Partager

Bab 2

Auteur: Tina
Di acara pemakaman, orang-orang yang mengenal Andre, semuanya heran karena ayah yang sangat menyayangi putrinya itu tidak datang.

Mereka pun langsung menghubunginya.

Hanya aku yang tahu, Andre tidak akan mengangkat telepon mereka.

Sesuai dugaan, sampai acara pemakaman berakhir, Andre tidak muncul.

Sambil menahan rasa sakit di hati, aku menggenggam tangan putriku yang sudah dingin untuk terakhir kalinya.

Tanpa gangguan pria yang tidak pantas disebut ayah itu, mungkin justru ini bagus untuk putriku.

Namun, sebelum prosesi pemakaman dimulai ….

Petugas pemakaman berlari menghampiriku.

Wajahnya tampak masam, sambil menarik tanganku, suaranya bergetar.

"Nyonya Winda, gawat, gawat, ada orang yang membuat keributan di tanah makam yang telah Anda pilih!"

Seperti disambar petir, aku bergegas menuju ke tanah makam.

Aku pun melihat Diana sedang membentak petugas dengan kasar, "Dasar sialan, apa maksud kalian?

"Kuberi tahu, dilihat dari posisinya, tanah makam ini yang paling bagus. Kalau pemakaman Coco sampai tertunda gara-gara kalian, kalian harus tanggung akibatnya!"

Para petugas itu terlihat bingung dan tidak berdaya.

"Maaf, Nyonya, tanah makam ini sudah dipesan."

"Lagi pula, ini tempat pemakaman untuk manusia, anjing peliharaan Anda nggak boleh dimakamkan di sini …."

"Kamu nggak berhak menentukan boleh atau nggak. Siapa yang memesan tanah makam ini? Panggil dia! Kami akan kasih kompensasi."

Andre menenangkan dia dari samping, lalu melihat ke petugas sambil berkata dengan dingin, "Nggak dengar, ya? Panggil atasan kalian ke sini!"

Melihat reaksinya, sikap Diana makin menjadi-jadi.

Dia meringkuk di dalam pelukan Andre, lalu menampar wajah petugas itu.

"Dengar nggak? Panggil atasan kalian dan orang yang memesan tanah makam ini ke sini, kalau nggak …."

"Aku yang memesan tanah makam itu."

Aku keluar dari kerumunan, lalu menghampiri Andre dan Diana.

Begitu melihatku, Andre buru-buru mendorong Diana dari pelukannya.

Lalu, Andre menghampiriku.

Saat mata kami bertemu, aku bisa melihat kepanikan dari sorot matanya dengan jelas.

"Winda, kenapa kamu ada di sini? Bukannya menemani putri kita di rumah sakit, ngapain kamu datang ke tempat pemakaman?"

"Oh ya, tadi kamu bilang kamu yang pesan tanah makam ini? Buat apa kamu pesan tanah makam?"

Aku menahan air mata sambil menatapnya.

"Andre, kamu masih berani menanyakan putrimu? Tanah makam ini untuk putri …."

"Aduh, Kak Andre, cepat kemari, kenapa wajah Ryan sepucat ini?"

Kepanikan Andre langsung menghilang.

Tanpa keraguan sedikit pun, Andre segera menghampiri anak di samping Diana.

Dia memeriksa sambil menenangkan anak itu, "Jangan takut, Nak, ada Paman di sini, jangan takut …."

Dia pun tersenyum puas, kemudian berjalan perlahan ke arahku.

Tatapannya menantang, tetapi suaranya seolah merasa bersalah.

"Maafkan aku, Kak. Aku nggak tahu ternyata Kakak yang memesan tanah makam ini, tapi sepertinya tanah makam ini belum digunakan, bagaimana kalau dipakai untuk Coco saja?"

"Anjingku makan sembarangan, lalu mati dengan tragis. Lihatlah Ryan, dia sedih sampai wajahnya pucat …."

"Pergi!" Aku menengadahkan kepala, lalu mengatakan dengan nada dingin.

Beberapa detik kemudian, suara tangisan Diana menggema di seluruh tempat pemakaman.

Andre berdiri, kemudian menghampiriku dengan cepat.

Nada suaranya sangat dingin, baru kali ini dia seperti itu.

