LOGINBara dan Rudi duduk di kursi yang ada di bandara, menunggu keberangkatan mereka yang tinggal sebentar lagi. Terlihat Bara senyum-senyum sendiri, setelah menerima telpon dari Harold dan memikirkan pertemuannya dan Nala tadi, di rumah. Ia berpamitan pada Nala, tapi ia juga mengatakan kalau Nala akan kembali bertemu dengannya nanti."Pak, anda seperti orang yang baru pertama kali jatuh cinta," celetuk Rudi sambil tersenyum.Lelaki itu tersenyum lembut. Berbeda dari biasanya. Bara sudah menemukan kembali hidupnya sejak ia kembali bertemu Indira dan kedua anaknya."Dia menelepon," gumam Bara seraya tersenyum miring, saat melihat seseorang yang ia tunggu menelponnya juga. Bara dengan cepat mengangkat telpon itu"Kamu kan yang buat pak Harold mindahin aku ke Indonesia?" tanya Indira dari sebrang sana, terdengar marah. Namun, Bara malah tersenyum mendengarnya."So, kamu jadi ke Jakarta, kan?""Jadi benar ini ulah kamu?""Aku nunggu kamu dan anak-anak. Sebentar lagi aku mau pulang ke Jakarta,"
"Sayang, kok bangun sih?" tanya Indira seraya memasang senyuman seperti biasa. Ia mengusap air matanya dengan cepat. Namun, rupanya Nala bisa melihat kalau mamanya tidak baik-baik saja."Mama nangis ya? Apa gara-gara Nala minta rayain ulang tahun ke Indonesia?" tanya Nala dengan bibir mengerucut dan mata polosnya yang sendu.Ia pikir mamanya marah karena Nala terus memaksa ingin pergi ke Jakarta. Akan tetapi, Indira tidak mau pergi ke sana. "Mama marah sama Nala?"Indira pun mendekati putrinya dan mengusap wajah gadis kecilnya itu dengan lembut. "Pertama ...Mama nggak marah. Kedua, Mama nggak nangis tuh," ucap Indira."Mama boong," tukas Nala dengan cepat. "Mama nggak boleh boong. Kata Papih itu nggak baik," kata Nala lagi."Mama nggak boong kok. Mama cuma kelilipan aja. Dan Mama nggak marah sama Nala. Kalau Nala mau ke Jakarta, ayo kita ke sana. Tapi tidak untuk menetap ya?" kata Indira lembut. Gadis kecil berpipi sedikit chubby itu memandang mata mamanya dengan tidak percaya."Nala
Tak lama setelah membersihkan dirinya di kamar mandi hotel. Bara kembali keluar dari kamar hotel, ia berniat menuju ke rumah Indira lagi. Ia ingin berbicara dengan Indira dan anak-anak mereka lebih lama. Terutama tentang sakitnya Nala. Anak perempuan yang ceria itu terlihat lemah dan kecil. Meski ia sudah mendengar penjelasan dari dokter tentang kondisi Nala, akan tetapi ia ingin mendengar penjelasan langsung dari Indira, ibunya Nala.Bara datang ke rumah Indira tidak dengan tangan kosong. Ia membawa bunga dan makanan untuk anak-anaknya."Ngapain kamu kesini malam-malam, Pak Bara?" tanya Indira begitu melihat Bara ada didepan pintu rumahnya. Tatapannya dingin, kedua tangannya menyilang di dada. Menyiratkan kalau ia malas melihat Bara."Aku ingin bicara sebentar dan melihat anak-anak."Wanita itu mendengus kesal, ia menegur Bara. "Aku izinkan kamu melihat anak-anak, mengunjunginya. Tapi kamu harus ingat waktu. Ini sudah malam dan kamu nggak bisa seenaknya datang pada waktu tidak tepat
Bara tidak langsung pulang ke hotel setelah dari toko mainan. Ia meminta Rudi mengantar ke rumah sakit lebih dulu, berniat menengok Nala sekalian menyerahkan hadiah. Kotak-kotak di jok belakang mobil terlihat rapi, boneka beruang stroberi berwarna merah muda, satu tablet khusus anak dengan casing biru tua, juga beberapa buku gambar dan pensil warna. Ia memborong banyak mainan.Bahkan rencananya, ia akan membuat kamar anak-anak untuk Nala dan Nathan di rumahnya. Sepanjang perjalanan, Bara tak bisa berhenti membayangkan wajah Nala saat menerima boneka itu. Tawa Nathan ketika melihat tablet barunya. Hatinya hangat, penuh harap, seolah semua kesalahan di masa lalu bisa ia tebus dengan perhatian dan kehadiran.Namn, harapan itu runtuh begitu mereka tiba di rumah sakit. “Maaf, Pak,” kata perawat di bagian informasi dengan sopan. “Pasien atas nama Nala sudah diperbolehkan pulang siang tadi.”Bara terdiam. “Pulang?”“Iya. Nala sudah dibawa pulang oleh ibunya.”Akhirnya Bara dan Rudi pergi m
"Nathan! Ayo! Mau lihat Nala, kan?" Indira berbicara dengan tegas pada putranya itu. Seakan menyuruh Nathan segera menjauh dari Bara."Iya Ma."Bara tersenyum kaku, ia melambaikan tangannya pada Nathan.Indira dan Nathan melangkah masuk ke ruang rawat Nala. Pintu tertutup perlahan di belakang mereka, meninggalkan Bara yang masih berdiri kaku di koridor, seperti patung yang kehilangan arah. Dadanya terasa tidak nyaman, seolah ada tangan tak kasatmata yang terus menekan kuat dirinya.Pikirannya kembali pada obrolan semalam. Telepon itu. Nada suara Indira yang bergetar, bukan karena marah semata, melainkan karena luka lama yang kembali terbuka. Bara menelan ludah. Ia sadar, semua ini berawal dari ketidakpercayaannya sendiri. Dari keyakinannya yang buta pada Bella, pada bukti yang disodorkan tanpa pernah ia uji kebenarannya.Ia mengusap wajah, menarik napas panjang. Saat itulah langkah cepat mendekat. Rudi, asistennya, berhenti di hadapannya.“Pak Bara,” ujar Rudi pelan, menurunkan suara.
Perasaan Indira memburuk, setelah berbicara dengan Bara. Lagi-lagi pria itu mengecewakannya dengan rasa tidak percaya. Bara tetap membela cinta pertamanya. Wanita yang ia pikir, masih jadi istri pria itu."Ternyata cinta kamu begitu besar untuknya. Sampai kamu tidak bisa melihat kebenaran. Ya, kamu memang orang yang realistis, harus melihat bukti dulu, baru akan percaya, kan? Tapi dulu kamu semudah itu percaya kalau aku menggugurkan kandunganku. Hanya berdasarkan kertas persetujuan dan kata-kata bohong dari dokter itu."Wanita itu menggerutu, dengan dada yang sesak mengingat hal dulu. Di mana ia difitnah dengan kejam oleh dokter suruhan Bella. Ketiga adiknya dibunuh dengan biadab. Bara, saat itu bukan menghiburnya, tapi malah menyudutkan dirinya. Menghinanya.Tanpa sadar air matanya kembali mengalir, mengingat kenangan buruk itu. Pembicaraan dengan Bara barusan, membuka luka lamanya."Andi, Elin, Risa ...kakak kangen kalian. Kakak kangen," lirih Indira dengan hati pedih.***Sementara







