah kamu! Kamu nggak seharusnya bersama dua wanita sekaligus!"Kalimat itu membuat Yanto terpaku di tempat.Beberapa saat kemudian, dia menarik napas dalam-dalam. "Ayah, Ibu ...."Dia tiba-tiba mengganti panggilan, "Paman, Bibi, meskipun aku salah, Jessica juga nggak seharusnya sampai menyebabkan kematian ibu Clarisa!"Mendengar perubahan panggilan itu, Jessica langsung panik dan maju ke depan, wajahnya penuh ketidakpercayaan. "Kenapa kamu tiba-tiba ganti panggilan? Kamu ...."Tak disangka, yang dia terima malah tawa sinis dari Yanto."Kita akan segera bercerai! Sekarang aku akhir
"Ini Pak Yanto? Bu Clarisa keracunan obat tidur, mohon segera datang untuk menandatangani surat kondisi kritis!"Begitu mendengar kalimat itu, Yanto langsung terpaku di tempat. Tatapannya terkunci pada botol obat tidur yang sudah kosong.Bukankah depresi pascamelahirkan Clarisa sudah sembuh? Kenapa dia malah kembali menyakiti dirinya sendiri?Namun, dia sama sekali tidak sempat berpikir lebih jauh. Dia berlari terpincang-pincang menuju rumah sakit. Yang menyambutnya hanya selembar surat kondisi kritis."Pak Yanto, Bu Clarisa masih dalam proses penyelamatan, tapi racun kronis dalam tubuhnya sangat banyak, kemungkinan ....""Kemungkinan apa? Aku nggak ngizinin dia mati!" Yanto berteriak histeris, tangannya yang menggenggam surat itu gemetar hebat. Di atasnya tertulis dengan jelas: pasien mengonsumsi obat tidur kronis secara berlebihan, dengan ini dinyatakan dalam kondisi kritis.Terutama pada catatan tambahan tertulis: "Pasien diduga mengalami depresi pascamelahirkan berat."Pantas saja












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.