"Winda, aku tahu kamu masih marah karena aku meninggalkan putri kita di tengah operasi, tapi itu nggak ada hubungannya dengan Diana. Kamu sendiri lihat kondisi anaknya. Kamu juga seorang ibu, apa kamu nggak kasihan melihatnya?"

Setelah itu, pria itu berbalik dan menatap para petugas itu.

"Istriku nggak jadi memesan tanah makam ini, serahkan kepada Nona Diana, kalian proses sekarang …."

"Nggak akan! Andre, pergi sekarang juga! Bawa wanita dan anak sialan itu pergi dari sini!"

Begitu mengatakannya, Andre mengangkat tangannya, lalu menampar wajahku dengan keras.

"Cukup, Winda! Aku sudah lama bersabar denganmu!"

Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application

Dernier chapitre

  • Dendam yang Mengakar di Jiwa   Bab 9

    Kemarahan mereka membuat Diana ketakutan.Dia berlutut sambil menatap kotak abu jenazah putriku dengan kedua lutut yang gemetar tanpa henti, lalu dia meminta maaf kepada putriku, "Maafkan aku, Yoan. Ini salah Bibi, maafkan Bibi, ya. Jangan salahkan Bibi, salahkan ayahmu yang berperasaan, dia nggak layak disebut ayah ….""Bibi hanya menghubunginya sekali saja. Bibi nggak memaksanya, dia sendiri yang datang menemui Bibi.""Dia juga yang membawa pergi jantung yang seharusnya didonorkan untukmu, maafkan Bibi, ya. Kalau nggak, salahkan putraku saja, dia yang berbohong, dia yang membohongi ayahmu …."Ucapan Diana membuat semua orang kaget.Demi terbebas dari hukuman, Diana bahkan tega mengorbankan putranya sendiri ….Mata Andre memerah, dia menatap Diana dengan penuh amarah."Sialan! Yang mencelakai Yoan itu kamu! Kamu yang merayuku agar aku tidur denganmu. Kamu yang merayuku, menyebabkan aku kehilangan putriku! Dasar nggak tahu malu, kamu pantas mati, kamu pantas masuk neraka!"Dia menyeran

  • Dendam yang Mengakar di Jiwa   Bab 8

    Hanya dalam waktu setengah jam, asisten kembali setelah mengambil obat anestesia.Dia melihat darah mengalir deras dari tubuh putriku telah membasahi meja operasi.Pada adegan berikutnya, asisten Andre buru-buru keluar untuk memanggilku masuk.Durasi video kurang dari setengah jam.Itu berarti Profesor Andre yang terkenal menyayangi putrinya, ketika kondisi putrinya sedang kritis, sang ayah hanya menemaninya setengah jam.Hanya karena satu panggilan telepon dari mahasiswinya, dia meninggalkan putri kandungnya sendiri tanpa ragu sedikit pun.Setelah video selesai diputar, karena marah, tubuhku gemetar tanpa henti.Namun aku tahu, saat ini masih ada hal lebih penting yang harus dilakukan.Aku menenangkan diri, kemudian mematikan ponsel.Tanpa memedulikan Andre yang wajahnya pucat pasi, aku berbalik dan menghadap ke arah para wartawan di bawah panggung."Aku sudah tahu kalian semua diundang Andre ke sini untuk mentertawakan Keluarga Surya, tapi hari ini kalian sudah menonton video yang me

  • Dendam yang Mengakar di Jiwa   Bab 7

    Di video itu, terlihat Andre sedang sibuk mengoperasi.Dering telepon mengganggu konsentrasinnya. Andre tetap melanjutkan pekerjaannya sambil memberikan instruksi kepada asistennya, "Lihat siapa yang menelepon, kalau Nyonya yang telepon, nggak usah …."Asisten melihat nomor si penelepon dan menjawab pelan, "Dok, Kak Diana yang menelepon …."Sebelum asistennya selesai bicara, Andre langsung menaruh pisau bedahnya, lalu berbalik dan membentak asistennya, "Cepat angkat! Kenapa masih diam saja di sana?"Asisten melihat putriku di atas meja operasi.Setelah ragu sejenak, akhirnya dia mengangkat telepon dengan perasaan serba salah.Di seberang telepon, terdengar suara Diana sedang menangis."Andre, kamu yakin hasil pemeriksaannya itu salah diagnosis? Aku masih merasa nggak tenang. Saat bangun pagi ini, Ryan mengeluh nggak enak badan. Bisakah kamu datang dan memeriksanya sebentar ….""Diana, tenang saja. Pengamatanku nggak pernah salah, Ryan sehat kok ….""Andre, kamu sudah nggak peduli sama

  • Dendam yang Mengakar di Jiwa   Bab 6

    Andre panik.Dia segera maju, lalu menatap abu jenazah yang dipegang ayahku."Ayah, Ayah terus bilang aku mencelakai Yoan, tapi kemarin Winda masih mengirimkan video Yoan padaku! Ryan juga masih mengobrol dengan Yoan beberapa hari lalu!"Aku menatap Andre, lalu membuka riwayat obrolanku dengan Andre di WhatsApp."Andre, lihat lagi dengan saksama, video yang aku kirimkan padamu itu direkam tanggal berapa?"Sekarang sudah memasuki musim hujan.Sementara di video itu, Yoan masih mengenakan pakaian musim kemarau.Andai saat itu Andre melihat lebih teliti lagi, dia pasti menyadari kejanggalan itu.Bahkan, kemungkinan besar dia belum membuka video itu.Andre menatap video dari ponselku sambil membelalakkan mata, wajahnya tiba-tiba memucat ….Dia menyadari kejanggalan itu.Lalu, dia segera berbalik dan menoleh ke arah anak laki-laki di samping Diana. Dia mencengkeram lengan anak itu sambil berteriak, "Bukankah kamu sendiri yang bilang kalau hari itu kamu mengobrol dengan Kak Yoan? Kamu bohong

  • Dendam yang Mengakar di Jiwa   Bab 5

    Begitu mengatakannya, Diana tertegun lama di atas panggung.Andre naik ke atas panggung, lalu mencengkeram kerah bajuku sambil berteriak seperti orang gila, "Sialan, omong apa sih kamu! Yoan sebentar lagi sampai. Setelah Yoan sampai, dia akan bilang sendiri bahwa dia menyayangiku!"Banyak lampu kilat kamera menyorot ke atas panggung.Wajah Andre memucat, dia mengguncang tubuhku dengan kasar."Aku mau ketemu Yoan sekarang juga! Hubungi Yoan! Cepat! Aku mau putri kesayanganku membelaku!"Begitu Andre selesai bicara, terdengar suara helikopter.Beberapa saat kemudian, ayahku turun sambil membawa abu jenazah dan memberikannya kepada Andre …."Putri kesayanganmu sudah datang …."Andre perlahan menunduk dan melihat kotak kecil yang dipegang ayahku, lalu refleks mengulurkan tangannya.Namun, tangannya yang sudah terangkat turun kembali.Wajah Andre terlihat kesal."Ayah, sebagai kakeknya Yoan, nggak seharusnya menjadikan nyawa Yoan sebagai bahan candaan, benar 'kan ….?"Sebelum Andre selesai

  • Dendam yang Mengakar di Jiwa   Bab 4

    Pada tengah malam, Andre baru kembali ke rumah dengan tubuh lelah.Dia sebenarnya tidak ingin pulang, tetapi entah kenapa dia merasa sikap Winda hari ini sangat aneh."Winda, aku pulang."Begitu membuka pintu, saat melihat rumah yang gelap gulita, perasaan Andre tidak enak."Winda?"Di dalam kamar, dia juga tidak menemukan Winda, lemari baju juga kosong.Ke mana dia?Andre mengernyit, lalu pergi ke ruang tamu, barulah dia menyadari ada meja altar di sana."Meja Altar Yoan .… Omong kosong!"Andre membalik meja altar itu dengan kasar.Sampai kapan Winda mau terus membuat keributan?Dia mengeluarkan ponsel dengan marah, lalu menghubungi Winda.Namun, telepon tidak diangkat.Andre mengirimkan pesan WhatsApp. Ketika menyadari nomornya diblokir, dia langsung tertegun.Lalu, kemarahannya meledak.Winda memblokir nomornya hanya karena dia bersama Diana dan anaknya selama beberapa hari?Andre membanting ponselnya dengan keras."Jangan kira aku nggak tahu kamu kabur ke mana! Winda, ini salahmu s

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status